
Yuk dukung author terus untuk up selanjutnya
Salam manis,
Tirfa_ledina.
...Happy Reading 😘...
Sebuah rantai muncul dan mengurung Rusi yang berniat kabur dari Devina. Belum sampai di situ, Devina lalu membekukan rantai itu hingga membuat kurungan itu menjadi sangat dingin dan bisa membekukan siapa saja. Rusi mulai kedinginan di dalam sana seraya tubuhnya yang perlahan membeku.
"Valen, cepat hancurkan kurungan ini dari luar!" Ujar Rusi.
Valen mendengar suara Rusi, ia lalu dengan cepat menghancurkan kurungan itu yang nyatanya sangat rapuh jika di serang dari luar. Rusi berhasil bebas dan langsung berdiri di sebelah Valen. Dalam aturan penyihir, mereka sama sekali tidak boleh menggunakan mantra berbahaya selain untuk melawan iblis dan makhluk jahat. Karena hal itulah, Devina tidak bisa menyerang Valen.
"Lebih baik kita mundur dulu. Aku belum menyiapkan sesuatu untuk melawan penyihir itu," Ujar Rusi dan langsung mendapatkan anggukan dari Valen.
Sayap hitam mulai muncul di punggung Rusi, ia lalu mengambil bulu di sayapnya. Valen berada disebelah Rusi yang sedang membaca sesuatu hingga membuat bulu hitam tadi membuka sebuah lubang hitam dan menelan keduanya. Devina hanya bisa menghela nafas saat Rusi dan Valen berhasil kabur.
"Kak Devina kenapa bisa di sini?" Tanya Levi pada Devina yang sedang memeriksa tubuh Azura.
"Paman yang mengirim aku kemari untuk menolongmu," Ujar Devina.
"Paman? Maksudnya ayah?" Ujar Levi dan mendapatkan anggukan dari Devina.
"Bagaimana keadaan tuan?" Tanya Kiki.
"Aku sudah menormalkan irama jantung juga nadinya. Dia mempunyai kecepatan dalam memulihkan tubuhnya sendiri, jadi dalam beberapa hari mungkin dia bisa sadar kembali." Jelas Devina seraya berdiri.
Devina lalu melihat kearah Mira dan Darel yang masih setia berdiri dan melihat dari jauh. Devina berjalan menuju Darel yang juga terlihat terluka, ia menyentuh kepala Darel hingga perasaan nyaman dan sejuk memenuhi tubuhnya.
"Apa yang kau lakukan pada tuanku!" Ujar Mira.
"Aku hanya membatunya sedikit," Ujar Devina.
"Tidak perlu melakukan apapun, dia hanya membantuku." Darel duduk untuk melepaskan lelahnya sejenak.
Devina juga menyembuhkan Kiki dan Levi secara bergantian. Mira duduk di sebelah Darel yang sedang memulihkan tubuhnya, walau tau ia juga terluka karena pertarungan tadi Mira masih enggan untuk istirahat dan terus waspada. Tanpa Mira sadari, Devina sudah memberikan mantra penyembuh pada dirinya. Jika tidak mungkin beberapa detik lagi Mira akan jatuh pingsan.
"Kita lebih baik kembali ke kerajaan Lord," Ujar Devina.
"Aku akan ikut juga," Ujar Darel dan mendapatkan anggukan dari Devina.
Levi sebenarnya tidak ingin kembali, ia bahkan sempat menolak namun akhirnya tetap ikut karena desakan oleh Devina. Mereka keluar dari kastil dan menemukan gerombolan Alfa yang menunggunya. Darel sedikit bingung melihat mereka yang bersujud secara tiba-tiba, Kiki dan Levi bahkan cukup bingung melihat hal itu.
"Aku Lucas, akan terus mengikuti Vampir suci selama sisa hidupku." Ucapan itu terdengar serentak dari para Alfa.
"Dimana tuan kami?" Ujar Lucas.
"Dia harus istirahat, kami akan membawa dia ke kerajaan Lord." Devina sempat memperlihatkan tubuh Azura yang ia sembunyikan dengan sihir.
"Kami akan ikut," Ujar Lucas.
"Terserah kalian," Ujar Devina dan melanjutkan langkahnya.
Devina mengeluarkan sebuah benda, dengan benda itu mereka bisa dengan cepat pergi ke kerajaan Lord. Devina jarang menggunakan alat ini karena terlalu banyak menggunakan energinya. Hanya dalam keadaan darurat saja, ia akan menggunakan benda ini untuk melarikan diri dari tempat yang berbahaya. Benda itu lalu membesar dan menjadi sebuah perahu yang melayang di atas udara.
"Kalian semua sekarang bisa naik," Ujar Devina seraya naik di atas perahu tersebut.
"Wow, penyihir suci memang benar-benar berbeda. Alat yang mereka gunakan cukup menguras energi," Ujar Lucas.
Mereka semua naik. Dalam beberapa menit saja kapal itu telah berhasil mencapai gerbang istana. Mereka akhirnya mendarat di pekarangan istana, sesampainya di sana mereka langsung di sambut oleh beberapa pelayan. Sherly yang mendeteksi keberadaan Devina yang telah berada dalam area kerjaan segera melangkahkan kakinya dengan terburu-buru ia berjalan menuju pekarangan istana.
"Di mana vampir murni itu?" Tanya Erik yang lebih dulu sampai dari Sherly.
"Paman? Dia ada di dalam sihirku," Ujar Devina sedikit terkejut melihat Erik muncul dihadapannya.
"Tutupi kekuatannya, para petinggi akan heboh jika tau vampir murni ada di sini." Erik membantu Devina untuk menyembunyikan kekuatan Azura.
"Terimakasih atas bantuannya paman," Ujar Devina dan akhirnya ia melihat Sherly berjalan kearahnya.
"Kalian kenapa membawa para Alfa itu?" Ujar Sherly seraya menarik Devina menjauh dari Lucas.
"Tidak perlu khawatir mah, mereka tidak akan menyerangku."
Devina memberikan isyarat untuk para Alfa agar keluar sebentar. Kiki, Levi, Darel dan Mira menunggu di ruang makan sementara para Alfa bersikeras untuk masuk mengikuti Azura. Setelah Lucas dan para Alfa lainnya keluar Devina mulai menceritakan banyak hal termasuk dengan bangkitnya Dewi Iblis, Erik dan Sherly cukup terkejut mengetahui Dewi iblis telah kembali hidup.
Azura yang sejak tadi di tidurkan dalam peti mati yang terbuat dari es akhirnya bangun dan membuat eksistensi jatuh padanya. Azura mengucek matanya beberapa kali untuk memperjelas pengelihatannya. Mata Azura yang sejak tadi menelusuri setiap sudut ruangan akhirnya berhenti pada Erik yang sedang menatapnya tajam.
"Dimana ini?" Ujar Azura.
"Nerakamu," Ujar Erik dan sukses mendapatkan jitakkan dari Sherly.
"Apa-apaan bicaramu itu? Jika dia tidak ada mungkin Levi sudah menjadi tumbal Keluarga Moca dan Hazzel," Ujar Sherly seraya melototi adiknya itu.
"Ohhiya, Levi. Ikut aku untuk bertemu dengan Levi!" Ujar Sherly sambil menarik pergi Erik dari ruangan.
Di ruangan itu hanya tersisa Azura dan Devina. Susana sedikit canggung entah kenapa, Devina yang hendak pergi berhenti saat Azura memanggilnya. Devina berbalik dan melihat Azura yang cukup lemas dengan bibir yang terlihat pucat.
"Apa?" Tanya Devina.
"Apa kabarmu?" Ujar Azura.
"Tidak baik," Ujar Devina.
"Ah, sudah kuduga. Aku minta maaf," Ujar Azura dan tanpa pamit Devina langsung pergi.
Azura menghela nafas sejenak, ia tau Devina menyukainya. Azura baru sadar jika ia saat ini ada dalam peti mati, pria itu tiba-tiba berdiri dan merasa merinding melihat peti mati itu.
"Apa tadi mereka berniat menguburku?" Ujar Azura seraya keluar dari peti mati.