
Ericka membaca lembar demi lembar diary milik ibunya, isi semuanya lebih banyak tentang kegelisahan dan kegundahan hati sang ibu. Meskipun mertuanya tak menyukainya dan masih mengharapkan anaknya menikahi wanita yang menurut mereka lebih pantas untuk menjadi menantu mereka.
Tapi suaminya, yaitu Dewantoro masih sangat mencintai istri dan anaknya. Dia takkan pernah menyakiti istri dan anaknya dan melindungi mereka, meskipun suaminya itu begitu jarang sekali di rumah karena kesibukannya di perusahaan ayah mertuanya.
Hingga tak jarang Larasati mendapatkan perlakuan kasar dan ibu mertuanya, dan Elena yang diam-diam masih menjalin hubungan dengan mantan calon mertuanya dan ikut menghasutnya untuk membenci Larasati.
Tapi wanita itu tidak pernah mengadukan sikap dan perilaku ibu mertuanya ke suaminya, dia menahan semuanya, karena suaminya sangat mencintainya dan selalu menjaganya dengan baik.
Tibalah Ericka membaca buku Diary ibunya yang kedua, dan ini mengenai kehamilan ibunya yang kedua. Terlihat dari tulisan ibunya itu jika dia menuliskan kata-katanya dengan tangan bergetar, dan terlihat juga ada bekas noda-noda seperti titik air yang menetes di lembaran buku itu.
[Hai Diary
Putriku tumbuh dengan cepat, usianya sudah empat tahun, dan dia menjadi anak yang cantik dan manis, dia jarang sekali meminta sesuatu dengan paksa, dia selalu bisa mengerti dan memahami ibunya, meskipun ayahnya mampu untuk mewujudkan keinginannya, tapi dia tidak pernah meminta, karena dia tahu, neneknya takkan pernah mengizinkannya. Dia terlalu kecil untuk memahami ini semua, dia terlalu kecil untuk menjadi dewasa, dia harus bisa mengerti dan memahami keadaan orang-orang dewasa disekelilingnya, tapi orang-orang ini tak pernah sekalipun memahami dirinya, aku kasihan dengannya yang nampak begitu berbeda dari semua teman-temannya juga para sepupunya itu]
[Hai Diary
Aku bahagia sekali, ini adalah kado terindah untukku setelah Tuhan berikan malaikat kecil nan cantik dihidupku, karena Tuhan memberikan aku kado lagi berupa malaikat kecil lagi, tapi aku belum tau ini cantik atau tampan, tapi jantungku terus berdetak saat mendengarkan suara detak jantung bayi mungil di perutku ini, Reva putriku, dia begitu senang sekali karena akan memiliki seorang adik nantinya, dia tak peduli jika adiknya laki-laki atau perempuan, karena dia akan tetap mencintainya, meskipun aku pernah mendengar ibu mertua menghasutnya agar membenci adiknya yang belum lahir ini. "Tidak nenek, dia adalah adikku, dan aku sayang padanya, jika ayah dan ibu sayang sama aku, kenapa mereka tidak boleh sayang sama adikku? Kan dia juga anaknya, sama sepertiku" ucap putri kecilku polos. "Dasar anak bodoh, kau itu terlalu kecil untuk mengerti semuanya! Jika adikmu lahir, kau takkan pernah dicintai oleh mereka!" ucap ibu mertua menyakiti hati putriku itu. "Tidak nenek, ibu dan ayah sangat sayang padaku, seperti mereka menyayangi adik nantinya" ucap putriku itu..]
[Hai Diary
Usiaku kandunganku sudah mulai membesar, dan pergerakanku pun mulai lambat, suamiku mulai berubah dia tak seperti dulu saat aku mengandung anak pertama dulu, jika dulu dia sangat memperhatikan aku dan calon anak kami, tapi kali ini dia tak terlalu peduli, setiap kali aku meminta sesuatu dan bertanya soal perubahan hatinya, dia selalu marah " Kau terlalu manja, Laras! Bisakah kau mandiri sedikit?! Aku capek, aku lelah karena harus bekerja seharian, ditambah lagi aku harus mengurus Reva lagi, pekerjaanku bertambah, jangan menambah bebanku!" kata-katanya sungguh menusuk hatiku, teganya kamu mas, padahal aku hanya meminta hal kecil saja, dan kau bilang aku dan anakmu adalah beban?! Dan kau mengatakan mengurus Reva adalah menambah pekerjaanmu, tidakkah ucapanmu itu sangat menyakitkan?! Dan kau mengatakan hal itu didepannya, itu sangat menyakitkan hatiku, mas. Setidaknya jangan membuat anakmu semakin membencimu]
Ericka terdiam sejenak, dia mengambil air minumnya dan meneguknya sampai habis. Tenggorokannya kering dan dadanya ikut sesak membaca setiap tulisan tangan sang ibu, dengan tangan bergetar dia kembali membuka diary itu dan memulai membacanya lagi.
[Hai Diary
[Hai Diary
Sudah tiga hari semenjak kejadian itu, aku tak mengizinkan Reva pulang sendirian ataupun dijemput oleh sembarang orang, dia harus aku yang jemput atau tidak suamiku yang jemput, tentu saja itu mendapat penolakan dari suamiku, "Tidak bisa, aku ada pekerjaan Laras, baiklah hari itu aku ceroboh karena melupakan Reva, dan maafkan aku. Tapi aku tak bisa setiap saat menjemputnya, kau memang saat ini masih bisa, tapi setelah melahirkan, apa kau tak bisa mengurusnya juga? Kalau kau repot, minta tolong ibu atau gak Bibi yang bekerja di rumah!" ucap suamiku itu dengan egoisnya, dia tidak pernah tau jika ibunya tidak sekalipun membantuku, malah dia selalu membebaniku dengan segala pekerjaan, padahal dia tahu aku lagi hamil dan juga sibuk mengurus anakku. "Biar saya saja yang mengurus nona Reva, Nyonya!" ucap bi Mirna, orang yang bekerja di rumah ini, dia begitu baik dan tulus membantuku tanpa pamrih, semenjak kedatangannya beberapa minggu lalu, pekerjaanku menjadi ringan, dia bisa membantu apa saja, karena dia memiliki segala keahlian dalam mengurus rumah termasuk mengurus anakku, meskipun di rumah ini begitu banyak pelayan, tapi aku begitu percaya dengannya, aku merasa jika anakku akan aman bersamanya..]
Ericka menyeka air matanya, dia tidak menyangka jika bi Mirna juga sudah melihat semuanya sejak awal dia ikut bekerja dengan ayah dan ibunya, berarti bi Mirna merupakan saksi hidup saat ini dimana kisah perjalanan ibunya dulu dalam mengurus dan membesarkan kakak-kakaknya juga, dia pikir bi Mirna ada sejak dia lahir saja, ternyata lebih lama dari itu.
[Hai Diary
Bayi keduanya sudah lahir beberapa bulan yang lalu, dan maaf aku baru mengabarimu, karena aku begitu sibuk dengan semua kebahagiaan ini, dia lahir dengan wajah yang sangat tampan, yang kata orang begitu mirip dengan ayahnya itu. Suami dan mertuaku nampak bahagia sekali karena mereka memiliki keturunan lelaki juga, kasih sayang yang berlimpah dia dapatkan, melebihi kasih sayang mereka kepada anak pertamaku, Reva. Lantas apa Reva cemburu? Tidak! Dia senang sekali semua orang sayang padanya, sehingga nenek dan kakeknya pun tak ada waktu untuk menilainya lagi, mereka sudah tak marah-marah ataupun melarangnya melakukan ini dan itu, karena mereka terlalu sibuk dengan cucu lelaki mereka, bahkan jika putraku yang masih bayi itu menangis mereka meminta Reva menjaganya ketika mereka sedang sibuk, sedangkan aku? Mereka tak mengizinkan aku mengurusnya, puteraku diberikan kepadaku ketika waktunya menyusu saja, dan waktu tidur malam saja, jika tidak mereka akan mengurusnya dan tak membiarkan aku menyentuh putraku sendiri, bukan karena mereka sayang dan tak ingin aku lelah, tapi mereka tak ingin cucu lelakinya lebih dekat dengan ibunya seperti kakak perempuannya yaitu Reva, dia tak ingin anak lelakiku membangkang seperti kakaknya, padahal itu murni dari pemikiran anak kecil itu, anak yang sudah bisa melihat dan mencontoh perbuatan orang dewasa kepadanya, Reva hanya melakukan apa yang mereka lakukan kepadanya, itu saja]
Ericka terdiam dan tercenung sejenak, dia meletakkan buku diary ibunya itu setelah meletakkan pembatas baca yang sudah dia tandai itu. Dia melihat jam menunjukkan pukul dua belas malam, dia berniat ingin istirahat dulu setelah matanya mulai mengantuk dan lelah setelah membaca buku diary sang ibu, dan tenaganya sedikit terkuras karena menangis terus sepanjang dia membaca diary itu.
"Ibu, biarkan aku bertemu denganmu didalam mimpi sekali lagi.." gumamnya dalam hati.
Mata terpejam menahan rindu kepada sosok yang begitu kuat dan tegar menjalani hidup itu, ibu yang begitu kuat menjaga anak-anaknya.
...----------------...
Bersambung