Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Sesuatu Yang Tak Bisa Dihindari


Sementara itu.


Di rumahnya pak Dewantoro harap-harap cemas menunggu kepulangan istrinya, dia sudah lama ditinggal istrinya pergi dan tanpa kabar. Dan sekarang mendengar bahwa Elena akan kembali dia begitu senang.


Tapi seketika raut wajahnya menjadi tegang, dia cemas bagaimana jika istrinya tahu jika sebagian aset perusahaannya sudah terjual, dia pasti akan marah dan pergi lagi.


"Ah, aku bisa mencari alasan jika itu semua demi dirinya dan anaknya itu, jika tidak bagaimana bisa kami melunasi hutang itu dan membantu pengobatan anaknya.


Aku rasa dia akan mengerti, apalagi ini semua ide anak perempuannya itu. Dasar bocah itu, berani-beraninya dia menipuku!" geram pak Dewantoro setelah mengetahui semua tindakan Pricilia.


Di tempat lain, Rendy tengah sibuk dengan urusan pekerjaannya di kantor. Akhir-akhir ini dia yang menangani permasalahan yang ada, karena ayahnya jarang masuk kantor dan menyerahkan semua tanggung jawab pekerjaan kepada dirinya.


Semua cabang perusahaan dan yayasan saat ini tahu jika Rendy telah meneruskan kepemimpinan ayahnya.


"Aku rasa dia pantas menggantikan posisi pak Dewantoro suatu saat nanti, dia sudah menunjukkan kemampuannya selama ini"


"Anak ini memiliki aura yang sangat tinggi, dia berwibawa, disiplin dan mandiri"


"Dia tipikal anak muda masa kini, mandiri, disiplin dan pekerja keras"


"Dia mengingatkan aku dengan pak Dewantoro masih muda, mudah-mudahan kehidupan pribadinya tak seperti ayahnya"


Itulah beberapa komentar dari para tetua yayasan dan para pemimpin perusahaan cabang lainnya, tentang dirinya.


Ketika Rendy sedang memimpin sebuah rapat, tiba-tiba pintu ruangan rapat itu dibuka paksa oleh seseorang. Pricilia memaksa masuk, membuat asisten Rendy panik menghadapinya.


"Permisi, waah... Lagi rapat yah, maaf mengganggu aku ingin bertemu dengan adik kesayanganku. Bisa kalian keluar sebentar" ucap Pricilia angkuh.


"Kalian tetap disini, dan kau jika tidak ada kepentingan, silakan keluar!" ujar Rendy tegas.


Semua orang yang ada di sana yang tadinya ingin keluar, akhirnya tak jadi karena dicegah Rendy.


"Jangan begitu dengan kakakmu sendiri, jangan buat malu jika tak ingin aku buat onar disini" bisik Pricilia.


"Pertama kau bukan kakakku, kedua jika kau berbuat macam-macam disini aku akan mengusirmu dengan paksa. Jika kau nekat, itu tak merugikan aku tapi kau akan kehilangan segalanya" ancam Rendy.


Pricilia tersenyum kecut lalu dia berlalu pergi dari sana, mulutnya bergumam berulang kali mengumpat kearah Rendy, tapi anak itu tak memperdulikannya.


Setelah cukup lama dia berada di ruangan rapat, dia kembali ke ruangannya dan melihat Pricilia tengah duduk santai di kursi kerja miliknya.


"Maaf, Pak. Aku tak bisa mencegah dirinya masuk, dia terus memaksa" ucap Andriana.


"Tak apa, aku mengerti" jawab Rendy.


Dia masuk ke ruangan itu dengan wajah datar tanpa ekspresi, dia melihat Pricilia memainkan laptopnya. Rendy langsung menarik kasar laptopnya.


"Ish, kasar sekali kau! Aku pinjam bentar aja gak boleh!" sungutnya.


"Gak boleh! Kau tak berhak mengambil ataupun menyentuh barang-barang milikku tanpa persetujuanku sendiri" bentak Rendy dingin.


"Hah, kau sombong sekali. Ingat, sebentar lagi ibuku dan kak Pramudya akan kembali. Mereka akan mengambilalih perusahaan ini kembali" ujar Pricilia sinis.


"Apa? Mengambil kembali?! Haha! Bermimpilah, aku tak peduli soal itu. Lagian tak mudah masuk dan memimpin perusahaan ini. Kau pikir karena ibumu menikahi ayahku berarti semua milik ayahku berarti miliknya??!


Ayahku mungkin mencintai ibumu, tapi tidak dengan kalian. Lagian yang kudengar semua aset perusahaan dan beberapa perusahaan milik ayahku dengan atas nama ibumu itu sudah terjual habis? Benarkah??


Tentu saja, itu semua karena tindakan putri manja Elena yang tak tahu diri, demi menjalani hidup hedonisme dia rela menjual harta milik ibunya sendiri dan menipu ayah tirinya.


Ckck, menyedihkan bukan.." ujar Rendy sambil menyunggingkan bibirnya sedikit.


"Diam kau, aku datang untuk memperingatkanmu, bukan mendapatkan hinaan seperti ini!" teriak Pricilia geram.


"I don't care, bodo' amat! Salah sendiri datang kesini tanpa memikirkan segalanya, akhirnya kau hanya mempermalukan diri sendiri.


Keluar, dan jangan coba-coba untuk datang kemari!" bentak Rendy lagi.


Setelah itu datang beberapa security untuk membawa Pricilia keluar dari ruangan Rendy bahkan dari gedung itu, sebelum dia pergi, Rendy sempat memberikan sebuah perintah kepada beberapa security itu.


"Jangan biarkan orang ini masuk kedalam perusahaan ataupun gedung ini tanpa konfirmasi dulu ke asisten atau sekretarisku disini, jangan pedulikan semua tindakannya karena tak ada pengaruhnya dengan pekerjaan kalian. Mengerti?!" tegas Rendy.


"Sialan! Rendy, Rendy! Kau akan menyesal telah memperlakukan aku seperti ini!" teriak Pricilia tak terima dirinya di geret paksa keluar oleh para security itu.


Rendy memandanginya dengan tatapan hina dan jijik kepadanya, dia berjanji pada dirinya sendiri tak akan membiarkan siapapun yang berusaha merusak hidup mereka lagi.


//


Reva sedang berhadapan dengan Nico dengan tatapan tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh lelaki itu, didepan ayahnya dia nekat berbicara seperti itu.


"Apa maksudmu tadi? Menikah denganku?! Kau sudah gila yah! Dan kamu, kamu tak berhak memutuskan dengan siapa aku menikah!


Meskipun kamu adalah ayahku sendiri, tapi kebahagiaanku ada ditanganku sendiri!" ucap Reva kesal.


Hari itu dia terpaksa menghadiri acara pertemuan dengan Nico, untuk membahas bisnis kerja sama mereka. Dalam hatinya masih kesal dengan lelaki itu yang suka berbuat semaunya.


Hal yang tak diduganya, ternyata ayahnya ada juga di sana. Entah apa yang terjadi, kalau lihat ini semua Reva bisa menilai jika semua ini sudah diatur oleh Nico kalau tidak oleh ayahnya.


Yang membuatnya terkejut adalah ketika Nico dengan berani dan tegas melamarnya didepan ayahnya langsung, diluar dugaan Reva ayahnya justru setuju dan meminta mereka menikah secepatnya.


"Aku tak bisa, aku masih banyak pekerjaan saat ini. Aku memiliki banyak tanggung jawab yang harus aku kerjakan, aku tak bisa meninggalkan ini semua" ucap Reva frustrasi.


"Menikah bukan berarti kehilangan segalanya, aku takkan mengekang kebebasanmu. Kau boleh melakukan apa saja, asalkan bukan hal yang membahayakan ataupun melupakan kalau kau juga seorang istri dan ibu, nantinya" jawab Nico, berusaha menyakinkannya.


"Alah, semua lelaki itu sama! Awalnya begitu, tapi ujung-ujungnya dia pergi dan melupakan kewajibannya sebagai seorang suami dan ayah, mungkin" sahut Reva sambil melirik sinis ayahnya.


Merasa dirinya kena sindir oleh putrinya, pak Dewantoro menyadari semua ini karena dirinya, sehingga putri sulungnya trauma dan enggan menikah.


"Jangan kau samakan pernikahan ayahmu dengan ibumu, Reva. Ayah yakin Nico lelaki yang tepat untukmu" jawab pak Dewantoro.


"Seorang lelaki pengecut memberikan putrinya kepada lelaki pilihannya sendiri, apakah kau tak berpikir bahwa dia akan mencarikan jodoh yang sama mirip dengan sifat dirinya?


Bukankah itu sama saja, dia menginginkan putrinya hancur seperti mendiang istrinya?!" ujar Reva sambil tertawa mengejek.


"Reva, sudah! Cukup, kau tak pantas menghina ayahmu seperti ini. Aku tahu dia pernah berbuat salah, jangan biarkan kebencianmu menguasai hatimu.


Untuk sementara, maafkan ayahmu saat ini. Dan aku tulus mencintaimu, aku tak akan memaksamu harus menikahiku sekarang. Aku akan menunggumu sampai saatnya kau siap" ucap Nico kepada Reva.


"Tapi, Nak. Nico..." pak Dewantoro merasa tak enak hati dengan Nico atas semua ini.


"Gak apa, Om. Aku yakin Reva juga mencintaiku, tapi dia mungkin belum siap untuk saat ini. Aku akan menunggunya, sampai kapanpun" jawab Nico, setelah itu dia beranjak pergi.


"Kamu keterlaluan, Reva. Jika kamu benci dengan Ayah, tak sepantasnya kau lampiaskan kepada orang lain!" bentak pak Dewantoro.


"Dia anak yang baik, Ayah yakin itu! Dia bukan bajingan seperti Ayahmu ini, jangan sia-siakan orang baik seperti itu" ujarnya lagi.


"Kau pikir aku tak tahu apa-apa tentang kalian, aku tahu Ayah dan orang itu diam-diam sering bertemu, entah apa saja yang kalian bahas. Satu hal yang pasti, dia telah mengkhianati kepercayaanku.


Berulang kali aku katakan kepadanya bahwa aku tak suka jika dia berhubungan dengan anda, faham?! Karena apa? Karena aku tahu jika dia bergaul dengan anda, otomatis dia akan sama seperti anda!


Apakah sampai saat ini anda faham, Pak?!" geram Reva, dia sudah tak tahan lagi. Dia langsung menyambar tasnya dan berlalu pergi dari sana.


"Reva, tunggu! Dengarkan Ayah dulu, kau salah faham. Nak!" ucap Dewantoro berusaha mencegah kepergian putrinya itu.


Tapi Reva tak peduli, dia terus berlari meninggalkan ayahnya. Dan tiba-tiba...


Braaak!!


Sebuah mobil sedan melaju kencang kearahnya, dan tak bisa mengendalikan arah lajunya hingga akhirnya kecelakaan itu terjadi.


"REVAA!" teriak histeris pak Dewantoro.


Diseberang jalan, Nico berdiri mematung. Syok apa yang dia lihat barusan, didepan matanya sendiri dia melihat semuanya.


...----------------...


Bersambung