
Sebelum kecelakaan itu terjadi..
Saat itu Ericka masih berada di rumahnya, ada seorang lelaki memakai jaket kulit berwarna hitam dengan masker sedang mengintai rumahnya dari jauh, karena dia tak mungkin mendekati rumah itu mengingat rumah itu dijaga dengan ketatnya.
Beberapa jam kemudian, diluar dugaannya Ericka keluar sendirian tanpa supir yang menemaninya, dia pergi dari rumah itu. Lelaki yang mengintainya tadi mengikuti gadis itu yang dia kira akan pergi ke kantor tapi malah melajukan mobilnya ke pinggiran kota.
"Pak, target tidak menuju ke kantornya tapi dia sedang menuju ke suatu tempat, belum diketahui mau kemana, saya masih mengikutinya dari belakang.." ucap lelaki itu kepada seseorang diteleponnya.
"Bagus ikuti dia! Tapi kenapa kau baru menghubungi sekarang?!" tanya orang itu.
"Dia baru keluar sedikit siang dari biasanya dia berangkat ke kantor, Pak. Alasannya saya tidak tahu, mungkin ini ada kaitannya dengan kepergiannya ini.." ucap lelaki itu.
"Baiklah, aku dan opa Harja akan tetap berangkat ke kantornya, kami akan memberikan sedikit kejutan kepadanya dan orang-orangnya, haha!" ucap orang itu.
"Siap, Pak. Ditunggu saja kabar dariku selanjutnya.." ucap lelaki itu sambil melajukan mobilnya.
Sampai saatnya mereka sampai ke panti asuhan itu, dia sedikit heran dengan kepergian Ericka ke sana, dia tidak tau maksud dan tujuannya datang ke sana. Dia menepikan mobilnya ke pinggir jalan, karena dia tak ingin terekam CCTV saat ikut masuk kedalam panti asuhan.
"Halo, Pak. Dia mendatangi panti asuhan Kasih Bunda dijalan X kota B.. Apa yang harus saya lakukan?" tanyanya kepada atasannya ditelepon.
"Sebentar, saya kasih tau dulu opa Harja.." ucap lelaki di telpon itu.
"Halo.." terdengar suara serak lelaki paruh baya.
"Bos, apa yang harus saya lakukan?" tanya lelaki itu.
"Usahakan kau masuk kesana tanpa tertangkap kamera Cctv, buat kerusakan di mobilnya sehingga membuatnya kecelakaan hebat, pastikan pekerjaanmu itu benar. Jika berhasil aku akan memberikan kamu bonus dua kali lipat dari biasanya!" kata opa Harja.
"Siap, Bos!" seringai lelaki itu.
Dia mengendap-endap masuk kedalam area lingkungan parkir itu, dia tahu letak kamera Cctv diletakkan, maka dia sebisa mungkin agar tak ketahuan.
Dengan pisau lipatnya dia merobek sisi ban mobil Ericka, tidak hanya satu tapi keempat-empatnya dia hancurkan tapi yang berhasil dia hancurkan hanya tiga saja, saat dia hendak menghancurkan ban keempat dia melihat ada seseorang yang berjalan kearah parkiran mobil itu.
"Sial!" umpatnya seraya pergi dari sana.
Dia kembali lagi kedalam mobilnya dan kembali melaporkan tugasnya, setelah selesai dia menunggu kepulangan Ericka kembali.
Selang beberapa jam kemudian, Ericka keluar dari sana dan melajukan mobilnya lagi menuju kota, dan mobil itu mulai menandakan kerusakan saat bannya meletus satu persatu.
Lelaki itu menyeringai senang, karena tugasnya berhasil. Dia berharap mobil Ericka jatuh ke lembah yang curam atau ke hutan yang sepi, agar tak ada yang menolong ataupun menemukannya. Setidaknya agar dia bisa melihat langsung keadaan gadis itu.
Tapi sayangnya mobil itu baru berhenti di saat mobil Ericka menabrak pohon besar setelah mereka telah memasuki area perkotaan dan ramai warganya.
Ditempat lain, Azka yang ngotot mau pulang dari rumah sakit itu sekarang berada di area itu, dia sedang mengobrol dengan teman-temannya disebuah kedai di sana, mereka kaget mendengar suara dentuman cukup kencang dari depan kedai mereka nongkrong.
Refleks mereka lari dan mendatangi area kecelakaan itu, mereka melihat seorang wanita muda pingsan sambil memeluk safety ball, saat Azka mencoba melihat siapa wanita itu, dia terkejut karena itu adalah Ericka.
"Guys, tolong selamatkan barang-barangnya jangan sampai ada yang mengambil kesempatan dalam musibah ini, gw mau bawa dia ke rumah sakit sekarang!" katanya kepada teman-temannya.
Semuanya bahu membahu untuk menolong Ericka, Ray, salah satu temannya Azka melihat ada seseorang yang mencurigakan mendekati lokasi kecelakaan, dia terkejut karena mengenali lelaki itu.
Dia segera mendekatinya, tapi secara kebetulan lelaki itu berbalik dan tak sengaja menabrak seseorang anak kecil, dan pisaunya terjatuh dan terjadilah perdebatan dan pengeroyokan itu.
Sementara itu, di kantornya Ericka, opa Harja dan beberapa anak buahnya masih duduk santai menunggu kedatangan anak itu, mereka berdalih kepada karyawan di sana bahwa mereka adalah keluarganya Ericka.
Entah bagaimana caranya mereka membuktikan perkataannya itu, tapi bagian keamanan dan sekretaris dan karyawan lainnya percaya, mereka ditempatkan di ruang tunggu khusus tamu pimpinan mereka itu.
Tapi sayangnya mereka tidak bisa menghubungi Ericka, no ponselnya mati dan saat menghubungi rumah, pelayan rumah juga mengatakan dirinya sedang pergi.
"Maaf, Pak. Saat ini Bu Ericka belum juga datang ke kantor, kemungkinan dia tidak akan berangkat hari ini.." ucap sekretarisnya Ericka masih sopan.
"Baiklah, kami akan pergi sebentar lagi. Dan tolong berikan ini kepadanya jika kembali ke kantor lagi. Btw, kami ini adalah keluarganya jika kami datang lagi, tolong beri akses khusus tanpa melalui pemeriksaan lagi, dengar?!" ucap opa lagi.
"Baik, Pak. Akan kami ingat.." ucap sekretaris itu sambil tersenyum ramah.
Setelah itu opa Harja dan Zacky menerima telpon dari lelaki yang mereka suruh membuntuti Ericka, mereka tersenyum senang kemudian pamit pulang setelah menyerahkan amplop coklat lumayan besar dan lebar itu kepada sekretaris Ericka.
Mereka pergi dengan perasaan senang, tapi mereka tidak tahu jika di sana ada Erick, anak itu bersembunyi dibalik dinding pembatas antara ruang tunggu itu dengan ruangan Ericka, dia mendengar semua percakapan mereka itu.
Setelah itu dia lebih memilih jalan aman, kembali ke ruangannya dan meretas kamera Cctv yang ada di ruangan itu, dia bisa mendengar dan melihat gerak-gerik mereka yang mencurigakan itu.
"Bu Geraldine.." Erick menemui manajernya itu.
"Aku tau siapa mereka, dan apapun tujuannya aku yakin itu tidak baik, dan entah mengapa aku khawatir dengan bu Ericka, dari tadi dia tak bisa dihubungi.." ucap Geraldine khawatir.
"Dugaan Ibu benar, saya ingin menunjukkan sesuatu kepada Ibu dan sekretarisnya bu Ericka, agar kita tahu siapa dia.." ucap Erick lagi.
Setelah berhasil mengcopy hasil rekaman Cctv tadi dia tunjukkan kepada Geraldine dan sekretarisnya Ericka, dibandingkan Geraldine, sekretarisnya yang lebih syok.
"Astaga! Padahal aku tadi percaya banget loh kalau mereka itu bagian dari keluarga bu Ericka, mana dia tadi minta hak istimewa lagi untuk dilayani disini!" geram sekretarisnya itu.
"O ya, lupa! Dia memberikan ini untuk diberikan kepada ibu Ericka, kira-kira apa yah..?" tanya sekretarisnya itu.
"Baiklah, aku coba hubungi lagi, siapa tahu bisa.." ucap Erick.
Dan tiba-tiba ponselnya Erick berdering, mereka sangat lega itu dari Ericka. Tapi bukannya mendengarkan Erick bicara, Ericka malah memberikan dia perintah baru, belum juga sempat Erick mengatakan sesuatu telpon itu sudah mati.
Saat dihubungi lagi, ponsel itu sudah mati total. Mereka semuanya tak bisa menghubungi Ericka lagi, Erick tak punya pilihan dia Menghubungi Nico, dan menceritakan semuanya kepada Nico apa yang terjadi di kantor tadi dan terakhir keberadaan Ericka.
"Rahasiakan itu dari semuanya, Erick. Jangan sampai Reva dan Rendy tahu, kasih tahu juga kepada Geraldine dan juga sekretarisnya Ericka, agar mereka tutup mulut.
Jangan sampai penyamaran opa Harja diketahui oleh orang banyak, biarkan saja dia merasa sudah berhasil membodohi kita, kita balas dia lebih kejam lagi, aku tak peduli dengan penilaian orang terhadapku, tapi siapapun yang berani menyakiti keluargaku, maka dia telah berani merusak ketenanganku!" ucap Nico tegas.
Erick menyampaikan pesannya itu kepada sekretaris Ericka dan Geraldine, dan meminta amplop coklat itu untuk diserahkan kepada Nico, agar mereka bisa melihat apa yang dikirimkan oleh lelaki tua tadi.
Saat Erick sampai di kantornya Nico, di sana orang-orang nampak sibuk termasuk Nico sendiri. Erick yang baru sampai tidak tahu apa yang terjadi, dia langsung memberikan amplop coklat itu.
"Ada apa, Kak? Kenapa pada sibuk sekali?" tanya Erick nampak penasaran.
"Mana amplopnya?" tanya Nico tanpa peduli dengan pertanyaannya tadi.
"Ini.." jawab Erick, sambil memberikan amplop itu, dia sudah biasa dengan sikap Nico yang cuek dan dingin itu.
Saat keduanya membuka amplop itu, mereka terkejut melihat ada beberapa foto Ericka dan kedua saudaranya, di sana juga ada beberapa foto orang-orang terdekat Ericka, termasuk Nico, William dan Erick, termasuk Geraldine juga sekretarisnya Ericka.
Ada juga surat ancaman lainnya, berisi tentang intimidasi untuk menyerahkan warisan itu dengan sukarela jika tidak orang-orang yang ada di foto itu akan mengalami hal sulit bahkan mungkin mereka akan berbahaya nantinya.
"Dasar tua bangk* si@lan! Setelah apa yang dia rencanakan kepada Ericka dia juga masih ingin mengancamnya juga?!" ucap Nico dengan geramnya.
"Untung saja ini langsung kita sadari, gak tau apa yang terjadi jika ini sampai ke tangannya.." ucap Erick menatap foto-foto itu ngeri.
"Aku yakin dia akan menuruti kakek tua itu! Sebelum itu terjadi, kita kacau kan saja semua rencananya! Erick, tadi Ericka meminta apa kepadamu? Mari kita selidiki bersama apa yang dia cari.
Aku yakin ini pasti berkaitan dengan semua ini, sepertinya kakek itu sedang menutupi sesuatu, sehingga dia harus mencelakai Ericka!" ucap Nico lagi.
"Dia membicarakan tentang panti asuhan, dia memintaku untuk membobol sistem keamanan di sana, katanya dia curiga dengan ketua panti di sana," ucap Erick.
Dia menjelaskan apa saja yang mereka bahas ditelpon tadi, Erick juga menceritakan apa yang dia dengar dan lihat selama ini saat mengawasi opa Harja dan para cucu-cucunya oma Mariani.
"Mereka kejam dan nekat sekali.." ucap Erick lagi.
Tok!
Tok!
Tok!
"Permisi, Bos! Kami sudah mendapatkan lokasi terakhir nona Ericka.." ucap salah satu anak buah Nico.
Setelah itu mereka menunjukkan lokasinya, selang beberapa saat kemudian mereka mendapatkan laporan lain dari anak buah Nico yang terjun langsung ke lokasi.
"Terjadi sebuah kecelakaan, Bos! Jenis mobil dan platnya sama dengan nona Ericka, saat ini mobil sudah di evakuasi dan diletakkan di dinas lalu lintas sebagai bukti terjadinya kecelakaan tadi.." ucap anak buahnya Nico.
"Apa?! Benarkah?! Tolong cari tahu dimana dirawat, aku akan langsung ke sana!" ucap Nico panik.
"Kenapa, Kak? Ada apa dengan Ericka?" tanya Erick juga ikutan panik.
"Kau juga ikut denganku, ayo!" ucap Nico lagi.
Mereka tergesa-gesa menuju mobilnya dan langsung pergi menuju rumah sakit yang alamatnya sudah dikirimkan oleh anak buahnya Nico itu.
...----------------...
Bersambung