Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Reva Dalam Bahaya


"Mereka sudah pergi, pak. Baiklah pak, saya mengerti. Jalan saja bung, ikuti mereka sampai mana mereka akan pergi" ujar seorang pria yang mengikuti Reva dan Nico.


Setelah menelpon seseorang yang memberinya perintah, dia meminta temannya terus mengikuti mereka. Didalam mobil SUV itu ada dua orang pria yang sedang mengikuti Reva dan Nico.


Mereka orang suruhan Pramudya, dia sudah lama mencari tahu keberadaan Reva setelah kejadian malam itu. Mana dia tahu selama ini dia terkecoh oleh Nico, mengira mereka masih dirumahnya.


"Akhirnya kau keluar juga, Reva. Jika aku tak bisa memilikimu selamanya, setidaknya satu malam saja kau harus bersamaku" seringainya.


*


Besok paginya, di rumah sakit kecil itu semua dokter dan perawat sedang sibuk mempersiapkan operasi untuk Ericka.


Mereka nampak begitu sibuk sekali, maklum saja rumah sakit kecil itu minim peralatan medis, mereka biasanya menangani pasien luka ringan dan pasien sakit biasa dan jika mereka tak bisa menangani mereka, maka akan dirujuk ke rumah sakit besar.


Elena tahu para dokter itu pintar, agar bisa melakukan operasi itu maka dia harus menyediakan alat medis khusus untuk mereka.


Sekali lagi dia harus korupsi barang pengadaan untuk rumah sakit yang dikelola yayasan Mutiara Hati, dia memindahkan alat-alat medis itu ke rumah sakit kecil ini.


"Aku sudah menyediakan alat-alat medis untuk kalian gunakan, pergunakan itu sebaik mungkin terutama untuk melakukan operasi itu" ujar Elena.


Para dokter sudah bersiap, Ericka pun sudah masuk ruang operasi dan mereka sudah bersiap melakukannya dengan alat seadanya bersama beberapa alat yang dikirim Elena.


"Nona, bersiaplah. Kami akan membiusmu total, ini tidak akan sakit karena Nona tidak akan merasakan apapun saat operasi ini berjalan. Tenang, Nona... Selamat tidur" ujar dokter itu mulai membius Ericka.


Ericka merasakan rasa kantuk yang sangat hebat, setelah itu dia tak merasakan apapun lagi. Diluar sana Elena menunggu mereka bersama beberapa pengawalnya.


Dia sudah tak sabar melihat hasil akhir dari operasi itu, dia tidak terlalu mengharapkan Ericka kembali dengan wajah yang mulus, yang dia inginkan luka dalam menganga di wajah itu tertutup rapi, itu saja.


"Nyonya, kami sudah menemukan seseorang yang diduga melukai nona Ericka" kata seseorang yang baru datang menemuinya.


"O ya, siapa dia? Dan dimana anak itu" ujar Elena menyeringai.


"Dia ada disebuah cafe, sepertinya dia bekerja paruh waktu di sana" ujar orang itu.


"Tetap awasi dia, jangan sampai ketahuan" perintah Elena.


"Baik, Nyonya" orang itupun berlalu pergi.


**


Sementara itu, di apartemen Reva. Kakak adik itu hanya saling diam membisu, tidak ada ucapan selamat pagi atau sekedar basa-basi lainnya.


Reva terlalu canggung didepan adiknya itu, apalagi setelah sekian tahun lamanya ini baru pertama kalinya mereka duduk berdua saling berhadapan sarapan bersama.


Sedangkan Rendy berusaha cuek dan tidak menanggapi apapun, meskipun didalam hatinya pun sama seperti Reva. Canggung dan malu sekali.


"Ehem, maaf aku hanya bisa bikinin kamu sarapan roti lapis selai saja" ujar Reva, dia berusaha memecahkan keheningan diantara mereka.


Rendy hanya mengangguk saja menanggapi perkataan Reva, dia masih sibuk dengan roti dan teh hangatnya. Dia masih terharu bisa menikmati sarapan bikinan kakaknya itu, meskipun sederhana tapi rasanya nikmat sekali.


Saat Reva tiba di apartemennya malam itu, Rendy belum pulang karena dia harus lembur mengerjakan semua pekerjaan yang dia tunda.


Saat kembali pulang dia heran melihat mobil Nico terparkir didepan apartemen kakaknya itu, awalnya dia mengira Nico ingin menemuinya, tapi setelah bertemu dengannya Nico mengatakan kalau Reva sudah pulang.


Dia mengurungkan niatnya untuk pulang, dia butuh waktu lama untuk masuk kedalam apartemen itu. Setelah dikiranya Reva sudah masuk kamarnya dan tidur, dia baru berani pulang.


Dan tentu saja pertemuan itu tak bisa dihindari, paginya mereka harus bertemu dan duduk bareng sarapan bersama.


"Apa kau akan kembali bekerja di kantor ayah?" ujar Reva lagi.


"Iya, bagaimanapun aku harus tetap ada di sana. Aku tidak peduli dengan omongan orang, mau mereka bilang aku serakah atau apalah.


Aku hanya ingin mempertahankan milik dan hakku saja, aku tidak ingin dihina dan ditindas lagi" ujar Rendy.


Akhirnya dia bicara juga meski hanya membicarakan soal pekerjaan saja, Reva tersenyum mendengar keinginan adiknya itu.


"Bagus, memang harus begitu. Jika aku tak bisa paling tidak kamu bisa, Rendy" ucap Reva.


Mereka sudah selesai sarapan dan Reva membersihkan perabotan kotor bekas sarapan mereka.


"Kak..." ujar Rendy pelan.


Reva terkejut saat adik lelakinya memanggil dirinya dengan sebutan 'kak', rasanya dia ingin memeluknya dan mencurahkan segala rasa kasih sayangnya kepada adiknya itu.


"Ada apa?" ujarnya pura-pura sibuk dengan pekerjaannya.


"Apa Kakak yakin dengan keputusan terus bersama Nico? Aku tak bermaksud ikut campur urusanmu dengannya, hanya saja aku merasa dia tidak baik untukmu" kata Rendy pelan.


Reva menghentikan pekerjaannya, dia menghela nafasnya dengan berat dan membalikan badannya menghadap Rendy yang masih duduk di depannya itu.


"Kenapa kau bisa berpendapat seperti itu? Apa ada alasan lain yang membuktikan ucapanmu itu?" ujar Reva.


"Tidak ada, hanya perasaanku saja. Aku lihat reputasinya kurang baik, playboy dan bisnis kotornya yang bekerja sebagai mafia itu...


Entahlah, yang kudengar ayah juga sedang berhutang banyak dengannya. Aku takut kebaikannya selama ini ada maksud tertentu, bisa saja ada motifnya yang lain" jawab Rendy.


Ucapan Rendy membuat Reva merenung kembali, ingatannya tentang Nico saat mereka bersama beberapa hari yang lalu, sangat jauh dari kata lelaki jahat.


Meskipun dia sedikit kasar dan dingin, tetapi perasaan Reva mengatakan dia pria baik. Memang dia melihat ada banyak orang yang melayaninya, termasuk beberapa pengawal yang selalu berjaga didepan rumah maupun Villanya itu.


Tetapi itu tidak cukup menuduhnya menjadi pria jahat, apalagi soal Reva dia begitu baik dan perhatian.


"Sudahlah, tidak usah dibahas dulu. Ini sudah mulai siang, berangkatlah nanti kau bisa terlambat" ujar Reva kembali sibuk dengan pekerjaannya.


Rendy mendengus kesal dengan kakaknya itu, dia tahu beberapa hari mereka tinggal bersama pasti telah terjadi sesuatu diantara mereka.


***


Hari sudah mulai siang, Reva pergi ke supermarket didepan apartemennya. Dia berbelanja kebutuhan sehari-hari termasuk berbagai makanan lainnya.


Apalagi saat ini ada Rendy tinggal bersamanya, dia ingin membuat adiknya itu betah dan nyaman bersamanya.


Suara telpon di Hpnya berbunyi, tertera nama Nico di sana dia merasa enggan menjawabnya. Bukan karena masih marah dengannya tetapi ucapan Rendy di pagi tadi membuatnya terus berpikir.


Drrt.. Drrrt!


Suara Hpnya terus berbunyi dan dia mulai merasa tak nyaman, mau gak mau dia harus menjawabnya.


"Halo, ada apa?" jawabnya datar.


"Kamu lagi apa? Sudah makan siang, aku jemput yah?" ujar Nico berusaha bersikap lembut kepadanya.


"Tidak usah, aku lagi belanja keperluan rumah. Kamu tahu 'kan Rendy sekarang bersamaku, aku ingin meluangkan waktu lebih banyak dengannya" jawab Reva beralasan.


"Kamu belanja dimana, aku jemput yah? Mau makan siang bareng Rendy, aku boleh ikutan?" ujar Nico lagi.


"Deket kok, depan apartemen. Rendy makannya di kantornya, akupun sudah makan tadi" ucap Reva mulai risih dengan Nico.


"Reva..."


"Hem..." sahut Reva.


"Kamu masih marah denganku?" tanya Nico, perasaannya peka kalau soal ini.


"Enggak, kenapa pula aku marah padamu? Aku hanya saja tak bisa menemuimu saat ini, aku harus melakukan banyak hal. Aku sudah lama pergi, banyak pekerjaan yang tertinggal.


Sekarang ini juga aku harus fokus dengan perusahaan dan yayasan milik ibuku itu, sekarang tidak ada yang mengurus lagi, Elena semenjak kalah dia sudah tak mengurusnya lagi.


Malah kudengar, dia masih bolak balik perusahaan dan yayasan tetapi tidak melakukan apapun. Aku takut dia merencanakan sesuatu dan berusaha menghilangkan jejak korupsi dan pekerjaan kotornya yang lain" ujar Reva memberi pernyataan.


Nico bisa mengerti soal itu, dia faham saat ini Reva akan sibuk sekali mungkin mereka akan susah untuk bertemu lagi, karena pekerjaan masing-masing.


"Baiklah kalau begitu, sampai ketemu lagi. Kalau ada apa-apa hubungi saja aku yah" ujarnya lalu menutup telponnya.


Ada perasaan kecewa, tapi dia harus mengerti keadaan Reva sekarang lebih sulit daripada biasanya.


Nico hanya menghawatirkan Reva saja, kembali dia dihubungi oleh orang-orangnya bahwa semalam mereka diikuti lagi oleh mobil SUV yang pernah membuntuti mereka dulu.


Dan ternyata benar, kecurigaan Nico terbukti saat ini Reva sedang diawasi oleh seseorang lelaki memakai pakaian serba hitam lengkap dengan masker dan topinya.


Lelaki itu mengawasi Reva dari balik rak belanjaan di supermarket itu, saat itu lelaki itu ingin menghampiri Reva tetapi niatnya diurungkan karena tiba-tiba Hp Reva berbunyi.


Lelaki itu kembali bersembunyi memperhatikan Reva dari jarak lumayan jauh darinya.


"Halo ya Stefan, ada apa?" tanya Reva.


Ternyata yang menelponnya Stefan, teman Reva pemilik cafe O'drink. Dimana sekarang Julia bekerja sebagai pekerja paruh waktu.


"Reva! Ya ampun, kemana aja lo?! Sudah ilang berapa hari, susah banget dihubungi" teriak senang Stefan saat telponnya diangkat.


"Haha! Aku healing dulu, mumet ngurusin kerjaan mulu. Hp sengaja dimatiin biar pada ga gangguin!" ujarnya berbohong.


"Dasar, liburan gak ngajak-ngajak!" ujar Stefan lagi setengah merajuk, setelah itu dia kembali ceria.


"Btw, aku punya info buatmu. Musuh adikmu itu sekarang kerja ditempatku, Julia... Namanya Julia, kamu masih ingatkan dengannya?" tanya Stefan lagi.


"Tentu saja aku masih ingat dengannya, terus apa hubungannya denganku soal dia kerja ditempatmu?" sahut Reva lagi.


"Sebenarnya aku males nerima dia kerja ditempatku, tapi berhubung dulu dia itu pelangganku yang paling royal maka keterima dia.


Btw lagi yah, aku lihat akhir-akhir ini tingkahnya mencurigakan. Semenjak aku tak sengaja menemukan tamu aneh di cafe ku, tingkahnya sedikit aneh menurutku" ujar Stefan mulai berseloroh bercerita.


"Maksudmu apa? Tolong ceritakan lebih detil lagi" ujar Reva sambil memilih barang-barang yang hendak dia inginkan.


Saat itu dia mulai mendekati rak dimana tempat itu lelaki tadi bersembunyi sambil mengintainya.


Reva melewati lelaki itu, dia nampak biasa saja tak ada rasa curiga apapun dan lelaki itupun seolah sedang berbelanja juga, tapi sayangnya Reva sudah terlanjur melihat mukanya.


Reva seperti pernah melihatnya, dia membalikan badannya ingin memastikan siapa lelaki itu. Dia tak sengaja mendengar lelaki itu mengangkat telpon dari seseorang di sana.


"Tenang, tuan. Dia tidak curiga kepadaku, aku akan kembali lagi setelah tugasku selesai. Baik tuan Nico" ujar lelaki itu.


Reva yang masih menerima telpon temannya itu, terkejut dengan perkataan lelaki itu. Apa, Nico menyuruh seseorang membuntutinya? Bukannya dia baru saja menelponnya? ujar Reva dalam hati.


Reva mundur selangkah karena kaget dan tak sengaja menabrak barang dibelakangnya.


Brukk!


Barang-barang itu berjatuhan menimpanya, Reva terjatuh dan lelaki itu membantunya untuk berdiri. Reva terkejut melihat reaksi lelaki itu.


"Tuan Nico memintaku membawa anda, Nona. Dia ingin bercinta dengan anda malam ini, hehe!" seringai lelaki itu setengah berbisik kepadanya.


Seketika mulut Reva dia bekap dengan kain yang sudah di bius, Reva pingsan didalam bekapannya.


"Ada apa ini?" seorang pegawai supermarket menghampiri mereka.


"Mas, gimana sih kerjanya?! Lihat nih kerjaan kalian, barang-barang tak tersusun rapi sampai menimpa kekasih saya!" ujar lelaki itu beralasan.


"Maaf, Pak. Kami akan bertanggung jawab atas kelalaian ini" ujar pegawai itu merasa tak enak.


"Sudahlah, saya tak punya waktu. Saya harus membawanya ke rumah sakit dulu" ujar lelaki itu meninggalkan pegawai itu.


Hp Reva terlepas dari genggamannya, pegawai itu memanggil lelaki itu untuk memberikan Hp Reva yang terjatuh. Tetapi lelaki itu sudah menghilang pergi.


Sedangkan Stefan yang mendengar semuanya lewat telpon tadi panik, dia sadar temannya dalam bahaya. Saat dia mencoba menelpon Reva lagi, telponnya sudah tak aktif lagi.


...----------------...


Bersambung


Kira-kira siapa yang menculik Reva yah? Nico beneran gak sih?!