
Saat itu Reva tersedak makanan saat mendengar penuturan Ericka, dia sangat marah sekali dengan Julia. Secara tidak sadar dia sengaja memancing amarah Reva.
"Apa maksudmu, jelaskan lagi dengan benar?!" kata Reva menahan emosinya.
"Iya Kak, tadi dia datang saat aku lagi duduk di taman rumah sakit tadi. Dia nampak murung dan sedih sekali, tadinya aku tidak percaya dengannya tapi setelah aku mendengar penjelasannya, aku jadi kasihan dengannya" kata Ericka.
"Dia bicara apa padamu, sampai kamu merasa kasihan padanya? Apa kamu gak merasa ditipu, bisa saja 'kan dia berbohong demi menarik simpatimu?" ujar Reva lagi.
Ericka menghentikan suapannya, dia minum setelah itu menghela nafasnya cukup berat.
"Sebenarnya aku juga berpikir begitu kak, tapi rasanya tidak mungkin dia bukan aktor yang pandai berakting.
Aku melihat kesungguhan dimatanya, dia sepertinya sangat menderita apalagi saat kedua orang tuanya sudah tak memiliki pekerjaan." Kata Ericka, dia menghentikan sejenak pembicaraannya sebentar.
Dengan menghela napas dia hati-hati berbicara pada kakaknya, mengatur nada bicara agar kakaknya itu tidak salah faham.
"Dia meminta padaku, agar kakak bisa memahami kondisi keluarganya. Dia sudah dihukum orang tuanya Kak, dan dia juga sudah menyadari kesalahannya.
Aku juga sudah memaafkannya, dan sekarang kami sudah berteman. Kakak tidak usah khawatir lagi dengan aku sama dia. Percayalah, semua sudah berakhir" ucap Ericka pelan.
Reva menghela napas berat, dia tersenyum kecut mendengar perkataan Ericka. Sungguh adiknya ini sangat polos sekali.
"Ericka, Kakak mau tanya sama kamu. Kamu yakin percaya dengannya? Kamu yakin juga dia sejujur itu?
Kalau dia tulus ingin meminta maaf padamu, dan benar-benar merasa bersalah padamu, dia tak perlu membawa penderitaan keluarga segala.
Apalagi memintamu mengatakan hal itu kepada Kakak, secara tidak langsung dia memintamu membatalkan semua keputusan Kakak terhadap urusan pekerjaan orang tuanya." Ucap Reva kesal.
Ericka terdiam mendengar ucapan kakaknya itu, biasanya Reva memanggilnya dengan panggilan sayang, dan sekarang menyebutkan namanya langsung.
Dia tahu saat ini emosi kakaknya tidak stabil, dia memilih diam jika tidak ingin kena masalah lagi.
"Dan satu lagi Eri... Urusan usaha dan pekerjaan orang tuanya itu tidak ada hubungannya dengan kalian.
Ada atau tidak ada masalah diantara kalian, Kakak akan memberi peringatan itu kepada mereka. Mungkin dia tidak tahu, bahwa usaha ayahnya dibawah langsung perusahaan milik kita!" Tegas Reva memberitahu Ericka.
Dia ingin adiknya tahu, bahwa mereka lebih dari mereka kalau dihitung soal kuasa dan harta, tapi kalau soal hidup sesama manusia bukankah kita semua sama?
"Iya Kak, aku mengerti. Maafkan aku tidak tahu soal itu ..." ucapnya lirih.
Terlihat matanya berkaca-kaca, wajahnya tertunduk lesu. Bagaimana bisa dia sebodoh itu dan tidak tahu apa-apa?
"Eri, sayang... maafkan Kakak kalau bicaranya keras padamu, Kakak lakukan hal itu demi kebaikanmu agar kamu tidak dimanfaatkan oleh orang lain" ucap Reva sambil memeluk adiknya itu.
Dia sadar secara tidak langsung melukai hati adiknya dengan kata-katanya. Dia berusaha melunakkan nada suaranya, biar adiknya tidak kaku lagi padanya.
Dan benar saja, setelah dipeluk Reva dan mendengar perkataannya dia langsung menangis. Hati dan perasaannya sangat sensitif.
Dia mudah memberi simpati pada orang, mudah terharu dan mudah juga kecewa. Susah-susah gampang mendekati dirinya, siapapun yang bisa menyentuh hatinya maka akan mudah mendekatinya.
Dan sepertinya hal itu yang dilakukan oleh Julia untuk mendekati Ericka, dia tahu kelemahannya dan memanfaatkannya dengan baik.
Setelah selesai makan mereka langsung pulang, sepanjang jalan dia hanya diam. Berpura-pura tidur agar tak diajak bicara oleh kakaknya itu.
Dia sangat kecewa sekali dengan Julia jika apa yang dibicarakan oleh kakaknya tadi itu benar, maka dia tidak akan memaafkannya lagi.
"Bagaimana ini Non, apa Nona Ericka akan baik-baik saja?" terdengar suara bi Mirna.
"Aku rasa dia baik-baik saja, tidak mengapa dia harus banyak belajar agar mengerti bahwa dunia luar sangatlah berbahaya.
Dia juga harus tahu, jika dia terus begitu akan lebih mudah orang memanfaatkannya. Aku takkan selamanya bersama dia.
Jika aku tak ada, siapa yang akan menjaga dan menolongnya? Dia harus menjaga diri sendiri, harus mandiri agar tak bergantung pada orang lain" sahut Reva.
Niat Reva baik, agar adiknya lebih mandiri dan bisa menempatkan diri. Agar bisa menilai orang lebih baik lagi, itu semua demi kebaikannya sendiri.
Tetapi Ericka salah faham, dia mendengar percakapan mereka seolah-olah dia merepotkan dan menyusahkan orang lain saja.
"Berarti selama ini aku hanya membebani hidup Kakak? Apa Kak Reva selama ini tidak bisa pergi karena aku?
Ini sebabnya dia tak bisa melanjutkan karirnya diluar, padahal dia sangat bertalenta. Karena aku karirnya terhambat.
Dan bisa saja karena aku dia tak bisa menemukan pasangan hidupnya, karena tak bisa meninggalkan aku sendirian di rumah itu" ujar Ericka dalam hatinya.
Dia menahan tangisnya, dia tidak ingin mereka tahu bahwa dia mendengar semua pembicaraannya.
Setelah sampai, bi Mirna mencoba membangunkannya. Dia berpura-pura masih mengantuk dan langsung masuk kedalam kamarnya.
"Ada apa dengannya Bi? Apa dia mendengar percakapan kita tadi?" ujar Reva sedikit khawatir dengan adiknya itu.
"Aku rasa tidak Non, sepertinya dia memang kecapekan saja. Tadi 'kan cukup lama macetnya dijalan, sudah gak usah khawatir.
Kita bakalan tahu jika terjadi sesuatu dengannya, tenang saja yah" ucap bi Mirna menenangkan Reva.
"Baiklah Bi, tapi aku ingin istirahat sebentar disini. Aku lelah, tak sanggup menyetir sendiri." Ujar Reva berjalan gontai kearah kamarnya.
Bi Mirna mengerti dengan keadaannya, akhir-akhir ini dia sangat sibuk. Entah apa saja yang dia kerjakan selama ini, dibalik kesibukannya dia masih menyempatkan diri menemani adiknya di rumah sakit.
Seandainya Ericka tahu, apa saja yang dilakukan kakaknya selama ini, akankah dia masih berpikir seperti itu?
*
Mereka nampak terkejut melihat Reva ada di sana, ada raut ketidaksukaan mereka terhadapnya kecuali ayahnya.
"Nak, kamu ada disini? Sejak kapan, kok gak ngabarin Ayah?" ujar pak Dewantoro tersenyum.
"Dari tadi siang Yah? Tadi saat habis jemput Ericka dari rumah sakit, sekalian aku ingin istirahat disini" ujarnya tersenyum seramah mungkin.
Ia ingin menunjukkan bahwa hubungan dia dengan ayahnya itu baik-baik saja, sengaja ingin membuat trio penjahat di rumah itu marah.
Dan benar saja, mereka nampak tak suka dengan kedekatan Reva dengan ayahnya itu. Tidak lama kemudian Rendy turun ikut bergabung dengan mereka.
Ada raut kekesalan di wajah Reva ketika melihatnya, Rendy berpura-pura tidak peduli. Dan mereka semua tahu bahwa mereka berdua tidak akur.
Pricilia memanfaatkan momen itu untuk memancing keributan antar keduanya, dia melirik Pramudya dia tersenyum licik kepadanya. Dan Pramudya mengerti apa yang dimaksud senyuman licik itu.
"Reva, apa kau tahu kalau Rendy sekarang akan memimpin salah satu perusahaan Ayah? Perusahaan yang paling besar Ayah miliki" ujar Pramudya sambil menyuapkan makanannya.
"Ah, iya... maaf, Nak. Ayah tak sempat mengabari mu soal itu" kata pak Dewantoro tersenyum kaku, dia melirik tajam kearah Pramudya.
Pramudya kaget dengan respon ayah tirinya itu, dia melihat kearah Pricilia tetapi anak itu pura-pura tidak tahu.
"Tidak apa Yah, malah bagus 'kan. Setidaknya perusahaan Ayah ada yang memimpin dari darah dagingmu sendiri.
Setidaknya orang-orang tahu, bahwa masih ada garis keturunan langsung darimu" sahut Reva sambil tersenyum sinis pada Pramudya.
Pramudya merasa terpojokkan sekali, niat hati ingin membuat kakak adik itu Makin menjauh, malah dia yang yang kena. Dan sekarang ini pak Dewantoro malah tak senang dengan ucapannya tadi.
"Bukan begitu sayang, semua harta milik Ayah adalah milik anak Ayah.
Semua anak Ayah akan mendapatkan haknya, termasuk kedua saudara tirimu ini" sahut pak Dewantoro berusaha memberi pengertian kepadanya.
"Iya, Ayah benar. Tapi sayang sekali hak anak kandung tersingkirkan oleh hak anak tiri. Mereka lebih banyak mendapat semuanya dibandingkan kami semuanya." Kata Reva mulai menunjukkan emosinya.
"Jangan begitu Reva, kamu gak boleh itung-itungan dengan saudara sendiri, meskipun mereka saudara tiri tetap kalian adalah keluarga" kali ini Elena yang bersuara.
"Iya nih, lagian juga selama ini yang bantu ayah mengurus perusahaan 'kan kita. Selama ini kemana kalian?! Bisanya minta uang saja!
Kamu tuh bersyukur, ada yang bantuin ayah bekerja. Bukan hanya protes saja!" ujar Pricilia memancing keributan.
Reva berusaha menahan emosinya, dia tidak ingin ribut-ribut di meja makan ini. Tapi sayang selera makannya sudah habis, dia tersenyum melihat ketiga orang asing di rumahnya itu.
"Memang seharusnya begitu, 'kan?! Tuan atau pemilik harus menikmati kekayaannya, sedangkan babu harus bekerja dengan giat agar mendapatkan gaji yang setimpal. aku pikir gaji yang kalian terima sudah lebih dari cukup untuk mengabdi pada kami" ujar Reva tersenyum sinis pada mereka.
Kena pukulan telak dari Reva, membuat mereka tak bisa menahan emosi lagi. Elena berteriak tidak terima dianggap babu di rumah maupun di perusahaan itu.
Rendy terlihat menahan tawanya, dia senang kakaknya itu bisa membalas mereka dengan elegan. Yah, meskipun kata-kata kasarnya keluar tak terkontrol.
"Reva! Apa yang kamu katakan?! kamu tidak boleh bersikap begitu pada mereka yang selama ini membantu ayah!" ujar pak Dewantoro murka.
"O ya, kalau begitu kenapa Ayah tak meminta bantuan kami saja? Dengan senang hati kami akan membantu Ayah menjalankan perusahaan.
Tapi apa, Ayah malah tak mengikutsertakan kami dalam mengurus perusahaan. Ini bukan masalah harta dan kekuasaan Ayah, tapi masalah kepercayaan!
Kita lihat saja nanti, jika ayah bangkrut dan miskin apa mereka masih mau tinggal bersama Ayah?!
Ingat Yah, tidak semuanya dinilai dari uang dan kekuasaan. Dan satu lagi, Yayasan yang selama ini diurus Nyonya Elena ini harus beralih di tanganku.
Bagaimanapun juga, yayasan itu berdiri atas nama ibu kandungku. Mendiang yang membangun Yayasan itu sampai besar dan berkembang." Kata Reva dengan tegas.
"Apa?! Tidak akan aku berikan itu padamu! Ingat, yayasan itu bertahan dan masih ada karena aku! Aku yang mengurusnya sampai saat ini!" Teriak Elena tidak terima.
"Dasar tidak tahu malu, sampai detik ini Yayasan itu masih atas nama ibuku dan ahli warisnya adalah aku.
Bahkan surat-suratnya masih ada dan lengkap, besok aku akan memanggil pengacara dan notaris untuk membicarakan hal ini." Ujar Reva.
"Tidak semudah itu Reva, keputusan masih ada ditangan para ketua Yayasan dan para dewan Yayasan yang lainnya.
Kamu tak bisa mengambil alih seenaknya saja" geram Elena pada Reva.
"Kamu betul sekali, tapi satu hal yang kamu perlu tahu. Yayasan ini dibentuk melalui dana pribadi ibuku, semuanya ibuku yang mengatur , membuat bahkan merencanakan semua ini.
Tidak ada pihak manapun yang bisa mengintervensi ataupun menggugat atas kepemilikan Yayasan ini kecuali ahli warisnya.
Kau tahu, Yayasan ini dibuat ibuku untuk membantu orang-orang tak mampu, panti asuhan dan dana pendidikan dan kesehatan bagi warga tak mampu.
Tapi apa yang terjadi, tidak ada laporan sama sekali dana yang keluar setiap tahunnya. Padahal dana itu tidak sedikit, ada sekitar satu milyar yang keluar.
Coba kau buktikan denganku cara pengurusanmu selama ini, yang aku lihat banyak penyimpanan dana di Yayasan tersebut." Kata Reva lagi dengan tegas.
Elena terdiam, wajahnya merah padam menahan malu dan amarahnya. Dia melihat kedua anaknya mulai gelisah, takut akan terjadi sesuatu terhadap ibunya itu.
Sedangkan suaminya menatapnya tak berkedip, dia tidak tahu harus bersikap seperti apa. Selama ini dia tenang-tenang saja, mengira anak-anak tirinya itu tidak peduli dengan usaha dan yayasan itu.
Siapa mengira, selama ini Reva menyelidiki perusahaan dan yayasan milik mendiang ibunya ditangan Elena.
...----------------...
Bersambung