
Pukulan demi pukulan harus di terima para immortal, kekuatan mereka melemah dan sulit menyerang Azura yang terus tersenyum atas kemenangannya. Nana dan Kiki bahkan tidak di biarkan masuk dalam pertarungan itu, keduanya hanya berdiri sambil memberi sorakan pada Azura.
"Tuan memang sangat kuat," Ujar Kiki sedangkan Nana hanya mengangguk.
"Awas Azura!!" Teriak Levi yang melihat Adelion turun langsung menyerang Azura.
Sejak tadi Levi tau jika Adelion tersenyum melihat Azura yang bertarung. Adelion sama sekali tidak mempedulikan para bawahannya, ia terpancing dengan teknik bertarung Azura. Satu pukulan berhasil mendarat di perut Azura yang membuat pria itu terpental jauh membentur dinding.
"Kau menarik anak muda, kau meremehkan kami yang lebih kuat darimu. Benar-benar anak yang percaya diri," Ujar Adelion.
Dinding yang di bentur oleh Azura terlihat retak, jika saja Azura tak menyelimuti dirinya dengan energinya mungkin ia akan luka parah. Azura mencoba berdiri sambil memegang perutnya, pukulan tadi berhasil menghancurkan perputaran energi dalam perutnya yang berarti daerah amannya telah hancur.
"Ada apa? Kartu as mu sudah hancur ya? Ah aku menggunakan terlalu banyak energi untuk menghancurkannya. Biar aku beri tahu sedikit, kau adalah orang pertama yang tidak mati setelah menerima pukulan dariku," Ujar Adelion.
"Rosse, urus anak ini. Aku tidak mau ada kesalahan," Ujar Adelion seraya kembali ke tempat duduknya.
Tepat setelah ia duduk, tangannya bergetar hebat. Ia menyembunyikan fakta bahwa pukulan tadi menggunakan seperempat dari energinya. Tak ada yang bisa melawan vampir murni adalah salah satu fakta yang tidak bisa di elak semua pemimpin keluarga. Mereka mendapatkan kutukan dari para vampir yang meninggal karena kudeta itu.
"Sial, kutukan itu ternyata benar. Merepotkan sekali," Gumam Adelion sedangkan Alexander tersenyum remeh.
Ya, alasan Adelion mundur adalah karena kutukan itu. Azura mulai di pukuli para immortal, semakin lama ia tersudutkan dalam pertarungan itu. Darah mulai keluar beberapa kali dari mulut Azura, para immortal tersenyum puas melihat keadaan Azura.
"Tuan!" Teriak Kiki saat melihat Azura sekali lagi memuntahkan darah.
Azura menggeleng lemah agar Kiki dan Nana tidak ikut bertarung. Nana sudah berkaca-kaca melihat Azura yang terus dipukuli. Levi mengepalkan tangannya seraya menghitung, posisi para immortal tidak berada dalam jangkauan alatnya.
"Liat anak ini. Vampir murni memang yang terkuat dulunya tapi liat sekarang, bahkan makhluk terkuat ini bertekuk lutut di depan kami." Para immortal itu menertawakan nasib Azura yang sudah babak belur.
Azura tidak bisa menggerakkan tubuhnya, melihat hal itu Levi sudah tidak tahan lagi. Sosok Azura yang sekarang sudah seperti dirinya yang dulu. Anak lemah yang tidak bisa berbuat apa-apa di depan kekuatan yang hebat. Levi maju dan meleparkan benda kecil pada para immortal itu dan membuat suara ledakan terdengar beberapa kali.
"Apa kau bisa bergerak Azura?" Tanya Levi.
Azura tak menjawab, pria itu hanya mengangguk lemah seraya berusaha duduk. Baru saja Levi berbalik sebuah pedang berhasil merobek tudung jaketnya dan memperlihatkan wajah Levi. Alexander tersenyum simpul melihat ada anak Lord di sini. Keberadaan Levi benar-benar di luar dugaan Alexander tapi tanpa sengaja hal itu membuat kesempatan langka untuk mengancam Lord.
Para immortal tidak mungkin mati hanya karena ledakan kecil tadi, Levi tau dengan hal itu jadi mereka harus segera mundur. Levi berusaha membantu Azura untuk pergi dari tempat itu namun cambuk tiba-tiba menangkap kaki Levi. Rosse tidak mungkin tinggal diam saja, kali ini pertarungan akan sedikit sulit bagi Levi karena Elena juga sudah sadarkan diri dan Brian yang telah kembali.
"Ada apa ini? Sampah kecil sepertimu kenapa masuk dalam pertarungan ini?" Ujar Brian sambil menatap Levi.
"Apa kau tidak tersesat?" Lanjut Brian hingga Levi mengepalkan tangannya dengan rahang yang terkatup rapat.
"Kau marah? Ah, maafkan aku. Jangan mengadu pada ayahmu ya," Ujar Brian kemudian langsung menyerang Levi.
"Aku tidak suka melawan anak kecil. Tapi karena kau yang menyerang aku duluan tadi maka jangan salahkan aku bertindak kejam," Ujar Elena dengan senyum sumringah seraya mendekat ke arah Nana.
Azura terduduk melihat pertarungan Levi, Nana dan Kiki. Mereka terus mendapatkan pukulan tapi masih keras kepala untuk tetap bangkit. Sekarang Azura merasa bersalah, harusnya ia tidak membiarkan mereka ikut dalam pertarungan ini. Levi terjatuh dengan Brian yang menodongkan pisau tepat di sekitar lehernya. Kiki dan Nana kelelahan dengan tulang yang sudah banyak patah.
"Bagaimana? Apa kalian menyerah? Kalian tidak akan bisa mengalahkan kami," Ujar Rosse.
"Dasar banyak bicara! Kau takut kalah kan? Jadi bicaramu jadi seperti ini?" Ujar Nana seraya berdiri dengan wajah menantang.
"Anak yang bodoh!" Ujar Rosse dengan mata yang berubah menjadi merah.
"Nana! Awas!" Teriak Levi.
Dengan gesit sebuah cambuk dengan ujung yang tajam menembus tepat di perut Nana. Seketika mata Azura membulat sempurna melihat Nana yang berlumuran darah. Rosse tertawa puas melihat Nana yang ambruk dengan banyak darah di sekelilingnya. Nana yang tidak bisa mempertahankan wujud manusianya akhirnya harus kembali menjadi kucing hitam.
"Nana!" Ujar Azura dengan nada bergetar.
Azura berusaha berdiri dan menghampiri tubuh kucing hitam itu. Nana terlihat tak bergerak, mata kucingnya melihat Azura dengan air matanya. Terlalu banyak darah yang keluar dari tubuhnya, layar monitor terus bermunculan di hadapannya begitupun dengan Azura. Sistem tidak henti-hentinya memberikan peringatan pada Azura.
[Peringatan! Penanggung jawab kehabisan terlalu banyak darah!]
'Azura gunakan pil darah untuk menyembuhkan lukamu,' Ujar Nana lewat telepati.
'Jika kau sembuh, aku bisa ikut sembuh. Cepat makan dan aku akan segera sembuh,' Bohong Nana dengan sebuah pil yang muncul di tangan Azura.
Azura terlihat ragu. Karena melihat tubuh Nana yang sudah tidak kuat, pria itu memakan pil darah dan tubuhnya mulai mengalir banyak energi. Semua luka dalam yang ia terima berhasil sembuh, benar yang Raymond ucapakan. Pil darah benar-benar mujarab dalam menyembuhkan luka apapun.
'Bagus, kau sudah memakannya. Sekarang sepertinya aku sampai disini saja' Ujar Nana.
"Apa maksudmu? Kau kenapa tidak ikut sembuh?" Tanya Azura.
'Aku akan tenang setelah kau sembuh.'
Nana tersenyum kecil seraya mata kucingnya yang perlahan tertutup. Cairan bening langsung membasahi pipi Azura, melihat keadaan Nana sekarang ini mengingat dia pada masa lalu kucingnya yang mati. Sekali lagi perasaan sesak itu mendesak Azura untuk terjun ke jurang kesedihan.
"Ini salahku," Gumam Azura.
"Semua salahku," Gumam Azura sekali lagi.
Kupu-kupu berwana biru cerah menghampiri Azura dan hampir memenuhi ruangan ini. Elena kaget melihat jumlah kupu-kupu yang banyak ini, mereka sedang menyembuhkan Azura. Kekuatan Azura meningkat dengan drastis, semua bisa merasakan kekuatan yang besar dari Azura.
"Ada apa dengan anak ini? Lukanya tiba-tiba sembuh?" Ujar Brian.
"Aku yakin ini perbuatan sistem kupu-kupu itu," Ujar Rosse seraya mengepalkan tangannya.
"Tidak, sistem tidak mampu menyembuhkan luka dalam," Ujar Elena.
"Ini adalah kesalahanku," Ujar Azura seraya mengendong tubuh Nana yang berlumuran darah.
"Aku melakukan kesalahan ini lagi," Ujar dengan mata sayu yang telah berubah warna menjadi biru.
"Ada apa dengan anak ini? Apa dia sudah gila?" Ujar Rosse saat melihat tatapan Azura.
Azura mulai berjalan menuju Rosse. Tatapan Azura membuat Rosse seperti tidak bisa bergerak, ia kini seperti telah menjadi patung akibat tatapan mata berwana biru itu. Brian yang merasakan kekuatan Azura terus meningkat segera mencekik Kiki dan Levi yang terluka.
"Berhenti! Aku akan memotong leher mereka jika kau terus berjalan kemari!" Ancam Brian.
Azura melihat Brian yang mencekik Levi dan Kiki. Keduanya memberontak akibat kekurangan oksigen, rasa bersalah sekali lagi memenuhi hati Azura. Pria itu mulai mengutuk dirinya sendiri akibat keadaan Kiki dan Levi.
"Maafkan aku," Ujar Azura.
"Apa yang kalian lakukan? Kenapa malah terdiam seperti itu? Cepat bunuh anak itu!!" Teriak Elena.
Para immortal yang tadinya terdiam untuk saat merasakan kengerian dengan kekuatan Azura yang terus meningkat. Azura menghapus kasar air matanya, pria itu lalu mengusap layar monitor dan memasukkan Nana dalam ruang yang Azura buat sendiri. Para immortal itu seperti tidak bisa bergerak akibat tekanan yang di berikan Azura.
"Ini adalah kesalahanku. Aku akan menanggung semuanya," Ujar Azura seraya memejamkan matanya.
"Apa kalian bodoh?! Serang anak itu!" Bentak Alexander saat merasakan Azura akan mencapai kekuatan immortalnya.
Mendengar bentakan Alexander mereka langsung tersadar dari ketakutannya. Dengan segera mereka melompat dan mengeluarkan kekuatan immortal mereka untuk melawan Azura yang masih memejamkan mata. Mata Azura terbuka bersamaan dengan rambutnya yang berubah menjadi biru, kekuatan Azura membuat para immortal itu langsung terlempar.
"Aku akan membalaskan semua dendam ini!" Ujar Azura dengan mata merah yang mengeluarkan darah.
"Dendam ini akan membunuh kalian!" Ujar Azura dengan taringnya.
...TBC...
Hai para pembaca yang terhormat 👋 Yuk dukung Author dengan like, rate, vote dan coment ya. Sampai jumpa di episode selanjutnya 😘
Salam manis,
Tirfa_ledina.