Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Negosiasi yang rumit


Nico dan kedua sahabatnya datang menemui Rendy di rumahnya, mereka disambut oleh bi Mirna.


Mereka dipersilahkan duduk menunggu di ruang tamu, saat ini di rumah itu sepi hanya ada beberapa pelayan dan Rendy juga Ericka.


Ericka seperti biasa, dia hanya ada di rumah tidak diperbolehkan keluar rumah. Sedangkan Rendy sibuk dengan segala rencana-rencananya.


Saat itu, mereka melihat Ericka turun dari tangga untuk mengambil air minum. Saat Elena dan ayahnya tidak ada di rumah, dia berani keluar kamarnya. Berbeda jika mereka di rumah, maka dia akan mengurung dikamarnya.


Mereka menatap Ericka penuh arti, berbeda dengannya Ericka nampak risih sekali ditatap oleh tiga pria asing.


sesampainya di ruang makan, Ericka melihat pelayan sedang menyiapkan minuman dan beberapa cemilan.


"Untuk siapa minuman dan cemilan itu?" Tanyanya.


"Untuk tamu Tuan Rendy, Nona" jawab pelayan itu.


Ericka mengerti, jadi mereka tadi adalah tamu kakaknya. Apakah mereka teman-temannya? Baru kali ini dia mendengar ada tamu atau temannya Rendy berani datang ke rumah ini.


Beberapa lama kemudian, Rendy datang bersama bi Mirna. Bi Mirna langsung memberitahu Rendy jika dia memiliki tamu, tentu saja Rendy penasaran dan langsung ingin menemuinya. Karena dia pikir mustahil itu teman-temannya.


Saat dia datang dan melihat mereka, dia nampak begitu heran karena nampak asing dengannya. Bi Mirna pamit mau pergi ke dapur, dan dia melihat Ericka di ruang makan.


"Sst, Bi Siapa mereka? Temannya kak Rendy yah?" Tanya Ericka mengintip dari sela dinding pembatas antara ruang makan dan ruang keluarga.


Antara ruang makan dan ruang keluarga cukup dekat, hanya dibatasi sekat dinding. Dan ruang keluarga dengan ruang tamu juga dekat, tidak ada dinding atau sekat lainnya.


Hanya tempatnya saja berbeda, sudah ada tempatnya sendiri.


Jadi Ericka masih bisa melihat mereka, mengintip dari kejauhan. Bi Mirna heran dengannya, seperti bocah saja.


"Bibi tidak tahu, katanya tamu Tuan Rendy. Udah ah, Bibi mau kebelakang dulu." Ujarnya meninggalkan Ericka yang penasaran sendiri.


Setelah itu pelayan datang membawakan makanan dan minuman untuk tamu itu.


Ericka merasa tidak enak dengan sikapnya itu, apalagi setelah melihat tatapan aneh pelayan tadi. Dia memutuskan kembali ke kamarnya sambil membawa minuman ditangannya.


Sebelum dia pergi, sempat dia mendengar pelayan itu berbicara dengan temannya. Membicarakan tamu-tamunya Rendy yang tampan-tampan dan keren itu.


Mereka sadar Ericka ada di sana, lalu berbisik pelan tapi sayangnya masih terdengar oleh Ericka.


"Lihat Nona itu, tadi mengintip mereka kayak orang bodoh saja. Sikapnya seperti tidak dididik dengan benar oleh orangtuanya. Macam bukan tuan putri saja, sudah mirip kayak pelayan. Kita aja pelayan gak gitu-gitu amat.


O ya, lupa. Dia 'kan terasing sendiri di keluarga ini. Kasihan, tapi bagaimana lagi ini memang salahnya dan mendiang ibunya itu" ujar pelayan tadi.


Mereka sibuk menggosipkan anak tuannya sendiri, dan tidak memandangnya dengan hormat.


Sakit hatinya mendengar ocehan para pelayan itu, dia ingin membalas mereka tapi tidak tahu caranya. Dia pernah diajarkan Reva untuk melawan mereka, tapi dia ragu untuk melakukannya, menurutnya itu terlalu kasar.


Dia melewati Rendy dan para tamunya, dia menundukkan wajahnya agar tak terlihat oleh mereka. Tapi bagaimanapun juga, orang-orang juga tahu itu dia.


"Jadi, kalian siapa dan mau apa menemui aku?" Tanya Rendy tanpa basa-basi.


"Perkenalkan namaku Nicolas Abraham, aku teman kakakmu Reva juga rekan korelasi ayahmu." Ujar Nico seraya mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.


Rendy nampak terkejut mendengar nama itu, ternyata dia sudah tahu tentangnya. Karena diam-diam dia menyelidiki identitas Nico, saat tahu pria maskulin ini mengejar cinta kakaknya.


Yang dia baru tahu kalau ayahnya juga memiliki hubungan dengannya, hanya saja dia tak sempat mencari seperti apa wajahnya.


"Jadi dia yang namanya Nico" ujarnya dalam hati.


"Terus, hubungannya denganku apa?" katanya lagi menatap tajam kearah Nico.


Entah mengapa Nico merasa ada aura intimidasi darinya, dia tersenyum ternyata mereka benar-benar kakak adik. Sifatnya begitu mirip dengan Reva, menjaga dan membatasi diri dari orang asing.


Mungkin trauma yang mereka alami sejak kecil dikarenakan kekacauan yang dilakukan ayahnya dan Elena, membuat anak-anak ini mengasingkan diri dari orang-orang.


"Kami ingin menawarkan kesepakatan denganmu, ayahmu pak Dewantoro Wijaya memiliki beberapa hutang besar denganku, dan berjanji akan membayarnya dalam waktu dekat ini.


Tapi aku merasa itu tidak mungkin, karena mengingat berita kalau beberapa perusahaan kalian mengalami krisis.


Yah, mungkin karena kepemimpinan yang tidak becus. Aku tidak tahu siapa yang memegang perusahaan kalian saat ini, yang aku tahu ayahmu hanya mengawasi saja dan sibuk dengan bisnis barunya yang lainnya.


Jadi, penawaranku kepadamu aku bisa membantumu naik ke posisi itu dan mengembalikan kejayaan perusahaan kalian seperti dulu.


Dengan catatan kau juga harus membantuku, tapi bisa dibilang kami yang membantumu. Karena sebenarnya kami tidak akan mendapatkan apa-apa dari ini." Nico menjelaskan semuanya kepada Rendy.


"Kalau begitu, kenapa kau menawarkan bantuan jika tidak akan mendapatkan apa-apa dariku? Apa maksudmu sebenarnya, katakan saja.


Dan satu hal lagi, tanpa bantuanmu aku pun bisa naik ke posisi itu. Aku yakin, ada hal lain yang kau inginkan dariku" ujarnya, masih dengan tatapan dingin itu.


Mereka sudah menduganya, tidak akan mudah mengajaknya berbicara. Apalagi anak ini ternyata pintar juga.


"Kau tahu, saat ini kakakmu Reva lagi menuntut ibu tirinya itu atas kepemilikan perusahaan dan yayasan milik mendiang ibumu itu?


William dan Robin mengangguk tanda setuju, William mulai sedikit gusar dengan Rendy, dia tidak ingin bertele-tele lebih lama lagi. Apalagi mereka sudah tak punya waktu lagi.


"Bagaimana Tuan Rendy, kami sudah tidak punya waktu lagi. Jadi katakan saja keputusanmu, apakah kau tidak ingin membantu kakakmu itu?


Bukankah itu semua hak kalian semua, apakah kau tidak keberatan jika semua harta milik mendiang ibumu mereka ambil" sahut William dengan sedikit penekanan.


Nico dan Robin melirik kearahnya tajam, anak ini tidak sabaran sekali, pikir mereka.


"Biarkan saja, toh selama ini semua harta perusahaan di rumah ini dia yang menguasai. Ayahku itu bukan siapa-siapa lagi di rumah ini.


Jika dia saja tak bisa mengendalikan istrinya, bagaimana dengan kami? Kami bisa apa?


Biarkan ini menjadi tanggung jawabku, aku sebagai anak laki-laki di rumah ini yang harus mengatasinya.


Kalian jangan ikut campur urusan kami, jika kau ingin menagih hutang dengan ayahku, pergilah ke dia. Jangan kau ganggu kami lagi" ujar Rendy seraya bangkit dari duduknya.


Dia hendak pergi meninggalkan mereka, tidak ada gunanya pembicaraan ini. Dia sudah tahu semuanya, kalau kakaknya sudah menuntut Elena lewat pembicaraan makan malam waktu itu.


"Jadi, kau ingin tetap keluargamu seperti ini? Menjadi pesuruh mereka selamanya, dan membiarkan mereka mengambil yang bukan haknya.


Apa kau tak kasihan dengan adikmu, setiap hari disiksa dan dihina? Jadi, karena sudah terbiasa hatimu sudah jadi batu rupanya.


Ck, kasihan Reva. Dia mati-matian berusaha mempertahankan haknya dan adik-adiknya sendirian" ledek Nico, sengaja memancing emosi Rendy.


Rendy hanya diam saja, dia tidak ingin menanggapi mereka lagi. Berusaha menghiraukannya.


"Dasar pengecut, wajar saja jika Elena dan anak-anaknya menguasai semua dan melakukan sesuka hatinya.


Ternyata lelaki di rumah ini, tidak punya nyali dan penakut rupanya. Sok jagoan ingin melindungi adik dan kakaknya, tapi diam meringkuk ketakutan sendirian di kamarnya.


Heh, tanggung jawab katamu?! Sudah berapa lama kau menunjukan kelakianmu itu? Sudah ada hasilnya?


Jangan mengharapkan sesuatu yang mustahil anak muda, kau itu pengecut sama seperti ayahmu!" Teriak Robin.


Rendy sudah tak bisa menahan emosinya, dadanya bergemuruh, wajahnya merah padam lalu membalikkan badannya dan siap melayangkan tinjunya kearah Robin.


Tapi sayangnya saat dia meninju Robin, tinjunya sudah ditangkap robin dan mendapatkan perlawanan yang sengit dari Robin.


Rendy tergeletak dilantai, dia meringis kesakitan tangannya dipelintir oleh Robin. Nico berusaha membantunya bangun, tapi uluran tangan Nico ditepis olehnya.


"Aku tak butuh bantuanmu, aku bisa sendiri! Auh!" Dia meringis kesakitan.


"Sudah, gak usah gengsi. Kalau butuh bantuan bilang saja, gak usah sok kuat padahal lemah!" ujar William mengangkat tubuh Rendy sampai berdiri.


Sebelumnya mereka kaget juga mendengar perkataan Robin tadi, temannya itu orang yang berhati-hati sekali kalau bicara. Dia tidak pernah berkata kasar, lalu barusan dia bicara apa?! Wow, amazing.


Mereka tersadar setelah melihat pergulatan Rendy dan Robin tadi, temannya ini penuh kejutan sekali.


Sebelumnya, mereka sudah mencari tahu semua permasalahan di rumah dan keluarga ini. Termasuk juga tentang perusahaan dan yayasan, mereka juga menyelidiki masalah apa yang dihadapi perusahaan keluarga itu itu.


Maka akan mudah mereka melawan Elena, dan untuk membujuk Rendy juga. Mereka pikir Rendy akan tergerak hatinya untuk membantu kakaknya.


Ternyata itu tidak mudah, anak laki-laki ini sangat berhati-hati sekali. Dia harus disinggung harga dirinya dulu baru tergerak orangnya.


"Apa harus dengan cara ini dulu, agar kau mau bergerak?!" Tanya William kesal.


"Aku tahu ayahku pengecut, tapi aku takkan terima jika ada orang lain menghinanya" katanya mendelik marah kearah robin.


"Sorry Bro, kadang laki-laki itu harus disentuh harga dirinya dulu baru bisa bergetar hatinya" kata Robin.


"Dan maafkan kata-kataku tadi, aku tahu itu kasar sekali. Maaf yah" sambungnya lagi.


Terlihat oleh Rendy bahwa Robin benar-benar merasa menyesal dengan perkataannya tadi, jadi dia berusaha bersikap biasa saja.


"Jadi, gimana Bro? Mau membantu kakakmu?" tanya William lagi.


"Baiklah, tapi ada satu hal lagi yang ingin aku tanyakan. Kalian pasti tahu keberadaan kakakku, sudah dari kemarin dia tidak punya kabar" kata Rendy sambil menatap mereka satu persatu.


"Dia ada, sehat. Kau tak perlu khawatir, jalankan saja rencananya dulu. Besok William dan timnya akan pergi duluan, setelah itu baru kita akan menyusul" ujar Nico mulai menyusun rencana.


Mereka memang sudah tak punya waktu lagi, jika penyusunan rencana itu berhasil maka nanti malam mereka juga akan bergadang menyusun yang lainnya.


Mata Rendy tak bisa dibohongi, dia masih belum mempercayai mereka sepenuhnya.


Dia harus melihat keadaan kakaknya langsung, dia tahu kalau kakaknya sedang dalam bahaya di tangan Nico. Setidaknya itu didalam pikirannya.


...----------------...


Bersambung