Butterfly System

Butterfly System
Chapter 42 [Cepat Bunuh Aku!!]


Rambut biru dengan mata berwana merah darah juga taring tajam yang membuat Azura kini tampak seperti vampir sesungguhnya. Azura mengabaikan semua rasa sakit akibat tubuhnya yang tidak mampu menerima energi yang cukup besar. Tatapannya hanya di penuhi oleh kebencian dan dendam, Azura terus berjalan menuju Rosse.


Dari semua immortal yang ada dalam ruangan itu tak ada yang mampu menghentikan Azura. Rosse dan Brian merasakan tekan yang kuat dari Azura, vampir campur seperti mereka hanya bisa patuh di hadapan vampir murni. Adelion dan Alexander bangkit dari duduknya melihat Azura yang mengalahkan bawahnya.


"Tidak berguna!" Gumam Adelion.


Azura berhasil mengalahkan immortal bawah Adelion dan Alexander, tangan dan wajahnya sudah dinodai oleh darah. Dengan tangan yang berlumuran darah, Azura menyeret tubuh immortal terakhir yang ia bunuh dan melemparkannya pada Adelion dan Alexander. Azura menjilati tangannya sendiri seraya menikmati darah segar para immortal yang ia bunuh.


Azura kemudian menatap kearah Rosse, satu sumringah muncul dari wajah Azura. Hal itu berhasil membuat Rosse merinding melihat Azura yang seperti akan membunuhnya lewat tatapan mata berwana merah itu. Tatapan Azura berubah menjadi kebencian, ia berjalan menuju Rosse. Azura berhasil berdiri di depan Azura, berada di hadapan Azura membuat kaki Rosse tak mampu mempertahankan keseimbangannya.


"Kenapa kau melakukannya? Apa salah Nana pada kalian! Jawab aku!!" Bentak Azura sambil mencekik Rosse.


Mata Rosse dan Azura saling bertemu, tatapan Azura seolah-olah memerintahkan Rosse untuk tunduk padanya. Mata Rosse yang semuanya berwana merah darah perlahan pudar akibat Azura yang menyerap energi vampirnya. Brian melotot melihat Rosse yang hanya bisa terdiam saat energi vampirnya di ambil oleh Azura.


"Berhenti! Atau mereka akan mati di tanganku!" Ancam Brian dengan menodongkan pisau pada leher Levi dan Kiki.


Azura berbalik menatap Brian dan membuat pria itu terlempar jauh akibat energi Azura yang sangat kuat. Meskipun Brian dan Rosse selalu bertengkar dan memilih jalan yang berbeda, Brian masih menganggap hubungan darahnya dengan Rosse masih sangat kuat. Levi dan Kiki juga ikut terlempar bersama Brian, sekarang Azura seperti orang yang berbeda.


"Uhgghhhkk.. Kenapa tuan seperti tidak mengenal kita?" Ujar Kiki seraya batuk akibat debu yang berterbangan.


"Aku yakin sepertinya Azura sedang dalam fase menuju makhluk immortal, kekuatan immortalnya belum stabil. Kita harus mengehentikan dia segera," Ujar Levi.


"Kalian istirahatlah, biar aku yang menghadapi Azura." Mendengar suara itu Levi dan Kiki berbalik menatap pemilik suara yang ternyata adalah Darel.


"Tenanglah, aku dan Mira sudah berkembang pesat akibat kekuatan Azura yang aneh tadi. Kali ini aku bukan ingin merampas kekuatan Azura tapi membantu keluarga yang sedang kesusahan," Ujar Darel yang di sampingnya ada Mira.


Mira dan Darel tampak sedikit berbeda. Ada kekuatan yang unik dan misterius di sekitarnya. Kekuatan keduanya terasa hampir sepadan dengan sepuluh immortal tadi, keduanya mulai mendekati Azura yang masih sibuk menyerap energi vampir milik Rosse.


"Hentikan itu Azura. Apa kau ingin jadi pembunuh seperti mereka?" Ujar Darel membuat kepala Azura berdenyut dengan ucapan Darel.


Melihat Azura yang terlihat sedikit tersadar, Darel segera mengeluarkan pedangnya. Ia tau kata tadi tidak bisa membuat Azura tersadar, Darel melesat menuju Azura. Pertarungan Darel dan Azura di manfaatkan Brian untuk menolong saudaranya yaitu Rosse pergi dari sana. Dengan deru nafas yang tak beraturan Mira dan Darel berhasil memerangkap Azura dalam es. Mira masih terus menahan Azura, gadis itu berusaha keras menahan Azura yang terus melawan dalam kepungan es miliknya.


"Sepertinya aku harus mengaktifkannya sekarang juga," Ujar Darel.


Baru saja Darel ingin mengaktifkan ilusinya hingga bisa masuk ke dalam pikiran Azura dan menyadarkannya. Adelion dan Alexander tiba-tiba menyerang Darel. Hal itu berhasil membuat Darel hilang konsentrasi akibat serangan mendadak dari kedua pemimpin itu. Mira berbalik dan melihat Darel yang ke susahan untuk melawan dua pemimpin sekaligus.


"Jangan pedulikan aku, tetap konsentrasi pada bola esmu." Mira mengangguk dan mulai konsentrasi pada bola es yang didalamnya ada Azura.


Meskipun Darel sudah jauh lebih kuat sekarang tapi di depan kedua pemimpin ini ia berada dibawah mereka. Ada beberapa luka yang membuat Darel tak lagi mampu menyerap energi. Sebelah tangannya sudah patah dan kesulitan untuk memegang pedangnya.


"Sial, kenapa mereka menyerangku sekarang." Gumam Darel.


"Menyerahlah," Ujar Alexander sambil menusuk kaki dan tangan Darel dengan energinya.


Tubuh Darel kini tak bisa di gerakkan. Energi tadi membuat kaki dan tangannya kehilangan fungsi. Adelion tiba-tiba menusuk Alexander dari belakang dan membuat pria paruh baya itu kehilangan banyak darah. Darah perlahan keluar dari mulut Alexander, sumringah mulai Adelion lukiskan di wajahnya.


Adelion berjalan menuju bola es yang masih terus di pertahankan oleh Mira. Brian melesat menuju tubuh Alexander yang terkapar dengan banyak darah yang masih berlomba-lomba keluar. Brian mendekatkan telinganya pada mulut Alexander, tuannya itu masih belum sepenuhnya mati. Setelah mendengarkan bisikan dari Alexander Brian langsung membawa tubuh Alexander pergi dari sana.


"Wah, ayahmu licik juga ya." Elin melirik Valen yang masih berdiri dengan wajah dinginnya.


Valen dan Elin sudah sejak tadi berada di tempat pertarungan. Hanya saja karena bantuan kekuatan iblis Elin, keduanya bisa tidak terlihat dan di deteksi oleh siapapun. Adelion menyentuh bola es dan menyerap kekuatan Azura yang terperangkap itu. Ia lalu tertawa puas dan merasakan kekuatanya semakin meningkat setiap energi kuat yang masuk dalam tubuhnya.


"Kita harus keluar sekarang," Ujar Valen melihat sang ayah yang terus bertambah kuat.


"Hahahah, aku akan menjadi makhluk terkuat dan menjadi sang Demon!" Ujar Adelion sambil menikmati energi kuat itu.


"Tidak semudah itu ayah," Ujar Valen.


"Ayah aku membencimu. Jadi aku akan menghabisimu sekarang juga," Ujar Valen pada sang ayah.


Adelion mengernyitkan dahi melihat sosok di belakang Valen yang tidak lain adalah sang Dewi iblis. Elin melesat menuju bola es dan menghancurkannya dalam sekali sentuhan, bola es pecah bersamaan dengan Mira yang jatuh pingsan. Adelion mundur dan menjaga jarak dengan Elin yang lebih kuat dari dirinya.


"Wah, anak ini tampan juga. Eh, apa ini?" Ujar Elin dengan mata yang tiba-tiba mengeluarkan airmata.


"Air mata? Elin, kau menangis untuk pria ini? Heheh... Seperti aku harus segera membunuhnya."


Tubuh Elin yang di gerakkan oleh Dewi iblis bergetar hebat saat mencoba membunuh Azura. Sang Dewi iblis bahkan kesulitan mengendalikan tubuh Elin, tiba-tiba saja Azura membuka matanya dan langsung mencekik leher Elin.


"Siapa kau?!" Ujar Azura.


"Ini aku Azura. Elin," Ujar Elin yang ternyata sempat terbangun.


"Kau harus membunuhku sekarang juga. Iblis itu berusaha mengendalikan tubuhku, aku tidak bisa menahan dia lebih lama." Mendengar suara itu Azura tersadar, ia segera melepas cekikikannya pada Elin.


Azura langsung membawa Elin dalam pelukannya.


"Maafkan aku," Ujar Azura kemudian Elin melepaskan pelukan itu.


"Cepat bunuh aku sebelum Rusi yang merupakan Dewi iblis itu mengambil alih tubuhku," Ujar Elin sambil memberikan sebuah pisau pada tangan Azura.


...TBC...


Hai, semuanya 👋 Yuk dukung author dengan like, rate, vote, dan coment ya🥰 Sampai jumpa di episode selanjutnya 😘


Salam manis,


Tirfa_ledina.