
Untungnya acara makan-makan di pondok sebelah sudah selesai, dan mereka pun membubarkan diri. Reva dan Nico lega, akhirnya terlepas juga penderitaan dari rasa was-was.
Gimana tidak, mau makan aja pake ngumpet-ngumpet biar gak kelihatan. Jarak antara pondok satu ke pondok lainnya lumayan dekat, hanya berjarak beberapa meter aja.
Kalau mereka tidak hati-hati mereka bisa saja ketahuan oleh orang-orang tadi, Reva ngedumel gak bisa menikmati makanan dengan nyaman gara-gara takut ketahuan oleh ayahnya dan saudara tirinya tadi.
"Seharusnya biarin ajalah tadi, mau mereka lihat atau gak sebodo amat! Masa mau makan aja pake sembunyi-sembunyi, ampe pegel ni leher nunduk mulu" gumam Reva dalam hati.
"Gimana, udah kenyang atau mau pesan lagi?" tanya si Nico.
"Udah, yuk balik" ujar Reva.
"Oke, sebentar yah bayar dulu jangan main balik aja" ujar Nico sambil memanggil pelayan buat bayar makanannya.
Pada saat itu dia lagi nerima telpon dari anak buahnya, sepertinya sibuk sekali membicarakan soal pekerjaan. Begitu juga dengan Reva yang sibuk ngecek-ngecek email di Hpnya.
Tiba-tiba perhatian mereka teralihkan oleh anak-anak yang tengah bermain layang-layang ditengah sawah itu, mereka nampak begitu bahagia. Melihat itu Reva teringat masa kecilnya bersama adik-adiknya.
Setelah menelpon Nico meletakkan Hpnya diatas mejanya, tapi dasar Nico matanya terus kearah Reva bukannya Hp itu ditaruh diatas meja malah masuk kedalam tas Reva.
Sebelas duabelas sama Reva, tak kirain Hp masuk tas gak taunya diatas meja.
Jadi tak sengaja mereka tukeran Hp, sampai mereka pulang pun masih tak sadar. Entah karena model Hpnya sama atau orangnya cuekan, mereka tak ada yang tahu soal itu.
Untunglah tidak ada telpon, pesan ataupun email penting lainnya yang datang.
Sampai akhirnya Reva gak sengaja mengangkat telpon Nico dari Aaron.
Masa sekarang.
"Aaron siapa yah?" tanya Reva bingung lagi.
'Halo, bukankah ini nomor Hpnya pak Nico yah?" tanya Aaron heran juga.
"Bukan, tapi--' pembicaraannya berhenti ketika melihat sekilas bentukan Hpnya.
"Ah, sepertinya aku dan pak Nico tak sengaja tertukar Hpnya" jawab Reva tak enak.
"Oh, tidak apa Bu. Maaf dengan Ibu siapa? Agar saya bisa tahu Hp pak Nico dipegang siapa" tanya Aaron masih bersikap sopan.
"Saya Revalina, tenang saja Hp saya masih banyak yang bagus-bagus dan terbaru. Tidak minat dengan Hp orang" jawab Reva ketus, sedikit salah faham dengan maksud Aaron.
"Oh, bu-bukan begitu maksudnya..." Aaron serba salah, yang membuatnya gugup bukan karena yang ditelpon galak.
Tapi nama gadis itu, sangat familiar dengannya. Dia mengingat-ingat lagi dan baru sadar jika gadis ini adalah kakak perempuan Ericka yang terkenal tangguh dan garang.
"Hem, ngerti" jawab Reva malas menanggapi orang diseberang telpon.
"Ya sudah, besok akan aku kembalikan Hpnya. Agar kalian bisa terhubung kembali" ujar Reva sambil menutup telponnya.
"Hufft, bikin esmosi aja malam-malam" gerutunya.
Sementara itu, di rumah Nico dia nampak panik karena tahu Hpnya tertukar dengan Reva. Bukan apa-apa tapi segala informasi penting dan info rahasia menyangkut adiknya ada di sana.
"Mudah-mudahan Reva gak gratakin tuh Hp, kalau gak bisa gawat. Jangankan untuk ketemu, buat teleponan lagi pasti tak bisa" gumam Nico pusing tujuh keliling.
//
Siangnya, di kediaman Aaron Ramsey Dortmund.
Lagi enak-enaknya tidur, dia merasakan guncangan hebat di kasurnya. Otomatis matanya melek dan loncat dari kasurnya dan ngumpet dibalik kolongnya.
"Tolong! Gempaaa!" teriak Ericka.
"Gempa otakmu!" terdengar suara cempreng Jessy.
Ericka melongo keluar dan melihat ada Jessy di sana, menyadari kekeliruannya diapun keluar dari bawah sana.
"Hehe, maaf. Gak tahu saya" ujar Ericka garuk-garuk kepala gak gatal.
"Jaga sikap, hey jaga sikap!" ujar Jessy sambil memukul tangan Ericka.
"Ya ampun, baru saja bangun udah dihukum aja" gerutunya.
Lihat kasur you itu?! Berantakan sekali, bisa tidak sih tidur itu yang elegan sedikit?!" ujar Jessy galak. Udah kayak emak-emak marahin anaknya yang bangun kesiangan.
"Lah, gimana caranya tidur elegan? Kan kita tidur gak tahu lagi posisi seperti apa?! Sebelum tidur juga aku udah bobo gaya cantik, tetep aja hasilnya begindang" gerutu Ericka yang hampir ketularan dengan Jessy gaya bicaranya.
"Ck, udah gak usah banyak alesan! Bereskan tempat tidur you, mandi dan dandan yang rapi dan cantik. Setelah itu temui ay dibawah" ujar Jessy langsung ngeloyor keluar kamar.
Ericka menatap jam dinding di kamarnya, ya ampun baru jam 5 pagi. Dia udah dibangunin begitu saja, padahal matanya masih berat dan masih kangen sama kasur dan bantal.
"Huft, sabar-sabar! Aku harus ngikutin maunya dia, kalau tidak aku akan diomelin terus dan dicuekin seharian" gumamnya.
Buru-buru dia bereskan tempat tidurnya, dan melangkah pergi ke kamar mandi. Setelah serasa cukup mandi dan berdandan, diapun turun kebawah menemui Jessy.
"Lama banget, ampe kesemutan nih kaki!" omel Jessy.
"Kan katanya tadi, haru mandi dan dandan yang cantik.. Ya butuh proses" timpal Ericka sambil memanyunkan bibirnya.
"Hei, bibir you itu kondisikan yah?! Elegan, ingat elegan!" ujar Jessy.
Ericka mulai jengah mendengar kata-kata elegan itu, dari bangun sampai sekarang Jessy terus meneriakkan kata elegan.
Tring!
Garpu ditangannya tak sengaja jatuh, Ericka membungkukkan badannya untuk mengambil garpunya.
"Ehem, elegan" kata Jessy sambil memberikan isyaratnya.
"Huft, elegan lagi" gumamnya.
"Memang harus begitu, kalau tidak buat apa kami berada disini dan capek-capek ngurusin dan ngajarin you, bagaimana bersikap seperti gadis bangsawan" ujar Jessy.
Mereka sedang sarapan bersama, kali ini bukan hanya Aaron dan Ericka saja duduk di meja makan itu tapi ada Jessy juga.
Dia sengaja duduk dan menemani Ericka sarapan sekaligus memberikan ajaran cara makan dan menggunakan peralatan makan dengan baik dan benar.
"Duh, ribet amat! Aku bukan putri raja ataupun putri bangsawan, gak usah deh pake acara begini-beginian" ujar Ericka merasa lelah.
Sudah hampir sebulan ia mempelajari banyak hal dari Jessy dan beberapa mentornya, begitu pula dengan pemeriksaan wajahnya di klinik dokter Chaterine.
"Ini semua demi kebaikan you, suatu saat nanti you akan mendapatkan manfaatnya. Dan habis ini kita akan cuss pergi ke klinik yang sudah ditentukan" ujar Jessy lagi.
"Klinik mana lagi? Bukannya ke klinik dokter Chaterine?" tanya Ericka bingung.
"Bukan, tapi klinik yang lebih besar dan peralatannya lebih canggih lagi, dan klinik ini juga bekerja sama dengan dokter Chaterine mempermak wajah you" ujar Jessy sambil mengunyah sandwich miliknya.
"Permak? Emang baju di permak?!" ujar Ericka kesal.
"Maksud ay, operasi. Plastic surgery!" ujar Jessy memperbaiki perkataannya.
"Apa?! Operasi plastik?!" teriak Ericka terkejut mendengar kabar itu begitu saja.
"Iya, Erickaaaa... Gak usah teriak-teriak, ay gak budeg" jawab Jessy ketus, kesal plus kaget dengar suara Ericka naik satu oktaf.
"Bisa tidak kita makan dengan tenang, dari tadi berisik sekali" Aaron yang dari tadi diam akhirnya nyeletuk juga.
Ericka baru aja mau mangap mau bicara lagi, tapi terhenti ketika Jessy memberikan isyarat kalau bos lagi darting alias darah tinggi gara-gara acara sarapannya terganggu oleh mereka.
Otomatis Ericka langsung mingkem daripada dengar suara Aaron nyap-nyap ya kan! Sementara itu ada Stanley berdiri berjejer disamping para pengawal yang menemani mereka sarapan.
Dia tersenyum tipis melihat tingkah Ericka, ternyata sudah ada perubahan sedikit dari dirinya. Bukan Ericka yang diam saja ketika ada perkataan atau sikap yang tidak mengenakkannya.
"Syukurlah dia baik-baik saja, ah! Aku kangen pengen bicara seperti dulu lagi dengannya" gumamnya dalam hati.
Tapi pandangannya sedikit kicep pas matanya tak sengaja bertemu dengan sorotan mata tajam sang bos ketika gak sengaja memergokinya diam-diam curi-curi pandang dengan Ericka.
Sementara Ericka masih belum mencerna sepenuhnya pernyataan Jessy tadi, apa sih? Operasi?
...----------------...
Bersambung