
Dalam sebuah kastil mewah ada beberapa orang yang telah tiba dan berkumpul di ruang megah di mana ada satu singgasana di sana. Mereka masih setia berdiri untuk menantikan seseorang duduk di atas singgasana. Beberapa menit kemudian seorang masuk ke dalam ruangan tersebut, ia langsung duduk di singgasana dengan posisi tidak sopan sambil menjulurkan kakinya ke samping.
"Taun muda, anda tidak bisa duduk di singgasana itu." Salah seorang di sana menegur pria itu.
"Lancang! Bunuh dia!" Ujar Pria itu dan seorang langsung mengeksekusi orang itu.
"Apa masih ada yang keberatan aku duduk di sini? Apa kalian pikir aku ini lemah, hah?!" Ujar pria itu.
"Tolong ampuni kami, tuan muda Valen." Semua orang itu langsung bersujud dan meminta ampun.
"Mohon tuan muda Valen tidak menunjukkan amarah anda, Ayah anda bisa marah saat tau tentang hal ini." Elena memegang bahu Valen yang berniat berdiri.
"Tapi, orang itu telah menghinaku! Aku marah dan ingin menghabisi orang itu!" Teriak Valen dengan mata yang telah berubah menjadi berwarna merah darah.
"Tenanglah, kita akan membunuhnya dan merampas sistem miliknya dan memberikan sistem kupu-kupu itu padamu. Kau akan jadi lebih kuat seperti ayahmu," Ujar Elena.
Seorang pria paruh baya masuk dan di samping sudah ada beberapa pengawal juga Rosse dengan cambuk di tangannya. Mereka berhenti saat melihat ada mayat yang tergeletak tanpa kepala di sana. Valen menatap ayahnya yang juga menatapnya seolah-olah sedang meminta penjelasan atas mayat ini.
"Bereskan mayat ini," Ujar Adelion yang merupakan ayah Valen.
Adelion berjalan menuju anaknya dan menepuk tiga kali kepalanya lalu duduk di atas singgasana. Orang-orang itu berdiri, mereka semua adalah Alfa yang memiliki kekuatan yang cukup kuat untuk bertarung. Meskipun mereka kuat, mereka tidak bisa melawan para immortal yang berada di kasta tinggi. Mereka punya insting untuk menjaga batasan dengan para immortal, Itulah sebabnya mereka sering di perbudak oleh para immortal.
"Aku mengumpulkan kalian di sini karena suatu hal," Ujar Adelion.
"Apa kalian tau bahwa vampir murni telah bangkit kembali?" Ujar Adelion dan membuat semua orang di sana kaget.
"Taun, bagaimana bisa vampir murni masih ada? Mereka telah hilang ribuan tahun yang lalu, tidak mungkin mereka kembali!" Ujar salah seorang di sana.
"Apa mereka ingin balas dendam? Mereka terlalu kuat, ribuan tahun yang lalu kami bahkan hampir kehilangan semua anggota klan kami saat peperangan itu. Jika dia muncul lagi, bagaimana kita membunuh mereka? Kita tidak sebanding dengan mereka," Ujar seorang Alfa dan membuat keributan dalam ruangan itu.
"Semuanya diam!" Teriak Rosse sambil mencambuk sebuah kursi hingga hancur.
"Kalian tenanglah! Dia belum menyadari kekuatannya, sekarang dia masih anak SMA yang belum tau apa-apa tentang kekuatan vampir murni. Membunuhnya sekarang akan jauh lebih mudah," Ujar Rosse untuk menenangkan orang-orang itu.
"Jangan lupa dengan sistem kupu-kupu yang melindunginya," Ujar Elena.
"Sistem kupu-kupu memegang sangat kuat, tapi kita punya pion untuk melawan itu. Aku mengumpulkan kalian agar memberikan setetes darah untuk benda ini," Ujar Adelion sambil menunjuk sebuah baki berisi kristal ungu yang di bawa Elena.
"Meskipun kekuatan immortalnya belum bangkit, vampir murni bukan sembarang makhluk yang bisa kita kalahkan dengan mudah. Kristal iblis juga harus memiliki inang yang tepat untuk bisa bertumbuh," Ruangan kembali ramai dengan pembicaraan para Alfa itu.
"Kami mengumpulkan kalian bukan tanpa persiapan, aku telah menemukan inang yang cocok." Tiba-tiba muncul layar monitor raksasa di tepat itu dan menampilkan gambar seorang wanita dengan pakaian SMA.
"Tubuh dewi!? Apa benar itu adalah tubuh dewi? Kita butuh seseorang yang bisa mengendalikan kristal iblis dalam tubuh suci itu," Ujar seorang pria tua.
"Anakku bisa mengendalikannya, ia mempunyai kemampuan untuk memanipulasi suatu energi untuk melawan balik energi lain."
"Bagaimana jika kita melaporkan hal ini pada lord? Yang mulia bisa menyelesaikan ini dengan mudah," Ujar seorang beta yang memiliki kasta lebih rendah dari Alfa.
Tiba-tiba cambuk milik Rosse mendarat di leher Beta itu dan membuatnya kesulitan bernafas. Sang beta berusaha melepaskan cambuk itu dari ikatannya dengan cakarnya namun tak memberikan perubahan apapun. Rosse yang melihat itu langsung menarik cambuknya dan membuat kepala dan tubuh beta itu lepas.
"Apa masih ada yang memihak lord?" Ujar Rosse dengan taring yang mulai muncul.
"Kami bersedia memberikan setetes darah kami," Ujar para Alfa sambil berlutut hormat pada Adelion.
Adelion tersenyum namun segera luntur saat seorang menghancurkan pintunya. Kini salah satu utusan keluarga Moca telah berdiri di depan pintu lengkap dengan para Alfa budak mereka. Rosse dan Elena segera berdiri di depan Adelion dan Valen untuk melindunginya.
"Wah, keluarga hazzel ternyata memiliki informasi yang bagus. Tidak mau berbagi dengan kami?" Ujar seorang pria bertaring panjang sambil memang pedang berlumuran darah.
"Hai saudara perempuanku. Kau tambah kuat ya sekarang," Ujar Brian.
"Tapi, kau tidak bisa melampaui aku!" Ujar Brian kemudian menyerang Adelion dengan pedangnya.
Rosse berhasil menangkap pedang Brian dengan cambuknya hingga lepas dari tangan pria itu. Kini Rosse telah memamerkan taringnya pada Brian hingga menyulut kemarahan pria itu. Pertarungan Brian dan Rosse awalnya terlihat seimbang namun lama kelamaan Rosse mulai tersudut dalam pertarungan itu.
"Sudah kubilang, kau jauh di bawahku." Brian mengarah pedangnya tepat di dada Rosse.
"Berhenti! Aku tau kau datang kesini bukan untuk mengacau atau membunuhku," Ujar Adelion sambil menekan Brian dengan kekuatannya.
"Tuan Adelion yang terhormat bahkan turun langsung untuk menghadapiku, aku sangat tersanjung. Aku hampir lupa tujuan aku kemari saat sedang bermain bunuh-bunuhan dengan para bawahanmu yang lemah," Ujar Brian sambil menjilati pedangnya yang berlumuran darah.
"Cepat katakan apa tujuanmu datang kemari!" Teriak Elena sambil menekan suaranya.
"Wow, santai dong. Ini lagi isi energi tau," Ujar Brian dan Elena langsung berdecak kesal.
"Aku datang kemari untuk membawa kerjasama dengan keluarga Hazzel, tuanku tidak ingin membuang waktu di sini. Jika kalian menolak maka aku harus membawa kepala tuan Adelion bersamaku," Ujar Brian dengan senyumannya.
"Aku tau, keluarga Hazzel ingin mendapatkan kekuatan vampir murni sendirian. Kekuatan itu bahkan bisa setara dengan lord, mana mungkin keluarga Moca tidak ambil bagian?" Ujar Brian.
"Jadi apa keputusan tuan Adelion yang terhormat?" Ujar Brian dengan sumringahnya.
...☄☄☄...
"Yang mulia, keluarga Hazzel dan Moca sepertinya sedang mengincar vampir murni. Aku rasa setelah berhasil mendapatkan kekuatan itu, mereka akan melakukan kudeta atas takhta anda."
"Memelihara vampir campur dan memperbudak para Alfa sepertinya aku memberikan mereka terlalu banyak kebebasan," Ujar pria itu.
"Apa kami harus menghancurkan mereka?" Ujarnya.
"Tidak perlu, biarkan vampir murni menyelesaikan hal ini."
"Tapi yang mulia, vampir murni masih belum menyadari kekuatannya. Ditambah lagi ada seorang yang mengincarnya selain keluarga Moca dan Hazzel," Ujarnya.
Di sisi lain Azura masih sibuk dengan Kiki dan Nana yang terus mengajaknya untuk menemui Devina. Setelah Nana tau jika Devina ternyata adalah seorang penyihir yang kuat, kini Nana sungguh bersemangat untuk menemui gadis itu. Beberapa kali Azura terus di desak oleh Nana untuk pergi ke rumah Devina.
"Bukannya kau sudah berjanji padanya? Kau tidak akan ingkar janji bukan?" Ujar Nana yang telah berdiri di depan gerbang rumah Devina.
"Kau pikir ini mudah?" Ujar Azura.
"Tuan bukannya sudah memiliki cara untuk menyelesaikan energi berantakan di tubuh Devina? Apa yang perlu di khawatir?" Ujar Kiki.
"Aku bisa menyembuhkannya tapi metodenya yang membuat aku gugup. Aku harus menyentuh punggungnya untuk mengatur energi dalam dirinya," Ujar Azura dengan telinga yang memerah karena malu.
Nana dan Kiki tidak bisa menahan tawanya, keduanya langsung tertawa terbahak-bahak dan hal itu membuat Azura semakin malu. Kiki dan Nana tak menyangka ada pria sepolos Azura di dunia ini. Menyentuh punggung wanita saja membuat dia sangat gugup, bagaimana jika melakukan hal lain?
"Kau ini sungguh manusia paling polos yang pernah aku temui," Ujar Nana sambil memegang perutnya untuk menahan tawa.
...TBC...
Hai semuanya 😊 masih semangat bukan baca cerita ini? Semoga kalian suka chapter ini🥰 Jangan lupa duduk Author dengan like, rate, vote dan coment ya🤩
Salam manis,
Tirfa_ledina.