Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Aqiqah nya Baby R


Beberapa hari kemudian, Geraldine sudah diperbolehkan untuk pulang begitu juga dengan Reva dan bayinya. Di kediamannya Nico begitu ramai orang berkunjung ingin melihat baby R, Ericka untuk sementara beberapa hari menginap di rumah itu untuk membantu Reva.


Memang di rumah itu begitu banyak orang dan pelayan yang akan membantunya, tapi Reva tidak nyaman dilayani oleh mereka apalagi soal keintiman seperti, membantunya berlatih bergerak dan berjalan, apalagi saat dia mau ke kamar mandi, rasanya sungkan.


Apalagi menyangkut soal anaknya, dia sangat sensitif tidak boleh ada yang pegang kecuali dia dan suaminya.


"Kau tinggal disini aja dulu, biarkan Rendy berduaan sama Andriana di rumah, biar keduanya nyaman menjalani kehidupan pernikahan sebagai pengantin baru.


Azzam ada yang ngurus di sana, ada Milah kan.. Dia juga bisa mengerti kalau kamu lagi bantuin aku, dia juga boleh kapan-kapan main kesini mau melihat keponakannya ini. Emm, nanti si Azzam aja yang jagain dia yah kalau udah besar?" ujar Reva sambil memandangi anaknya yang tertidur pulas di baby box nya.


"Itu sih terserah anaknya, kalau dia mau yaa gak apa.. Kalau dia memiliki keinginan dan cita-cita lain, ya jangan dipaksa juga. Lagian, tanpa dipinta kami semua akan menjaganya nanti, btw.. Dia gak akan sendirian kan, bakalan punya adek juga kan?" tanya Ericka menatap kakaknya penasaran.


"Nanti dulu bilang adek-adek! Ini jahitan belum kering, masih berasa sakit nih!" jawab Reva sewot disambut gelak tawa Ericka.


Sudah beberapa hari kedatangan Aaron dan lainnya, Ericka masih belum tau apa-apa. Dia sengaja menyembunyikan kedatangannya kali ini, karena dia sedang merencanakan sesuatu untuknya.


.


.


Sementara itu, di rumahnya tante Sonia William dan Erick sedang berkumpul bersama keluarga yang lainnya membahas soal harta warisan milik opa Harja yang sudah diserahkan kepada mereka.


"Untuk apa lagi dibahas, ini sudah jelas-jelas harta pribadi milik kakek kalian dan gak ada hubungannya dengan harta milik ibuku, apalagi dengan kami.." ucap tante Sonia.


"Kami ingin memperjelas kembali bahwa harta ini bukan harta rampasan ataupun harta yang dicuri oleh opa sewaktu beliau masih hidup, tante.. itu saja," ucap William menjelaskan.


"Iya, kami mengerti.. Kalian anak baik dan penuh perhatian, terus terang kami sangat bangga kepada kalian, kami senang harta tak mengubah kalian berdua. Jika kalian masih ragu dan bimbang soal harta ini..


Kalian bisa sadaqah atau infakkan ke anak yatim, panti asuhan ataupun yayasan berlabel agama ataupun sosial lainnya, itung-itung harta itu bisa membantu menghapus dosa-dosa opa semasa hidup.


Dan aku baru ingat, ada beberapa orang yang merasa dirugikan oleh beliau semasa masih hidup, coba kalian temui mereka dan meminta maaf atas nama beliau dan berikan beberapa harta milik kalian sebagai ganti rugi dan permintaan maaf untuk mereka. Bisa kan, itu juga kalau kalian mau sih.." ucap tante Sonia memberikan solusi akhir untuk mereka.


"Iya, kami setuju dengan usulnya Sonia. Itu ide yang bagus untuk semua orang, insyaallah bisa menjadi amal jariyah untuk kakek kalian, kalian juga akan merasa tenang dan orang lain juga akan merasa terbantu dan senang juga, iya kan..?" ucap pak Darul kepada yang lainnya.


"Iya, kami semuanya setuju!" sahut dengan yang lainnya.


"Baiklah, terima kasih atas sarannya.." ucap William dan Erick senang dengan solusi mereka itu.


Setelah itu mereka sedang berbincang dan mengobrol ringan biasa ala keluarga bahagia, di taman belakang rumah itu mereka sedang bersantai sambil menikmati beberapa cemilan sambil merencanakan masa depan keluarga dan perusahaan mereka.


"Ma, aku izin main dulu yah?" tiba-tiba Stacy datang dengan berpenampilan rapi terlihat ceria dan cantik sekali.


"Mau kemana?" tanya tante Sonia.


"Main ke mall di depan, gak jauh kok!" jawab Stacy.


"Sama dia lagi?" tanya mamanya menggoda.


"Ehem, iya.." jawabnya sambil tersenyum malu.


"Ya udah, tapi pulangnya jangan malam-malam.." ucap tante Sonia sambil tersenyum.


"Thanks, Mom! Muach.." ucap Stacy senang sekali.


"Sama siapa, Tan?" tanya Erick penasaran.


"Itu si Azka, anaknya Richard.." jawab tante Sonia.


"Gak khawatir gitu tan sama mereka?" tanya Erick lagi.


"Apanya yang harus dikhawatirkan? Mereka juga bukan anak kecil lagi, yaaa.. meskipun belum dewasa-dewasa banget sih, tapi mereka berhak bahagia dengan caranya sendiri, selagi keduanya masih bisa menjaga diri dan tau batasan, ya gak apa.." ucap tante bijak.


"Wah, tante luar biasa! Aku kira bakalan kayak di sinetron-sinetron larang-larang anaknya gaul sama orang yang punya masa lalu dengan keluarganya dulu, ck! Hebat," ucap Erick salut.


"Kamu pikir ini cerita Romeo dan Juliet, lagian yang bermasalah dulu kan para tetuanya bukan mereka, tapi kalau oma masih hidup terus masih kayak dulu.. Mungkin saja bisa terjadi, tapi Richard juga hebat, mau memaafkan dan melupakan semuanya. Pantas saja dia memiliki putra luar biasa seperti Azka.." ucap tante Sonia lagi.


"Ah, si anak tengil itu! Haha.. Cocok sih," sahut Erick sambil menggelengkan kepalanya.


Setelah itu dia pamit sebentar mau mengambil air minum, tapi yang terjadi dia malah mengintip kedua anak remaja itu sedang bersiap mau pergi bersama dengan motor sport milik Azka.


"Lagi liat anak manusia yang lagi kasmaran!" jawab Erick kesal karena kaget.


"Alah, masih bocil!" ucap William meremehkan.


"Bocil tapi gentleman, dia berani jemput cewek gebetannya ke rumah orang tua si cewek, lah lu.. Teriak-teriak mau lamarlah, mau nikahlah.. Sampe sekarang cuma janji-janji manis si mulut buaya!" ledek Erick.


"Jangan keduluan sama mereka lu, hihi!" goda Erick lagi sambil berjalan masuk kedalam rumah kembali.


William diam sejenak memikirkan ucapan si Erick, ada benarnya juga ucapannya jika dia harus bersikap tegas dan jangan sering mengulur waktu, takutnya si Geraldine berubah pikiran.


Dia sedang berpikir keras bagaimana caranya agar bisa melamar Geraldine dalam waktu dekat ini.


.


.


.


Satu Minggu berlalu, acara tahlilan harian di rumah tante Sonia untuk opa Harja sudah selesai, tinggal mengadakan acara tahlilan mingguan yang dilaksanakan setiap hari kamis malam, alias malam Jumat saja.


Sekali lagi, William meminta bantuan semua orang untuk membantunya membuat acara lamaran untuk Geraldine. Dengan pesimis Erick ogah-ogahan membantunya, takutnya gagal lagi.


"Lu jangan gitu dong, lu seharusnya dukung gw bukannya mojokin gw! Emm,, kita diam-diam ngasih kejutannya pas acara aqiqahnya si baby R aja. Gimana?!" pinta William sambil memandang Reva dan Nico bergantian dengan wajah diimut-imutin.


"Ogah! Masa acara anak gw disusupin acara begituan, kayak gak ada modal aja lu! Bikin acara sendiri sono," ucap Reva dengan tegas.


"Haha, lagian buat ngelamar aja masa nebeng ama orang, dulu acaranya Rendy untung gak jadi, haha!" ledek Erick dan kepalanya langsung dijitak sama William.


"Udah, lu maunya gimana nanti kita bantuin. Tentuin dulu acaranya kapan biar enak kita nyusun rencananya, yang jelas jangan tabrakan pas acaranya anak gw aja!" sahut juga Nico.


"Oke, sip!" ucap William senang.


.


.


Acara aqiqah nya akan dilaksanakan di hotel milik Nico pribadi, hotel bintang lima milik seorang CEO muda dan terkenal itu baru kali ini mengadakan acara aqiqahan, yang dimana biasanya ballroom hotel ataupun aula dan auditorium nya biasanya disewakan untuk acara nikahan ataupun acara bergengsi lainnya.


Kali ini berbeda, sang pemilik melakukan acara sakralnya itu didalam hotel miliknya sendiri dengan konsep mewah ala anak sultan. Begitu banyak tamu penting yang datang, entah itu dari para pejabat, pengusaha dan juga para rekan dan partner bisnis mereka.


"Keren banget sih pestanya, si Reva pelit amat sih.. Dekorasinya keren begini kan sayang kalau dibuat acara aqiqah doang, ini lebih bagusnya buat acara lamaran aku aja!" ucap William sambil mengamati setiap sudut ruangan itu.


"Lu yang pelit, astagaaa.. Mimpi apa Geraldine dapet calon laki medit amat kayak lu!" ucap Erick sambil menatap heran Kakaknya itu.


"Gw bukannya pelit, tapi segala sesuatu tuh harus diperhitungkan.." elak William, langsung ditinggal pergi sama Erick setelah mendengar ucapannya itu.


Acara telah dimulai, semua dibuat terpukau dengan konsep yang dibuat oleh Reva dan Nico untuk menyambut kelahiran anak mereka, selain acara aqiqah mereka juga ingin memperkenalkan anak mereka secara resmi karena selama ini masih dirahasiakan.


"Hadirin semuanya, mari kita sambut sang tuan muda yang kita tunggu-tunggu dari tadi.. Si baby R yang tampan dan comel, Ryonza Dominic Abraham!" ucap MC kepada semua para tamu yang datang.


Reva datang bersama Nico sambil mendorong kereta bayi yang didesain khusus untuk anak mereka seperti kereta bayi seorang pangeran saja, baby Ryonza digendong sang mama, wajahnya yang mungil nampak pulas tidurnya digendongan mamanya.


"Uuuh comelnya keponakankuu.." ucap Ericka gemas saat melihat baby R.


"Gemas mana antara dia dengan aku?" tiba-tiba ada suara disampingnya yang membuatnya terkejut.


"A-Aaron? Bagaimana bisa.." dia benar-benar syok saat melihat lelaki itu berada ditempat yang sama dengannya saat ini.


"Sst, nanti saja yah.. Kita fokus dulu ke baby R, nanti mamanya ngambek lagi," ucap Aaron sambil mencubit pipinya gemas dengan ekspresi wajah Ericka yang terlihat lucu dimatanya.


Dengan setengah fokus Ericka mengikuti acara aqiqah keponakannya itu, sambil sesekali melirik kearah Aaron yang juga ikut menyibukkan diri dalam berpartisipasi dalam acara tersebut.


...----------------...


Bersambung