
"Ada apa? Ada yang ingin kalian sampaikan padaku?!" tanya lelaki paruh baya itu menatap tajam kearah mereka.
"Ti-tidak, Kek.." ucap mereka sambil menunduk takut kepadanya.
Semuanya tak berani menatap matanya, seolah ada daya magis yang kuat didalamnya, sehingga nyali mereka begitu ciut. Lelaki tua itu tersenyum penuh kemenangan, baginya mereka bukanlah penghalang baginya, hanya butiran debu yang melekat ditubuhnya saja, sekali gibas semuanya langsung lenyap jika dia mau.
Tapi dia tak ingin gegabah, dia akan memanfaatkan mereka saja jika butuh bantuan, bagaimanapun juga oma Mariani masih hidup, dia belum bisa mengambil alih, kecuali nenek tua itu sudah meninggal baru dia bisa mengambil alih, tentu saja dengan syarat, satu saja tanda tangan atau stempel milik keluarga itu berada ditangannya, maka berhasil sudah semua rencananya itu.
"Sepertinya nenek itu harus cepat mati maka semuanya akan menjadi milikku, lihatlah para anak dan cucunya ini, semuanya takut dan segan padaku, maka akan mempermudah semua jalanku ini, bagaimanapun juga ini seharusnya memang menjadi milikku.." gumam kakek Harja dalam hati.
Tiba-tiba pintu ruangan UGD terbuka seorang dokter keluar dari sana, dia menatap mereka semua dengan tatapan sedikit aneh, setelah itu dia menghela nafasnya dan memberikan sebuah pernyataan.
"Keadaan ibu Mariani masih kritis, dia belum sadarkan diri. Kami minta kepada pihak keluarga untuk saat ini tidak membebani beliau dengan berbagai masalah, karena akan merusak jaringan sistem otaknya.
Saat ini kami bisa menyimpulkan bahwa beliau saat ini dalam keadaan koma, penyebabnya untuk sementara waktu adalah akibat benturan benda keras di kepalanya ditambah lagi kekurangan oksigen juga karena kami menemukan beberapa cairkan yang menyumbat paru-parunya.
Mungkin ini terjadi saat beliau terjatuh didalam kolam dalam posisi tertelungkup dan tertahan oleh kursi rodanya, dan masih banyak lagi kemungkinan lainnya" ucap dokter itu menjelaskan semua hasil pemeriksaannya.
"Terus bagaimana dengan ibu kami, Dok? Apa semuanya akan baik-baik saja?" tanya tante Sonia khawatir dengan keadaan ibunya itu.
"Doakan semuanya baik-baik saja, kami akan berusaha sebaik mungkin untuk mengobati beliau dan membantu pengobatan ini lebih baik lagi.." jawab dokter itu.
"Dokter, tolong selamatkan ibu kami. Kami sangat berharap dengan kesembuhannya, karena dia kepala keluarga kami, kami tak tahu harus bagaimana tanpanya.." sahut om Adji juga.
Tante Sonia mencelos saat mendengar suaminya ikut menyahuti dokter itu, dia tau suaminya itu sedang mencari muka dan memanfaatkan keadaan, pandangannya beralih kepada opa Harja, dia melihat mata lelaki tua itu dengan tatapan aneh, seperti ada sesuatu yang dia sembunyikan.
"Kami akan berusaha sebaik mungkin, Pak.. Salah satu anggota keluarga boleh melihat keadaan pasien, hanya satu saja sebelum beliau dipindahkan ke ruang perawatannya, permisi.." ucap dokter itu seraya berlalu pergi.
"Aku akan melihat ibu..," ucap om Adji cepat.
"Tidak!" sahut tante Sonia mencegahnya.
"Aku atau Seno yang akan melihat keadaan ibu, karena kami adalah anak kandungnya terlepas apa permasalahan yang terjadi diantara kami," sambung tante Sonia lagi.
"Kakak aja yang masuk, biar aku urus masalah administrasi perawatan dan rawat inap ibu" sahut om Seno.
"Baiklah, kalian semua tunggu disini.." ucap tante Sonia ingin masuk kedalam ruangan UGD itu ditemani seorang perawat.
"Sonia!" opa Harja memanggilnya dengan cepat.
"Ada apa, Paman?" tanya tante Sonia tak suka, dia jengah harus beradu argumen lagi dengan lelaki tua itu.
"Biarkan aki saja yang masuk," ucap opa Harja, seraya mendahuluinya ingin masuk keruangan itu.
"Paman.." tante Sonia mencegahnya masuk dengan menarik lengannya.
"Dalam prioritas apa anda masuk kedalam? Anda bukan suaminya, setau kami Paman hanya adik ipar ibuku, yang kebetulan dekat saja karena kalian hanya tinggal berdua saja dalam anggota keluarga ini.
Terlepas ada kami sebagai anak dan cucu kalian semuanya, dan tolong untuk sekali ini saja hargai kami sebagai anaknya, saat ini ibuku sedang koma, saya ingin melihat keadaannya, tolong jangan halangi lagi kami untuk dekat dengan ibu kami!" ucap tante Sonia dengan penuh penekanan.
Opa Harja dan lainnya sedikit terkejut dengan keberanian tante Sonia mencegah opa Harja, karena mereka tau tak ada satupun dari mereka yang berani menentang ataupun melawan lelaki tua itu, apalagi tante Sonia selama ini paling anti berinteraksi dengannya, tiba-tiba begitu berani berbicara seperti itu.
"Bukan begitu, Sonia.. Selama ini hanya aku yang mendampinginya, aku pikir dia hanya membutuhkan aku, itu saja. Dan bukankah selama ini anak-anaknya tak perduli dengannya? Kenapa sekarang mendadak begitu peduli dengannya?" tanya opa Harja dengan tatapan sinisnya.
"Selama ini kami sangat peduli dengan ibu kami, karena kami ini begitu sayang dengannya, karena kami adalah keluarga, ikatan antara ibu dan anak kandung itu takkan bisa diputuskan begitu saja.
Selama ini ada saja pihak-pihak tertentu mengambil keuntungan antara perseteruan antara kami, ada aja yang memprovokasi beliau untuk membenci kami, dan aku juga tau siapa yang selama ini memberikan racun kedalam pikirannya, hingga dia begitu nekat dan kejam dalam bertindak!" sahut tante Sonia sambil menatap tajam kearah lawan bicaranya tanpa takut.
Opa Harja tersentak, dia tak menyangka tante Sonia begitu berani melawannya dan membalas perkataannya dengan kata-kata tajam yang begitu menohok.
"Permisi!" ucap tante Sonia langsung masuk begitu saja meninggalkan opa Harja yang masih termangu didepan pintu.
Sadar dia telah didahului oleh tante Sonia, opa Harja ingin masuk juga menerobos pintu itu.
"Maaf, Pak. Hanya satu keluarga pasien saja diperbolehkan masuk, sisanya silakan menunggu diluar" ucap perawat tadi mencegahnya masuk.
"Aku akan melihat dari sini aja, biarkan aku masuk sebentar saja, tidak akan lama!" ucap opa Harja ngotot.
"Tidak bisa, Pak. Sudah ada keluarga pasien yang masuk kedalam.." sahut perawat itu lagi.
"Ta-tapi aku..," opa Harja masih bingung bagaimana caranya agar bisa masuk kembali kedalam ruangan itu.
Belum sempat dia berkata lagi, perawat itu kembali masuk dan menutup pintu ruangan itu, tanpa diduganya perawat itu juga mengunci pintu dan menutup semua horden yang ada didinding kaca ruangan itu.
"Sialan! Kenapa dia harus mengunci pintu segala! Aku jadi tak bisa menerobos masuk, aku harus memastikan wanita tua itu benar-benar koma atau berpura-pura!" gumam opa Harja dalam hati.
"Apa ibu benar-benar koma?" tanya tante Sonia.
"Tidak tau, lihat saja nanti" jawab om Adji sekenanya.
Dia agak risih dengan sikap tante Sarah yang begitu agresif, meskipun hubungan mereka sudah terekspos dia masih tidak tenang dengan melihat sikap istri dan adik iparnya tadi, yang menurutnya terlalu tenang dan tak perduli dengan mereka.
"Apa selama ini mereka tau tentang hubungan kami? Tapi kenapa mereka diam saja? Apa mereka sedang melakukan sesuatu? Akh! Kepalaku mendadak pusing sekali!
Kalau begini, pupus sudah aku mendapatkan separuh harta warisan milik ibu Mariani, meskipun kami dekat, dia tak mungkin memaafkan aku dan Sarah atas hubungan kami ini!" gumam om Adji dalam hati, frustasi.
"Ibu, kenapa ini harus terjadi? Seharusnya diusia ibu ini, ibu sudah bisa menikmati hari-hari ibu dengan tenang dan damai, tidak harus disibukkan lagi dengan semua permasalahan ini..
Cepatlah sembuh dan sadar bu, kami anak-anak ibu sangat mengharapkan kepulihan ibu, karena keluarga ini akan cacat tanpa kepala keluarga, ibu adalah sosok pemimpin yang baik dan bijak dan bisa mengambil keputusan dengan baik, meskipun selama ini ibu selalu bersikap keras kepada kami, tapi kami yakin ibu melakukan itu semua demi kebaikan kami semua.
Bu, bangunlah.. Hiks, dan maafkan aku jika selama ini selalu membantah semua perkataan ibu dan tidak menuruti semua ucapan ibu, tapi itu semua aku lakukan karena aku sayang ibu, aku tak ingin ibu melangkah lebih jauh lagi, terjerumus kelubang yang salah untuk sekian kalinya lagi, hiks.." ucap tante Sonia sambil terisak.
Dia merasa sedih melihat keadaan ibunya itu, terbaring lemah tak berdaya, dia melihat air mata ibunya mengalir dalam keadaan mata yang terpejam, dia tersenyum haru karena tante Sonia yakin dalam keadaan koma seperti itu, ibunya pasti bisa mendengarkan ucapannya.
Dia menggenggam erat tangan sang ibu, duduk di samping bangsalnya, menelungkupkan kepalanya disamping tubuh ibunya untuk menenangkan dirinya, tiba-tiba saja dia terkejut karena merasakan ada sentuhan lembut yang menyentuh kepalanya.
Tante Sonia mengadahkan kepalanya menatap siapa yang membelai lembut kepalanya.
"I-Ibu?!" tanyanya terkejut, heran dan sangat senang sekali ketika sang ibu bangun dari komanya.
"Sst, pelankan suaramu.." ucap oma Mariani.
"Ibu, ada apa ini? Kenapa ibu tiba-tiba bisa bangun kembali? Bukankah kata dokter ibu dalam keadaan koma?" tanya tante Sonia heran bercampur bahagia.
"Kenapa, apakah kau sedih melihat ibu kembali sadar?" tanya oma Mariani menatapnya tak suka.
"Bu-bukan begitu, aku senang sekali ibu bangun, aku hanya terkejut saja.." ucap tante Sonia merasa bersalah.
"Iya, ibu tau.. Ibu seharusnya meminta maaf kepadamu, dan juga Seno.." ucap oma Mariani dengan tatapan haru dan lembut, matanya mulai berembun menatap anak sulungnya itu.
"Ibu.." tante Sonia menatap ibunya haru, dia tak menyangka setelah sekian lama dia kembali bisa melihat tatapan lembut ibunya itu.
"Ibu, mendengar semua ucapanmu tadi. Ibu merasa terharu dan sedih, Sonia. Selama ini mata dan hati ibu tertutup sangat lama, tak bisa melihat sikap dan perlakuanmu dan Seno selama bersama ibu.
Setelah puluhan tahun lamanya, ibu baru sadar sepenuhnya, yang namanya cinta dan pengorbanan tak selamanya indah, ada saja yang tersakiti, ibu tiba-tiba saja merindukan ayahmu, Nak..
Dia selalu berkata kepada ibu, cinta itu adalah cinta tak ada pengorbanan dalam bercinta, jika ada yang berkorban demi cinta, itu bukan namanya cinta. Karena cinta itu saling melengkapi, saling membutuhkan, dan saling menjaga, jika ada yang berkorban demi cinta, itu adalah sebuah keegoisan, dan kemunafikan.
Dan ibu baru menyadari itu semuanya di usia senja ini, setelah kehilangan ayahmu, yang selama ini ibu anggap sebuah pengorbanan cinta, setelah ini ibu harap kau dan Seno bisa memaafkan ibu.." ucap oma Mariani pelan, suaranya sangat lembut nyaris tak terdengar karena dia sedang kesusahan mengatur nafasnya sendiri.
"Maaf, bu.. Jangan terlalu diajak bicara dan berpikir terlalu keras dulu pasiennya, karena beliau belum pulih total.." ucap perawat tadi sambil memeriksa kembali keadaan oma Mariani.
"Iya, maaf.." sahut tante Sonia.
"Tidak apa, Suster, saya yang memaksakan diri untuk bicara kepada putri saya, saya takut saya tak punya waktu lagi untuk meminta maaf kepadanya.." sahut oma Mariani.
"Ibu.." tante Sonia menyela ucapannya, dia sedih mendengar ucapan ibunya tadi.
"Sonia, kemarilah.. Ada yang ingin ibu katakan padamu.." ucap oma Mariani.
"Ada apa, bu?" tanya tante Sonia seraya mendekati sang ibu setelah perawat selesai memeriksa ibunya.
"Sebenarnya, ada sebuah rahasia yang ibu sembunyikan darimu dan Seno, juga semuanya. Dengarkan ibu baik-baik, didalam kamar ibu, dibawah kasur ada brankas kecil milik mendiang ayahmu, kata sandinya adalah tanggal lahir Laras, buka dan simpan dengan benar, rahasiakan semuanya bahkan dari adikmu sendiri, apalagi suamimu.." ucap oma Mariani.
"Apa itu, bu? Kenapa aku harus merahasiakan semuanya, bahkan dari Seno sekaligus?" tanya tante Sonia penasaran.
"Aku tak memintamu menyembunyikan itu dari adikmu, tapi belum saatnya dia tahu semuanya sebelum kau dan dia menyingkirkan semua parasit dan benalu yang berada di rumah, yang bersembunyi dengan baik didalam keluarga kita.
Sekarang, saat ini ibu akan menyerahkan semua tanggung jawab kepala keluarga kepadamu dan Seno, ibu tidak akan ikut campur lagi. Lakukan apa yang menurutmu baik dan benar.." ucap oma Mariani lagi.
"Tapi, bu.. Aku belum siap" ucap tante Sonia gugup.
"Tenanglah, selama ibu dirawat disini, kau akan dibantu oleh orang-orang kepercayaan ibu dan orang-orang kepercayaan ayahmu yang masih setia sampai saat ini.." sahut oma Mariani.
"Ba-bagaimana caranya?" tante Sonia masih tak percaya dengan segala ucapan dan arahan sang ibu.
"Ketika kau bertemu dengan asisten dan sekretarisku, ucapkan Dewi Sri menyambut, mereka akan percaya denganmu dan siap membantumu kapan saja, dan dengarkan semua arahan mereka.." ucap oma Mariani.
"Sonia, ambil kalung ibu ini.. Ini adalah kunci brankas ibu, ambil semuanya yang ada didalam sana sebelum ada yang mencurinya.." ucap oma Mariani lagi sambil bersusah payah mengeluarkan kalung yang melingkari lehernya.
"Saya harus apa, bu? Terus terang saja, saya masih syok!" ucap tante Sonia jujur.
"Tidak apa, kau akan dibantu oleh mereka nantinya.." sahut oma Mariani.
Setelah itu ada dua orang yang keluar dari sebuah ruangan dibalik ruang UGD itu, mereka keluar dari balik tirai yang menutupi pintu ruangan itu.
"Ka-kalian?" ucap tante Sonia terkejut apa yang dia lihat.
Mereka menghampiri tante Sonia yang masih syok apa yang dia lihat dan juga Oma Mariani yang masih terbaring lemah di kasur bangsalnya.
Kira-kira siapa mereka, dan apa tujuan mereka yang sebenarnya?
...----------------...
Bersambung
Maaf, othor liburnya terlalu lama. Terima kasih masih menunggu dan mendukung karya othor 🙏