
"Apa yang dilakukan Zacky dan papanya disini?" gumam William.
Dia baru saja bersantai dibawah salah satu pohon di taman itu, saat dia melihat ada seseorang yang berlari kearah taman itu dengan gerakan mencurigakan, dia buru-buru bersembunyi dan mengamati orang itu, dan ternyata itu adalah Zacky.
"Apa mereka sedang merencanakan sesuatu? Dasar licik mereka!" ujarnya setelah mematikan rokoknya yang sedari tadi dia hisap.
William menuju rumah utama, di sana Ericka dan Andriana sedang melepas kepulangan Reva dan Nico, mereka saling berpelukan satu sama lain.
"Kakak pamit pulang yah, acara tahlilan ayah sudah selesai, dan kita juga harus terus menjalani hidup. Kakak akan sering berkunjung disini.." ucap Reva sambil memeluk Ericka.
"Apa gak bisa menunggu besok aja kak? Ini sudah sangat malam.." pinta Ericka.
"Maunya begitu, tapi Nico pagi-pagi sekali harus pergi ke bandara dan semua keperluannya belum disiapkan, jadi kakak mau nemenin dia malam ini" ucap Reva lagi.
"Benerin nih, Kak Nico? Bukan karena kakak paksa pulang kann?!" tanya Ericka sambil memandangi kakak iparnya curiga.
"Astaghfirullah, aku gak maksain loh! Malah aku minta dia tetap disini selama aku masih di London.." ucap Nico gelagapan ditatap seperti itu oleh si adik ipar.
"Haha! Kalian berdua sangat lucu sekali, ya sudah biar aku saja yang menemani Nico malam ini, dan kau Reva tinggal saja sama adik manjamu ini!" tiba-tiba William nimbrung ucapan mereka.
"Enak aja manja!" gerutu Ericka.
"Gak apa, aku ini istrinya, bukan kamu istrinya Nico! Ya udah, setelah dia pergi ke London, aku akan datang kesini lagi deh" ucap Reva.
"Biarin aja, Kak Reva mau berbakti kepada suaminya," goda Andriana.
"Iya deh, mengerti.." sahut Ericka pelan, sebenarnya dia sangat mengerti kakaknya, dia bersikap seperti itu hanya untuk menggoda sepasang suami istri itu saja.
"Andriana kamu nginep aja yah, ini sudah sangat malam.." pinta Reva.
"Iya, Kak.." sahutnya sambil tersenyum.
"Kamu cantik dan baik, aku sudah gak sabar menunggu kamu dan Rendy menikah" ucap Reva sambil memeluk Andriana.
"Amiin!" sahutnya lagi.
Akhirnya Reva pulang juga bersama Nico malam ini, William juga pamit karena besok dia juga akan menemani Nico pergi ke London.
"Kami pamit juga ya Ericka," ucap Aaron dari belakangnya.
"Apa sebaiknya ditunda dulu pulangnya? Kita bahkan belum punya waktu untuk pergi bersama, ada banyak tempat untuk dikunjungi disini" ucap Ericka sambil tersenyum getir.
"Lain kali yah, aku juga sudah lama membiarkan pekerjaanku di sana menunggu" ucapnya sambil mengecup keningnya.
Stanley yang ada di sana langsung melengos, meskipun dia sudah merelakan Ericka tapi hati gak bisa dibohongi karena masih menyimpan perasaan kepada gadis itu.
"Seandainya rivalku bukan bos ku sendiri, bukan orang yang menolongku selama ini, sudah pasti aku akan mempertahankan dirimu apapun yang terjadi," gumamnya dalam hati.
Kemudian Stanley juga Jessy bergantian berpamitan dengan Ericka dan Andriana, lalu mereka pun pergi pulang ke apartemen tempat mereka menginap.
"Sekarang baru terasa disini sangat sepi, setelah semuanya pergi. Kak, daripada tinggal di rumah sendirian, kenapa gak tinggal disini saja, temani aku?" pinta Ericka kepada Andriana.
"Kamu ini, aku ini bukan siapa-siapa di rumah ataupun di keluarga ini, mana mungkin aku tinggal disini.." ucap Andriana sambil tersenyum.
"Tapi kan kakak memiliki hubungan dengan kak Rendy, dan kakak juga sudah dianggap keluarga sejak dulu kok" sahut Ericka.
"Tetap saja tak bisa, aku gak mau jadi fitnah nantinya.." ucap Andriana lagi.
Keduanya tengah asik mengobrol diruang keluarga, tiba-tiba mereka mendengar suara benda jatuh dari lantai atas. Keduanya saling pandang dan berlari keatas melihat apa yang terjadi.
"Ya ampun, Rendy!" teriak Andriana saat melihat kekasihnya itu jatuh dari tempat tidurnya.
"Kak, sini aku bantu.." ucap Ericka juga.
"Lepaskan, aku bisa sendiri! Dari tadi kemana kalian saat aku berteriak memanggil?! Gak ada satupun yang datang membantuku! Sekarang ketika aku jatuh, baru kalian datang," ucapnya sambil bergetar menatap nyalang Ericka dan Andriana bergantian.
"Maaf, tadi kak Reva dan kak Nico pamitan mau pulang, dan yang lainnya juga mau pulang, jadi kami mengantarkannya dibawah.." jelas Andriana kepadanya.
"Selama itu?! Dan kenapa tidak berpamitan kepadaku juga, apa karena aku cacat dan sakit-sakitan jadi gak dibutuhkan lagi gitu?!" ucap Rendy berang.
"Astaghfirullah, Kak Rendy! Kak Reva dan lainnya gak mau ganggu waktu istirahat kakak, apalagi kata kakak tadi mau istirahat dan gak mau diganggu!" sahut Ericka mulai terpancing emosi.
Andriana memegang tangan Ericka buat menahan emosinya, kemudian dia menatap Rendy kembali dengan lembut.
"Kamu jangan salah faham dulu yah, kak Reva mau menemani kak Nico malam ini karena besok kak Nico dan lainnya mau pergi ke London.." ucap Andriana dengan sabar.
Belum tentu dia ada didalam keluarga ini, lihat tingkahnya yang sok berkuasa itu, merasa dia memiliki kuasa penuh dengan keluarga ini, mengambil keputusan seenaknya saja tanpa memikirkan persetujuan dari kita," ucap Rendy menyeracau.
"Kakak sudah kelewatan, kakak salah faham tentang dirinya! Kakak yang sudah lama mengenalnya masa tak tau siapa dirinya, aku saja yang baru dekat dengannya percaya jika dia orang baik!
Ingat, dia melakukan semua ini demi kita, demi kebaikan semua orang. Dia tidak mengambil keuntungan sedikitpun dari sana, kak ada apa sih denganmu? kenapa kau tiba-tiba bersikap seperti ini!" geram Ericka kepada kakaknya itu, yang menurutnya sangat kekanak-kanakan.
"Huh, isi hati siapa yang tahu. Aku tau dia pasti menginginkan ini semua kan?! Itu adalah kedok dirinya, aku tahu betul orang seperti apa dirinya, karena hampir semua orang yang aku kenal seperti dirinya.
Sudahlah, aku lelah, pergi dari sini. Dan kau juga pergi dari sini, apa yang kau harapkan dari lelaki seperti aku ini.." ucapnya.
Setelah berapi-api dia menjawab semua perkataan Ericka, tapi dia sanggup menatap kekasihnya dengan mengusirnya seperti itu. Dia tau perbuatannya salah, tapi hati dan perasaannya hancur karena merasa semua orang mulai tak peduli dengannya.
"Tinggalkan saja dia, Kak. Buat apa peduli dengannya jika dirinya sendiri bersikap seperti itu!" tegas Ericka sambil pergi meninggalkan kamar kakaknya itu.
"Kau dengar kan, pergilah.. Buat apa menemaniku dalam keadaan seperti ini, aku sekarang sudah tak berguna lagi" ucap Rendy sarkas.
"Kamu ngomong apa sih? Aku dan lainnya seperti tidak seperti itu, kenapa kamu sangat berubah sekali? Ada denganmu? Apa karena orang itu, jadi sikapmu seperti ini?" tanya Andriana, dia sudah tak tahan dengan sikap Rendy yang begitu kasar dengannya.
"Apa maksudmu?!" tanya Rendy sambil menatapnya tajam.
"Aku tau, ada seseorang yang diam-diam menyelinap masuk kamar ini di saat aku dan lainnya tak ada disini, aku tau! Siapa dia, kenapa dia harus bersembunyi seperti itu jika ingin menemuimu?!" tanya Andriana kesal.
"Bukan urusanmu, kamu terlalu cerewet, sebaiknya kau juga pergi dari sini! Kau belum jadi istriku tapi sudah bertingkah, apalagi jadi istriku!
Apa jangan-jangan kau sama saja dengan kak Nico, kau akan bersikap seperti Elena juga begitu?!" geram Rendy, dia tak sadar ucapannya sangat menyakiti hati Andriana.
Terhenyak Andriana mendengar ucapan Rendy yang begitu menyakitkan hatinya, bagaimana bisa dia berkata seperti itu kepadanya? Dengan mata berkaca-kaca, Andriana menarik tasnya diatas nakas.
"Maaf jika aku terlalu over sama kamu, itu karena aku peduli denganmu. Jika sekiranya aku tak pantas untukmu, aku akan pergi. Dan menikahlah dengan wanita yang sekiranya pantas untukmu.." ucapnya sambil bergetar.
Dia melangkah gontai keluar dari kamar Rendy, setelah bertahun-tahun menjalin hubungan baru kali ini dia perlakukan dengan kasar oleh lelaki yang selalu menemaninya itu.
"An-Andriana, aku... Aku tak bermaksud.." Rendy berusaha mencegah kepergian gadis itu.
Tapi sayang Andriana terlanjur sakit hati dan memilih pergi dari sana, seketika dunia runtuh saat mendengar perkataan dan perlakuan Rendy tadi, dia pergi dari kamar itu dengan perasaan hancur.
Ericka keluar dari kamarnya dan mencegah kepergian Andriana, tapi gadis itu sudah sangat sakit oleh ucapan kakaknya itu.
Melihat itu, Ericka jadi berang dengan kelakuan kakaknya itu, dia langsung ke kamar Rendy dan membanting pintu dengan kasar.
Rendy yang tengah duduk melamun dengan air matanya itu terkejut dengan perlakuan adiknya itu, dia buru-buru menghapus air matanya.
"Apa-apaan ini?! Kamu mau jadi preman!" bentaknya kepada Ericka.
"Kakak keterlaluan, kenapa kakak biarin kak Andriana pergi dari sini?! Padahal dia hampir setiap hari ada disini untuk merawatmu, dia melakukan itu karena mencintaimu!" ucap Ericka kesal.
"Benarkah? Atau karena keluarga ini? Perusahaan ayah? Atau rumah ini mungkin?" tanya Rendy dengan senyuman sinisnya.
Tapi mata tak bisa bohong, ada begitu banyak keputusasaan didalam dirinya, merasa tak dihargai lagi dan belum lagi perkataan dan hasutan-hasutan dari mulut Zacky yang pandai berbicara itu.
Dia tidak sadar sedang jadi alat Zacky untuk menghancurkan keluarganya, Zacky yang sangat pandai ber manipulatif itu bisa memanfaatkan Rendy begitu saja.
"Aku gak tau harus berkata apa denganmu agar kau mengerti apa yang kau lakukan ini tidak benar, apa karena orang itu? Lelaki yang diam-diam masuk kekamar ini yang menghasut dirimu seperti ini?!" tanya Ericka marah.
"Ericka, diam!" bentak Rendy.
"Jika begitu reaksimu, berarti benar dugaanku bahwa dialah penyebab semua ini. Akan aku cari orang itu sampai dapat!" geram Ericka sambil berlalu pergi meninggalkan kamar kakaknya.
"Ericka, tunggu!" teriak Rendy, tapi tak dihiraukan oleh adiknya itu.
Didalam hati Rendy sendiri pun masih tak yakin dengan dirinya bisa berkata kasar dengan Ericka dan kekasihnya. Dia masih terpukul dengan kepergian sang ayah, ditambah dirinya tak bisa ikut men sholatkan dan menguburkan sang ayah juga.
Membuat hatinya sangat sedih, belum lagi rasa bencinya kepada Elena yang membuatnya luka seperti itu, dan tiba-tiba kedatangan teman lamanya, dengan segala hasutan dan cerita karangannya.
Mampu menggoyahkan pendiriannya, yang membuatnya tak mudah percaya setiap perkataan orang-orang di rumahnya, bahkan dia berani membentak Andriana dan mengusirnya begitu saja.
Dia sangat menyesali perbuatannya, benarkah ucapan Andriana dan Ericka jika dirinya kena hasut oleh Zacky? Apa sebodoh itukah dirinya?
...----------------...
Bersambung