
Setelah pelajaran berakhir Azura segera keluar dari pekarangan sekolah untuk mencari kerja paruh waktu yang cocok untuknya. Hari sudah menjelang malam namun pria itu masih dengan giat mencari di setiap toko yang membutuhkan bantuannya.
"Hufft, mencari pekerjaan ternyata sungguh sulit." Azura mengipasi dirinya menggunakan pakaian yang sudah basah karena kering.
Orang yang lewat berdecak kagum melihat ketampanan Azura. Beberapa di antara mereka bahkan mengambil video dan foto yang bahkan Azura tidak menyadari hal itu. Seorang gadis memberikan Azura minuman dingin dan langsung pergi dengan wajah malu saat Azura menatapnya bingung.
"Maaf nona, kau meninggal minumanmu." Azura mengangkat botol minuman itu ke atas.
"Itu buat kau saja," Ujar Gadis itu dan pergi bersama teman-temannya.
"Aku bahkan tidak meminta? Sudahlah yang penting dapat minuman gratis. Sesuatu yang gratis itu yang paling enak," Ujar Azura sambil membuka tutup botol.
Dalam sekali tegukan Azura berhasil menghabiskan seluruh isi dari botol tersebut. Azura melempar botol yang telah kosong itu ke tong sampah. Pria itu segera berdiri dan berniat untuk pulang karena mungkin neneknya sudah khwatir di rumah.
"Aku pulang nek," Ujar Azura.
Tak ada seorang pun yang menjawab, hanya ada kesunyian dalam rumah itu. Azura membuka sepatunya dan berjalan masuk mencari neneknya. Pria itu akhirnya bernafas lega saat melihat neneknya yang sedang tertidur pulas. Raut lelah masih terlihat di wajah Amora yang sedang tertidur. Azura tau jika neneknya baru saja pulang dan langsung tertidur kerena lelah saat melihat neneknya masih memakai pakaian yang kotor.
"Sebaiknya aku membuat makan malam untuk nenek saja. Dia pasti lapar saat bangun nanti," Ujar Azura dan mencium pelan dahi neneknya lalu pergi.
Azura mulai berkutat dengan bahan dapur seadanya. Nasi goreng dan tempe telah tertata rapi di atas meja makan yang sudah terlihat tua itu. Azura membawa nampan yang sudah terisi makan dan minuman menuju kamar neneknya, Amora akhirnya sadar jika ada seseorang yang masuk ke dalam kamar.
"Nek, makan dulu. Nanti nenek sakit kalo nggak makan," Ujar Azura lembut.
"Azura, kenapa kau yang memasak? Kau sudah capek dari sekolah, maaf nenek tidak sempat memasak tadi." Amora berusaha duduk.
"Tidak papa kok nek. Azura kan masih muda dan punya banyak tenaga jadi nenek tidak perlu khawatir. Ayo nenek makan dulu," Ujar Azura sambil tersenyum pada Amora.
Amora merasa senang karena memiliki cucu yang baik seperti Azura. Rasa lelahnya setelah bekerja terasa hilang seketika saat ia berbicara dengan cucu kesayangannya itu. Azura sudah seperti magnet yang menarik semua orang untuk tersenyum.
...βββ...
Azura menyekat keringatnya saat lelah berjalan kesana kemari memberikan peringatan pada setiap siswa yang melanggar. Kesibukan menjadi anggota kedisiplinan membuat Azura hampir tidak bisa makan siang, namun beruntung ada salah satu dari anggota kedisiplinan yang mau mengantikannya untuk berpatroli di sekolah.
Kini Azura berniat untuk pergi makan siang di kantin sekolah, Azura menghela nafas panjang saat ada segerombolan wanita yang bertengkar untuk duduk di meja yang sama dengannya.
"Sudahlah, jangan bertengkar lagi. Aku yang akan pindah dari meja ini," Ujar Azura lalu pergi membawa kota bekalnya.
Para gadis tadi hanya bisa berdecak sebal dan sesekali menggerutu. Azura kini duduk bersila di atas tanah, pria itu memilih untuk makan siang di bawah pohon. Taman belakang cukup sepi dan jarang ada yang ingin sekedar berjalan-jalan di daerah ini. Tempat ini menjadi tempat favorit Azura sejak dulu dan sekarang.
Azura mulai menyantap makan siangnya dengan lahap dan tanpa menyisakan isi dari bekal tersebut. Azura melirik sejenak naga hitam yang sedang memperhatikannya makan sejak tadi, beberapa hari yang lalu Azura sudah memberikan nama yang cocok dengan naga itu yaitu Kiki.
Layar monitor tiba-tiba muncul di hadapan Azura. Pria itu menatap bingung tampil yang di perlihatkan oleh layar monitor itu. Nana tiba-tiba muncul dan langsung duduk di atas kepala Azura.
"Ada apa ini? Kenapa layar monitor ini muncul?" Ujar Azura sambil membaca setiap kata di layar monitor itu.
...Update Batal >...
[Butterfly system telah di perbarui, tekan saja update makan otomatis semua perangkat baru yang kami kembangkan akan langsung terhubung, meong]
"Ada apa dengan sistem yang lama?" Ujar Azura.
Azura tampak berfikir keras, otaknya menyuruhnya untuk menekan update tapi entah kenapa ia memiliki perasaan tidak enak jika dia menekannya. Nana tersenyum simpul, dapat terlihat jelas jika kucing hitam ini akan melakukan hal yang mungkin buruk bagi Azura.
Setelah berfikir panjang Azura akhirnya memutuskan untuk melakukan pembaruan sistem dengan rasa penasaran yang tinggi. Suara terompet tiba-tiba berbunyi saat Azura menekan tombol Update.
Kiki dan Nana tiba-tiba melayang di udara dengan cahaya yang mengelilingi keduanya. Cahaya itu semakin terang dan membuat Azura harus menutup matanya agar tidak buta akibat cahaya itu. Perlahan cahaya itu meredup, cahaya berwarna merah yang mengelilingi Nana perlahan hilang dan menampilkan seorang anak perempuan usia lima tahun.
Gadis kecil itu masih setia menutup matanya. Cahaya biru yang mengelilingi Kiki juga perlahan hilang dan menampilkan seorang anak laki-laki usia lima tahun. Perlahan dua anak itu mulai membuka matanya seiring dengan sebuah tanda terukir di dahi keduanya.
"Siapa kalian?" Ujar Azura.
"Hei, kau lupa dengan aku ya? Aku ini Nana," Ujar Nana dengan wujud anak perempuan.
"Aku Kiki tuan," Ujar Kiki dengan wujud anak laki-laki.
Azura masih terdiam. Otaknya sedang mencerna baik-baik kejadian di hadapannya itu. Nana berbalik dan menatap Kiki dengan wajah kesal.
"Hei, kenapa kau meniru wujudku?" Ujar Nana sambil melipat tangan di dada.
"Siapa yang menirumu? Aku ini anak laki-laki, kau anak perempuan kita itu berbeda!" Ujar Kiki.
"Wajah yang telah aku persiapan jauh-jauh hari telah kau tiru dengan mudahnya. Ini pelanggan hak cipta!" Ujar Nana sambil menujuk wajah Kiki.
"Apa yang kau lakukan? Berhenti menunjuk-nunjuk wajah tampanku ini!" Ujar Kiki mendorong Nana.
"Kau ingin berkelahi, ya? Baiklah aku terima tantanganmu itu," Ujar Nana sambil menggulung lengan pakaiannya.
Azura yang sejak tadi menonton akhirnya mulai melerai keduanya yang sudah dalam keadaan acak-acakan. Azura menghela nafas panjang dan memukul pantat keduanya. Telinga Azura bahkan hampir pecah mendegar teriakan cempreng dari Nana.
"Yak! Berhenti memukul aku!" Ujar Nana.
"Apa ada yang bisa menjelaskan pada aku apa yang terjadi?" Ujar Azura sambil membiarkan keduanya duduk berhadapan dengan dirinya.
Nana memalingkan kepalanya dari Azura, dia sedang sangat marah dan kesal saat ini. Nana dan Kiki kembali berdebat dan melempar cacian. Azura menghela nafas, ada satu kata terlintas di otak pria itu.
"Aku baru berusia 16 tahun tapi kenapa aku harus merasa seperti bapak yang pusing melihat anaknya bertengkar?" Ujar Azura pasrah.
"Dasar kau naga jelek, rasakan paluku ini." Nana berniat memukul wajah Kiki dengan palu raksasanya, namun akhirnya malah mengenai wajah Azura.
"Sabar, harus sabar Azura. Mereka masih anak-anak," Ujar Azura dengan hidung yang mengeluarkan darah sambil mengelus dadanya.
...TBC...
Ayo hargai author dengan like dan comen jangan lupa Vote dan ratenyaπππ
Ditunggu jejaknya, ya
Salam manis,
Tirfa_ledina