Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Penyelidikan Geraldine


Seminggu telah berlalu, Ericka sudah pulang dan sudah kembali beraktivitas seperti biasanya, Aaron memutuskan untuk tetap tinggal di Indonesia sementara waktu, dia membantu perusahaan Nico di kantor pusatnya.


Sementara oma Mariani diputuskan untuk dirawat di rumah saja oleh keluarganya. Dia dirawat di paviliun dekat rumah utama, di sana dijaga ketat oleh beberapa pengawal bayaran yang sangat profesional, sehingga siapapun takkan bisa menerobos keamanan yang dijaga oleh mereka.


Sehingga opa Harja maupun yang lainnya kesulitan dan tak bisa masuk kedalam sana, mereka harus curi-curi waktu atau dengar dari para pelayan mengenai keadaan oma Mariani didalam sana, sayangnya informasi yang mereka dapatkan tak dapat memuaskan mereka.


"Jadi, yang boleh masuk kedalam hanya tante Sonia dan om Seno aja.. Bahkan Enzy yang boleh masuk pun hanya menunggu diluar kamarnya saja, hanya beberapa pelayan kepercayaan mereka yang boleh masuk dan juga beberapa perawat dan dokter saja dari pihak luar yang boleh masuk juga..


Ini aneh, seperti ada yang ditutupi oleh mereka. Aku pikir tidak mungkin mama dan om Seno sampai protektif seperti itu tanpa sebab, apa mereka sudah mengetahui semua rencana kita, Pa?" tanya Zacky heran dan penasaran juga.


"Kecurigaanmu ada benarnya juga, bahkan Papa pikir oma tidak koma, mungkin mereka sedang merencanakan sesuatu, tapi gak tau itu apa.." jawab om Adji nampak sedang berpikir.


"Sekarang kita harus bagaimana, Pa? Aku dengar dari beberapa pelayan, bahkan mama dan om Seno memiliki akses langsung masuk ke kamar oma, padahal kita tau sendiri, tak ada yang bisa masuk tanpa persetujuan dari Oma kalau mau masuk ke dalam kamarnya.


Bahkan para pelayan untuk masuk dan membersihkan kamarpun harus ditemani oleh asisten oma segala.." ujar Zacky sambil menggigit bibirnya gelisah.


"Apa mereka menerobos masuk yah, diam-diam masuk begitu?" tanyanya lagi.


"Tidak mungkin, tidak segampang itu. Siapapun yang mencoba masuk tanpa izin maka alarm yang terpasang di pintu kamar akan berbunyi, nah! Mama juga om Seno bahkan tau kata sandi masuk kedalam kamar itu!" jawab om Adji juga terlihat gusar.


"Aku pikir kesempatan kita untuk mengambil alih perusahaan dan semua aset bisnis milik ibu mertuamu akan lenyap begitu saja! Kau harus cepat Adji sebelum Sonia benar-benar menceraikanmu, dan kau Zacky, bantu Papamu agar bisa melaksanakan semua ini dengan rapi dan cepat.


Kapan perlu bujuk mamamu agar tak mengajukan perceraiannya, dekati adikmu! Aku yakin Enzy sedikit banyak tau tentang omamu dan juga rencana mama dan om mu itu apa!" tiba-tiba saja opa Harja dan ikut menimbali obrolan mereka.


"Tapi tak semudah itu, Paman.." sahut om Adji.


"Aku tau, tapi kita tak punya waktu lagi. Aku dengar Sonia dan seno telah menyerahkan semua harta bagian Larasati kepada anak-anaknya diwakili oleh pengacara juga anak mantan asisten ayah mertuamu itu, siapa namanya? Ah, Nico!" ujar opa Harja.


"Lelaki licik itu bahkan menikahi anak majikannya.." balas Zacky, dia sangat membenci Nico.


"Ternyata tidak ada orang yang benar-benar tulus di dunia ini, dia yang katanya hanya menjalankan amanah dari sang ayah, tetap juga dia menikahi tuannya, agar hartanya tak jatuh ke tangan orang lain.." gumam om Adji juga terlihat marah dan kesal sekali.


"Sekarang jelas bukan, kita tak perlu takut ataupun gagal. Karena yang kita hadapi juga orang serakah juga! Soal Sonia dan Seno serahkan saja padaku, jika Mariani sudah siuman maka akan lebih mudah bagiku mengatasinya.." ujar opa Harja sambil menyunggingkan senyumnya.


"Bahkan sebelum wanita tua itu bangun, maka akan aku buat dia tidur selamanya agar mempermudah pekerjaanku. Dia sudah tak ada gunanya lagi.." gumam opa Harja dalam hati.


.


.


Ditempat lain, Ericka dengan segala misinya yang sempat tertunda, dia sekarang berdiri didepan panti asuhan Kasih Bunda, dia sudah merencanakan dengan matang semuanya, dia tak datang sendirian, bersama dengan Geraldine mereka menyamar datang ke sana.


"Halo, Mbak! Aduh, kemana saja?! Aku kira Mbaknya gak akan datang lagi loh!" ujar bu Weni berbasa-basi.


"Aku ada urusan diluar, o ya.. Kenalkan ini asistenku, kami datang untuk membicarakan kesepakatan kita sebelumnya yang sempat tertunda.." ujar Ericka sambil menaikkan alisnya.


Bu Weni langsung mengerti maksud darinya, maka dengan cepat dia membawa mereka masuk kedalam ruangannya, dia nampak semangat dan antusias sekali.


"Jadi, mbak butuh yang seperti apa? Usianya? Dan pekerjaan seperti apa yang mbak inginkan dari mereka?!" cerocos bu Weni semangat saat membahas soal ini.


"Aku butuh banyak anak, Bu.. Segala usia, butuh banyak pekerjaan untuk mereka.." jawab Ericka sekenanya.


"Oohh, kalau boleh tau.. Pekerjaan seperti apa, mbak?" tanya bu Weni, dia sepertinya sedikit curiga dengan Ericka.


"Ah, untuk anak-anak ada yang mau adopsi. Calon orang tua mereka tak mudah percaya dengan orang, makanya mereka mengutusku untuk datang dan membawa mereka, sedangkan yang lain aku bisa pekerjakan mereka apa saja asal mereka bisa dan mampu!" ucap Ericka menyakinkannya.


"Oh, untuk itu percaya saja kepada mereka. Karena sejak kecil mereka sudah dilatih untuk melakukan segala hal agar bisa hidup mandiri kelak saat besar, haha!" ujar bu Weni, sepertinya dia mulai percaya dengan Ericka sepenuhnya.


Sementara mereka sibuk membicarakan soal transaksi perihal jual beli jasa yang dilakukan bu Weni, Geraldine memanfaatkan waktunya untuk menyelidiki dan mencari tau semua informasi yang ada di panti tersebut.


"Aku juga harus hati-hati, aku yakin dia tak mungkin bekerja sendirian. Apalagi dia telah melakukannya bertahun-tahun lamanya, pasti ada orang lain yang ikut terlibat disini..


Kira-kira siapa saja, pengasuh dan penjaga? atau mungkin dari pihak luar juga? Hem, agak pelik yah.. Aku mulai dari hal kecil dulu.." gumamnya dalam hati.


Dia mulai berkeliling panti asuhan itu, melihat ada orang asing yang sedang berjalan bebas keluar masuk tempat itu, sambil mengamati beberapa tempat membuat para pengasuh dan anak-anak panti was-was.


"Apakah dia adalah calon pembeli selanjutnya? Aku takut! Jangan sampai anak-anak ini dibawa pergi lagi.." gumam salah satu pengasuh tersebut.


Geraldine melihat sekumpulan anak-anak sedang bermain di taman, niatnya hanya ingin menyapa tapi ketika dia mendekati anak-anak tersebut, mereka malah berlari ketakutan menjauhinya.


"Sikap mereka mencurigakan, dari sini saja sudah terlihat aneh panti asuhan ini. Sejatinya anak-anak panti jika melihat ada orang dewasa yang datang mendekati mereka, pasti akan senang, di adopsi dan memiliki orang tua, tapi ini.." gumamnya heran.


Dia merekam keanehan sikap penghuni di panti asuhan ini melalui kamera mini diletakkan disisi tasnya, hingga tidak akan dicurigai yang lainnya.


Dia mulai lagi menjelajahi panti tersebut, kali ini dia masuk ke ruangan para bayi dan balita, di sana ternyata ada beberapa pengasuh yang berjaga, mereka menatap Geraldine dengan tatapan tak bersahabat, tatapan penuh curiga.


Geraldine berusaha untuk bersikap ramah dan biasanya saja, dia tertarik dengan beberapa balita yang diletakkan didalam box bayi, mereka nampak lucu dan menggemaskan, Geraldine tergerak ingin menggendong salah satunya, tiba-tiba tangannya ditepis oleh salah satu pengasuh yang ada di sana.


"Maaf, Bu! Mereka baru saja selesai mimik susu, sudah waktunya tidur siang!" ucapnya ketus.


"Oh, Maaf.. Apa dibiarkan begini saja? Tidak di nina bobo kan?" tanyanya penasaran.


"Mereka biasanya dinyanyikan lagu lullaby pakai musik yang akan diputarkan sebentar lagi, paling saat mereka sudah berbaring, boxnya akan digoyang-goyang sebentar sampai mereka terlelap.." ujar pengasuh itu menjelaskan dengan enggan.


"Begitu.." ucap Geraldine sambil mengangguk-angguk mengerti.


"Emm, maaf.. Ibu ini siapa?" akhirnya pengasuh itu bertanya mengenai dirinya.


"Aku asisten salah satu orang tua adopsi anak-anak ini.." jawab Geraldine.


Membuat para pengasuh itu mendadak tegang, mereka terlihat gelisah saat mengetahui siapa Geraldine, dan tiba-tiba saja dirinya diusir begitu saja dari sana.


"Maaf, Bu! Anak-anak ini harus istirahat, mereka tak bisa tidur jika ada orang asing!" ujar mereka sambil mendorong tubuh Geraldine keluar dari ruangan itu.


"Ada apa dengan mereka? Apa sebelumnya pernah terjadi sesuatu yang buruk, sehingga begitu parnoan dengan orang lain?" gumamnya penasaran.


Saat dia hendak pergi dari sana, dia melihat ada anak-anak sedang bermain sambil berlarian, salah satunya terjatuh dan membuat kakinya lecet terluka.


"Hei, Nak! Apa kau tak apa-apa?" tanyanya sambil berlari mendekati anak tersebut.


"Hwaaa! Tolong ada culik, aku gak mau dibawa pergi! Pergi, pergi sana! Tante orang jahat!" ujar anak itu berteriak.


Sontak saja suara teriakan dan tangis anak itu membuat beberapa pengasuh keluar dari ruangannya dan menghampiri anak tersebut, anak itu terus menangis sambil menatap takut Geraldine.


"Hei, kau apakan anak ini?! Minggir! Dan pergi dari sini, kami tidak akan membiarkan siapapun membawa mereka dari sini!" teriak salah satu pengasuh itu.


"Benar, kalian semua orang jahat berdalih ingin mengadopsi mereka, tapi tujuannya adalah ingin mempekerjakan mereka, merawat mereka dengan tidak layak, alih-alih melindungi, kalian malah menyiksanya!" sahut teman pengasuh lainnya.


"Ibu, aku gak mau pergi!" teriak anak kecil itu tadi sambil menangis ketakutan.


"Tenanglah sayang, kalian akan tetap bersama ibu disini.." ujar pengasuh tadi mencoba menenangkan anak itu.


"Hei, apa-apaan ini! Kenapa kalian bersikap tidak sopan kepada pengunjung?! Kalau begini terus, tidak akan ada yang mau mengadopsi anak-anak ini!" ujar seorang wanita berbadan lumayan gemuk.


Dia datang bersama dua orang, satu wanita sedikit lebih muda darinya dan seorang penjaga. Para pengasuh dan anak-anak itu terlihat ketakutan saat melihat kedatangan ketiga orang tersebut.


"Ah, tidak apa-apa.. Saya yakin ini hanya kesalahpahaman saja," ujar Geraldine merasa serba salah.


"Tidak bisa begitu, Bu! Mereka ini sudah keterlaluan, ini sering terjadi! Kalau begini, citra nama baik panti ini pasti buruk dimata masyarakat, dan anak-anak ini tidak ada yang mau adopsi!


Memangnya mereka akan tinggal disini selama, seumur hidup gitu? Tidak mungkin, para pengasuh ini lambat laun akan tua dan pensiun, dan pada akhirnya.. Akan pergi juga, terus bagaimana dengan mereka?


Hufft, kita semua sayang kepada anak-anak ini, tapi kita juga harus legowo jika ada yang ingin mengadopsi mereka, mereka pasti akan bahagia bersama orang tua asuh mereka yang baru, betul begitu anak-anak?!" ujar wanita gemuk tadi sambil bertanya lembut kepada anak-anak itu, suaranya begitu lembut tapi tidak dengan tatapannya.


"I-iyaaa.." jawab anak-anak itu pelan sambil menunduk takut.


"Baiklah, kalian boleh pergi! O ya, Bu.. Mau saya temani untuk berkeliling?" tanya wanita tadi begitu ramahnya kepada Geraldine.


"Ah, tidak perlu. Saya hanya berjalan-jalan saja, bos saya sedang melakukan transaksi dengan pemilik yayasan ini.." jawab Geraldine dengan ramah, dalam hati terus mengumpati wanita itu.


"Kamu siapanya?" ekspresi wanita itu sedikit berubah saat mendengar menjelaskan dari Geraldine.


"Saya asistennya.." ucap Geraldine masih dengan ramahnya.


"Oh, hanya asisten rupanya!" ujar wanita gemuk tadi sambil menatap remeh terhadapnya.


Lalu mereka berlalu pergi meninggalkan Geraldine begitu saja, sehingga Geraldine bisa menyimpulkan bahwa mereka bertiga adalah orang-orang yang membantu bu Weni selama ini.


"Pantasan posisi bu Weni kuat disini, selain jabatannya sebagai ketua dan pengawas di panti ini, dia juga didukung oleh orang-orang yang sekiranya bisa mengintimidasi mereka semua yang ada disini.." gumam Geraldine lagi.


Bagaimana tidak, satu wanita berbadan besar dan gemuk, dan satunya meskipun terlihat muda dan badannya kecil, tapi dari wajahnya saja sudah kelihatan dia wanita yang kejam dan tidak mengenal belas kasihan, sedangkan satu lagi seorang lelaki berbadan besar, sedikit gemuk dan berotot.


"Sebaiknya aku dekati saja para pengasuh tadi, dan cari informasi dari mereka.." ujar Geraldine.


Tapi usahanya tidak gampang, baru saja dia ingin mendekati mereka semua pintu kamar anak-anak panti langsung ditutup rapat dan dikunci, para pengasuh juga langsung menghindarinya.


"Sepertinya ada trauma yang mendalam dari diri mereka, kalau begitu aku tak bisa mendapatkan informasi apapun dari mereka. Kasian sekali, pasti mereka selama ini sangat tersiksa sekali.." gumamnya dalam hati.


Tapi Tuhan tidak akan diam saja jika umatnya dalam kesusahan, dibalik dinding tembok disamping Geraldine berdiri, ada seorang anak yang sedari tadi hanya diam mengamati, sepertinya dia ketinggalan dari teman-temannya ketika hendak bersembunyi dari gadis itu.


Dia terlihat meringkuk ketakutan takut diketahui oleh Geraldine, saat gadis itu membalikkan badannya, dia melihat ada gadis kecil berusia sekitar lima tahunan, duduk meringkuk ketakutan sambil menahan tangisnya.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Geraldine pelan dan sedikit khawatir juga.


"Tante, tante gak akan culik aku kan? Kata teman-teman kami semua akan dibawa pergi sama monster jahat, akan makan kami.." ujar anak itu terbata-bata sambil menahan tangisnya.


"Tidak, sayang.. Tante tidak seperti itu, kalian semua adalah anak-anak baik pasti akan bertemu dengan orang baik juga, seperti Tante ketemu sama kamu.." ujar Geraldine berusaha menenangkan anak itu.


"Ta-tapi, kakak-kakak yang pergi semuanya orang baik, tapi kenapa ketemunya sama orang jahat, dan mereka gak pernah kembali lagi, hwaaa.." anak itu akhirnya menangis kencang juga.


"Cup! Cup! Tenanglah, nanti kita sama-sama cari kakak-kakaknya yang pergi menghilang yah.." ucap Geraldine lagi.


"Benarkah?" tanya anak itu mulai tenang, hati anak begitu rapuh dia begitu mudah disentuh.


"Iyaaa.." ucap Geraldine haru.


"Yeaayy!" ujar anak itu senang.


Kemudian anak itu berlari kesuatu ruangan dan keluar lagi bersama beberapa pengasuh tadi, dan terlihat juga seperti ada anak panti yang sudah remaja sedang menggendong anak itu tadi.


"Jadi, betul apa yang diucapkan oleh Aira? Kalau anda ini orang baik, atau akal-akalan anda saja?!" tanya pengasuh tadi.


"Kita bisa bicarakan ini baik-baik, ada tempat aman dan nyaman disini untuk membicarakan semuanya?" tanya Geraldine.


Pengasuh itu terlihat ragu, lalu dia mengajak Geraldine masuk kesebuah ruangan semacam tempat istirahat para pengasuh itu, Geraldine nampak miris melihat fasilitas mereka yang nampak begitu sederhana bisa dibilang jauh dari kata serba ada sesuai laporan dari ketua panti itu.


"Jadi, apa yang ingin anda tanyakan?" tanya pengasuh itu.


"Sebelum itu, ceritakan padaku apa yang terjadi sebenarnya dengan panti ini?" tanya Geraldine to the points.


......................


Bersambung