
Terlihat Rusi sedang duduk di atas balkon sambil menikmati angin malam yang menyejukkan. Saat ini sedang bulan purnama, mata yang sejak tadi menatap bulan kini beralih melihat kedua tangannya sendiri.
"Apa aku bisa menemui Azura?" Ujar Elin yang saat ini sedang mengambil alih tubuhnya.
"Tidak. Tidak boleh. Aku ini iblis! Ah, sepertinya Rusi akan terbangun lagi," Ujar Elin kemudian menutup matanya.
"Eh? Kenapa aku ada di sini? Ck.. Lagi-lagi Elin mengambil alih! Sial," Ujar Rusi.
Rusi pergi dari tempat itu, ia sungguh benci jika Elin terus saja mengambil alih. Valen menghentikan Rusi yang hendak masuk kedalam kamar. Rusi mendongak dan melihat Valen yang tampak curiga padanya.
"Apa?" Tanya Rusi.
"Kau Rusi atau Elin?" Ujar Valen.
"Aku ini Rusi! Kenapa kau tidak bisa mengenali aku?" Ujar Rusi yang sedikit kesal dengan pertanyaan Valen.
"Auramu terasa buram," Ujar Valen.
Rusi terdiam untuk sesaat saat mencerna ucapan Valen. Benar yang di katakan Valen, auranya semakin lemah. Entah sejak kapan hal ini terjadi, ia bahkan tidak bisa menyadarinya. Rusi mengatupkan rahangnya dengan kedua tangannya yang mengepal keras menahan amarah.
"Aku harus mendapatkan benda itu segera!" Ujar Rusi kemudian menghilang dalam sekejap mata dari tempat itu.
"Hufftt.. Aku tidak boleh membiarkan hal ini. Elin bisa saja bangkit seutuhnya jika Rusi belum mendapatkan benda itu," Ujar Valen.
"Ini jadi semakin rumit dan menyebalkan," Gumam Valen sebelum akhirnya masuk ke dalam sebuah ruangan.
...🍀🍀🍀...
Sudah satu minggu setelah Devina kembali ke kerajaan Lord. Azura masih terus mencari cara untuk bisa melepaskan pengikat roh itu dari Devina.
Nana saat ini sedang berada dalam sistem hingga sejak tadi Azura jadi kebingungan menemukan keberadaannya. Kiki tampak bingung saat melihat Azura sejak tadi berjalan ke sana kemari. Di tangan Kiki ada sebuah batu cincin yang di kelilingi api, ia berniat menunjukkan benda yang di temukannya pada Azura.
"Kiki, apa kau melihat Nana?" Tanya Azura pada Kiki.
"Akhir-akhir ini sering terjadi bug pada sistem kupu-kupu, jadi Nana harus berada dalam sistem untuk memeriksanya. Tuan bisa memanggilnya saja jika perlu sesuatu," Jawab Kiki.
"Itu masalahnya. Nana tidak menjawab panggilanku," Ujar Azura.
"Itu tidak pernah terjadi sebelumnya. Apa karena bug itu?" Gumam Kiki.
"Kiki, benda apa itu?" Ujar Azura.
"Ah, ini benda yang aku temukan di bukit yang ada di sebelah barat. Cincin ini bisa melepaskan segel apapun," Ujar Kiki yang memperlihatkan cincin yang di temukannya tadi.
Azura merasa sesuatu yang aneh pada cincin itu, seolah-olah cincin tersebut memanggilnya. Baru saja Azura menyentuh cincin itu, sebuah cahaya yang cukup menyilaukan menghalangi penglihatannya. Cahaya itu akhirnya perlahan hilang dan digantikan sosok pria berambut biru berdiri depannya.
"Siapa kau?" Ujar Azura.
"Iruz! Ayahmu," Ujar Iruz.
[Peringatan! Terjadi kesalahan pada Sistem! Mohon agar segera meresetnya!]
Peringatan! Terjadi kesalahan pada Sistem! Mohon agar segera meresetnya!]
Peringatan! Terjadi kesalahan pada Sistem! Mohon agar segera meresetnya!]
Taring Azura muncul senada dengan pupil matanya yang berganti warna menjadi merah. Pedang Arwah Azura muncul di depannya, Iruz masih pada posisinya. Ia tau segel yang terbuka oleh cincin api itu akan membuat akal sehat Azura perlahan hilang.
"Hufftt.. Anak bodoh ini! Kenapa membuat ulah setelah ayahnya muncul?" Ujar Iruz seraya melihat Azura yang mengarahkan pedang arah padanya.
"Berlutut!" Ujar Iruz hingga Azura terpaksa berlutut.
Pupil mata berwarna biru itu terus menyoroti Azura yang mendongak untuk melakukan perlawanan. Iruz melangkah menuju Azura, ia mengulurkan tangannya kemudian mengarah dua jadinya ke depan kepala Azura. Ia mengucapkan beberapa mantra agar akal sehat Azura kembali.
Mata Azura kembali normal hingga ia mengerjapkan matanya beberapa kali untuk memperbaiki penglihatannya yang terasa buram. Iruz terkejut saat Azura melihatnya dengan sorot mata tajam, Kiki menghampiri Azura yang malah membawa tubuh kecil Kiki di belakang punggungnya.
"Ah, hai anakku," Sapa Iruz.
"Kau bercanda pak tua?" Ujar Azura.
"Anak ini mau di lempar ke planet kurcaci rasanya," Ujar Iruz dengan raut wajah tersenyum dengan tidak ikhlas nya.
...🍀🍀🍀...
Di salah satu ruangan yang ada dalam sistem, tampak ada beberapa ekor kucing berbeda warna terlihat sedang berdiskusi. Di depan para kucing ada layar monitor yang menampilkan beberapa data. Mereka sedang mendiskusikan masalah bug yang terjadi pada sistem kupu-kupu.
Satu persatu kucing tersebut berubah menjadi setengah manusia. Nana yang berada di sana hanya diam selama rapat tersebut berlangsung. Salah satu kucing lainnya melihat kearah Nana yang bersedekap dengan pandangan lurus ke depan.
"Nana, apa hostmu melanggar daftar hitam?" Ujar gadis berambut panjang dengan ekor dan telinga kucing putihnya.
"Ya," Jawab Nana dan mengejutkan kucing lainnya.
"Kita harusnya mencabut paksa sistem dari host tersebut," Ujar kucing putih itu.
Semuanya menjadi gaduh, Nana hanya diam dalam keributan tersebut. Pikiran Nana terus saja bercabang kemana-mana, ada perasaan gelisah di lubuk hatinya. Nana melihat pada semua rekan kerja itu, mereka masih sibuk untuk melepas paksa kontrak Azura dengan Butterfly System.
'Apa aku benar-benar akan lepas kontrak dengan Azura bodoh itu? Kenapa aku merasa sedih? Bukannya bagus jika hal itu terjadi? Aku tidak akan terkurung lagi karena anak bodoh itu' Batin Nana.
"Error? Kenapa ini bisa terjadi?" Ujar pria berkacamata mata dengan ekor dan telinga pirang.
"Hal ini hanya pernah terjadi pada penggunaan pertama butterfly System? Apa yang terjadi?" Ujarnya.
Mendengar hal itu, Nana awalnya sedikit terkejut. Tanya sadar sebuah senyum simpul terlihat di wajah Nana, ia tampak senang seraya menghampiri rekan lainnya.
"Apa benar? Hahahah.. Ternyata anak bodoh itu istimewa juga," Ujar Nana seraya merangkul punggung pria berkacamata mata itu.
"Ada apa denganmu Nana? Kau." Belum sempat pria itu menyelesaikan ucapannya Nana telah lebih dulu menyela.
"Aku pergi dulu semuanya," Ujar Nana dengan senyuman lebar di wajahnya melintas ruang hampa untuk keluar dari sistem.
'Aku sampai lupa jika anak itu adalah anak dari host pertama dari Butterfly System. Kali ini aku tidak akan membiarkannya bernasib seperti Iruz. Aku akan mendukungnya sampai akhir,' Batin Nana yang keluar dari ruang hampa menuju kamar Azura.
"Semuanya aku kembali!" Teriak Nana dengan semangat.
Nana seketika memasang wajah datar melihat Azura yang sedang memasang mie dalam kamar menggunakan peralatan yang ada dalam sistem. Azura yang menyadari keberadaan Nana memberikan sapaan singkat kemudian fokus lagi pada mie dalam panci.
"Yaaakkkk... Bodoh! Kenapa kau menggunakan api biru yang berharga itu untuk memasak mie!" Ujar Nana seraya memukul kepala Azura.