
Setelah sampai ke apartemennya, Geraldine langsung mengecek ada apa didalam flashdisk milik Pramudya yang dia temukan didalam mobilnya itu. Dengan hati-hati dia membuka dan mengecek setiap file yang ada di sana, satu file yang membuatnya curiga karena tak bisa dibuka begitu saja.
"Ini memakai kata sandi, aku tak bisa membukanya.. Hemm, aku harus lapor dulu ke Rendy kalau begitu. Siapa tahu dia punya solusinya.." gumamnya.
Setelah selesai mengunduh file itu dan membersihkan riwayat pencarian dan pengunduhan, dia menyimpan flashdisk itu dan menaruhnya didalam tas dengan hati-hati, berharap Pramudya tidak menyadari apapun.
Keesokan harinya, Pramudya terbangun dari tidurnya setelah mendengar suara alarm di Hp security, suara azan subuh berkumandang di ponselnya menunjukkan waktunya sholat shubuh.
"Jang, gw sholat dulu ye.." pamit security itu kepada salah satu teman jaganya.
Temannya itu hanya mengangguk sambil memainkan ponselnya, dia duduk tidak jauh dari Pramudya yang ketiduran diatas sofa didalam lobby itu.
"Stt, aku kenapa tidur disini? Perasaan tadi ada didalam mobil bersama nona Geraldine? Ck, badanku terasa pegal-pegal sekali. Hoamm! Masih ngantuk, aku rebahan sebentar lalu pulang" ujarnya sambil memejamkan matanya.
Perasaan Pramudya dia hanya memejamkan matanya sebentar, tiba-tiba dia terbangun dari tidurnya karena suara riuh bergaduh ditempatnya saat ini. Pelan-pelan dia membuka matanya dan melihat ke sekelilingnya, betapa kagetnya dia melihat hari sudah siang terang benderang, dan security tadi juga sudah tak ada.
"Ih, kenapa dia? Kok tidur disini?"
"Kayaknya dia lembur semalaman, dan ketiduran disini.."
"Ck, malang sekali nasibnya! Yahh, setidaknya dia ngerasain capek juga kerja itu kayak apa!"
"Kayaknya dia stress karena mendadak jadi karyawan baru di kantor milik bapak tirinya ini!"
Berbagai Komentar mengenai dirinya yang ketahuan ketiduran di sana, dia begitu malu dan merasa terhina sekali, Pramudya buru-buru keluar ingin pulang, tapi dia tak menemukan mobilnya.
Tiin!
Tiinn!
Tinn!
Terdengar suara klakson mobilnya, dia menoleh kearah suara klakson mobil itu dan melihatnya semakin mendekat kearahnya. Mobil itu terparkir disebelah Pramudya yang masih terlihat kebingungan.
"Bu Geraldine?" sapanya bingung.
Geraldine keluar dari mobil itu dan berjalan menuju Pramudya, senyumnya mengembang melihat Pramudya, dan lelaki itu menjadi salah tingkah.
"Pagi, Pram!" sapanya ceria.
"Pagi, Bu.. Emm, ini.. Apa semalam Ibu pulang bersama mobil saya?" tanyanya hati-hati.
"Iya, Pram.. Semalam kita sudah sampai di kantor lagi, tapi kamu tidurnya nyenyak sekali, sepertinya capek banget! Aku tak tega membangunkanmu, jadi aku meminta security memindahkanmu tidur diatas sofa, biar kualitas tidurmu terjaga.
O ya, aku pinjam mobilmu untuk pulang karena mobilku masih di servis. Kamu semalam pulang jam berapa?" tanya Geraldine pura-pura tak tahu apa-apa.
"Semalam saya.." dia ingin mengatakan yang sejujurnya, tiba-tiba mobil Ericka datang dan fokusnya buyar.
"Sebentar yah, saya mau menyapa bu Ericka dulu" ujar Geraldine meninggalkannya yang masih terpaku itu.
Terlihat Ericka dan Geraldine sedang membahasnya sesuatu yang penting, tapi sayangnya Pramudya tidak bisa mendengarkan suara mereka.
Setelah itu, Ericka pergi bersama beberapa orang yang bersamanya tadi. Sedangkan Geraldine berjalan menuju kearahnya, dia nampak begitu serius.
"Ayo kita masuk! Kita tidak boleh telat!" ujarnya kepada Pramudya.
"Ta-tapi, Bu--" dia ingin menjelaskan kalau dirinya saat ini belum siap dalam hal apapun.
Belum mandi, belum sarapan, bahkan pakaian yang dia pakai pun masih baju yang sama dengan hari kemarin.
Tapi dia tak punya pilihan, selain mengikuti bosnya itu. Dengan wajah kusut, perut lapar dia mengikuti Geraldine. Sedangkan para karyawan lainnya masih kasak kusuk membicarakan dirinya.
"Seharusnya dia membangunkanku! Mau atau tidak aku bangun setidaknya bangunkan dulu, jadi aku bisa istirahat dengan baik di rumah, bisa mandi dan berganti pakaian, makan dengan kenyang.. Huft, untung cantik dan aku suka, jika tidak aku akan menyesali telah mengenalku" gerutunya.
Didalam kantor dia jadi pusat perhatian karena penampilannya itu, Geraldine memanggilnya kedalam ruangannya dan memberinya sebuah peringatan.
"Semalam saya tidak pulang, saya terpaksa menginap disini karena tidak ada satupun security bahkan Ibu untuk membangunkan saya! Saya kalau ingin pulang juga percuma, mobil saya kan sama Ibu?" sindir Pramudya.
"Aku tidak tahu jika kamu bermalam disini, dan aku pikir bisa saja kau pulang dengan naik taksi. Tenang saja, mobilmu sudah kuisi dengan full bensin. Sekarang kembali ketempatmu!" perintah Geraldine.
Pramudya pergi dari tempat itu dengan perasaan keki, hari ini ia benar-benar dibuat malu sama Geraldine dan juga yang lainnya.
Sore pun tiba, dia izin ingin pulang duluan karena sudah tidak betah dengan badannya sendiri tidak mandi dari hari kemarin. Tapi lagi-lagi Geraldine mengajaknya lembur untuk pergi kesuatu tempat, mau gak mau dia ikut juga, kali ini Geraldine membawa mobilnya sendiri.
Pramudya diminta menemaninya pergi untuk bertemu klien, mereka membahas seputaran pekerjaan, sehingga klien merasa gelisah dan risih dihadapan Pramudya.
"Sorry, Bu Geraldine! Apa tidak ada yang bisa kamu bawa, apa tidak ada pegawai yang lain? Setidaknya cari yang wangi dan bikin nyaman, percuma ganteng tapi jorok!" ketus seorang ibu-ibu elit yang dipastikan klien mereka itu.
"Ah, maaf Bu.. Saya minta maaf, sebentar ya Bu.." ujar Geraldine merasa tak enak dengan ibu itu.
Dia menarik Pramudya menjauh dari meja mereka itu, dia juga meminta Pramudya membawa barang-barangnya.
"Kamu pulang saja duluan, naik taksi atau apa kek! Aku gak mau kehadiranmu malah mengacaukan bisnis ini!" ujarnya ketus sambil meninggalkan Pramudya bengong.
"Sialan, aku pikir ini kesempatanku untuk menarik hatinya sekalian menunjukkan bakatku dalam bekerja, malah berakhir seperti ini!" gerutunya.
Dia keluar dari restoran itu, dan bersiap memanggil taksi yang biasa mangkal didepan restoran itu, tapi tak ada satupun taksi yang lewat. Ataupun muncul didepannya, dia tidak memiliki aplikasi taksi online karena selama ini selalu membawa mobil sendiri, dan gengsi naik taksi.
"Ah! Hariku benar-benar kacau sekali, kenapa aku begitu ceroboh! Seharusnya aku sudah memastikannya ini akan terjadi" gumamnya marah.
Dia nekat berjalan meninggalkan restoran itu dan berharap ada taksi yang lewat, tapi tak ada satupun taksi yang lewat. Sampai ada mobil yang berhenti didepannya.
Melihat itu tentu saja Pramudya bersemangat, ada sekitar tiga orang wanita cantik berpakaian minim didalam mobil merah itu. Dia tak menyia-nyiakan kesempatan itu dan setuju menumpang didalam mobil itu.
"Memangnya kamu tidak punya mobil sampai harus berjalan sendirian? Tidak memesan taksi saja?" tanya seorang gadis yang duduk didepan.
"Aku punya mobil Thunder keluaran terbaru, ayahku adalah pengusaha pemilik Wijaya grup. Aku adalah orang kaya, buat apa naik taksi, dan kebetulan mobilku tidak kubawa" jawabnya sombong.
"Wijaya grup itu kan, salah satu konglomerat terkaya di kota ini?? Waahh, tidak menyangka kami bisa bertemu dengan calon pewaris!" ujar gadis disampingnya itu, sambil mendekatinya lebih rapat lagi.
Pramudya sudah berpikir jauh untuk menjamah tubuh ketiga gadis ini, tapi keinginannya seketika buyar ketika menyadari otongnya sudah terbabat habis, dia langsung lesu dan menahan air liurnya saat melihat dua gundukan bukit milik wanita itu sedikit mengembul keluar.
"Sialan, Kehormatanku terpotong habis oleh benc*ng itu! Kalau bertemu kembali dia harus mati ditanganku!" gumamnya dalam hati.
Pikirannya jauh melayang mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu, tanpa menyadari ada bahaya mengintai. Ketiga gadis itu ternyata tidak berniat baik kepadanya, mendengar dia anak orang kaya, mereka jadi ingin melakukan sesuatu kepadanya.
"Maaf, sepertinya mobil ini melaju kearah yang salah, ini kemana ya arahnya?" tanya Pramudya baru sadar kalau arah laju mobil ini berbeda dengan arah sebelumnya.
"Nanti saja pulangnya, mari kita bersenang-senang dulu!" ujar salah satunya sambil mengedipkan matanya.
Seandainya dia masih memiliki kebanggaannya, mungkin saja dia akan senang tetapi dia tak memilikinya lagi, dia hanya tersenyum kecut.
"Ini sudah terlalu malam, aku harus pulang! A-aku ada meeting penting besok!" ucapnya berbohong, hatinya mulai tak nyaman dengan mereka.
"Hufft, lepaskan!" teriaknya.
Tiba-tiba saja gadis disampingnya tadi membekap mulutnya menggunakan sapu tangan, dan membuat kepalanya begitu pusing dan akhirnya pingsan.
.
.
.
Pramudya terbangun karena suara-suara berisik dan keras di sekitarannya, dia terikat diatas kursi dan terkejut sedang ada didalam sebuah ruangan, tidak tau tempat apa itu yang jelas suara musik keras menghentak memenuhi seisi ruangan itu.
"Ah, sudah bangun rupanya!" seorang gadis berpakaian super seksi mendekatinya.
"Apa-apaan ini, aku pikir kau orang kaya betulan, ternyata penipu! Kami tak menemukan apapun didalam dompet dan isi tasmu itu!" ujar temannya tadi kesal.
"Apa ini, jadi kalian ini kumpulan penipu kecil yang mencoba merampokku?!" teriak Pramudya geram.
"Jaga bicaramu itu!" tiba-tiba datang sekumpulan lelaki berbadan besar dan bertato menghampirinya.
"Apa yang kalian dapatkan?!" tanya lelaki itu kepada para gadis.
"Dia ini lelaki miskin, bos! Dia tak memiliki apapun, kami hanya menemukan Ponselnya dan beberapa lembar uangnya saja, ada juga beberapa kartun debit dan kredit juga tapi isinya sangat sedikit untuk ukuran orang kaya!" jawab wanita seksi tadi.
Sedangkan Pramudya hanya diam melongo tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, jadi ketiga wanita cantik dan seksi itu adalah anak buah lelaki besar tertato itu dan bertugas menjerat atau menipu lelaki kaya untuk mereka rampok, dan Pramudya terkena sialnya.
"Terus kita apakan dia?!" tanya wanita itu sambil menunjuk Pramudya.
"Lucuti dia dan lempar ketengah jalan!" teriak sang bos.
"Siap bos!"
Ketiga wanita itu melucuti pakaian hingga tak ada satupun yang menempel di badannya Pramudya, lelaki itu menutupi sesuatu yang sudah tak ada, agar wanita-wanita itu tak menyadarinya.
"Hem, sayang kalau dibuang begitu saja.. Bagaimana kalau kita bermain sebentar saja" ujar wanita satunya sambil menatap Pramudya nakal.
Seandainya posisi senjatanya masih ada, tentunya dia akan senang hati menerima perlakuan kasar mereka, tapi saat ini dia tak memiliki senjata apapun lagi untuk menyerang mereka.
"Lihat wajahnya begitu pucat, haha! Apa kau banci hah?! Seharusnya kau senang bisa bermain dengan tiga wanita sekaligus, apalagi kami ini tipe wanita langka yang jarang ditemui oleh lelaki manapun!" sahut wanita satunya lagi.
"Sudah, sikat saja!" teriak temannya.
Betapa terkejutnya mereka, melihat sesuatu yang sangat aneh menurutnya. Lelaki itu tak memiliki sesuatu yang bisa memuaskan mereka, semua terpotong habis seperti punya wanita.
"Haha! Memalukan, apa ini?! Apa kau berencana ingin mengubah kelaminmu?!" teriak mereka.
Pramudya benar-benar merasa dihina dan dipermalukan oleh mereka, semua barang-barangnya diambil, ditelanjangi, dilecehkan dan dipermalukan begitu saja.
Bahkan para wanita itu sempat 'bermain-main dengannya' sebentar, dia merasakan sensasi sedikit kenikmatan tapi tak bisa menyalurkannya, rasanya sangat sakit sekali.
//
//
Keesokan harinya, beberapa orang gempar menemukan seorang lelaki tertidur dibawah kolong jembatan tol dalam keadaan tak berbusana, bahkan badannya kotor dan bau, dan hampir tak dikenali wajahnya.
"Dimana aku? Apa yang terjadi?! Akh! Ti-tidak!" teriak lelaki itu sambil berlari sambil meninggalkan kerumunan yang mengelilinginya.
Sebelumnya ada beberapa pemulung lewat ke daerah sekitaran sana, karena tempat itu terkenal sebagai tempat pembuangan sampah masyarakat di sekitarnya, siapa sangka mereka malah menemukan Pramudya tertidur dekat tumpukan sampah itu.
Bahkan mereka mengira dirinya orang gila karena melihat kondisinya itu, Pramudya berlari ketakutan, bahkan dia tak peduli lagi dengan kondisinya saat ini, bahkan dia merasa pernah mengalami hal ini, duluuu sekali... Karma untuk kedua kalinya.
...----------------...
Bersambung