
Dilain tempat, di sebuah daerah yang tidak terlalu jauh dari ibukota di sanalah pak Dewantoro menempatkan Pramudya berada. Lelaki paruh baya itu mengurung anak tirinya itu kesebuah rumah sakit jiwa, yang menurutnya lebih aman dan lebih baik juga buatnya maupun buat Pramudya sendiri.
"Ini adalah tempat terbaik untuk saat ini, aku harap kau baik-baik saja disini. Jadilah anak baik dan jangan menyusahkan ku lagi" gumam pak Dewantoro sambil memperhatikan Pramudya.
Lelaki muda itu hanya diam saja, tatapannya kosong. Kejadian malam itu membuatnya trauma dan tak bisa melupakannya, hingga pagi itu membuat dirinya hancur dipermalukan dimuka umum, bagaimana tidak saat dia bangun otongnya yang masih tersisa sedikit buat pipis doang kini rata seketika mirip dengan milik kelamin wanita.
Harga diri hancur, dipermalukan, dicemooh, dan sakitnya disiksa oleh ketiga wanita jal*ng itu membuatnya sangat menderita.
"Mungkin ini adalah balasan bagiku yang selama ini mempermainkan wanita, sekarang malah aku jadi mainan mereka. Seketika fisikku berubah, kini tak memiliki identitas. Apakah aku lelaki atau wanita, hahaha! Lucu sekali!" gumam Pramudya dalam hati.
Dia tertawa terbahak-bahak mentertawakan dirinya sendiri, membuat semua orang yang ada di sana heran bercampur miris melihat keadaannya sekarang.
"Bapak percayakan saja anak ini kepada kami, rumah sakit ini akan memberikan pelayanan dan pengobatan yang terbaik untuk putra Bapak.." ucap dokter rumah sakit itu.
"Dia bukan putraku! Baiklah, aku percaya kepada kalian. Jika terjadi sesuatu atau ada perlu apa mengenai anak ini hubungi saja aku, aku akan mentransfer uang untuk kebutuhannya disini" ucap pak Dewantoro.
"Baiklah, Pak.." sahut sang dokter.
Mereka menatap pak Dewantoro dengan heran karena pengakuan tadi, mereka pikir pak Dewantoro tak mengakui Pramudya anaknya karena dia malu memiliki anak sakit jiwa.
Tapi yang sebenarnya itulah yang terjadi, Pramudya memang bukan anak kandungnya, melainkan anak tirinya, anak dari Elena dan mantan suaminya.
.
.
Pak Dewantoro sampai di rumahnya sudah menjelang pagi, setelah mengantar Pramudya dia langsung pulang ke rumahnya yang memakan waktu cukup lama itu. Dia nampak kelelahan sekali dan ingin beristirahat saja.
Saat dia ingin masuk kamarnya, dia sedikit terkejut karena kamarnya di kunci. Awalnya dia pikir kamarnya dikunci dari dalam oleh Elena.
Tapi pas dia ketuk kamar itu dan memanggil nama istrinya, dia hanya mendengar suara Isak tangis saja dari dalam kamar itu, karena khawatir dia mendobrak kamar itu dan berusaha membuka paksa pintu, mendengar suara keributan dari rumah tuannya, para pengawal masuk dan ingin melihat apa yang terjadi.
Mereka semua terdiam tidak tahu harus berbuat apa, karena melihat pak Dewantoro mendobrak pintu kamarnya itu, sedangkan mereka dalam dilema antara perintah Ericka untuk tidak membuka pintu itu, atau pak dewantoro selaku tuan besar rumah itu.
"Kenapa kalian bengong saja?! Ayo buka pintu ini!" teriak pak Dewantoro kesal.
"Maaf, Tuan.. Tapi kami tak bisa" jawab salah satu dari mereka.
"Tidak bisa kenapa?! Didalam sini ada nyonya besar kalian terkunci! Cepat buka pintunya!" bentak pak Dewantoro marah.
"Tapi, Tuan.." mereka tidak tahu harus berbuat apa.
"Lakukan!" bentak pak Dewantoro terlihat marah sekali.
Mereka tak bisa membantah lagi selain menuruti perintah dari tuannya, saat mereka membuka pintu kamar itu mereka dikejutkan oleh suara Ericka yang mencegah mereka.
"Apa yang kalian lakukan?! Bukankah sudah kubilang untuk mengurung wanita itu dan tak boleh ada yang membuka pintu kamarnya?!" bentak Ericka marah.
"Aku yang memerintahkan mereka" jawab pak Dewantoro dingin.
Dia langsung menyambar kunci ditangan pengawal tadi dan langsung membuka pintu kamarnya, dia sangat terkejut saat melihat Elena jatuh tergeletak dilantai kamarnya.
"Elena, sayang!" teriaknya sambil menghambur kedalam.
"Kenapa kalian diam saja, cepat bantu aku membawa nyonya ke rumah sakit!" perintah pak Dewantoro ke pengawalnya.
Dengan sigap para pengawal itu menjalankan perintah sang tuan, ada yang membantu pak Dewantoro mengangkat Elena kedalam mobil dan ada yang menelpon rumah sakit untuk menyiapkan kamar inap untuk sang nyonya.
"Kau lihat apa yang kau lakukan?! Ibumu sampai jatuh pingsan begitu terkurung didalam kamar, apa kau tak punya hati nurani, hah?!" bentak pak Dewantoro marah.
"Pertama dia bukan ibuku, kedua dia tak pingsan hanya pura-pura untuk mengambil simpatimu, ketiga dia itu penjahat karena hampir membunuh orang" dengan tenang Ericka menjelaskan itu semua.
"Omong kosong apa itu?!" bentak pak Dewantoro tak terima.
"Itulah faktanya, tapi kau harus menerima kenyataan yang sebenarnya. Ayah harus jaga istrimu itu dengan benar, jangan sampai dia melakukan sesuatu yang merugikanmu" ucap Ericka lalu pergi meninggalkan dirinya yang masih terdiam.
"Kurang ajar, anak tidak tahu diri! Mentang-mentang aku menerimanya di rumah ini, dia menjadi ngelunjak seperti ini!" geramnya.
Pak Dewantoro tak bisa beristirahat pagi itu dia langsung membawa Elena ke rumah sakit, dengan perasaan kesal dan marah dengan Ericka, dia juga merasa khawatir dan takut kenapa-kenapa kepada istrinya itu.
"Sialan, aku pikir dia akan membiarkan aku sendirian disini! Ternyata dia malah tiduran disini!" geram Elena dalam hati melihat pak Dewantoro ketiduran diatas sofa didalam ruang inap Elena itu.
Dia tidak tahu jika suaminya dari kemarin siang tidak beristirahat dan makan pun tidak pas waktunya, bahkan untuk tidurpun dia tak punya waktu karena sibuk mengurus Pramudya, tapi Elena malah berburuk sangka padanya.
Dengan hati-hati dia turun dari ranjang rumah sakit itu, dia memakai sendalnya dan membuka pintu kamar dengan sangat pelan, ia sempat terkejut melihat pak Dewantoro menggeliat, dia pikir lelaki paruh baya itu akan bangun, ternyata tidak.
Elena menghela nafasnya dengan lega, dia keluar kamar itu dengan perasaan gugup dan berjalan menyusuri koridor rumah sakit untuk keluar dari sana, dia terkejut melihat dokter dan perawat berjalan kearahnya, dia buru-buru mencari tempat untuk bersembunyi.
"Sial, aku harus cepat keluar dari tempat ini!" gumamnya.
Dia tak sengaja bersembunyi disalah satu ruangan dokter dan melihat jas dokter tergantung, Elena langsung menyambar jas itu dan memakainya untuk menutupi pakaiannya.
Saat dia ingin keluar dari rumah sakit itu, tak sengaja ekor matanya melihat Reva bersama Rendy di rumah sakit itu, dia tidak tahu jika Reva sedang hamil. Rendy membawa kakaknya ke rumah sakit karena mengeluh perutnya mendadak kram.
"Dua anak tak tahu diri ini ada disini, apa yang mereka lakukan disini?! Apa mereka tahu tentang diriku? Apa mereka ingin mengolok-olokku?! Dasar kurang ajar, takkan kubiarkan mereka merendahkan aku!" gumamnya marah.
Dengan perasaan yang marah, dia tak bisa mengendalikan emosinya dia melihat ada alat medis terletak diatas troli dekat meja jaga perawat didekatnya, dan langsung mengambil gunting dan berlari kearah Reva.
Bruk!
Elena terjatuh saat sedang berlari kearah mereka, karena ia tak sengaja tersandung gunting ditangannya tak sengaja menusuk perutnya sendiri.
"Akkh!" teriaknya sendiri.
Melihat itu semua orang yang ada di sana heboh, dokter dan perawat yang ada di sana langsung membawanya untuk memberikan pertolongan kepadanya. Sedangkan Rendy dan Reva hanya melihat miris saja, bahkan mereka tidak tahu jika itu Elena.
"Kasihan, pasti sakitnya parah sampai putus asa begitu ingin bunuh diri.." ujar Rendy melihatnya miris.
"Nah, Kak.. Kakak seharusnya bersyukur jangan ngeluh mulu!" sambungnya lagi kepada Reva.
Plak!
"Dasar, bocah! Siapa yang gak bersyukur, ini lagi meriksain si dede biar gak rewel mulu diperut mamanya" sahut Reva kesal dengan adiknya itu.
"Dia rewel karena kangen papanya.." sahut Rendy hati-hati.
Reva diam saja, dia tak menggubris ucapan Rendy. Dia hanya belum bisa menerima kenyataan jika Nico selama ini menyimpan sebuah rahasia besar tentang keluarga mendiang ibunya dan masa lalu ibunya itu.
"Kak, mau sampai kapan ngambeknya?" tanya Rendy lagi.
"Kenapa? Kau tak suka aku ada di sana? Ngerepotin yah?!" bentak Reva kesal.
"Iya, kebangetan malah!" sahut Rendy santai.
Melihat itu Reva makin dibuat keki ulah adiknya itu, Rendy malah terus menggoda kakaknya itu agar tak marah-marah terus. Maklum lagi hamil mood nya sering berubah-ubah, dan lebih sensitif perasaannya.
Sementara itu Elena langsung dibawa ke UGD, dia mengerang kesakitan menahan luks tusuk yang dibuatnya sendiri, dia merutuki diri sendiri karena kebodohannya itu.
"Sial, seharusnya bocah itu yang seperti ini tapi kenapa aku malah yang terluka!" jeritnya dalam hati.
Sementara itu pak Dewantoro terbangun dan tak melihat istrinya ada di kasurnya, dia panik dan mencari Elena ke seluruh tempat, dan dia bertanya kepada salah satu perawat tentang keberadaan istrinya itu.
"Maaf, Pak kami tak melihat istri Bapak. Permisi.." ucap perawat itu.
"Menurut security ibu itu bukannya mau bunuh diri, tapi malah sebaliknya. Dia mengambil gunting medis dan berlari menuju arah ruangan dokter yang lagi jaga" terdengar oleh pak Dewantoro suara-suara orang yang sedang membahas sesuatu.
"Betul, padahal diruangan itu lagi ada dokter dan pasiennya. Pasti dia ingin mencelakai mereka, tapi karma buatnya belum niatnya terlaksana sudah dibalas duluan ama malaikat!"
"Iya, mudah-mudahan setelah ini dia tobat dah! Udah tua juga, ish!" ucap mereka yang sedang membicarakan Elena itu.
Mendengar hal itu perasaan pak Dewantoro tak menentu, pikirannya jauh ke Elena, dia takut orang yang mereka bicarakan adalah istrinya, dia teringat kembali ucapan Ericka bahwa Elena hampir membunuh orang.
"Aku harus mencari tahu!" gumamnya khawatir.
Saat dia menuju ruang UGD itu, dia tak sengaja melihat Reva dan Rendy yang hendak keluar itu. Perasaan rindu kepada anak-anak itu hampir membuatnya melupakan tentang istrinya.
"Apa mereka masih mau menemuiku?" gumamnya sedih..
"Maaf, Nak.. Tapi ayah harus menjaga Elena, kini dia sendirian karena anak-anaknya sudah tak bisa diandalkan lagi" gumam pak Dewantoro sambil berlalu meninggalkan bayangan-bayangan anak-anaknya itu.
...----------------...
Bersambung