
Sebelumnya, saat Geraldine menyuruh Pramudya pulang dia sudah meminta orang untuk mengusir taksi yang ada disekitar restoran itu, bahkan dia meminta orang untuk mengalihkan jalur taksi jika lewat depan restoran.
"Bayar mereka berapapun mereka mau! Pokoknya jangan sampai lelaki itu pulang dan mendapatkan tumpangan apapun, biarkan dia pulang dengan berjalan kaki! Ini adalah perintah dari bos langsung.
Terkadang kita harus kejam dalam bertindak, agar orang tersebut bisa menyadari betapa susahnya dalam mencapai hidup yang lebih baik, biar dia punya sedikit pengalaman untuk dia kenang seumur hidupnya," ujar Geraldine memberikan sebuah perintah kepada orang suruhannya.
Tapi siapa sangka apa yang dia lakukan membuat Pramudya bertemu dengan tiga orang wanita cantik penipu ulung, bahkan pengalaman ini benar-benar akan dikenang oleh Pramudya seumur hidupnya.
"Bu, rencana sudah berhasil tapi saya tadi sempat melihat orang itu naik kesebuah mobil sedan berwarna merah, saya tidak tahu mobil siapa itu." Orang suruhan Geraldine melapor kepadanya.
"Biarkan saja, mungkin itu temannya yang dia telpon. Yang penting dia telah menyicipi sedikit perjalanan jauh menggunakan kakinya itu, kaki yang selalu berjalan angkuh itu.." sahut Geraldine.
Setelah selesai melakukan kesepakatan bisnis dengan kliennya, dia langsung pulang dan sebelumnya menelpon Rendy untuk menyerahkan flashdisk itu.
"Kau datang kesini saja, Din. Aku sekarang ada di rumah kak Nico, malam ini ada selamatan kecil-kecilan atas kehamilan kak Reva, kamu datang saja.." ujar Rendy diseberang telpon.
"Benarkah?! Wah, berita baik itu! Tapi tak apa yah jika aku datang, kan tidak diundang?!" tanyanya tak enak.
"Gak apa kok, lagian mereka juga pasti tahu jika kamu itu orang kepercayaanku dan Ericka, kan kita bestiee!" canda Rendy sambil terkekeh.
"Alah! Bestiee jika punya mau ajaaa" balas Geraldine sambil tertawa.
"Oke, aku datang ke sana sekarang saja!" sambungnya lagi.
Geraldine dari restoran langsung menuju kediaman tuan dan nyonya Abraham, dia tak pernah berpikir atau teringat tentang Pramudya lagi, yang dia kira sudah pulang ke rumahnya itu.
Geraldine masuk kedalam rumah besar nan mewah itu dengan canggung, ada beberapa orang yang tidak dia kenal di sana, dia hanya tau dengan Rendy, Andriana dan pemilik rumah saja.
"Duh, si Rendy kemana lagi?! Nyuruh datang tapi orangnya tak ada" gerutunya kesal.
Sebelumnya tak gampang masuk ke rumah atau komplek perumahan elit itu, tapi karena Rendy sudah bilang ke Nico jadi dia gampang dan mudahnya masuk kesana, meskipun harus melakukan berbagai pemeriksaan dulu.
Saat Geraldine terlihat kebingungan mencari Rendy ditengah pesta itu, tiba-tiba ada yang menyapanya dari belakang.
"Hai, ketemu lagi kita.." terdengar suara asing menyapanya.
"Kamu??" Geraldine bingung bercampur heran, dia tak tahu harus bersikap bagaimana.
Orang yang menyapanya itu ternyata lelaki yang dia lihat ditengah jalan malam itu, lelaki yang hampir mengalami kecelakaan malam itu.
"Sepertinya Tuhan sudah menggariskan sesuatu diantara kita, entah itu takdir atau kebetulan tapi aku tau itu pasti tentang hubungan ini" ucap lelaki itu sambil mengedipkan matanya nakal kearah Geraldine.
"Ish, apa-apaan sih?! Gaje banget!" reaksinya diluar dugaan William.
Geraldine langsung meninggalkannya sendirian yang masih bengong, bagaimana tidak lelaki tampan sepertinya kok ditolak begitu saja. Dia melihat Geraldine mendekati Rendy dan Andriana, dan mereka terlihat begitu akrab.
"Oh, jadi dia kenalan mereka berdua. Kalau sampai diundang ke pesta private begini, berarti mereka sangat dekat. Hem.. Lebih baik aku dekati saja Rendy dan menggali tentang dirinya," gumamnya William sambil memperhatikan mereka.
Dan pesta pun dimulai, diawali dengan kata sambutan dari Nico dan Rendy mereka memulai acaranya. Reva awalnya merasa tak nyaman dengan semua ini, karena menurutnya terlalu awal untuk melakukan selamatan kayak ini, karena mengingat kandungan baru berusia 2 bulan.
"Ih, apaan sih? Ribet amat!" ujarnya risih.
"Biarin ajalah,Kak.. Itu tandanya kak Nico lagi senang, tau sendiri kan dia orangnya kayak giman.. Kalau lagi marah jangan dikata, bisa kiamat dunia, kalau lagi seneng, yahh... Tau sendiri kan" sahut Rendy menimbalinya.
"Iya sihh, tapi aku sekarang lagi males ngapa-ngapain sekarang ini, pokoknya pengen rebahan aja maunya" jawab Reva lemes.
"Ish, jangan dibiasain Kak. Ntar anaknya jadi males kalau dari kandungan udah diajak rebahan mulu, mau ntar anakmu jadi tim rebahan??" kata Rendy ngeledek Reva.
"Itu juga keponakanmu! Kalau dia malas-malasan mulu ntarnya kamu aja yang ngajarin dia biar strong itu kayak gimana" sahut Reva tak peduli.
Di pesta itu hanya dihadiri Rendy, Andriana, William, Geraldine dan dokter Anwar selain Reva dan Nico. Reva hanya duduk sambil menikmati beberapa cemilan dan minuman, yang lain juga begitu sambil mengobrol, terlihat Nico begitu bersemangat menyambut calon bayi mereka yang masih lama lahirnya itu.
Tiba-tiba perasaan Reva menjadi sedih karena merasa ada yang kurang, dia ingin sekali Ericka ada di sana. Air matanya langsung tumpah dan ia menangis tersedu-sedu, membuat semuanya beralih pandangan kearahnya.
"Sayang, kamu kenapa? Hei, ada yang gak enak? Badan kamu ngerasa gak nyaman? Ya udah, kamu boleh istirahat di kamar yah.." ujar Nico lembut.
Terlihat dia begitu khawatir kepada Reva yang tiba-tiba moodnya berubah itu, sebentar senang, sebentar sedih, sebentar lagi marah-marah mulu, dan sebentar lagi mageran.
"Gak, aku gak apa.. Aku hanya kangen ibu, kangen Ericka.. hiks!" sahut Reva sambil terisak.
Mendengar itu baik Nico maupun Rendy tak bisa berkata-kata lagi, semua yang mendengarnya juga merasa kasihan juga kepadanya.
"Beneran yah? Janji?" tanya Reva antusias.
"Iyaaa, aku janji.." jawab Nico sambil tersenyum tulus.
"Ya udah, aku capek. Pengen tiduran.." ujar Reva lesu.
"Ya udah, aku antar kamu ke kamar yah.."
"Temenin.."
"Iya, aku temenin kamu sampai kamu tidur yah.."
Nico mengajak Reva istirahat ke kamarnya, sebelumnya dia pamit dulu kepada yang lain, dan meminta Rendy menghandle acaranya.
"Nanti kalau kita nikah, kamu kayak kak Nico juga gak?" tiba-tiba Andriana bertanya seperti itu kepada Rendy.
Tentu saja Rendy gelagapan mau jawab apa, tiba-tiba gadis itu bertanya seperti itu. Dia tentu saja menjawabnya yang manis-manis juga kayak Nico.
"Tentu saja, sayang.. Apa sih yang gak buat kamu, aku akan lakukan apapun buatmu, cintaahh" jawabnya sok romantis.
"Sumvah, gak banget sih lo! Kamu tuh gak cocok gaya-gayaan kayak gitu, malah aneh kalau kamu kayak gitu" sahut Andriana terlihat geli mendengar perkataan Rendy tadi.
"Haha! Lagian nanyanya kayak gitu!" sahut Rendy.
Jadilah keduanya gelut lagi, jarang banget romantis-romantis seperti kakaknya, karena begitulah keduanya meskipun cuek tapi ada rasa sayang yang begitu dalam.
"Kamu, mau aku kayak gitu juga?" tiba-tiba saja William nyeletuk nanya kayak gitu ke Geraldine.
"Haha! Anda belum mengenal saya, Tuan. Saya harap ini pertemuan kita yang terakhir, jika kita bertemu lagi, aku juga berharap itu pertemuan bisnis atau pertemanan saja.." ucao Geraldine lalu pergi meninggalkannya.
"Baru kali ini aku ditolak oleh seorang gadis, membuatku makin penasaran saja, apakah ini teknik dirinya untuk membuatku semakin terpikat dengannya?
Jika benar, wah! Kamu sudah Berhasil menaklukkan hatiku, cantik! Bagaimana pun juga kamu harus menjadi milikku, tak ada penolakan, karena aku tak menerimanya" gumamnya sambil menatap Geraldine tajam.
//
Keesokan harinya, Rendy yang menginap di rumah kakaknya itu pulang pagi-pagi sekali karena harus ngantor, setelah mengantar Andriana pulang semalam, dia juga harus memeriksa flashdisk pemberian Geraldine, dan bergadang untuk membobol file yang terkunci itu.
Hingga paginya dia ngantuk-ngantuk sambil menyetir mobilnya, tiba-tiba dia terkejut karena hampir saja menabrak orang didepannya, karena ada orang yang tiba-tiba menyeberang jalan.
Ckiit!
Untuk dia cepat tanggap dan langsung mengerem mobilnya, jika tidak orang itu bisa ketabrak olehnya, hanya saja dia sedikit terkejut melihat sosok yang hampir ketabrak itu.
"Sepertinya aku mengenalnya, siapa dia? Ah, tak mungkin aku punya kenalan seperti orang itu! Bertelanjang berkeliaran di keramaian tempat umum begini, badannya kotor sekali Tapi perawakan badannya ituuu... Hem, coba aku cek saja nanti" ujarnya sambil terus melajukan mobilnya itu.
Sementara di rumah kediaman pak Dewantoro, Elena terlihat cemas karena anak sulungnya tidak bisa dihubungi sudah dua hari ini. Biasanya Pramudya selalu mengabari ibunya jika ingin pergi lama, dan ini sudah melebihi 24 jam, anak itu tak ada kabar.
"Nyonya, Nyonya!" terdengar suara Nia berlari tergopoh-gopoh.
"Ada apa, Nia?! ini rumah bukan lapangan, lari kayak gitu! Nanti kesenggol barang-barangku bagaimana?!" teriaknya kesel.
"Nanti saja soal itu, Nyonya! Lihat berita ini!" ujar Nia dan langsung memperlihatkan video edaran dari Yu*tube di Hpnya.
Elena syok dan hampir pingsan, dia melihat sosok yang dia kenal yang menjadi bahan berita di Video itu. Di video itu, memperlihatkan seorang lelaki bertubuh tinggi dan tegap, bertelanjang dikerumuni orang-orang sambil ketakutan. Badannya kotor sekali nyaris tak dikenali.
"Orang gila, orang gila-orang gila!!" teriak beberapa anak sambil menyorakinya.
"Ih, apaan sih cabul banget! Usir dia dari sini, takutnya dia melecehkan orang-orang yang ada disini!" teriak ibu-ibu yang lain.
Sedangkan Pramudya mulai digiring beberapa orang setelah diberi kain penutup yang menutupi sebagian tubuhnya itu.
"Pramudya!!" teriak Elena histeris, dan seketika pingsan.
...----------------...
Bersambung