Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Terjebak Didalam Toilet


Sementara itu di ballroom hotel milik Wijaya Group, Reva sudah bersiap-siap menyiapkan acara sambutan di pestanya.


Malam ini adalah malam yang dijanjikan Reva untuk mengadakan acara penghargaan yang diterima oleh Ericka.


Ericka nampak gugup sekali, dia tidak tahu harus berbuat apa nanti di pesta itu. Maklum, ini untuk pertama kalinya dia mengikuti acara perayaan semacam ini.


Ericka nampak begitu cantik dan anggun sekali, dengan memakai gaun berwarna biru tosca dengan leher rendah dan ekor gaun yang mengembang.


Ditambah beberapa hiasan di gaunnya, memakai perhiasan Swarovski, rambutnya dibiarkan terurai, lengkap dengan mahkota kecil di kepalanya.


Dia sudah seperti putri Cinderella saja, dia sengaja didandani oleh Reva seperti itu. Dia ingin mengibaratkan Ericka adalah putri biasa bisa menjadi luar biasa.


Sedangkan Reva masih dengan gaun andalannya, gaun hitam terusan panjang dengan belahan cukup panjang disisinya.


Sepatu warna silver dilengkapi perhiasan Swarovski nya, dengan make up cukup mencolok.


Dia ingin tampil wah dimalam ini, baginya ini untuk pertama kalinya dia dan adiknya bisa tampil bersama.


Dia ingin mengadakan pesta yang paling berkesan di hati Ericka nantinya.


"Pestanya akan segera dimulai, Ericka nya mana? Kenapa dia belum muncul?" tanya salah satu sahabat Reva, Alice.


"Aku tidak tahu, mungkin dia masih di kamarnya" jawab Reva.


"Oh, nervous kali yah say... maklumi aja, ini pesta pertama buat dia" Alice terkekeh sendiri.


Reva mulai menemui adiknya itu, saat dia masuk ke kamarnya Ericka dia melihat adiknya itu masih mondar-mandir di kamarnya itu.


"Kamu kenapa sih, masih gugup?" tanya Reva.


Ericka mengangguk, terlihat bias pucat wajahnya itu.


"Tidak apa, kamu gak perlu khawatir. Disini ada Kakak dan semua orang disini juga baik-baik." Ujar Reva sambil tersenyum.


Ericka sedikit lega mendengar pernyataan kakaknya itu.


Acara sudah dimulai, MC sudah membuka acara tersebut dengan berbagai penampilan para penyanyi terkenal.


Para artis, model dan penyanyi terkenal datang ke acara itu, mereka datang khusus diundang oleh Reva.


Para undangan itu terdiri dari teman-teman sekolah Ericka dan beberapa gurunya.


Acara itu nampak mewah sekali, selain ada live music nya di sana juga dihidangkan makanan lezat-lezat.


Belum lagi para undangan dari kalangan kaum jenset, membuat pesta itu semakin mewah.


Teman-teman sekolah Ericka berdecak kagum, memang mereka juga dari kalangan atas tapi baru kali ini mereka menghadiri acara semewah itu.


"Ck, Ericka itu benar-benar beruntung sekali. Punya kakak seorang model terkenal, bisa membuat pesta semewah ini" kata salah satu temannya Ericka yang sudah datang itu.


Ya, mereka adalah Julia dan teman-teman gengnya. Mereka ingin menghancurkan pestanya Ericka tetapi setelah melihat kemewahan ini, rasanya sayang disia-siakan.


"Apa kita tetap dengan misinya?" tanya salah satu teman Julia.


"Kenapa, kau takut? Emang kenapa kalau dia punya saudara model terkenal?


Aku juga dari keluarga kaya raya, orang tuaku bisa memiliki atau membeli apapun" jawab Julia terlihat angkuh.


Teman-temannya tersenyum kecut, kaya apanya traktir makanan sama minuman saja tak bisa? pikir teman-temannya itu.


Dan tiba saatnya Ericka diminta menyampaikan kata-kata sambutan darinya, dia nampak gugup sekali. Tapi Reva selalu memberinya semangat.


Saat dia menaiki panggung, tepuk meriah dari para undangan memenuhi seisi ballroom tersebut.


"Halo semuanya, selamat malam. Selamat datang di pesta meriah ini, pesta yang diadakan oleh Kakakku tersayang, Revalina.


Pestanya sangat mewah sekali, saya benar-benar merasa terkesan. Ini akan menjadi momen yang tak terlupakan oleh saya nantinya.


Saya pun tak mengira akan mendapatkan penghargaan bergengsi ini dari sekolah, sampai saat ini pun saya masih tak percaya.


Meskipun begitu saya benar-benar mengucapkan terima kasih kepada pihak sekolah, teman-teman yang selalu menemaniku dan tentunya keluargaku.


Khususnya Kakakku tercinta, Reva... sudah memberikan pesta atas namaku, terima kasih.


Ini kado yang paling istimewa yang kau berikan padaku, semoga ini akan mempererat tali persaudaraan kita.


Saya ucapkan terima kasih atas kedatangannya, nikmati pestanya semoga pelayanannya memuaskan dan kalian bahagia.


Terima kasih" ucapnya menutup kata-kata sambutannya.


Kembali tepuk meriah menyambutnya, Reva dan bi Mirna sangat terharu. Sekarang gadis kecil mereka sudah besar.


"Kalian berdua kenapa, kayak lagi sedih gitu?" tanya Ericka tak mengerti.


Bi Mirna dan Reva hanya tersenyum dan tertawa saat melihat ekspresi lucu Ericka itu.


Disudut ruangan itu, nampak seseorang menikmati pesta itu sambil mengamati mereka semua.


Ericka sedang menuju toilet, dia ingin merapikan dandannya sekaligus buang air kecil.


Julia dan gengnya mengikutinya dari belakang, saat Ericka sibuk mematut diri didepan cermin dia dikejutkan oleh kedatangan Julia dan teman-temannya.


"Apa yang kalian lakukan disini?" tanyanya nampak gugup.


"Tenanglah kawan, kami tak ingin mengganggumu. Kami hanya ingin menggunakan toilet ini" ucap salah satu temannya Julia, Della.


Terlihat dia buru-buru memasuki ruangan kecil itu, nampaknya emang benar dia mau buang air kecil saja.


Sedangkan yang lain sibuk merapikan diri didepan toilet, cukup lama Ericka mengamati mereka.


Setelah yakin dia pergi keluar toilet itu, hampir kehilangan targetnya mereka buru-buru menarik Ericka dan memasukkannya kedalam toilet tersebut.


"Buka, aku bilang buka!" teriak Ericka.


"Gadis bodoh, gampang sekali membodohi mu. Kau pikir kami akan membiarkanmu begitu saja.


Kami tak peduli kau anak atau saudara siapa, bagi kami kau hanya Upik Abu, sekali Upik Abu selamanya akan seperti itu.


Jangan berharap ataupun berpikir akan menjadi Cinderella, karena itu takkan pernah menjadi nyata" ucap Julia sinis.


"Apa mau mu, katakan saja Julia?! Aku akan memberikannya, tolong aku mohon keluarkan aku dari sini" ucap Ericka memelas.


"Nikmati saja pestamu dari sini, berharap lah ada pangeran tampan dan kaya akan menolong mu" Julia mencibirkan bibirnya itu.


Lalu berlalu pergi sambil tertawa puas, mereka berhasil mengerjai Ericka. Sedangkan Ericka masih menangis didalam toilet, dia terkurung dan terkunci didalamnya.


Sedangkan Julia dan teman-temannya sengaja menutup dan mengunci ruang toilet dan memberi tanda rusak di luarnya.


Sehingga orang-orang tak bisa menggunakan toilet tersebut, dan membiarkan Ericka terkurung dan terkunci didalamnya.


Sementara itu, Reva larut dalam euforia pestanya tanpa tahu yang terjadi pada adiknya. Sedangkan bi Mirna pun juga sibuk mengatur para pelayannya melayani para tamu.


Seorang pria tinggi dan gagah menghampiri Reva yang lagi asik berjoget dilantai dansa bersama teman-temannya.


Dia menarik tangan Reva dan mengajaknya berdansa dengannya. Tentu saja itu mengagetkannya.


"Nico?! Apa yang kau lakukan disini?" tanya Reva masih terkejut.


"Menghadiri pesta yang dilaksanakan oleh kekasihku ini," ujarnya sambil menggoyahkan tubuhnya didepan wanita cantik didepannya ini.


"Siapa kekasihmu itu?!" tanya Reva sambil mendelik kearah Nicolas.


Dia menepiskan tangan Nico yang berusaha meraih pinggang rampingnya itu.


"Ish, jangan kasar sayang. Siapa lagi bukan kamu orangnya" ujarnya sambil menyunggingkan bibirnya.


"Berhentilah menggangguku Nico, aku tak tertarik padamu! Aku juga bukan wanita-wanitamu yang lain bisa kamu permainkan" ucap Reva seraya meninggalkan Nico dilantai dansa itu.


"Aku tak memiliki wanita lain selain dirimu, Reva... jangan termakan gosip murahan, aku tak seperti yang kamu kira Reva" ujar Nico sambil menyusul Reva.


"Kalau begitu berhentilah menggangguku, aku ini profesional Nico, aku takkan terjebak dengan cinta sesaat" kata Reva.


Saat itu dia mulai menyadari kalau adiknya tak terlihat di manapun, dia berusaha mencari Ericka di segala tempat tetapi hasilnya nihil.


"Kau sedang mencari siapa?" tanya Nico penuh selidik, dari tadi dia perhatikan Reva nampak begitu panik.


"Adikku, adikku tak ada di manapun?!" Kata Reva seraya menanyakan semua orang perihal adiknya yang hilang itu.


"Aku akan mencarinya juga" ujar Nico, tanpa ada permintaan Reva dia ikut mencari Ericka.


Dia mencari di semua ruangan, tak ada tanda-tanda keberadaan Ericka.


Ketika dia tak sengaja lewat depan Julia dan teman-temannya, dia tersenyum lalu pergi meninggalkan mereka.


Nico sempat mendengar percakapan mereka yang berhasil menjebak Ericka, mereka juga menertawakan Reva yang kelihatan panik mencari Ericka.


Mereka nampak menikmati momen tersebut, tanpa sadar ada yang memperhatikan mereka.


...----------------...


Bersambung