
Mobil Ericka melaju dengan kencang menuju rumah sakit yang terdekat dari sana, kebetulan rumah sakit yang dia tuju merupakan salah satu milik yayasan keluarganya.
"Cepat sus, bawa anaknya. Dia pingsan dari tadi belum bangun juga!" ucap Ericka.
Dia menatap anak itu khawatir, entah mengapa dia merasakan sesuatu kepadanya. Dia mencari alamat sekolah anak itu sesuai dengan nama yang ada di seragamnya. Setelah beberapa saat kemudian, datanglah dua orang dari pihak sekolah menuju rumah sakit itu.
"Permisi, maaf apakah Nona yang menyelamatkan anak didik kami tadi?" tanya salah satu dari pendidik itu.
"Iya, betul itu saya. Maaf, apakah kalian dari pihak sekolah? Bagaimana bisa seorang murid bisa berkeliaran diluar jam sekolah Bu, Pak?" tanya Ericka sedikit kecewa dengan mereka.
"Maaf, ini diluar kendali kami Bu.. Anak ini memang terkenal bandel di sekolah, suka membantah guru dan berantem dengan teman-temannya. Kemungkinan dia bolos sekolah hari ini, kebetulan di sekolah ada acara juga, jadi anak-anak tidak terkontrol dengan baik.." jawab seorang guru perempuan itu.
Dari pihak sekolah datang dua orang pendidik, mereka terlihat masih muda, guru lelaki muda itu adalah wali kelas anak itu, sedangkan guru perempuannya adalah guru BK di sekolahnya.
Ericka sebenarnya nampak tak asing dengan mereka, sepertinya dia mengenal mereka tapi dia lupa dimana. Kalau mengingat nama sekolah itu, tentu saja Ericka tau, sekolah internasional yang pernah tempat dia belajar dulu sekarang menjadi sekolah SMK swasta.
Ericka tak pernah ketinggalan berita tentang masa-masanya dulu saat bersekolah di sana, karena di sekolah itu mengingatkan betapa pahit dan getirnya masa sekolahnya dulu.
Meskipun sekolah berganti nama dan kurikulumnya, tapi tetap manajemennya masih sama, orang-orang dulu masih ada di sana, mungkin kebanyakan pada guru dan dewan yayasan sudah pada tua dan lupa padanya, tapi dia takkan pernah lupa dengan mereka.
"Oh, jadi begitu anaknya. Saya hanya kasihan saja, dia terlibat kecelakaan lalu lintas, ada sebuah mobil menabraknya lalu kabur begitu saja. Saat ini masih dalam pengejaran polisi, kita tunggu saja kabarnya.
Bagaimana, apakah Bapak dan Ibu sudah menghubungi pihak keluarganya? Kasihan jika tak ada yang mendampinginya.." ucap Ericka iba pada anak itu.
"Emm, sebenarnya kami sudah menghubungi orang tua anak ini, tapi respon dari pihak keluarga sungguh mengejutkan. Mereka tidak percaya dan tak peduli juga, mungkin mereka merasa anak ini hanya sekedar mencari perhatian orang tuanya saja.
Maklum, Nona. Anak-anak seusianya lagi labil-labilnya dan selalu mencoba hal yang baru, apalagi orang tuanya juga orang sibuk dengan karir dan bisnisnya, jadi.. Ya, begitu" ucap guru BK itu terkesan tak peduli.
"Oh, begitu. Kasihan juga dia sebenarnya, mungkin dia butuh perhatian kecil dari orang tuanya saja, tapi orang tuanya juga sibuk bekerja, perlu ada arahan dan perhatian dari orang dewasa juga, Bu.
Takutnya dia salah arah dan salah jalan, kasihan.. Mumpung masih muda, masih ada kesempatan untuk berubah, asal kita sabar dan bertahan dalam menghadapi sikapnya, saya yakin dia juga lambat laun akan berubah" ucap Ericka lagi.
"Ya, selama ini juga kita begitu, Nona. Ya, namanya anak bandel susah dikasih tau, mungkin memang tabiatnya kali yah.." sahut guru BK itu melihat Ericka tak suka.
Sedangkan wali kelas anak itu hanya diam dan memandangi Ericka, dia seperti sedang mengamatinya. Saat mereka tak sengaja beradu pandang, guru itu melemparkan senyumannya, Ericka hanya membalasnya hanya sekedar untuk bersopan santun saja kepada mereka.
"Ya udah, kalau begitu saya permisi dulu ya Bu, Pak. Semoga anaknya cepat sembuh..," ucap Ericka berpamitan.
Kedua guru itu mengangguk ramah juga, ketika wali kelas itu ingin mengantar Ericka keluar, dia ditahan oleh guru BK itu.
"Mau kemana, Pak?!" tanya guru perempuan itu.
"Mau mengantarnya, gak enak Bu dibiarkan begitu saja, apalagi dia sudah membantu anak murid kita juga..," sahut sang wali kelas.
"Gak usah, ngapain! Toh udah gede juga bisa pulang sendiri dan tau jalan juga.." bisik guru perempuan itu.
Ericka masih bisa mendengar suaranya, dia hanya tersenyum saja, sulit rasanya menemukan orang yang benar-benar ikhlas membantu, sekelas guru atau pendidik seperti mereka saja seperti itu, tapi itu hanya oknum saja, masih banyak para pendidik yang ikhlas membantu para muridnya, hanya saja Ericka bertemu dengan oknum seperti itu.
Saat diluar ruangan itu, Ericka sedang mencari ponselnya dan ternyata tertinggal di ruang inap anak itu, saat ingin masuk dia tidak sengaja mendengar para guru itu berbicara.
"Bu, bukankah kita belum menghubungi orang tuanya Azka? Kenapa tadi Ibu bilang sudah? Padahal orang tuanya sangat baik dan perhatian juga kepada anaknya, kok ibu bisa bilang seperti itu kepada wanita muda tadi.
Bu, jangan macam-macam, orang tua anak ini salah satu donatur terbesar di sekolah kita, apalagi mereka sangat baik kepada para guru disekolah. Apa tak berlebihan bersikap seperti itu?" ucap wali kelas anak itu.
"Sudah, tak apa kok. Toh kita juga gak kenal dengan wanita itu tadi, dan aku yakin setelah ini dia takkan bertemu lagi dengan kita! Aku malas bertemu dengan orang tuanya, berbasa-basi lagi, dan pegel pura-pura senang tapi malas ketemunya.
Apalagi kita seperti diwajibkan untuk selalu tersenyum kepada siapapun yang memberikan donatur terbesar disekolah, ataupun harus tersenyum dengan mereka, pegel pipiku, apa mereka gak tau jadi guru itu capek!
Tapi selalu dituntut menjadi lebih baik lagi, dan memperlakukan anak mereka bagaikan raja dan ratu di sekolah, seperti si Azka ini, anaknya bandel sekali!" ucap guru perempuan itu.
"Tapi tetap saja, Bu. Kita harus memberitahu orang tuanya jika dia kecelakaan," ucap temannya lagi.
"Terus kamu mau diomelin sama mereka?! Dianggap tak becus menjaganya, wanita itu tadi saja begitu berani mengomeli kita, apalagi orang tuanya.
Kita ini guru, pendidik. Bukan baby sitter! Kadang orang tua mereka tak tahu tempat, suka menelpon seenaknya saja gak tau waktu, anaknya nakal gak boleh dimarahi, sedangkan mereka sendiri tak bisa mendidik anaknya, malah guru yang disalahkan!" ucap guru perempuan itu.
Tidak ada yang salah dengan semua ucapannya, tapi langkahnya tak memberitahu tentang kondisi anak muridnya kepada keluarganya itu yang salah, apalagi dia bersikap tak peduli dengan anak didiknya.
"Huft, kalau begini jadi serba salah juga sih. Seharusnya antara guru dan orang tua seharusnya saling berkomunikasi dalam mendidik anak-anak itu, agar tak terjadi kesalahpahaman seperti ini" gumam Ericka sendiri.
Tok!
Tok!
Tok!
"Boleh, Bu. Silakan.." ucap guru perempuan tadi ramah.
Sikapnya sangat bertolak belakang dengan semua ucapannya tadi, tapi terlihat dari raut wajahnya yang sangat lelah itu jika dia tersenyum sedikit dipaksakan seperti itu.
Ericka mencari disegala tempat tapi tak menemukannya, wali kelas itu juga ikut membantunya mencari sedangkan guru perempuan tadi sibuk sendiri dengan ponselnya.
"Maaf, apa ponselnya Kakak?" tiba-tiba saja anak itu sudah bangun dan memegang Hpnya Ericka.
"Eh, iya! Itu ponselnya saya, tapi kok bisa sama kamu?" tanya Ericka bingung.
"Eh, Azka sudah bangun. Sejak kapan, kok Ibu sama pak Rian gak tau?!" tanya guru perempuan itu sama terkejutnya dengan yang lainnya.
"Dari tadi, dari ibu ngomel-ngomel gak jelas aku sudah bangun, saking berisiknya aku ampe siuman loh, waww... Amazing!" jawab anak itu dengan gaya slengeannya.
"Kamu ini gak ada sopan-sopannya sama guru! Bagaimana kamu, udah mendingan belum? Mau Ibu panggilkan orang tuamu?!" tanya guru perempuan itu sambil melirik Ericka gak enak, karena dia sempat berbohong saat mengatakan kalau mereka sudah menghubungi orang tua anak itu.
"Gak usah, Bu! Buat apa, ntar malah ngerepotin lagi. Mama sama papa kan sibuk sama pekerjaan dan bisnisnya.
Ini juga aku udah mendingan, bentar lagi juga sudah baikan, kalau mau.. Ibu sama Bapak boleh pulang juga kok" ujar anak itu cuek.
"Beneran? Tapi kamu itu habis kecelakaan loh, pingsannya lama banget lagi! Lihat kepalamu sampai di perban begitu, kaki juga sama!" sahut sang guru.
"Beneran kok, Bu.. Gak apa, nanti saya minta jemput supir papa aja pulangnya" sahut Azka, anak itu.
"Baiklah, kalau memang begitu. Hari mau sore ini, tas dan beberapa barang milik Ibu masih di sekolah, takutnya sekolah udah tutup, Ibu gak bisa masuk lagi" sahut gurunya itu beranjak dari tempat duduknya.
"Bu! Tunggu dulu, kita juga belum terlalu lama disini, Azka juga baru siuman, punya empati dikit kenapa Bu?!" ucap wali kelas Azka heran melihat rekan sejawatnya itu.
Dia juga memberi tanda jika ada orang lain juga selain mereka, dia tak mau sikap rekannya itu malah menimbulkan polemik nantinya bagi mereka.
"Sudah, tak apa. Toh anaknya sendiri kok yang ngebolehin kita pulang kok, ayo! Bapak juga harus pulang sama saya, tadi kita naik motor Bapak, saya gak bawa dompet loh, gak ada uang untuk ongkos naik taksi!" ujar guru perempuan itu sambil menariknya keluar.
"Apaan sih?! Lepasin, maaf ya Azka, Nona.. Kami permisi dulu, besok Bapak datang lagi ya Azka!" ucap wali kelasnya itu seraya menghilang dibalik pintu ruangan itu.
Tinggallah Azka dan Ericka berdua saja di ruangan itu, keduanya sama-sama menghela nafasnya kasar melihat tingkah kedua guru itu, kemudian mereka saling lirik-lirikan.
"Jadi, kakak yang udah nolongin aku tadi? Makasih yah, udah baik.. Cantik lagi" ucap anak itu sambil tersenyum menggoda.
Ericka menatapnya malas dan sangat jengah sekali dengan sikapnya yang cuek dan slengean itu.
"Mana nomor ponsel orang tuamu? Biar aku menghubungi mereka, agar kau ada yang menemani. Btw, bagaimana bisa ponselku ada padamu? Padahal kau juga baru bangun, aku ingat betul ponselku berada diatas nakas ini.." tanya Ericka penasaran.
"Aku sudah bangun dari tadi, kan sudah aku bilang. Mereka saja tak menyadarinya, melihat bu Meike begitu semangat bercerita, jadi aku urungkan saja memanggil mereka, padahal tenggorokanku kering.
Emm, btw... Boleh, ambilkan minum gak, kakak cantik?" ucap Azka sambil mengerlingkan matanya.
Ericka dengan sedikit kesal mengambilkannya air minum, anak itu menghabiskan minumannya, dia berusaha duduk tapi kepalanya masih sakit, dia meringis kesakitan memegangi kepalanya.
"Kamu tiduran saja, jika masih sakit" ucap Ericka sambil membantunya berbaring.
"Terima kasih, dari tadi aku tiduran mulu, capek! Tapi siapa yang tahan jika melihat gadis cantik didepanku, aku ingin mengenalnya lebih dekat karena sudah menolongku.." ucapnya sambil tersenyum menggoda.
"Hentikan, aku ini jauh lebih tua darimu! Tidak pantas kau berkata seperti itu, sudahlah jika kau tak mau ditemani oleh orang tuamu, aku panggilkan perawat untuk menjagamu. Aku mau pulang juga, permisi!" ucap Ericka kesal dengan kelakuan anak itu.
"Umur itu hanya sebuah angka, Kak. Banyak kok orang yang berhubungan dengan usia yang berjarak lumayan jauh, dan aku pikir kakak juga pasti gak terlalu tua untukku, hehe!
Btw, aku memang tak ingin siapapun yang menemaniku, tapi aku ingin kakak yang menemaniku, boleh ya.. Bidadari penolongku?" ucap Azka memohon.
Ericka benar-benar tak bisa berkata-kata dengan sikap anak bau kencur itu, sikapnya seperti orang dewasa saja, bahkan tak ada sopan-sopannya dengan dirinya.
...----------------...
Bersambung
Maaf, telat update nya 🙏