
"Berani sekali kau membangkitkan Demon?!!" Ujar Lord dengan tekanannya pada Kevin.
Melihat Kevin tetap berdiri dengan tekanan yang di berikan oleh Erik yang merupakan Lord, Sherly mengernyitkan dahinya. Cahaya merah darah yang di pancarkan dari tubuh Demon mengundang banyak sekali roh jahat di tempat itu. Beberapa kali ada yang menggila hingga berani menyerang Sherly yang merupakan penyihir agung.
Erik kemudian menambah tekanan energinya pada Kevin hingga akhirnya ada reaksi terhadap Kevin. Pria itu berlutut dengan sangat terpaksa di hadapan Erik, Kevin tidak bisa membantah jika kekuatan yang di milikinya hanyalah sebuah serpihan milik Demon. Kevin mengatupkan rahangnya rapat karena marah, ia tidak ingin berlutut pada siapapun.
"Kalian khawatir bukan?!" Ujar Kevin dan memberikan senyuman remeh.
"Kalian takut jika Demon bangkit kalian akan di bantai habis olehnya," Lanjut Kevin hingga Erik maju dan mencekik leher Kevin.
"Jaga bicaramu!! Kau hanya serpihan energi milik Demon jangan bermimpi bisa sebanding denganku!!" Ujar Erik penuh penekanan.
Kevin tak bereaksi, ia hanya memamerkan sumringahnya pada Erik. Tak ada rasa takut di mata Kevin, ia terlihat sangat percaya diri jika Erik tidak akan mampu membunuhnya. Rasa curiga Sherly akhirnya membuatnya segera menarik Erik menjauh dari Kevin.
"Apa yang kau lakukan Sherly?! Aku harus segera menyelesaikan anak ini!!" Ujar Erik yang sedikit emosi.
"Anak itu berbahaya," Ujar Sherly penuh curiga.
Suara ledakan yang cukup besar terdengar secara tiba-tiba, bersamaan dengan itu Sherly berhasil memaksa sihir pelindung tepat setelah sebuah cahaya terang hampir menebas keduanya. Amon yang tadinya masih tertidur akhirnya membuka matanya kembali, ia kemudian terduduk seraya melihat sekeliling dengan tatapan kosong.
"Selamat datang kembali ayah," Ujar Kevin seraya membungkuk hormat pada Demon yang keluar dari dalam peti.
Demon lalu mengangkat sebelah tangannya dan mengarahkannya pada para roh jahat yang sedang berkumpul itu. Sebuah mantra keluar lewat bibir Demon dengan aura yang terasa sangat gelap dan menakutkan. Dalam sekejap para roh jahat itu langsung masuk ke dalam tubuh Demon. Selesaikan dengan para roh jahat, mata merah gelap milik Demon menyoroti Sherly dan para penyihir lainnya.
"Aku masih butuh lebih banyak," Gumam Demon dengan suara yang terkesan dingin.
Demon menatap lurus pada Sherly kemudian mulai berjalan kearahnya. Melihat sorot mata Demon, entah kenapa membuat Sherly tak mampu untuk bergerak. Tubuhnya terasa membatu di tempat, beku karena kekuatan yang lebih besar adalah hal yang di alami oleh Sherly saat ini.
"Tidak akan kami biarkan makhluk jahat sepertimu menyentuh penyihir agung!!" Ujar para penyihir seraya berdiri melindungi Sherly.
Para penyihir beserta Sherly merapalkan mantra dan sebuah pola sihir yang bernar muncul di bawah kaki Demon. Erik tak tinggal diam, ia tau jika sihir itu tidak akan mampu menahan Demon lebih lama. Meskipun sama-sama pemimpin tapi kekuatan yang di miliki Demon berbeda dengannya.
"Kita harus pergi dari sini," Ujar Erik hingga Sherly mengangguk kemudian merapalkan mantra untuk berpindah tempat.
"Sudah pergi ya?" Ujar Demon tanpa ekspresi.
Demon kemudian menolehkan untuk melihat cahaya biru yang begitu terang dari arah berlawanan. Cahaya itu milik Azura namun segera membangkitkan amarah dalam diri Demon. Aura keunguan terlihat di sekitar tubuhnya, dalam sekejap rerumputan tiba-tiba kering karena aura gelap itu.
"Iruz!!" Ujar Amon dengan penuh dendam.
Kevin terlihat tersenyum simpul melihat kemarahan Demon. Amarah dan dendam Demon kembali karena ulah Kevin yang lancang melepaskan segel pada kekuatan Amon. Demon yang telah bangkit beberapa hari yang lalu nyatanya telah kehilangan sebagian dari kekuatan juga memorinya. Dengan membangkitkan kembali kekuatan yang di miliki Demon merupakan cara yang mampu memicu jiwa yang di selimuti kemarahan itu untuk balas dendam.
"Aku tau, ayah ingin balas dendam bukan? Ayo kita pergi menghancurkan cahaya sialan itu!!" Hasut Kevin.
...***...
Dengan gembira, Kiki terbang ke sana kemari mengelilingi tempat itu. Setelah puas akhirnya ia mendarat dan merubah wujudnya menjadi anak-anak lagi. Senyum terus terukir di wajah Kiki.
"Nana kau liat? Aku terlah berhasil menjadi naga seutuhnya," Ujar Kiki kegirangan.
"Iya, kau sudah berusaha keras Kiki," Ujar Nana.
Berbeda dengan Kiki, terlihat Azura masih terbaring lemah karena energinya telah habis. Tata naga hitam yang menjadi bukti Azura dan Kiki telah mengikat kontrak perlahan hilang, hal itu terjadi karena Kiki telah berhasil menjadi naga sempurna dan telah memiliki jiwanya sendiri.
Azura mengerang saat merasakan kepalanya terasa pusing. Perlahan ia mulai sadarkan diri, ia membuka matanya di atas rerumputan hijau yang terlihat sangat subur itu. Terlihat ada sekumpulan makhluk dengan bentuk aneh namun tampak bersih menghampiri Azura.
[Nilai pesona diaktifkan]
Layar monitor muncul di depan Azura, cukup terkejut dengan kedatangan beberapa makhluk itu Azura sedikit memperbaiki posisinya. Levi juga ikut terkejut, ia tau semua mahluk yang berkumpul ini. Mereka berasal dari hutan malam, semua hewan yang ada di sana sangat membenci kehadiran manusia ataupun mahkluk immortal.
"Bagaimana mereka semua bisa sampai di tempat ini?" Ujar Levi.
"Itu semua karena Azura," Jawab Nana.
Meskipun tampak ragu, Azura menyentuh salah satu hewan yang tampak seperti macan namun memiliki bulu berwarna emas dengan taring cukup tajam dan besar. Macan itu menerima elusan tangan Azura seperti hewan yang cukup jinak.
"Hahaha... Jangan menjilati tanganku," Ujar Azura yang merasa geli.
"Sebenarnya kalian berasal dari mana?" Ujar Azura seraya beranjak dari duduknya.
"Mereka berasal dari hutan malam," Ujar seseorang dengan rambut yang sangat panjang.
"Siapa kau?" Tanya Azura pada orang yang tiba-tiba muncul secara misterius itu.
"Aku, bukan siapa-siapa. Hanya raja vampir murni terdahulu," Jawabnya.
"Iruz!!!" Teriak Nana yang membuat pria itu menutup telinganya rapat-rapat karena terganggu dengan suara cempreng Nana.
"Kenapa kau bisa ada disini?" Tanya Nana.
"Iruz? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu? Tapi di mana ya?" Levi tampak bersedekap seraya berpikir.
Sang macam melihat ke arah barat, para hewan tiba-tiba saja kacau. Mereka merasakan sesuatu yang berbahaya sedang mengarah pada mereka. Iruz juga merasakan hal yang sama, ia merasakan kekuatan Amon kakaknya yang tak lain adalah Demon sendiri.
"Sebaiknya kita ganti tempat untuk bicara," Ujar Iruz hingga mata birunya mengejutkan Azura.
Para makhluk hutan malam langsung menghilang seperti kabut dari tempat itu. Dengan mengunakan kekuatan yang di milikinya Iruz segera membuat portal.
"Kalian masuklah," Ujar Iruz.