
"Apa maksudmu?" Ujar Azura.
Darel tersenyum simpul dan tak menjawab pertanyaan Azura. Ia lalu menyerang Azura secara tiba-tiba dan berhasil menggores sedikit leher Azura. Jika refleks Azura tidak lebih cepat dari gerakan pedang itu mungkin saja sekarang lehernya berhasil di tebas oleh Darel. Azura mengeluarkan pedang arwahnya dan menangkis serangan dari pedang milik Darel yang mirip dengan milik Azura.
'Bagaimana dia punya pedang arwah yang sama dengan milik sistem?' Batin Azura.
Pertarungan antara Azura dan Darel semakin sengit dan kedua pihak tak ada yang ingin menyerah. Nafas keduanya sudah tidak beraturan lagi, Azura sibuk melindungi setiap siswa sedangkan Darel menyerang secara brutal dan tak peduli sekitarnya. Karena merasa repot melindungi semua orang Azura memancing Darel untuk keluar.
Meskipun Darel tau maksud dari Azura dia tetap mengikutinya. Ia benar-benar menikmati pertarungan tanpa ada seseorang pun yang mengganggunya. Darel sudah kehabisan semua tenaganya begitupun dengan Azura, secara bersamaan keduanya duduk bersila di atas rumput.
"Hosh... Hosh... Kita istirahat dulu, aku sudah lelah. Kita ubah pertandingan ini saja. Melawan kau yang tidak kehabisan energi membuat aku kesulitan," Ujar Darel sambil melepaskan sembarang pedangnya.
"Kau cukup kuat, bagaimana kau bisa mempunyai pedang seperti milikku? Dan lagi kau anggap pertarungan yang mengambil nyawa seseorang dengan permainan?! Aku benci dengan sikap seperti itu!" Ujar Azura sambil berusaha berdiri memegang pedangnya.
"Wah, kau orang kuat yang baik. Aku tidak suka tapi karena kau berbeda aku jadi lebih senang menantangmu," Ujar Darel.
"Tapi aku sudah kehabisan energi, kita ganti permainan kekuatan mental saja?" Ujar Darel dan dalam satu tarikan nafas keduanya menghilang dari tempat mereka.
Mira akhirnya muncul saat Darel dan Azura masuk dalam dunia ilusi yang menguji mental keduanya. Mira merapalkan matra yang membuat pola sihir muncul di sekitar Darel, ia melakukan hal itu agar tuannya Darel bisa sadar dan tidak tenggelam dalam dunia ilusi mental.
Dalam dunia ilusi Azura terbangun di kamarnya dengan deru nafas yang tak beraturan. Ia merasa familiar dengan kejadian ini, pria itu berbalik menghadap cermin di dekat kasurnya. Wajahnya terlihat kusam dan suram, tubuhnya penuh lebam dan ada bekas goresan pisau di perutnya.
"Ah, aku ingat. Aku kan pecundang," Ujar Azura dengan senyuman sedih.
Ia berangkat ke sekolah setelah memakai seragam yang cukup tua dan lusuhnya. Ia memakai sepatunya dengan tangan yang terasa bergetar dan membuat sebuah memori kelam muncul di kepalanya tentang bagaimana ia di lempari sepatu setelah di pukuli oleh teman sekelasnya. Juga memori tentang bagaimana ia masuk kedalam penjara selama satu malam akibat di tuduhan mencuri ponsel teman sekelasnya.
Azura memegangi kepalanya dengan tubuh bergetar hebat karena trauma yang ia alami akibat perundangan di sekolahnya. Azura berusaha berdiri walaupun kakinya sedikit gemetar, ia menghembuskan nafas beberapa kali untuk menenangkan dirinya. Entah kenapa ia sungguh takut membuka pintu rumahnya, dunia luar seperti sangat menakutkan untuknya. Ia berbalik sebentar untuk melihat rumahnya.
"Kenapa sangat sunyi? Apa aku memang hanya sendiran disini?" Ujar Azura kemudian membuka pintu rumahnya.
...☄☄☄...
Bugh..
Bugh..
Bugh..
Di sebuah gang kecil dengan sekolahnya Azura menyaksikan bagaimana seorang siswa di pukuli. Ia terdiam sejenak melihat hal itu, kejadian itu sudah sering ia dapatkan di sekolahnya. Seseorang dari gang kecil itu menyadari keberadaan Azura yang mematung di tempatnya dengan wajah pucat.
"Hei! Kau siapa? Wah, Azura teman sekelas kita. Kau ternyata masih berani ke sekolah ya?" Ujar seorang yang Azura kenali Yaitu Aron.
"Kemarin kau brengsek!" Ujar Aron dengan wajah kesal.
"Kau tidak mendengar aku? Wah kau semakin berani saja ya," Ujar Aron sambil berjalan menuju Azura yang ketakutan.
Aron menarik tas Azura yang membuat Azura ikut tertarik. Dengan kasar Azura di hempaskan ke tumpukan sampah hingga semua sampah itu mengenai Azura, bajunya kini telah kotor lengkap dengan bau sampah yang menyengat. Aron berjongkok melihat Azura yang berusaha berdiri, rokok di mulutnya sudah menyala dan menghembuskan asapnya ke wajah Azura.
"Hei, kau liat anak itu?" Ujar Aron sambil menunjuk dengan dagunya pada seorang yang sudah ia pukuli bersama temannya.
"Kau tau? Dia menolongmu agar lepas dari penjara! Kau tau, semua yang ada di pihakmu itu tidak ada yang bernasib baik." Aron berdiri dan memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
"Kau harus ingat itu! Kau hanya sendirian!" Ujar Aron sambil meleparkan puntung rokoknya ke arah Azura.
Setelah Aron dan teman-temannya pergi, Azura segera menghampiri anak yang penuh luka lebam di sekujur tubuhnya. Beberapa kali Azura memanggil orang itu tapi masih belum ada respon, ia tak bergerak sama sekali. Azura membalikkan tubuh orang itu, matanya tertutup oleh poni rambutnya yang terlalu panjang.
"Kau baik-baik saja?" Ujar Azura namun sekali lagi tak ada respon dari orang itu.
"Apa dia pingsan?" Ujar Azura dan segera membopong tubuh orang itu untuk segera mendapatkan pengobatan.
Dalam hati kecilnya, Azura merasa senang karena masih ada orang yang membantunya tapi sedikit sedih karena orang yang menolongnya malah harus menderita seperti ini. Azura berdiri di tepi jalan untuk menyebrang saat sudah lampu hijau.
"Sepertinya aku akan terlambat lagi," Gumam Azura.
Sudah lampu hijau, Azura langsung berjalan dengan tergesa-gesah dan tanpa sadar sebuah mobil melaju dengan kencang ke arahnya. Suara pergesekan ban dan jalan terdengar cukup keras dan membuat semua orang panik, baru saja berbalik mobil itu sudah menabrak tubuhnya. Azura tidak terlempar cukup jauh tapi cukup membuat kepalanya mengeluarkan darah.
Tubuh Azura terasa remuk dan tak mampu bergerak lagi. Beberapa saat ia hanya bisa melihat suara orang-orang yang mengelilinginya hingga semua menjadi gelap.
'Aku kenapa? Kepalaku sakit!' Batinnya.
'Sesak!" Batin Azura dan secara tiba-tiba ia terbangun di dalam tempat yang gelap dan tak ada seseorang selain dia di sana.
"Akhkk.. Dimana ini?" Ujar Azura melihat sekeliling dan sesekali meringis kesakitan.
Satu tetes air jatuh dan entah kenapa suaranya begitu nyaring di tempat gelap ini. Suara tangis kini Azura dengarkan, ia terus memanggil orang yang terduduk memunggunginya. Azura mencoba menyentuhnya tapi tangannya malah tembus dan tak bisa menyentuh nenek itu.
"Nenek, kenapa menangis?" Ujar seorang anak sambil duduk bersama neneknya.
"Azura, anak baik. Nenek akan menjaga Azura mulai hari ini," Ujar seorang nenek yang sangat Azura kenali.
Sang nenek langsung memeluk anak berusia sekitar sepuluh tahun. Azura beberapa kali bertanya pada dirinya kenapa kenang masa kecilnya terputar kembali? Ia bingung! Azura melihat sang anak menangis melihat kuburan ibu dan ayahnya. Tanpa sadar air mata keluar dari pupil indah Azura, sungguh peristiwa ini menyakiti hatinya. Tentang bagaimana ayah dan ibu mati dengan tragis.
"Ada apa ini?" Ujar Azura.
Azura berbalik tak ingin menyaksikan ingatan sedih yang sudah lama ia pendam itu. Azura menghapus kasar air matanya dan menatap ke depannya yang kini telah menampilkan ia yang sedang memohon sambil berlutut pada bibi dan pamannya agar memberikan uang untuk operasi neneknya.
"Bibi aku mohon, tolonglah nenek. Dia butuh operasi segera," Ujar anak SMA dengan pakaian kotornya.
"Untuk apa? Dia sudah tua, untuk apa menghabiskan uang untuk orang yang sudah hampir mati itu," Ujar sang bibi.
"Betul sekali, nenekmu juga punya banyak hutang pada kami. Kau akan membayarnya dengan apa?" Ujar sang paman.
"Aku mohon bantu nenek sekali saja. Aku akan melakukan apapun, aku mohon." Air mata sudah membasahi pipinya yang sedikit lebam.
"Kau tidak berguna. Keluar dari rumah kami, kau mengotori lantai mahal rumah kami," Ujar sang bibi.
Azura mengepalkan tangannya melihat bagaimana dirinya yang dulu di perlukan tidak adil. Anak SMA itu masih setia berlutut di depan rumah, hujan telah turun sejak tadi tapi ia masih gigih untuk memohon. Sekitar satu jam lebih ia berlutut di tempat itu hingga jam menunjukkan pukul lima sore. Sudah waktunya operasi neneknya harus di langsungkan, ia bergegas pergi kerumah sakit.
"Nenek, nenek. Dimana nenekku?" Ujar anak itu saat tak menemukan sang nenek di dalam ruangannya.
Ia terus bertanya pada dokter dan suster tapi mereka malah tertunduk dan memasang wajah sedih. Azura yang melihat dirinya seperti itu hanya bisa menahan sesak di dadanya yang kian membuat nafasnya pendek.
"Nak, nenek kami sudah meninggal. Beliau sudah ada di ruang mayat," Ujar sang dokter.
Deg.
Jantung Azura seketika terasa berhenti. Sungguh ia tau bagaimana rasa sakit itu saat tau nenek meninggal. Kaki anak SMA itu tersara lemas mendengar ucapan yang keluar dari mulut sang dokter. Air matanya keluar bersama dengan deru nafas Azura yang tak beraturan.
"Hentikan ini, aku mohon." Azura menjambak rambutnya, sungguh ia benar-benar tersiksa dengan ingatan ini.
...TBC...
Hai, semoga suka sama chapter ini ya🤗 Yuk budayakan like, rate,vote dan coment ya. Dukung author terus biar up tiap hari. Sampai jumpa di chapter selanjutnya 😘
Salam manis,
Tirfa_ledina.