
"Kenapa, apa kau marah? Ingin memukulku?" Tantang Pramudya.
Rendy tersenyum sinis, dia menarik Ericka ke sisinya lalu pergi meninggalkan Pramudya dan Pricilia begitu saja. Tentu saja itu membuat Pramudya geram, dia merasa tidak ditanggapi dia mulai meneriaki mereka.
"Dasar pengecut, bodoh! Kalian kakak adik sama aja, pura-pura polos tapi punya niat busuk! Kita lihat saja nanti, kalian akan terusir dari sini jangan harap kami akan mengampuni kalian!" Teriaknya kesal.
Rendy membalikkan badan, lalu tersenyum kearah Pramudya. Dia mengisyaratkan untuk diam, lalu berlalu pergi masuk ke kamarnya.
"Akh!" Teriak Pramudya, dia kesal merasa dicuekin oleh Rendy.
Dia merasa terhina sekali, dia merasa direndahkan didepan Pricilia dan Ericka. Pramudya yang bersikap sok keren itu hampir jatuh harga dirinya oleh sikap Rendy yang begitu dingin menanggapinya.
Sementara itu Rendy membawa masuk Ericka ke kamarnya, dia mempersilakan adiknya itu duduk disalah satu sofa di kamarnya. Kamarnya terlihat berantakan sekali, buku-buku dan beberapa kertas berserakan seperti habis ditiup badai angin saja.
Dia bergegas membersihkan kamarnya itu seadanya, Ericka tersenyum baru kali ini juga dia masuk dan melihat isi kamar kakaknya itu.
Dia mengingat kejadian beberapa tahun lalu, disaat mereka masih kecil. Ericka penasaran ingin melihat isi kamar kakaknya itu, tapi selalu takut karena Rendy menempelkan stiker di pintu kamarnya gambar tengkorak mengerikan.
Sehingga siapa saja ingin mendekati kamarnya, jadi tidak berani. Itu adalah salah satu bentuk kecerdasannya waktu dulu saat mengusir orang secara halus.
Sekarang dia malah ada disini, dikamar waktu itu. Rendy menawarkan minuman soda dari kulkas mininya, kamarnya lengkap dengan segala keperluannya.
"Ericka, kamu gak kenapa-kenapa 'kan? Apakah ada yang sakit?" Ujar Rendy memperlihatkan perhatian kecilnya.
Dia berusaha keras untuk mendekati adiknya itu, bagaimanapun juga sekarang dia jadi tanggung jawabnya selagi Reva tidak ada. Sekaligus pembuktian bahwa dia juga punya hati nurani, dia ingin kakak perempuannya itu melihat mereka saat ini.
Memang benar kata orang, jika dekat mereka berjauhan dan jika jauh mereka saling merindukan. Ah, dia merindukan kakak perempuannya itu yang suka sekali mengomelinya.
"Tidak Kak, tidak ada yang sakit. Aku hanya kaget saja tadi" jawab Ericka.
'Lain kali kamu harus ingat yah, jika mereka berbuat begitu lagi kepadamu, kamu harus melawannya. Jika tidak mereka tidak akan berhenti, ataupun kapok lagi" jelas Rendy kepadanya.
Jarak mereka lumayan dekat, tapi Rendy menatap adiknya itu penuh kasih sayang. Tapi berbeda dengan Ericka, dia merasa risih dan tidak enak hati.
"Maaf Kak, boleh aku kembali ke kamarku saja?" Tanyanya.
"Kenapa? Apa ada sesuatu? Baiklah, tapi biarkan Kakak mengantarkan kamu sampai didepan kamarmu" jawab Rendy.
Ericka tidak bisa menolaknya, dia membiarkan Rendy mengantarkan dia kembali ke kamarnya yang hanya berjarak beberapa langkah saja dari kamar Rendy itu.
"Terima kasih Kak, untuk waktunya. Aku senang akhirnya bisa bertemu dan mengobrol lama sama Kakak, aku masuk dulu ya Kak" ujar Ericka dengan sopan.
Rendy tersenyum bangga kepada dirinya sendiri karena sudah berhasil mendekati adiknya itu, yah meskipun masih ada jarak diantara mereka.
Tidak apa, ini baru permulaan saja. Mungkin masih terasa kaku nanti jika sering bertemu, mereka akan semakin akrab nantinya. Pikir Rendy.
*
Sementara itu, diluar sana ada seseorang yang sedang memperhatikan rumah besar dan megah itu. Beberapa kali orang itu celingukan melihat kedalam lewat pagar rumah itu, dilihat dari bentuk tubuhnya yang lumayan kecil itu agak susah untuk melewati pagar tembok.
"Ah, si*l! Susah sekali naiknya, apa aku telpon saja yah? Ah, kesal sekali aku. Anak ini sudah lama sekali tidak memberi kabarnya kepadaku.
Nasib kedua orang tuaku lagi di ujung tanduk, mereka malah bersantai di rumah mewah ini. Biar nanti malam saja aku kesini lagi, untuk sekarang terlalu berisiko juga kalau nekat masuk kedalam" gumamnya.
Dia meninggalkan rumah itu dengan perasaan campur aduk, dia pergi menggunakan motor sportnya.
*
Malam harinya, Ericka melamun sendirian di kamarnya dia masih memikirkan kakaknya. Kenapa dia tidak memberinya kabar lagi, apa dia marah karena waktu itu?
Ericka jadi teringat lagi dengan kejadian bersama Julia di taman rumah sakit, apa keluarganya baik-baik saja sekarang?
Semenjak kejadian itu, kakaknya nampak marah padanya karena berhubungan lagi dengan orang yang mem bullynya.
Apa karena itu atau ada hal lain? Dia masih memikirkannya, pada saat yang tepat juga Julia menelponnya.
Kriing!
Ericka melihat layar telponnya, dia senang disaat dia sedih begini ada temannya yang menghubunginya.
"Halo, Julia... Apa kabar? Maaf aku tak sempat menghubungimu lagi" ujar Ericka merasa tidak enak dengannya.
Aku doakan semoga sidangnya berjalan lancar dan kalian sukses selalu" ujar Julia.
Ericka bingung, bagaimana dia tahu bahwa kakaknya sedang mengurus sidang mengenai hak waris mereka?
"I-iya, terima kasih" jawabnya terbata, dia mulai khawatir dengannya. Apakah ada maksud lain dia menghubunginya? Sepertinya Reva benar, Julia pasti memanfaatkannya lagi.
"Ada apa, Julia? Kenapa mendadak menghubungiku?" Tanya Ericka penasaran.
Julia kesal dengan Ericka yang tiba-tiba bertanya langsung begitu, padahal dia sudah berbasa-basi dengan manis kepadanya. Dia harus memutar otak kembali mencari alasan yang tepat, sepertinya Ericka sudah mulai pintar menilai orang.
"Emm, aku tidak tahu harus mulai darimana... Jujur aku malu mengatakannya, tapi bagaimana lagi aku sudah tak punya jalan lain selain menghubungimu" ujarnya, selembut mungkin dia berbicara untuk menarik perhatian Ericka.
"Kamu kenapa, Julia? Apa masalah keluargamu belum selesai juga" tanya Ericka.
"Dasar Brengs*k, ini semua karena ulahmu dan kakakmu keluargaku jadi hancur begini" dalam hati Julia mengumpat.
"Ah, begitulah..." Ucapnya memelas.
"Aku turut prihatin atas semuanya, aku akan mencoba menghubungi kakakku lagi. Saat ini dia sedang sibuk, susah untuk dihubungi" ujar Ericka lagi.
"Baiklah, Ericka. Terima kasih" Julia menutup telponnya.
Dia tersenyum sinis, dia kurang yakin dengan anak ini bisa membantunya. Kita lihat saja nanti, jika dia masih saja berbelit seperti ini maka dia harus memberinya pelajaran lagi.
**
Ditempat lain, di Villa yang asri itu Reva duduk sendirian sambil menikmati teh dan cemilannya di tepi balkon Villa itu.
Villa mewah itu dibangun diatas bukit perkebunan teh milik keluarga Nico, dari atas sana nampak pemandangan hamparan kebun teh yang menghijau dan juga beberapa tanaman buah lainnya.
di halaman Villa yang luas itupun ditanami dengan berbagai bunga-bunga warna-warni yang cantik, semakin membuatnya betah tinggal di sana.
Sementara itu, Reva sempat melihat rombongan mobil menuju Villa itu. Dia tersenyum sumringah, Nico sudah kembali pikirnya.
Dia bergegas menuju kamarnya, merapikan sedikit dandanannya dan bersiap menunggunya di ruang tamu.
Kakinya sudah membaik, meskipun masih sakit dia berusaha untuk bisa jalan kembali. Dengan sedikit pincang dia menuruni anak tangga yang sedikit berliku itu.
Saat diatas tangga itu, dia melihat ada beberapa orang yang datang bersama Nico. Dia nampak asing dengan mereka, Nico melihat Reva sedang bersusah payah turun langsung menghampirinya.
"Perlu bantuan, Nona?" Ujarnya menggoda Reva, tanpa izin dari Reva dia langsung menggendong wanita turun kebawah.
Reva dia taruh diatas kursi roda yang ada dibawah, Reva ingin bangun lagi tapi dia larang dengan alasan kakinya masih sakit.
"Kamu apa-apaan sih, aku tuh udah gak sakit lagi. Dan kakinya juga sudah sembuh, masih nyeri tapi sedikit." Ujar Reva memberi alasan alasan.
"Intinya kaki kamu masih sakit 'kan, sudahlah nurut saja kamu" kata Nico lagi.
Kedua orang temannya juga beberapa rekan setimnya tersenyum dengan drama mereka buat, William dan Robin memperhatikan Reva sedari tadi.
"Oh, ternyata ini wanita yang membuat Nico tergila-gila" ujar mereka dalam hati.
"O ya, kenalkan ini sahabat-sahabatku... William dan Robin" kata Nico sambil memperkenalkan mereka ke Reva.
Keduanya bergantian menjabat tangan Reva, dia pun menyambut hangat kedatangan kedua sahabat Nico.
"Reva, bisa bicara berdua saja denganmu? Ada hal yang ingin aku katakan kepadamu" ujar Nico.
Kedua sahabatnya pergi meninggalkan mereka berdua, William dan Robin memberi ruang mereka untuk bicara. Seolah sudah tahu dengan tata letak rumah Villa itu, keduanya mengajak rekan dan timnya pergi keruangan besar di samping ruang tamu itu.
"Nico, mereka siapa? Aku yakin mereka bukan sekedar ingin menyapaku saja, apa ada sesuatu yang tidak aku ketahui" ujar Reva menatapnya lekat.
Nico diam, dia justru membawanya ke tempat lain. Reva tahu ada sesuatu yang dia sembunyikan.
...----------------...
Bersambung