Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Kau Bukan Tipeku!


Malam harinya Rendy senyum-senyum sendiri duduk di atas balkon rumahnya, dia memutuskan pulang ke rumah semenjak kematian sang ayah, sedangkan apartemennya dia biarkan salah satu anak buahnya untuk menempatinya.


Dia teringat dengan kejadian tadi siang dimana dia dan Andriana kembali ke ladang sawah milik sang paman, dia terkejut melihat ladang sawah sudah bersih, dan di sana ada paman Andriana bersama beberapa orang juga.


"Rendy, Andriana.. Kemarilah, saya ingin berbicara dengan kalian berdua" ucap sang paman.


Keduanya mengangguk lalu menghampirinya, beberapa orang tadi juga berpamitan dengan pamannya untuk pulang.


"Om, tadi itu siapa? Apa mereka yang ngerjain sisa pekerjaannya Rendy? Soalnya udah pada bersih.." tanya Andriana.


"Hem, iya.. Karena lama kalau dia ngerjainnya sendirian! Om harus menanaminya dengan benih padi, karena sayang jika lahannya dibiarkan menganggur lama" jawab paman Andriana sambil merokok santai.


"Rokok?" tawarnya kepada Rendy.


"Gak usah, Om. Makasih..," tolak Rendy sopan.


"Rendy gak ngerokok, Om. Ngopi juga dia minumnya kopi susu..," sahut Andriana sambil tersenyum.


"Itu pilihannya, tapi ditelingaku kok lembut yah?" ujar pamannya lagi sambil terkekeh.


"Jadi, bagaimana dengan saya, Om?" tanya Rendy berusaha mengalihkan pembicaraan mereka, terlalu malu baginya selalu digoda.


"Kamu sendiri maunya gimana?" sang paman malah nanya balik.


"Maunya sih, nikah!" jawab Rendy lugas, membuat Andriana bersemu merah.


"Ya udah, nikah sana!" ujar pamannya santai.


"Hah?! Emang boleh?!" jawab Rendy dan Andriana kompak.


"Ya, bolehlah.Emang gak mau nikah?" tantang pamannya.


"Mau om, mau! Hehe, insya Allah bulan depan saya akan datang secara resmi melamar Andriana!" sahut Rendy senang.


"Baiklah, lelaki dipegang omongannya. Jangan pernah lari dari tanggung jawab!" ujar pamannya menatap tajam.


"Iya, siap!" jawab Rendy dengan mantapnya.


Kemudian Rendy menatap lembut Andriana yang terlihat terharu dengan restu yang diberikan oleh pamannya, dia memegang erat tangan kekasihnya itu. Niat hati ingin memberikan pelukan, tapi urung karena melihat tatapan mata tajam sang paman.


"Belum muhrimnya!" kata pamannya, membuat Andriana tersenyum geli.


Kembali ke sekarang..


Dia tak sabar menunggu waktunya, dia ingin memberi kabar gembira itu kepada kakak dan adiknya, tapi dia mencoba menahannya dulu, nanti ketika semuanya sudah berkumpul barulah dia menyampaikan kabar gembira itu.


Ting! Tong!


Rendy terperanjat dengan suara bel rumahnya, dia berusaha mengabaikannya dan berpikir akan ada yang membukakan pintu jika berbunyi lagi.


Ting! Tong!


Suara bel masih berbunyi, Rendy menggerutu kesal karena tak ada yang membukakan pintunya, dia bingung kemana para pelayan rumah ini kenapa semuanya tak ada?


Ceklek!


Dia membuka lebar pintu rumah, didepannya ada seorang gadis muda cantik dan seksi, berpose menggoda dengan senyuman nakal, membuat Rendy heran dan aneh.


"Siapa kamu? Disini gak ada om-om yang ingin kamu goda!" tanyanya mendengus kesal.


Gadis itu merasa tertohok sekali dengan ucapan Rendy, tapi dia masih teringat dengan misinya. Dia masih tersenyum menggoda dan berusaha masuk kedalam, tapi tidak semudah itu, Rendy menghalangi jalannya.


"Biarkan aku masuk lalu aku akan menyampaikan maksud kedatanganku kemari.." ujar gadis itu berbicara selembut mungkin.


"Tidak! Bicara saja sekarang!" sahut Rendy dingin.


"Tapi rasanya tak nyaman berbicara diluar, apa kau tak kasihan denganku.." gadis itu berusaha keras agar bisa masuk.


"Enggak, dan takkan pernah sebelum kau menyampaikan apa maksud kedatanganmu kemari!" bentak Rendy tak sabar.


"Jangan kasar padaku, aku yakin setelah mencoba kepadaku kau akan ketagihan!" bisik gadis itu tak tahu malu.


"Kau jabl*y mana lagi, siapa yang mengirimmu kemari!" teriak Rendy kesal.


Dia yakin sekali ini adalah jebakan, dia takkan tertipu kedua kalinya, setiap perjalanan hidupnya dia tak pernah jauh dari hidup seperti ini, semuanya pasti ada maksud tertentu.


"Jangan berteriak seperti itu, karena tak ada yang akan mendengarkanmu! Tapi lain hal jika aku berteriak, maka kau akan habis disini!" ujar gadis itu penuh dalam penekanan.


Rendy tersenyum, ternyata benar dugaannya jika gadis itu memang dikirimkan untuk menggodanya, dia malah menyeringai menatap gadis itu, membuat gadis itu mundur takut.


"Kau pikir aku takut, ingat ini rumahku! Kau datang sendiri kesini dengan pakaian seksi seperti itu, dan satu hal lagi rumah ini penuh Cctv dan penyadap, letaknya tersembunyi kau takkan mampu melacaknya.


Aku bisa gunakan itu untuk menyeretmu ke penjara karena menerobos masuk kedalam rumahku, aku bisa gunakan itu sebagai bukti penyusupanmu, katakan padaku, siapa yang mengirimmu kesini?!" bentak Rendy.


"Lepaskan aku!" teriak gadis itu kesakitan.


Rendy mencengkram lengan gadis itu dengan kasar, dia menatap tajam gadis itu dia tahu persis gadis itu datang dengan sebuah misi, dan benar saja dia melihat ada sebuah alat di tali tas gadis itu.


Bentuknya seperti pita kecil, tapi sebenarnya penyadap. Dia mengambilnya dan berteriak didepan penyadap itu, membuat siapapun yang mendengar lewat penyadap itu pasti telinganya berdenging kesakitan.


"Aku akan mengejarmu karena berani-beraninya kau mengirimkan lintah ini ke rumahku!!" teriaknya.


Membuat Arlon yang sedari tadi menyimak pembicaraannya tadi terlonjak kaget, dia melempar earphone di telinganya sambil mengumpat keras.


"Bangs*t!" teriaknya.


"Ikuti gadis itu kemana dia pergi, jangan pergi dari sana sampai kita tahu siapa yang mengirimnya!" perintahnya kepada anak buahnya.


Ada dua orang anak buah Rendy mengikuti Raina, tanpa sadar gadis itu diikuti oleh mereka, dia pergi ke sebuah pub, dia berkerumun ditengah keramaian orang-orang yang berdansa di sana.


"Sial! Kita kehilangan jejaknya!" umpat salah satu anak buah Rendy.


"Tunggu dulu, sepertinya dia keluar dari pintu belakang, hemm.. Yang mengirimnya pasti bukan orang biasa, dia tahu pasti akan dibuntuti, ayo ikut aku!" ujar temannya berinisiatif.


Mereka buru-buru pergi kebelakang pub itu, dan benar saja mereka melihat Raina naik kesebuah mobil sedan hitam, mereka tak sempat mengejarnya.


Tapi mereka berhasil memotret plat nomor mobil tersebut, setidaknya mereka membawa hasil untuk dilaporkan.


Sementara di rumah itu, Rendy mengumpulkan semua pelayan dan penjaganya, dia meminta penjelasan kenapa mereka tidak ada saat terjadi penyusupan tadi.


"Kami semua sedang mengejar seseorang yang berusaha menerobos masuk ke rumah, Tuan. Kami tidak tahu jika itu adalah sebuah pengalihan agar wanita itu tadi bisa masuk" jawab salah satu pengawalnya.


"Setidaknya ada yang menjaga pintu gerbang dan pintu masuk rumah ini, kalau tidak itu yang terjadi! Dan kalian, kenapa tak ada yang membuka pintu saat bel berbunyi?!" tanya Rendy kepada para pelayan.


"Maaf, Tuan. Kami semua juga disibukkan oleh tikus di dapur, entah bagaimana bisa rumah yang selalu bersih ini tiba-tiba ada tikus" jawab Milah merasa bersalah.


"Setidaknya, ada satu dari kalian yang membukakan pintu!" ujar Rendy kesal.


"Huft, sepertinya dia merencanakan semua ini dengan matang. Mengalihkan perhatian kalian semua dengan kesibukan itu, awas saja nanti jika ketahuan, akan aku buat dia menyesal seumur hidupnya!" geram Rendy marah.


Semuanya menunduk sungkan, mereka merasa tidak enak dengan tuan mereka, karena kelalaian mereka hampir saja tuan mereka mendapatkan masalah, untung saja Rendy bisa menahan diri, lagian bukan tipenya gadis berpenampilan seperti itu tadi.


Tidak lama kemudian Ericka pulang, dia heran melihat semua pelayan dan pengawal dikumpulkan oleh Rendy.


Melihat Ericka pulang, Rendy membubarkan semuanya, sehingga tinggal mereka berdua saja di sana. Ericka penasaran melihat muka kakaknya ditekuk seperti itu.


"Ada apa tadi? Sepertinya serius sekali" tanyanya penasaran.


"Tadi ada penyusup.." jawab Rendy kesal.


"Penyusup?" tanya Ericka lagi heran.


Rendy akhirnya menceritakan semua kejadian tadi, sampai dia memutuskan orangnya untuk membuntuti gadis itu tadi. Ericka menghela nafasnya kasar, dia tak menyangka jika gadis yang dikirimkan oleh Arlon sampai senekat itu.


Melihat reaksi adiknya seperti itu, membuat Rendy lebih penasaran lagi. Sepertinya Ericka lebih banyak tahu dibandingkan dirinya.


"Sepertinya kamu lebih tau semuanya, apa ada sesuatu yang tak aku ketahui, Ericka? Ceritakan kepada kakak" tanyanya curiga.


"Sebenarnya, aku sudah mengetahui semua rencana orang ini sejak beberapa hari sebelumnya, Kak. Dan maaf aku tak bisa memberitahukan kepada kakak.." jawabnya.


Membuat Rendy semakin tak mengerti, dan selanjutnya Ericka pun juga menceritakan semuanya yang dia ketahui tanpa harus menceritakan pekerjaan Erick di kantornya.


"Bangs*t! Rupanya dia sengaja mau menjebakku dan kak Nico rupanya, tapi dia tak tahu apapun mengenai kami, kurang riset kayaknya!" ujar Rendy lagi.


"Tapi, ada satu hal yang belum aku ceritakan kepada kakak.." ucap Ericka lagi.


"Apa itu?" tanya Rendy.


"Sebentar, aku ambil dulu keatas.." jawabnya sambil beranjak naik ke anak tangga mau ambil sesuatu didalam kamarnya.


Rendy dengan sabar menunggu Ericka, dia sekarang beralih tempat ke ruang keluarga. Tidak lama kemudian, Ericka datang bersama laptop ditangannya.


"Apa itu?" tanya Rendy bingung.


"Nanti kakak akan tahu semuanya, lihat dan perhatikan!" ujarnya sambil menyalakan laptopnya.


Rendy memperhatikan setiap detil gambar dalam video itu, dia tak mengira sahabatnya dulu melakukan berbagai cara untuk mengambil keuntungan darinya.


"Kakak sudah mendengar seluruh rekaman percakapan kalian dan termasuk rekaman suara saat dia sendiri, dan melihat videonya yang sedang meletakkan kamera kecil didepan pintu kamar kakak.


Seharusnya kakak bisa menilai siapa dirinya sebenarnya, teman kakak itu bersaudara dengan Arlon, dan mereka itu adalah cucunya oma Mariani, ibu tirinya mendiang ibu.." ujar Ericka berusaha menjelaskan semuanya.


"Apa maksudnya? Aku gak ngerti sama sekali semua ucapanmu, Ericka.." ujar Rendy bingung.


"Bagaimana kalau kita tunggu kak Reva saja untuk menceritakan semuanya.." jawab Ericka lagi.


Tidak lama kemudian suara bel rumah kembali berbunyi, kali ini ada pelayan yang membukakan pintunya, dan ternyata itu Reva dan Nico yang datang.


"Kebetulan sekali kalian datang, ada yang ingin aku tanyain. Ini benar-benar membuatku gila!" ujar Rendy tak sabar.


"Ini ada apa sih? Bukannya saling tanya kabar gitu kan udah lumayan lama gak ketemu!" sungut Nico.


"Alah cuma beberapa hari doang, ntar aja kangen-kangenannya, ini yang paling urgent!" sahut Rendy lagi.


Reva dan Nico nampak kebingungan, mereka masih tak mengerti apa yang terjadi tadi. Akhirnya dengan tak sabar Rendy menceritakan semua kejadian tadi saat ada penyusupan dirumahnya.


Termasuk rekaman suara dan video yang ditunjukkan oleh Ericka, dia juga belum faham betul dengan semua penjelasan itu. Reva dan Nico pun bereaksi sama seperti Ericka tadi, membuat Rendy semakin curiga lagi kepada mereka.


"Sepertinya hanya aku satu-satunya disini yang tak tahu apa-apa.." katanya.


"Tenanglah, kakak akan menceritakan semuanya, mungkin ini akan lama karena ceritanya lumayan panjang.." ujar Reva menenangkan dirinya.


Rendy hanya diam, dia tak bereaksi apapun, dia siap mendengarkan apapun yang akan diberitahukan kepadanya nanti.


...----------------...


Bersambung