Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Geraldine dan Rencananya


Di rumah, Reva masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar saat ini, apa? Aku hamil? Kira-kira begitulah isi di kepalanya saat ini. Dalam hatinya dirinya senang akan memiliki buah hati, tapi disisi lain dia takut.


"Sebenarnya aku belum siap, aku takut tidak bisa menjaganya.. Masih begitu banyak pekerjaan, apa aku bisa menjaga dan melindunginya disaat seperti ini?" gumamnya sendirian.


Sedangkan sedari tadi Nico hanya memperhatikannya saja sejak tadi, dia melihat Reva yang terlihat begitu gelisah dengan raut wajah sedih itu. Dia tau apa yang dirasakan oleh Reva saat ini, dia tidak ingin Reva terus-menerus merasakan beban ataupun rasa takut yang berlebihan.


"Sayang, belum tidur? Istirahatlah.." ujarnya membuyarkan lamunan Reva.


"Emm, belum mengantuk. Udah gak begitu pusing lagi.." jawab Reva.


"Aku buatin minuman, mau? Mau apa? Susu, teh atau coklat panas?" tanya Nico khawatir.


"Tidak, aku tidak menginginkan apapun.. Aku hanya ingin istirahat sendiri saja, kamu bisa biarin aku istirahat disini sebentar saja?" tanya Reva pelan.


"Ya udah kalau mau kamu ingin begitu, istirahatlah.. Aku tinggal dulu yah" jawab Nico.


Cup!


Sebuah kecupan hangat mendarat di keningnya, dia membelai rambut Reva lembut dan meninggalkan Reva sendirian di kamar untuk beristirahat.


"Maaf ya, Nic.. Aku hanya butuh waktu sendiri saja untuk saat ini, aku begitu banyak menerima kejutan hari ini. Disaat hatiku sedih tak bisa bertemu dengan adikku, dan disaat ini juga aku mengetahui kalau aku sedang hamil.." gumamnya.


Sedangkan diluar sana, Nico juga sudah bersiap dengan berbagai rencananya. Dia begitu bahagia menerima kabar gembira ini, dia sudah mengabari Rendy jika Reva sedang hamil dan seluruh pelayan di rumahnya.


"Aku ingin mengadakan pesta kecil-kecilan untuk kami, tidak mengundang siapapun kecuali Rendy dan pacarnya. Aku ingin membuat Reva senang dengan kehamilannya ini.


Aku tak ingin melihatnya sedih begitu, dia harus tahu bahwa dia sekarang sudah menikah dan memiliki suami, jadi bebannya sudah berkurang, dia berhak bahagia.." ujar Nico kepada kepala pelayannya.


"Baik, Tuan... Kami akan siapkan pestanya, pesta yang indah buat Nyonya" jawab kepala pelayannya itu.


Sedangkan di perusahaan milik Pohan bersaudara itu, Rendy sedikit syok menerima kabar dari Nico bahwa kakaknya Reva sedang hamil saat ini, dia senang mendengar kabar gembira itu tapi dia juga sedikit khawatir mengenai kondisi kakaknya saat ini.


"Kak Reva mungkin khawatir banget sekarang, secara dia pasti takut banget mengenai kehamilannya nanti, mudah-mudahan kekhawatiran ini cepat berlalu dan semuanya baik-baik saja" gumannya..


Tring!


Tring!


Suara ponselnya berbunyi, tertera nama Nico di sana, dia mendapat kabar bahwa besok malam mereka mau ngadain pesta kecil-kecilan yang akan dihadiri oleh mereka-mereka saja, paling William, dokter Anwar dan orang-orang kepercayaan mereka saja yang diundang.


"Baik, Kak. Besok malam aku akan datang bersama Andriana, iyaaaa..." ucapnya mengakhiri telponnya.


"Ck, dasar calon bapak baru! Kayaknya dia excited banget bakal punya baby, repot bener jadi orang. Setidaknya dia sudah menunjukkan perhatian kecilnya kepada kak Reva, tidak salah aku memilihnya menjadi kakak ipar!" ujarnya bangga.


//


Sementara itu di rumah kediaman pak Dewantoro, Elena nampak pusing sekali karena tidak bisa menghubungi suaminya dan nomor Hpnya Pramudya juga tak bisa dihubungi.


"Aku harus bagaimana ini? Keuntunganku menipis sedangkan semua asetku sudah terjual habis gara-gara kebodohan Pricilia! Dua kali aku bangkrut oleh anak itu.


Pramudya juga, dia belum sempat mengembalikan keuanganku sekarang dia malah jatuh kebelakang, ada apa ini sebenarnya?! Entah mengapa aku curiga kepada anak itu, semenjak kedatangannya semuanya menjadi hancur dan kacau!


Seharusnya aku mendengarkan Pramudya, benar kata anak itu.. Gadis licik itu pasti merencanakan banyak hal, dia pasti dalang semua hal kejadian buruk yang menimpa keluargaku!" gumam Elena marah.


Wajahnya memerah, dengan nafas naik turun menahan amarah. Dia mencoba menghubungi beberapa rekan bisnis dan relasinya tapi tak ada satupun yang bisa memberikannya pinjaman, bahkan beberapa bank menolaknya.


"Sialan! Kemana aku harus pergi?! Ah, aku harus menghubungi beberapa teman sosialitaku, mereka pasti mau menolongku! Karena aku sudah banyak membantu mereka, apalagi suami-suami mereka aku yang bantu dalam segala hal!" ucapnya bersemangat.


"Sorry, Jeng! Aku gak bisa, ekonomiku juga lagi turun nih!"


"Maaf, ya Mbak.. Anakku lagi kuliah di luar negeri, lagi butuh uang banyak"


"Aku juga lagi dikejar-kejar debt kolektor, mbak!"


"Maaf, anda siapa yah?!"


Begitulah beberapa jawaban dari beberapa teman sosialitanya, mereka pura-pura lupa atas bantuannya selama ini. Elena sangat marah dan kecewa sekali dengan mereka, karena semuanya menjauh ketika dia membutuhkan.


Biasanya mereka selalu mengekor dirinya kemanapun dia pergi, dan sekarang mereka merasa tak mengenalnya. Beginilah jika pertemanan diawali dengan bisnis dan hanya untuk saling memanfaatkan saja.


"Menyesal aku membantu mereka selama ini!" ujarnya kesal.


//


//


Membuat Geraldine jengah dengan sikapnya itu, karena berpengalaman dalam hal itu dia tahu apa yang ada diisi pikiran Pramudya saat ini. Dia berniat ingin memberi pelajaran kepada lelaki me.sum itu, dan buatnya kapok.


"Pram, nanti sore kamu pulang bareng saya. Saya perlu bantuanmu untuk mengambil beberapa pesanan barang.." kata Geraldine kepada Pramudya.


"I-iya, Bu!" sigap Pramudya sumringah dengan ajakan Geraldine, yang dia pikir pesonanya sudah sampe kepada bosnya itu.


Sorenya, Geraldine bersama Pramudya pergi kesebuah rumah usaha homemade di daerah yang cukup jauh dari perkantoran itu.


"Sorry ya Pram.. Saya lebih memilih naik mobilmu, karena mobil saya lagi di servis tadi siang" ujar Geraldine sambil tersenyum menggoda.


"Tidak apa, Bu. Saya malah senang bisa bantu ibu!" jawab Pramudya semakin tertarik dengan senyuman yang dibuat oleh Geraldine.


Awalnya Pramudya membawa mobil itu, setelah sampai dan mengambil beberapa barang, mereka langsung kembali lagi. Pramudya yang sudah kelelahan dari siang hingga malam ini mengerjakan pekerjaan berat, tak sanggup menyetir mobil.


"Biar saya saja yang bawa, kamu istirahat saja, kalau sudah sampai saya bangunkan" ucap Geraldine lagi.


Entah karena faktor kelelahan atau apa, dia malah keterusan tidurnya. Kini mereka sudah sampai di kantor lagi, Geraldine meminta bantuan para security untuk membawa barang-barangnya kedalam gudang, sedangkan Pramudya ditinggal sendiri didalam mobil.


Cukup lama baginya menunggu lelaki itu bangun, tapi anak itu tak bangun-bangun karena kelelahan. Akhirnya Pramudya dipindahkan kedalam lobby dan ditidurkan diatas sofa tunggu di sana, Geraldine membawa mobilnya pulang untuk beristirahat.


"Pelan-pelan saja, jangan terlalu gragas buat ngerjainnya. Agar dia tak sadar jika selama ini dipermainkan saja" gumamnya sambil menatap sinis kearah Pramudya.


Selagi ada didalam mobil Pramudya, Geraldine menghubungi mantan bosnya dulu dan juga temannya. Rendy langsung memintanya untuk mengeledah isi mobil itu, siapa tahu ada sesuatu yang bisa dijadikan senjata untuk menghancurkan hidup anak itu.


"Ren, gw nemuin flashdisk. Gak tau apa isinya, bagaimana?" tanyanya menunggu keputusan Rendy.


"Kamu ambil dan lihat ada apa didalamnya, jika ada yang bisa dijadikan untuk melawannya, ambil dan simpan. Jangan sampai dia sadar jika telah kehilangan sesuatu.


Ingat, buat serapi mungkin dan buat seolah-olah mobilnya tak terjamah sama sekali" ujar Rendy.


"Baik, bos! Btw, apa kabarmu! Suasana kantor benar-benar membosankan semenjak tak ada kamu dan Andriana, apalagi ada beberapa direksi dan pemimpin perusahaan lainnya banyak yang keluar karena tak setuju kepemilikan Pramudya.


Tapi setelah Bu Ericka datang, semuanya nampak berubahn! Para direksi dan pemimpin yang lama kembali lagi, sedangkan para direksi bawahan Elena sau persatu mereka dieksekusi oleh bu Ericka.


Apalagi sekarang beliau sedang banyak merencanakan sesuatu yang besar untuk perkembangan perusahaan ini, aku yakin perusahaan ini akan kembali berkembang pesat seperti dulu.


Aku tidak tahu, kalian bersaudara memiliki gen apa sampai punya otak begitu brilian bisa membuat sesuatu yang biasa menjadi tak ternilai harganya," ujar Geraldine berdecak kagum dengan kepemimpinan Ericka dan saudara-saudaranya itu.


"Haha! Kau terlalu tinggi menilai kami, ini semua atas bentukkan kakak kami yaitu kak Reva. Dia yang membuat kami menjadi kuat seperti ini, agar kami bisa mandiri dan maju dengan usaha sendiri tanpa bantuan siapapun.


Yah, aku tau.. Apapun yang akan kami lakukan pada perusahaan itu, kami takkan menikmati hasilnya. Tapi tak apa, kami hanya ingin membuktikan bahwa kami bisa berguna juga, dan kami lebih baik daripada para parasit itu" sahut Rendy lagi.


"Iya, aku tau! Ya sudah, aku mau lanjut pulang dan mengecek ada didalam flashdisk ini!" ucap Geraldine.


"Oke, tiati di jalan yah" sahut Rendy lagi.


Didalam hatinya masih bersyukur masih ada orang-orang baik yang mau membantu mereka, sedangkan Geraldine sangat salut dengan Rendy dan saudara-saudaranya.


"Seandainya aku bisa dan bisa hidup normal seperti yang lain, aku pasti sudah jatuh cinta kepadanya.. Tapi itu tak mungkin dan mustahil itu bisa terjadi" gumamnya.


Ckiit!


Tiba-tiba saja mobilnya mengerem mendadak, entah dia melamun atau mobil didepannya datang begitu saja, dia hampir saja mengalami kecelakaan.


"Hoii!" teriaknya sambil menurunkan kaca jendela mobil itu.


Didepannya, mobil hitam Audi A6 yang berhenti itu turun seorang lelaki tampan dan sangat maskulin sekali datang menghampirinya.


"Sorry, aku gak sengaja! Jalanan begitu licin sehingga aku tak bisa mengontrol arah laju mobilku, kamu gak apa kan?" tanya lelaki itu kearah Geraldine sambil menatapnya didepan jendela mobilnya.


"Ti-tidak, aku tidak apa-apa!" jawabnya gugup, lalu langsung pergi meninggalkan lelaki itu yang masih terbengong melihat kecantikannya.


"Gila! Segitu gantengnya dia sampai aku gak bisa berkedip melihatnya, akh! Aku yakin tadi hanya sebatas kekagumanku saja. Bukan karena aku sudah 'sembuh'!" gumamnya sambil sesekali menggelengkan kepalanya.


"Gadis cantik, aku yakin bisa mendapatkanmu! Jangan sebut namaku William jika tak bisa membuat wanita sepertimu jatuh cinta kepadaku" gumam lelaki itu, dan ternyata William.


...----------------...


Bersambung