Butterfly System

Butterfly System
Chapter 51 [Misteri Hantu 2]


Sebelum baca, Yuka budayakan like, rate, vote dan coment ya🙏😄 Sampai jumpa di episode selanjutnya 🥰


Salam manis,


Tirfa_ledina.


...Happy reading 😘...


"Rendy! Apa yang kau lakukan pada teman sekelasmu?" Ujar sang guru yang melerai Rendy dan Azura.


Sudut bibir Azura terlihat lebam akibat pukulan Rendy, atas instruksi guru Gilang membawa Azura ke UKS untuk memeriksa luka Azura. Rendy tak membiarkan Azura pergi, ia masih butuh penjelasan dari Azura. Kevin yang melihat pertunjukan itu tersenyum simpul.


"Aku tidak perlu ke UKS Bu, ini hanya luka keci." Azura berusaha menolak dengan halus.


"Baiklah, semua kembali ke tempat duduk. Dan kau Rendy! Ikut ibu ke ruang bimbingan konseling. Kau sudah banyak melakukan pelanggaran!" Ujar sang guru dengan nada penuh penekanan.


Rendy berdecak kesal seraya mengekori sang guru. Azura mendapatkan plaster luka dari salah satu siswa dalam kelas, Gilang menggerutu atas kelakuan Rendy tadi.


"Apa hanya itu? Ah, benar-benar membosankan," Ujar Kevin dan membuat satu kelas melihat ke arah Kevin yang tertawa lepas.


Dengan kedua tangannya yang masuk kedalam kantong celananya, Kevin berjalan menuju Azura dengan wajah angkuhnya. Azura mengangkat satu alisnya melihat Kevin yang di kelilingi sesuatu yang aneh dan kuat. Semakin Kevin mendekat, Azura dapat merasakan tekan energi dari Kevin. Meskipun awalnya cukup terkejut Azura membalas tekan itu.


Keduanya masih berdiri dengan tegap dan tak ada tanda-tanda yang bisa menentukan siapa yang akan berlutut di antara keduanya. Kevin berdacak kesal kemudian melewati Azura begitu saja. Kekuatan keduanya bisa di bilang sebanding.


"Kau tidak akan bisa menang dariku, sialan." Bisik Kevin saat melewati Azura.


Azura berbalik melihat kepergian Kevin dari dalam kelas bersama beberapa antek-anteknya. Curiga dan bingung itulah yang Azura rasakan saat ini, ia curiga pada kekuatan gelap milik Kevin yang muncul tiba-tiba itu. Di kehidupannya yang lalu, Kevin sama sekali tidak memiliki kekuatan seperti itu.


Azura baru sadar pada sekelilingnya, para siswa yang merupakan manusia tentu tidak bisa menahan tekanan yang besar itu. Tanpa sadar Azura bertindak tanpa berfikir akibatnya pada orang di sekitarnya. Akibat dari tekanan tadi para siswa menjadi sesak nafas dan terus terbatuk-batuk.


Beruntung Azura tau cara mengatasi efek dari tekanan yang besar. Azura mengeluarkan energi alam dalam dirinya dan membuatnya menjadi pertikel kecil di udara untuk menyembuhkan efek tekan tadi. Dalam beberapa menit, para siswa sudah bisa bernafas dengan lega.


Azura melihat kearah Gilang yang sedang rakus menghirup oksigen. Azura menghela nafas, niatnya untuk mengejar Kevin harus di urungkan saat tiba-tiba saja layar monitor memperingatinya. Azura mengernyitkan dahit melihat tulisan di layar monitor itu.


[Peringatan! Anda melanggar daftar hitam!]


"Apa yang aku langgar?" Gumam Azura.


...🌱🌱🌱...


Pulang sekolah, Azura terus memikirkan banyak hal yang terjadi di sekolah. Setelah ia pergi beberapa hari, semuanya terasa aneh. Azura bingung bagaimana Kevin mendapatkan kekuatan seperti itu. Tanpa sadar Azura malah menabrak seorang yang berpakaian lusuh, Azura meminta maaf beberapa kali seraya membantu orang itu berdiri.


"Maafkan aku paman," Ujar Azura.


Orang itu tak bergeming, ia memberikan instruksi pada Azura untuk melihat kebelakang. Semua orang sedangkan melihatnya dengan tatapan aneh, Azura bahkan bisa mendengar beberapa orang yang berbisik mengatakan ia gila.


"Kepada siapa anak itu meminta maaf?" Ujar salah seorang.


Azura baru sadar jika saat ini ia sedang berbicara dengan hantu. Azura menghela nafas panjang, pria itu berniat pergi namun beberapa pria yang berpakaian seperti preman mendorongnya. Preman yang mendorong Azura berdecak kesal melihat Azura tak bergerak sedikitpun.


"Lupakan bocah itu, hancurkan restoran ini!" Ujar yang memiliki gigi emas.


Hantu yang Azura liat di depan restoran itu terlihat marah, seorang wanita tua keluar dari restoran. Ia memohon seraya berlutut agar restorannya tidak di hancurkan. Azura yang melihat itu tetap diam bersama beberapa orang yang sedang menonton.


"Saya mohon, jangan hancur restoran kami. Saya janji akan membayarnya sesegera mungkin," Ujar wanita tua itu.


Dengan pipi yang sudah basah oleh air mata, wanita tua itu memohon di depan pemimpin dari preman itu. Bukannya mendapat ampun, wanita tua itu malah mendapat pukulan pada pipinya hingga meninggal lebam yang membiru. Ada seorang anak berlarian kearah wanita tua itu, anak itu menangis sejadi-jadinya melihat ibunya merintih kesakitan.


"Hwuaaaa.. Mama, kenapa hiks.."


Hantu tadi kemudian menyerang salah satu preman hingga terlempar membentur dinding. Hawa yang terasa dingin bisa orang-orang di sana rasakan. Azura memijat kepalanya saat merasa ia akan masuk dalam masalah ini. Azura menahan tangan hantu itu yang hendak menusuk salah satu preman.


"Paman akan mendapatkan hukuman berat jika membunuhnya," Ujar Azura.


"Ada apa dengan bocah ingusan itu? Kenapa dia berbicara pada angin?" Ujar salah satu preman.


"Kau menghina aku bocah, sialan?" Ujar pria yang memiliki gigi emas.


Azura menghampiri wanita tua itu, ia membantunya berdiri untuk duduk di salah satu kursi plastik. Azura mengabaikan setiap umpatan dari para preman, merasa kesal pada sikap Azura yang sombong salah seorang preman berniat memukul punggung Azura dengan balok kayu.


"Biar aku berikan pilihan. Mau pergi dengan baik-baik atau tulang kalian patah jika tetap di sini?" Ujar Azura seraya memegangi balok yang di lemparkan seseorang tadi.


"Kau salah berurusan dengan kami bocah! Habis anak itu!" Ujarnya.


Sebisa mungkin Azura tidak memukul dengan keras, ia hanya mematahkan sebelah kaki para preman hingga tak perlu waktu lama semuanya telah tersungkur di tanah. Azura menepuk tangannya untuk membersihkan debu, Kiki tiba-tiba muncul membawa satu kantong uang atas perintah Azura beberapa saat yang lalu.


"Ambil uang itu, mulai hari ini hutangnya sudah lunas. Sisanya ambil saja sebagai biaya rumah sakit," Ujar Azura.


"Kali ini kau lolos bocah," Ujarnya seraya mengambil kantor penuh dengan uang.


"Terimakasih banyak nak. Bagaimana aku bisa membalas kebaikanmu ini?" Ujar wanita tua itu seraya berlutut di depan Azura.


Azura gelagapan, ia dengan cepat membantu wanita tua itu kembali ketempat duduknya. Sang anak masih terlihat malu dan terus menempel dengan ibunya, Azura tersenyum pada anak itu agar tidak takut lagi.


"Tidak perlu bibi, aku ikhlas membantumu dan adik kecil ini," Ujar Azura.


"Ini ambillah, pakailah uang di dalamnya." Azura menyodorkan kartu hitam pada wanita tua itu.


"Anggap saja, ini sebagai investasiku pada restoran ini," Ujar Azura dan wanita tau itu memeluk Azura.


"Terimakasih nak. Kau benar-benar orang yang baik," Ujarnya.


"Luka bibi lebih baik segera di obati. Aku harus pulang segera, maaf karena tidak bisa mengantar bibi ke rumah sakit," Ujar Azura.


Setelah berpamitan Azura langsung pergi, Kiki juga mengekorinya. Nana tiba-tiba muncul, ia memicingkan mata pada Azura seraya menghalang jalan Azura. Pria itu berhenti dengan wajah kebingungan.


"Ada apa Nana?" Tanya Azura.


"Kau memberikan kartu itu?" Nana memasang wajah mengintimidasi pada Azura.


"Iya, apa ada masalah pada kartu itu?" Tanya Azura.


"Tidak ada masalah, hanya saja kartu akses agar kau bisa mengambil uang dari sistem," Ujar Nana dan membuat Azura tertohok.


"Apa?! Kenapa kau tidak bilang dari dulu, Nana. Ah, aku jadi miskin lagi," Ujar Azura dengan wajah memelas.


"Aku bahkan belum membeli rumah mewah dengan uang itu," Ujar Azura.


"Pufftt... Hahahaha... Kau tertipu," Ujar Nana dengan tawa yang keras dan membuat Azura berdecak kesal.


Kiki dan Nana kompak tertawa, di pikiran Azura Nana dan Kiki sangat receh. Azura merasa ada yang menempel di punggungnya, seolah-olah ada seseorang yang bergantungan di pundaknya. Azura menoleh dan langsung di suguhi lelah wajah yang hancur dengan darah yang masih segar.


Sontak Azura kaget, hantu itu menembus Azura yang mundur perlahan. Azura kenal dengan hantu itu saat ia memperbaiki wujudnya, itu adalah hantu di depan restoran tadi. Azura mengelus-elus dadanya, Nana juga awalnya terkejut hingga tanpa sadar ia bersembunyi di belakang Kiki.


"Makhluk aneh apa itu?" Ujar Nana yang terlihat sedikit takut.


"Itu hantu," Ujar Kiki.


"Hantu?! Aku tidak suka pada mereka!" Ujar Nana.


Azura melihat kearah Nana yang terus menarik Kiki untuk mundur, sebuah senyuman licik terukir di wajah Azura. Nana merasa punggungnya tiba-tiba dingin, ia berbalik dan menemukan hantu itu ada di belakangnya.


"Aaaaaaa... Pergi kau!" Teriakan melengking dari Nana berhasil mengundang tawa Azura.


"Ada apa Nana? Paman itu akan hanya ingin menyapamu," Ujar Azura cekikikan.


"Awas kau Azura! Aku akan mengadukanmu pada Devina! Dia sekarang ada di rumah!" Ujar Nana kemudian menghilang begitu saja.