
"Kemarilah, duduk dekat Opa.." ucap kakek Harja.
"Kenapa Opa memanggilku? Maaf, aku tak bisa lama, masih ada pekerjaan lain yang menungguku.." ucap William dingin.
"Jangan seperti itu, apa kau tak merindukan Opa? Kau sudah lama tidak pulang, ayo menginaplah sesekali di rumah" bujuk kakek Harja.
"Opa, ini bukan rumah kita. Ini rumah oma Mariani beserta anak cucunya, kita tak berhak disini. Ayo, sebaiknya Opa pulang bersamaku. Itu lebih baik daripada tinggal disini, aku akan merawat Opa, dan Opa pasti akan senang tinggal bersamaku nanti," William menyakinkan kakeknya agar mau pulang dengannya.
"Pulang kemana? Ke apartemenmu itu? Gak mau? Sepi, sendirian.. Mana semuanya menggunakan teknologi, kamu tau sendiri Opa mu ini gak mengerti yang begituan!
Kecuali kalau kamu sudah menikah dan memberikan Opa cicit, baru Opa pertimbangan keinginanmu itu" sahut kakek Harja kekeh tak mau pulang.
"Opa,, jodoh sudah ada yang mengatur.. Meskipun aku ingin sekali menikah, tapi kalau jodohnya belum ada mau gimana lagi.." sungut William.
"Itu semua karenamu yang terlalu banyak bermain-main! Sudahlah, kalau mau bikin kepala Opamu sakit, mending kamu pulang saja sana! Opa mau istirahat dulu.." ucap kakek Harja.
Dia merebahkan diri di kasurnya dan menyelimutinya sendiri, sambil memunggungi William. Anak itu hanya tersenyum sedih saja saat melihat tingkah opa nya itu.
"Istirahatlah, Opa.. William pamit dulu yah, dan maaf aku belum bisa mewujudkan keinginan Opa" gumamnya sambil mengecup kening opa nya.
William keluar dari kamar kakeknya, dia berjalan keluar dari rumah itu dan tak sengaja berpapasan dengan seseorang, orang yang membuatnya benci berada di rumah itu.
"Hei, William! My brother, haha! Baru keliatan kemana aja, bro?! Kenapa pulang, kangen opa atau kangen rumah ini!" ledek orang itu.
"Hentikan, Zack! Aku sedang tak ingin meladenimu!" ucap William dingin.
"Ugh, kau masih menakutkan seperti biasa yah, haha! Tak apa jika kau ingin kembali ke rumah ini, kau kan cucunya opa Harja! Wajarlah... Jika kau tak tahu malu!" ucap Zacky sambil memandangi sinis.
"Kau!" William hampir saja naik emosinya, kalau tak melihat tante Sonia mungkin mereka sudah baku hantam.
"Zacky, kenapa masih ada disini? Cepat sana pergi ke kantor! Papamu udah nungguin dari tadi!" ucap tante Sonia.
"Siapa, Ma! Hehe!" sahut Zacky sambil tertawa kecil.
Dia pergi dari sana setelah puas menghina William, tante Sonia hanya menghela nafas melihat tingkah putranya itu, pandangannya beralih kembali ke William.
"William.." sapanya ramah.
"Tante, jika tak ada yang ingin disampaikan aku pamit dulu!" ucap William dingin.
"William, tunggu! Ada yang ingin tante sampaikan kepadamu, bisa bicara sebentar?" pinta tante Sonia.
"Baiklah, tapi aku tak bisa lama" sahut William lagi.
"Tidak akan lama, ayo ikut tante.." ajak tante Sonia.
Mereka pergi kesebuah ruangan, dan itu ruang kerja pribadi tante Sonia. Asisten tante Sonia menunggu diluar ruangan itu, sesuai arahan tante Sonia untuk menjaga pintu luar dan tak membiarkan orang lain masuk, tanpa seizin tante Sonia.
"Ada apa, tante? Apa tante masih ingin membahas tentang anak itu lagi?! Jika iya, aku tak mau tante. Aku dan dia berteman, dia baik dan tidak seperti tante perkirakan" ucap William lagi.
"Hem, tante memang mau membahas anak itu tapi dengan tema yang berbeda. Iya, tante sudah salah mengira tentangnya, tante pikir dia sama saja seperti yang lain, memanfaatkan situasi ini.
William, tante sudah lama menyelidiki tentang dirinya dan kalian semua. Dan maaf jika tante melakukan hal itu tanpa sepengetahuan kamu.
William,, tante dan om Seno tak tahu harus berbuat apa lagi. Kami hampir kehilangan harapan, apa kamu masih mau membantu tante sekali lagi?" pinta tante Sonia.
"Bantu apa lagi, tante? Terakhir kali aku membantumu aku hampir saja mencelakainya! Aku tak mau lagi, kini kami adalah partner, dan kalian tenang saja aku takkan membicarakan soal ini kepadanya" sahut William sambil berdiri mau meninggalkan ruangan ini.
"Jika kamu tak mau membantu tante, kehidupan temanmu dan keluarganya akan terancam!" ucap tante Sonia tegas.
William berhenti dari langkahnya, dia menatap tante Sonia tak percaya. Dia berpikir tantenya itu sedang mengancamnya.
"Apa tante sedang mengancamku? Apa tante belum puas juga?!" tanyanya tak percaya.
"Biar tante jelaskan dulu, pertama bukan tante ataupun om seno yang mau mencelakai temanmu itu. Kedua, tante tidak akan melukai siapapun, dan kau tahu betul itu" ujar tante Sonia menjelaskan.
"Terus, maksud tante tadi apa?!" tanya William.
"Huftt... Kau duduk dulu, dan tenangkan dirimu. Mari kita bicara yang tenang dan baik, tante akan menjelaskan semuanya..
William, oma dan opa berencana akan menyakiti Reva dan adik-adiknya jika semua harta warisan itu jatuh ketangan mereka, dan mereka juga sudah tahu jika Nico sudah mulai memproses pengembalian aset tersebut" ucap tante Sonia menjelaskan.
"A-apa?!" William sangat terkejut mendengar hal itu.
"Aku tau kau pasti akan terkejut seperti ini, tapi aku yakin kau akan lebih terkejut lagi mendengar berita selanjutnya" sahut tante Sonia.
Dia mulai menceritakan semuanya tentang rahasia kelam keluarga itu, termasuk hubungan terlarang antara opa William dengan oma Mariani. Dia juga menceritakan kepada William perihal penculikan Ericka waktu itu, yang direncanakan oleh suaminya dan ibunya itu.
"Mereka memanfaatkan banyak orang, termasuk para sepupumu itu. Jadi, tante harap kau bisa memaklumi sikap Zacky dan adik-adiknya itu.
Mereka seperti itu akibat didikan oma dan opamu itu, lingkungan juga mempengaruhi mereka. Tante hampir putus asa menangani mereka, jika mereka nakal, mungkin tante bisa memaafkan mereka.
William memperhatikan wanita itu, tak ada indikasi penipuan atau mencoba membohongi dirinya. Dia malah kasihan melihat tantenya itu, dia yang paling menderita di rumah ini bersama om Seno.
"Akan aku pertimbangkan lagi, tante.. Tapi jangan terlalu berharap padaku, mungkin aku takkan bisa melakukan apapun lagi. Karena aku sendiri tak mau berurusan dengan mereka" ucap William lagi.
"Iya, tak apa. Terima kasih yah.." ucap tante Sonia sambil tersenyum tulus.
William pergi dari sana dengan perasaan hancur karena fakta yang baru dia ketahui itu, dia jadi merasa kasihan dengan tante Sonia. Tante Sonia yang sudah dianggapnya seperti ibu sendiri karena beliaulah yang merawatnya selama ini, semenjak kematian ibunya.
Ayahnya menikah lagi ketika William dalam kandungan ibunya, dan ibunya pun meninggal karena sakit dan depresi saat usianya sangat belia, dia menyalahkan semua ini kepada kakeknya.
Karena kakeknya memaksa ayahnya menikahi ibunya yang bukan wanita yang dia cintai, hanya karena ibunya merupakan pewaris tunggal salah satu pengusaha kaya waktu itu.
Setelah menikah beberapa bulan, ayahnya kabur bersama wanita lain dan meninggalkan ibunya seorang diri. Seandainya, dia tak dilahirkan mungkin ibunya bahagia dengan orang pilihannya, dan ayahnya tak perlu merasa bersalah seumur hidupnya.
Sedangkan di ruangan tadi, tante Sonia masih memikirkan William, anak lelaki yang sudah dia anggap anak kandungnya. Bahkan kebaikan dan kepatuhannya melebihi anak kandungnya sendiri.
"Seandainya Zacky dan lainnya sepertimu, William. Akan sangat menyenangkan sekali.." gumam tante Sonia.
Dia kembali ke ingatan beberapa tahun silam, disaat dia mengandung Zacky dan ibunya William juga sedang mengandung William juga. Wanita itu penuh penderitaan, tak dihargai sama sekali oleh suaminya, mertuanya pun cuek kepadanya.
Wanita itu hanya bisa bercerita dan berkeluh kesah padanya.
"Kenapa kau tak kembali saja ke rumah orang tuamu, jika disini kau hanya menyiksa diri! Suamimu pergi meninggalkanmu, sedangkan mertuamu pun tak peduli" ketus tante Sonia.
Waktu itu dia masih muda, dia belum banyak mengerti apapun. Apalagi kondisi rumah tangganya pun tak jauh beda dengan wanita itu, suaminya berselingkuh sejak dirinya mengandung anak pertama.
"Aku tak bisa, Mbak! Aku tak ingin menyusahkan orang tuaku, sedangkan mertuaku tak mengizinkan aku pergi dari sini.. Dan, jika aku pergi.. Aku kasihan pada anak ini" gumam wanita itu.
Awalnya tante Sonia pun tak peduli dengannya karena dia pun memiliki masalah yang sama, tapi setelah melihat kenyataan bahwa ibunya William sangat depresi saat mengetahui suaminya pergi dan menikah dengan wanita lain. Membuat dirinya mulai tergerak dan mengasihani wanita itu.
Hingga adik iparnya meninggal dan meninggalkan William yang sangat kecil itu, dia merasa bersalah karena mengabaikannya selama ini, dan berjanji akan merawat anak adiknya itu seperti anaknya sendiri.
"Kakeknya tak peduli sama sekali dengan keluarganya, hanya sibuk dengan ibu dan keluargaku saja, sudah diperingati oleh ayah tapi dia tak peduli sama sekali.
Memang pada dasarnya dia cinta buta dengan ibu, dan tak peduli jika ibu adalah istri dari kakaknya sendiri. Paman, istri dan anakmu pergi meninggalkanmu bukan karena mereka tak peduli denganmu, tapi mereka muak dengan tingkah dan sikapmu selama ini.
Kau harus bersyukur memiliki cucu yang baik seperti William, dan mungkin kau lupa jika kau dulu tak menyukai anak ini, dan sekarang kau sangat bangga padanya, dan memamerkannya kepada orang-orang tentang dirinya.
Betapa suksesnya dirinya, betapa kayanya dirinya, dan kau terus membanggakannya tanpa memikirkan masa lalunya dulu. Aku harap paman dan ibu bertobat sebelum waktunya" gumam tante Sonia.
Dia terus menerawang mengingat beberapa kejadian beberapa tahun yang lalu, dimana keluarganya hancur akibat keserakahan ibu dan pamannya.
.
.
Sedangkan ditempat lain, William terus memikirkan ucapan tante Sonia tadi. Dia tak pernah berpikir jika keluarganya begitu hancur dan mengerikan seperti itu, dia tahu keluarga mereka tak kompak dan tak harmonis.
Bahkan dia juga tau tentang perselingkuhan suami dan istri dari paman dan bibinya itu, tapi dia tidak tahu rahasia kelam antara oma Mariani dan opanya.
"Apa yang terjadi dengan rumah tangga ayah, om, dan tante adalah bentuk karma yang dibuat oleh oma dan opa.. Aku takkan membiarkan ini terjadi lagi.
Dan hanya Nico lah yang bisa membantuku, dan Reva.. Dia adalah kakak sepupuku, dia juga harus aku lindungi. Keluargaku, sahabatku.. Mereka tak boleh terluka karena ambisi kedua manusia itu" gumamnya sambil berkaca-kaca.
Drrrt!
Drrrt!
Drrrt!
Suara Hpnya bergetar, dia melihat nama Nico dilayar Hpnya itu. Panjang umur anak itu, baru saja terpikir namanya anak itu langsung menelponnya.
"Iya, ada apa Nic?" tanyanya, dia berusaha menormalkan nada bicaranya.
"Bisa kesini? Ada yang ingin aku bicarakan!" ucap Nico diseberang telponnya.
"Oke, meluncur!" sahut William.
Dia langsung menyambar kunci mobilnya dan melaju kencang menuju kediaman Nico tanpa berpikir lagi.
Sedangkan Nico sedang terheran-heran melihat sikapnya yang menurut Nico aneh itu, bagaimana tidak, biasanya dia akan banyak alasan jika disuruh datang.
"Aneh nih bocah! Tumben langsung nurut, eh! Tadi lupa ngasih tau kalau aku di rumah keluarga Wijaya. Huft, dasar tak bisa sabaran dikit!" gumam Nico kesal kepada salah satu sahabatnya itu.
...----------------...
Bersambung