Butterfly System

Butterfly System
Chapter 15 [Vampir yang Terbuang?]


Azura membuka matanya, hal pertama yang menyambutnya adalah langit biru yang luas. Pria itu kemudian duduk dan melihat sang guru sedang membakar beberapa ubi. Raymond melirik sekilas lalu mulai mengambil satu ubi yang baru saja masak dan melemparkannya pada Azura.


"Aaauuh... Ini sangat panas," Ujar Azura sambil melepar ubi itu ke tangan kiri dan kanan secara bergantian.


"Makan dan jangan meleparkan ubi itu seperti seorang badut," Ujar Raymond.


"Baik guru," Ujar Azura.


"Kita akan memulai pelatihanmu yang sebenarnya, pelajaran pertama kau harus bisa melihat titik lemah lawanmu. Ayo mulai dengan berlatih bersama boneka ini, coba cari titik lemah boneka ini." Raymond memberikan sebuah boneka kayu pada Azura.


"Ini hanya boneka kayu, dia juga tidak bergerak bagaimana berlatih dengan benda ini?" Ujar Azura.


"Letakkan dulu itu, kau harus membunuh segerombolan badak itu." Raymond menunjuk beberapa badak yang mendekat.


"Kau gila ya? Jumlahnya hampir 100 ekor," Ujar Azura dan mulai bersiap untuk bertarung.


"Kau harus menemukan titik lemah mereka," Ujar Raymond dan segera pergi dari tempat itu.


"Guru, tunggu!" Teriak Azura.


Seekor badak tiba-tiba menghantam Azura dan membuat pria itu terpental jauh. Pria itu mulai menghindari semua badak yang tiba-tiba menyerbu secara brutal dan ganas. Azura mengeluarkan pedang arwahnya dan menebas salah satu badak yang menyerangnya. Tak ada yang terjadi pada badak itu, kulitnya sangat keras bahkan saat Azura sedikit mengalirkan tenaga dalamnya pada pedang masih tak berhasil memberikan goresan pada badak itu.


Azura tak menyerah ia lalu mengalirkan sepuluh persen tenaga dalamnya untuk menebas badak itu namun hanya berhasil memberikan satu goresan saja. Azura terus mengeluarkan tenaga dalamnya dan sekarang ia sudah hampir kelelahan di tambah lagi dengan tenaga dalamnya yang mulai terkuras.


'Tenanglah Azura, ayo berfikir. Cari titik lemah mereka' Batin Azura saat dikelilingi badak yang bersiap untuk menyerangnya.


Azura menghela nafas dan memusatkan fokusnya pada setiap gerakan dari para badak itu. Pria itu akhirnya menemukan sebuah keanehan di tanduk badak itu. Setiap kali Azura akan menyerang ia akan selalu mundur dan memastikan agar tanduknya tidak terkena serangan. Azura kemudian mulai menyerang dan menargetkan tanduk badak itu.


"Berhasil." Azura bersorak saat berhasil memotong tanduk badak itu, kini ia mulai bersemangat.


Azura memamerkan sumringahnya pada para badak lain dan mengisyaratkan bahwa mereka adalah target selanjutnya. Matahari telah berada di ufuk dan Azura telah berhasil membantai para badak itu dan menyisakan satu badak yang berusaha kabur. Dengan sekali tebasan Azura berhasil membuat badak itu jatuh ke tanah.


Dengan nafas yang tak beraturan Azura merebahkan tubuhnya di atas rumput hijau. Pria itu meraup secara rakus oksigen dan berusaha menormalkan irama jantungnya. Azura menatap langit berbintang dan tersenyum, dia merasa sangat senang atas kemenangannya ini. Cahaya kunang-kunang tiba-tiba bermunculan dan membuat tempat itu tampak indah dengan cahaya.


"Kemana semua mayat badak itu?" Ujar Azura sambil mencari semua mayat badak yang tiba-tiba menghilang.


Tak ada lagi mayat badak yang ada disana. Semua telah menghilang dan meninggalkan sebuah kristal merah saja. Azura berniat mengambil kristal itu namun Raymond tiba-tiba muncul dan memukul tangan Azura dengan tongkatnya.


"Jangan menyentuh kristal jiwa sembarang. Jika tidak jiwamu akan diserap oleh kristal itu," Ujar Raymond.


"Gunakan sarung tangan dan kantong penyimpanan ini lalu kumpul kristal itu," Ujar Raymond.


Azura mulai memungut semua kristal itu dan memasukkannya ke dalam kantong penyimpanan tanpa batas itu. Azura mengambil pedangnya yang tertancap di tanah dan segera menghampiri sang guru.


"Aku sudah mengambilnya guru," Ujar Azura.


"Bagus langsung tukar 60 buah dengan sistem," Ujar Raymond.


Azura mengangguk lalu mulai mengusap layar monitor yang telah muncul. Raymond hanya memperhatikan dari jauh Azura yang sibuk menukar kristal jiwa.




"Untuk apa semua peralatan ini? Aku pikir akan mendapatkan sebuah pil penyembuh," Ujar Azura kecewa.


"Itu sudah sangat bagus, kau akan membutuhkan itu di masa depan." Raymond duduk bersama Azura dan menikmati pemandangan yang di penuhi oleh cahaya kunang-kunang.


Suara beberapa serangga sekarang terasa seperti alunan musik yang seakan-akan sedang membuat suasana sedikit menyentuh. Raymond menatap langit dan tanpa sengaja membuat ia menitihkan air mata.


"Ada apa guru? Kenapa guru menangis? Apa ada yang sakit guru?" Ujar Azura khawatir.


"Tidak, aku hanya mengingat kejadian menyedihkan. Entah kenapa aku merindukan saudaraku itu, walau dia telah mengkhianatiku hubungan keluarga kami masih sangat tertanam jelas di kepala tuaku ini." Azura tertunduk melihat jawaban sang guru.


"Dulu aku sangat ambisius dan penuh dengan rasa dendam dan benci, aku tidak menyangka akan bisa jatuh dalam perangkap saudaraku sendiri. Kami menjadi saudara karena sebuah kejadian yang menyudutkan kami sebagai pecundang, aku kira kami yang sama-sama seorang pecundang bisa saling memahami dan saling membantu namun ternyata tidak," Ujar Raymond masih menatap langit.


"Pufftt... Aku benar-benar pecundang," Ujar Raymond dan tiba-tiba Azura menangis.


"Kenapa kau tiba-tiba menangis?! Aish... Anak ini kenapa begitu cengeng," Ujar Raymond sambil menepuk-nepuk punggung Azura.


"Hiks... Aku juga pecundang dan semua orang memukuliku setiap saat, aku bahkan tidak melawan dan membiarkan mereka. Hiks... Aku benar-benar pecundang," Ujar Azura sambil menghapus air matanya dengan kasar.


"Aku bahkan mati dengan tidak keren sama sekali," Ujar Azura sambil mengingat kejadian dimana ia mati karena terpeleset.


"Aku gagal melindungi apa yang aku sayangi, aku benar-benar pecundang!" Ujar Azura.


"Sudahlah jangan memikirkan yang aneh-aneh, lanjutkan latihanmu dan jadilah lebih kuat." Raymond melihat dirinya di masa lalu dalam Azura dan seakan-akan sedang menegurnya.


"Aku akan menjadi lebih kuat lagi," Ujar Azura.


"Bagus berikan pedang dan kantong itu padaku, aku akan memurnikan pedangmu itu," Ujar Raymond.


Raymond mengeluarkan satu buah kristal dan meletakkannya di atas pedang milik Azura. Ia lalu mengeluarkan tenaga dalamnya untuk menyatukan pedang itu dan kristal, butuh sekitar satu menit untuk membuat kedua benda itu menyatu. Raymond menghela nafas panjang, ia sudah menyatukan sepuluh buah kristal.


"Wow, ada ukiran berwenang biru di pedang arwah. Pedang ini juga semakin ringan bahkan sudah seperti kapas saja," Ujar Azura sambil mengayunkan pedangnya kesana-kemari.


"Ukiran itu menandakan tingkat kekuatan pedangmu, sekarang kekuatannya berada di tingkat kedua." Raymond mulai mengelus jenggotnya.


"Wah benarkah?" Ujar Azura antusias.


"Sebenarnya masih bisa naik lagi. Dengan menggunakan 20 kristal bisa membuatnya naik tingkat lagi, tapi sayang sekali kekuatanku sudah tidak seperti dulu lagi. Memurnikan benda ini memakan setengah tenaga dalamku," Ujar Raymond.


"Bisakah aku mencoba memurnikan pedagangku sendiri guru? Aku tadi memperhatikan cara yang guru lakukan, aku rasa aku bisa mempraktekkannya," Ujar Azura.


"Kau yakin? Akan ada beberapa hal yang akan kau rasakan saat kau gagal memurnikannya," Ujar Raymond sambil melirik Azura.


"Belum mencoba bukan berarti bisa mundur karena beberapa kemungkinan buruk, aku akan mencoba walau harus menanggung akibatnya," Ujar Azura dengan semangat.


"Anak yang memiliki tekad kuat memang berbeda, cobalah aku akan memperhatikan saja." Raymond duduk dan Azura mulai melakukan pemurnian.


Azura mulai mengeluarkan tenaga dalamnya untuk menyatukan kedua benda itu. Dua puluh lima menit berlalu dan Azura telah berhasil menyatukan dua puluh kristal jiwa kedalam pedang. Raymond terkesima melihat hasil yang begitu murni bahkan lebih murni dari pada hasilnya tadi.


"Bagaimana kau melakukan hal ini? Ukiran darah tidak sembarang orang bisa melakukannya," Ujar Raymond.


"Aku hanya meniru guru tapi tadi entah kenapa tiba ada mengatakan padaku untuk memasukkan energi alam yang belum di murnikan dan setetes darahku kedalam pedang arwah," Ujar Azura.


'Anak ini sangat mahir dalam hal pemurnian, apa mungkin anak ini keturunan dia? Jika memang Azura anak dia mungkin itu bisa terjadi' Batin Raymond sambil melihat Azura yang memainkan pedangnya.


'Aku benar-benar beruntung memiliki murid dari anak si jenius itu, sepertinya alasan dia di serang oleh salah kelompok immortal mungkin tidak sesederhana yang aku pikirkan,' Batin Raymond dan akhirnya mengetuk kepala Azura dengan tongkat tuanya.


"Aauuu... Kenapa guru sangat suka memukul kepalaku?" Ujar Azura.


"Ohiya guru aku ada pertanyaan. Kenapa semua orang bahkan Ran-ran memanggil aku vampir? Padahal aku bukan vampir, liat aku tidak punya gigi taring yang panjang dan aku bisa makan makanan manusia." Azura tampak mengingat-ingat.


"Itu karena kau keturunan vampir murni yang terbuang," Ujar Raymond.


"Sekarang aku tau alasan kenapa ibuku selalu mengoleksi benda aneh itu kewajahku. Itu ternyata untuk menutupi ketampanaku, setelah ayah dan ibu meninggal aku masih memakainya." Azura mulai mengingat-ingat bentuk benda yang sering ibunya oleskan di wajahnya.


"Aku juga sudah jarang mandi ke sekolah karna kupikir aku tetap akan kotor karena ulah Kevin dan temannya itu."


...TBC...


Yuk dukung author dengan like rate vote dan coment ya 😃 Jangan lupa favoritin biar nggak ketinggalan ceritanya 😆


Salam manis,


Tirfa_ledina.