
Ericka keluar dari kamar itu dengan perasaan bergemuruh, dia sangat emosi begitu melihat para pelayan yang menyiksa bi Mirna dan Milah. Tapi dia harus tahan itu semua, dia harus main cantik untuk membalas mereka.
"Kalian, ikut aku!" perintahnya kepada Nia dan lainnya.
Mereka menurut saja perintah Ericka, ternyata Ericka membawa mereka ke sebuah gudang lama tidak terpakai, dia melihat ruangan itu begitu kotor, bau dan pengap.
"Kalian lihat ini, kotor dan bau sekali! Aku ingin kalian berempat membersihkan gudang ini sampai bersih, wangi dan nyaman dipakai. Aku akan menggunakan gudang ini sebagai tempatku ber olah raga.
Aku ingin kalian yang membersihkannya, bukan orang lain! Lakukan yang benar dengan tangan kalian sendiri, jika kalian tak bisa melakukan hal itu maka aku akan mencopot jabatanmu itu.
Jangan menyuruh ataupun meminta bantuan apapun kepada pelayan yang lain, ini semua tanggung jawab kalian, jika ada yang rusak diperbaiki, aku gak mau tahu, pokoknya gudang ini harus bersih hari ini!" perintah Ericka.
"Baik, Nona.." jawab mereka.
Ericka berlalu meninggalkan mereka di sana, dia tersenyum puas bisa membalas mereka dengan baik. Dia menoleh kearah mereka yang nampak begitu kebingungan melihat gudang yang begitu kotor tak pernah dibersihkan itu.
"Bagaimana ini, apakah kita sanggup melakukan semua ini?!" tanya salah satu pelayan itu.
"Bisa jika kita lakukan sekarang juga, ayo! Aku gak mau dipecat ataupun dicopot jabatanku sebagai kepala pelayan disini!" ujar Nia kesal.
Mau gak mau mereka terpaksa mengerjakan itu semuanya, Ericka menatap mereka dengan pandangan dingin sambil memikirkan bagaimana caranya lagi untuk memberikan mereka pelajaran lagi.
Dia menuju ruang kerja ayahnya, dia tau lelaki yang tak pernah menatapnya itu pasti ada di sana, dia harus menyapanya. Bagaimanapun juga dia anaknya juga kan? pikir Ericka sambil tersenyum sinis.
"Mas Bram..." sapa Ericka kepada asisten ayahnya itu.
Bram yang tadi sibuk dengan laptop ditangannya terkejut melihat nona mudanya itu, dia tak tahu jika Ericka sudah kembali. Tergesa-gesa dia meletakkan laptop diatas meja depannya dan menghampirinya.
"Nona, apa kabar? Wah, sudah lama sekali tidak bertemu. Anda begitu banyak sekali perubahannya, makin dewasa dan makin cantik" puji Bram kepadanya sambil menatap takjub.
"Terima kasih atas pujiannya, Mas Bram... O ya, ayah ada di dalam?" tanyanya ramah.
"Ada kok, Non. Sama nyonya juga didalam.." ujar Bram.
"Baiklah, aku ingin bertemu dengannya" ujar Ericka.
Tok! Tok! Tok!
"Permisi, Tuan. Nona muda ingin bertemu dengan anda.." ujar Bram sambil membukakan pintu untuk Ericka.
Ericka masuk kedalam ruangan itu, dia melihat Elena dan ayahnya sedang duduk di sofa tamu yang ada di sana. Mereka nampak sedikit terkejut dengan kedatangannya.
"Apa yang kalian rencanakan disini? Ingin mengusirku kembali? Atau berencana ingin melenyapkan aku?! Itu takkan pernah terjadi sampai aku membalas perbuatan kalian" gumamnya dalam hati.
Ericka berjalan santai dengan anggunnya menghampiri mereka, dia duduk berhadapan dengan keduanya sambil tersenyum simpul penuh arti. Terlihat pak Dewantoro nampak tak nyaman didepannya.
"Halo, Ayah. Apa kabar? Kenapa tak menyapaku tadi? Ish, aku kesal sekali.. Padahal aku sangat merindukanmu.." tatapnya sambil tersenyum sinis.
"Apa maumu? Buat apa lagi kamu kemari, hah?! Sudah cukup pestaku kau buat berantakan, dan kamarnya kau ambil juga!
Mau apa lagi kau sekarang, jangan bilang kau ingin merebut rumah ini juga!" ujar Elena geram.
"Emm, aku tak sampai berpikir seperti itu.. Tapi boleh juga idenya" sahut Ericka sambil tersenyum licik, membuat Elena semakin emosi saja.
"Kau... Mau apa?" akhirnya pak Dewantoro bersuara juga setelah sekian lama berdiam diri.
"Apa aku mengingatmu dengan seseorang, kenapa kau tak berani menatapku?" tanya Ericka sambil menyelidiki gerak-gerik ayahnya itu.
"Ti-tidak, bukan seperti itu!" sahut pak Dewantoro gelisah didepan istrinya itu, Elena hanya mendelik diam kearahnya.
Mendengar hal itu, Ericka begitu yakin bahwa ayahnya sedari tadi memikirkan mendiang ibunya. Dia beranjak dari duduknya, lalu menatap sebuah lukisan yang terpajang di ruangan itu.
Lukisan keluarga bahagia, terdiri dari ayah, ibu dan sepasang anak laki-laki dan perempuan, terlihat ibunya sedang memegangi perutnya.
"Ayah, aku tak menyangka kau menyimpan lukisan ini disini. Aku pikir sudah kau buang" ujarnya.
"Tentu saja, itu lukisan berharga bagi kami. Itu dibuat untukku dan suami berserta anak-anakku" jawab Elena pongah.
"O ya, tapi kok aku lihatnya berbeda yah.. Anak perempuan ini berperawakan lebih tinggi dari anak laki-laki ini, dan istrinya sedang memegangi perutnya. Apakah dia sedang hamil?" tanya Ericka sengaja memancing keributan itu.
"Apa maksudmu itu?!" tanya Elena sudah diambang emosi lagi.
"Bukankah anakmu kembar? Mereka tak terlihat seperti kembar.. Dan kamu juga tak punya anak kan dari ayahku ini" jawab Ericka sambil tersenyum mengejek.
"Kau--" Elena merasa terhina sekali mendengar ejekan Ericka.
"Sudah-sudah, berhenti! Kau memang benar, lukisan ini adalah lukisan aku bersama mendiang ibumu bersama kakak-kakak mu itu. Sekarang kau puas?!" bentak pak Dewantoro.
"Sangat puas sekali... Terima kasih ayah, kau telah menunjukkan cintamu pada kami dengan cara seperti ini" ujar Ericka sambil berlalu pergi.
Sekilas dia melihat Elena memandangi pak Dewantoro dengan tatapan tak percaya, mungkin dia merasa dibohongi selama ini.
"Ini baru permulaan, belum apa-apa. Akan aku hancurkan hubungan kalian, kubuat kalian saling mencurigai dan tak ada saling kata percaya lagi. Seperti kau lakukan pada mendiang ibuku.." gumam Ericka dalam hati.
Dia keluar dari ruangan itu dengan perasaan puas setelah membuat mereka emosi dan marah, dia masih melihat Bram yang begitu sibuk dengan pekerjaannya diluar ruangan itu.
"Mas Bram, bisa minta tolong gak? Tapi sebelumnya aku minta maaf jika merepotkanmu.." ujar Ericka memelas.
"Terima kasih, tapi tak sekarang ya Mas.. Aku tak enak, Mas Bram lagi sibuk bekerja. Nanti saja jika Mas Bram sudah pulang, kabari aku jika jam kerjamu sudah selesai" ujar Ericka.
Bram hanya mengangguk tanda menyetujuinya, dia tahu ini pasti berkaitan dengan suara keributan yang ada didalam ruangan itu.
Sementara itu, didalam ruangan itu pak Dewantoro serba salah dipandangi oleh istrinya itu dengan tatapan curiga dan kecewa tentunya.
"Kenapa kau diam saja? Katakan saja apa yang ingin kau katakan.." ujar pak Dewantoro merasa tak enak didiami oleh Elena.
"Sudahlah, tak penting apa pendapatku yang jelas kau sudah mengkhianati kepercayaanku" ucap Elena sambil menahan Isak tangisnya.
"Aku harus bagaimana agar kau bisa percaya denganku? Lukisan itu sudah ada sebelum kita menikah, aku tak bisa membuangnya begitu saja.
Hanya itu satu-satunya kenangan antara aku dan Laras, dan sekarang anak itu begitu mirip dengannya saat dia masih muda dulu.
Aku tak pernah berkata jika lukisan itu, lukisan keluarga kita berdua. Kau yang berpikir seperti itu bahwa itu lukisan kita" ujar pak Dewantoro sambil memijit keningnya pusing.
"Terserahlah!" ucap Elena tak percaya.
Dia keluar dari ruangan itu dengan membanting pintu dengan kencangnya, mengagetkan pak Dewantoro maupun Bram yang ada diluar sana.
Pak Dewantoro hanya menghela nafas berat melihat itu semuanya, dia kesal tak bisa berbuat apa-apa. Di hatinya dia merindukan mendiang istrinya itu, yaitu mendiang Larasati. Di sisi lain dia juga tak ingin mengecewakan Elena, istrinya saat ini.
//
Ditempat lain, di sebuah rumah mewah dan megah.
Reva menatap taman hijau disamping rumahnya itu, dia masih memikirkan hidupnya saat ini yang berubah drastis. Beberapa bulan yang lalu dia masih berstatus gadis, pas bangun-bangun sudah menjadi seorang istri dari Nico Abraham.
FLASHBACK Beberapa bulan yang lalu.
Saat itu, Reva merasakan seluruh tubuhnya remuk redam. Badannya terasa sakit dan pegal-pegal, dia seperti sudah berbaring di sana sangat lamanya.
Ketika dia bangun, ada beberapa selang menempel pada tubuhnya. Dia hendak bangun tapi badannya terasa begitu sakit dan lemas, kepalanya pusing dan pandangannya sedikit kabur.
Samar-samar dia mendengar seperti ada percakapan seseorang di sampingnya, tenggorokan kering sekali dia ingin meraih botol air minum berada tak jauh darinya.
Brak!
Suara botol air mineral terjatuh dari atas nakas itu, dia tak sengaja melakukan hal itu karena tangannya masih sangat lemas sekali.
"Reva?! Kamu sudah bangun sayang!" terdengar suara Nico begitu terharu melihatnya setelah beberapa bulan lamanya.
Nico langsung berdiri dan memeluk dirinya, setelah itu datang seorang dokter dan beberapa perawat untuk memeriksanya kembali.
"Alhamdulillah ya Pak, Bu Reva akhirnya siuman juga. Untuk seterusnya masih tetap lakukan perawatan secara intensif, karena Bu Reva masih belum sadar sepenuhnya" ujar dokter itu.
"Lakukan yang terbaik, Dok.." ujar Nico.
Dokter dan perawat tadi keluar dari ruangan itu, terlihat Nico sedang menelpon seseorang dan menyampaikan kabar itu.
"Sayang..." ujarnya sambil memegang tangan Reva dengan lembut.
"Aku kenapa?" tanya Reva bingung.
"Sudah nanti saja yah penjelasannya, kamu istirahat aja dulu jangan banyak mikir untuk saat ini.." ujar Nico menatapnya lembut.
Setelah itu, Nico memutuskan membawa Reva ke rumah sakit yang lebih baik lagi dari sana agar bisa memproses kesembuhannya lebih cepat lagi.
Setelah kurang lebih satu bulan, dia akhirnya diperbolehkan untuk pulang juga. Dari dia bangun dari komanya sampai pada hari itu tak ada yang menjawab pertanyaan dengan benar.
Ketika dia bertanya kenapa dia sampai dirawat di rumah sakit sampai berbulan-bulan lamanya, dan Rendy pun tak menjelaskan dengan pasti kenapa Nico selalu ada untuk mengurusnya.
"Nanti Kakak akan tahu semuanya, setelah Kakak pulang dari rumah sakit ini" itu yang pernah diucapkan oleh Rendy.
Dan hari itu dia menanyakan janji Rendy waktu itu, semua orang ada di sana menemaninya untuk pulang ke rumah. Dan terdiam saat Reva menanyakan pertanyaan yang sama berulang kali.
"Kak, jangan marah sebelumnya.. Sebelumnya aku ingin menjelaskan dulu bahwa ini semuanya demi kebaikan Kakak dan kita semua.
Kak, Kak Nico sekarang adalah suami Kakak. Kakak menikah dengannya beberapa bulan yang lalu, setelah Kakak dinyatakan koma oleh dokter.." ujar Rendy dengan hati-hati.
Reva terdiam mendengar ucapan Rendy barusan, sejenak kemudian dia tertawa terbahak-bahak karena merasa tak percaya dengan ucapannya.
"Hahaha! Rendy, Rendy... Gak lucu tau! Masih aja mainin permainan kayak gitu, haha! Udah, udah sakit perut aku habis ketawa denger ucapanmu tadi, haha!" ujarnya sambil menggelengkan kepalanya tak percaya.
"Kak, aku serius. Tanya saja sama yang lain..." ujar Rendy serius.
Reva menatap semuanya, dan mereka nampak begitu serius dan tak ada yang merespon perkataannya tadi.
Dia menjadi khawatir dengan apa yang akan terjadi nanti, bagaimana mungkin dia bisa menikah dengan Nico? Sedangkan dirinya pada saat itu sedang koma.
Apa terjadi sesuatu selama ini tanpa dia ketahui? Apa saja yang terjadi selama dia koma itu? Tidak ada yang menjelaskannya dengan detail, yang dia tahu dia sekarang ini sudah menjadi istri sah dari Nico, kekasih yang amat dia cintai sekaligus dia benci.
...----------------...
Bersambung