
Sementara itu, Reva masih bingung harus memulai darimana. Dia tidak ingin dikecohkan lagi oleh Elena, dia harus lebih maju dari langkah-langkah Elena.
Dia memikirkan sebuah ide cemerlang untuk membalas wanita jahat itu, dia tersenyum licik dengan ide gilanya itu.
"Lihat saja nanti, apa yang harus aku perbuat kepadamu, wahai nenek sihir!" gumamnya sendirian.
Sedangkan Rendy melakukan sebuah pertemuan dengan seseorang, kebetulan waktunya makan siang dia minta ditemani oleh Andriana untuk menemui orang itu.
"Selamat siang, Pak. Perkenalkan nama saya Rendy dan ini sekretaris saya Andriana. Bapak bisa percaya kepadanya juga, saya yakin dia bisa menjaga rahasia dan misi kita ini" kata Rendy memperkenalkan dirinya dan Andriana.
"Siang juga, Pak. Saya Haris Kurniawan mantan manajer mendiang bu Larasati, ibunya Pak Rendy. Saya yakin Bapak sudah tahu identitas saya sebelumnya, seperti yang kita bicarakan ditelpon sebelumnya saya masih banyak memegang berkas-berkas dan dokumen milik mendiang ibu Larasati." Ujar pak Haris.
Sebelumnya Rendy memang sedang mencari orang-orang kepercayaan ibunya dulu, dan orang-orang yang masih setia dan loyal kepada ibunya dulu.
Dia berhasil mengumpulkan data-data mereka dan menghubunginya juga, mereka masih begitu setia dan loyal kepada keluarga itu meskipun mendiang Larasati sudah tiada.
Hanya saja Elena mengusir dan memecat mereka bahkan ada yang ditugaskan ditempat yang jauh agar tak lagi berhubungan dengan keluarga Larasati terutama anak-anaknya. Karena dia tahu, anak-anak itulah yang nantinya akan mengambil alih semuanya.
Tetapi tidak banyak yang mau kembali ke perusahaan itu karena trauma disebabkan oleh Elena, dia mengancam mereka akan terus meneror keluarga mereka jika ikut campur urusannya.
Tapi Rendy telah berjanji bahwa dia dan kakaknya akan merubah segalanya, dan akan mengembalikan semua masa kejayaan perusahaan seperti dulu saat mendiang ibunya masih ada.
"Jadi, Pak. Saya sudah berhasil mengumpulkan beberapa orang yang mau bergabung kembali ke perusahaan dan yayasan, saya serahkan itu semua ke Bapak.
Saya minta Bapak merekrut karyawan-karyawan baru yang bisa di percaya, setia dan loyal atas kepemimpinan saya dan kakak saya nantinya.
Mungkin kami agak berbeda dengan mendiang ibu, tapi kami akan usahakan semuanya berjalan dengan adil dan jujur. Kesejahteraan karyawan dan keluarganya akan terjamin penuh.
Saya minta ke pada Bapak, agar bisa menyakinkan mereka kembali untuk bisa mempercayai kami semua. Dan bantu kami membuang, mengusir dan menjatuhkan orang-orang yang berbuat onar dan seenaknya saja di sana.
Mari kita usir bersama-sama para tikus-tikus itu!" ujar Rendy bersemangat.
"Merdeka!" tiba-tiba saja Andriana berdiri dengan semangatnya meneriakkan simbol kebebasan itu.
Spontan Rendy dan pak Haris menatapnya bingung dengan apa yang dia lakukan, Andriana sadar dia terlalu bersemangat mendengar pernyataan bosnya tadi.
Dia duduk dengan malu-malu membuat Rendy jadi malu juga dibuatnya, dia berusaha sesantai mungkin didepan pak Haris. Dia menyenggol kaki Andriana cukup keras.
"Ngapain kamu teriak kayak gitu?! Malu-maluin aja" katanya sambil berbisik kepada Andriana.
"Maaf, Pak. Keceplosan, hehe!" ujarnya nyengir sambil garuk-garuk kepala tidak gatal itu.
"Saya percaya kepada Pak Rendy dan bu Reva, termasuk dengan Nona Andriana. Wah, saya jadi tambah bersemangat mendapat pencerahan dan semangat membara dari Nona Andriana tadi!
Baiklah, Pak. Jangan khawatir semuanya pasti akan aman terkendali, aku yakin mereka semua akan tetap setia dan loyal kepada anda" kata pak Haris sambil menjabat tangan Rendy dengan kencang dan semangat juga.
Rendy melongo dengan perkataan pak Haris yang begitu bersemangat karena Andriana, dia menoleh kearah Andriana yang nampak begitu percaya diri ketika namanya disebutkan.
"Gimana, ampuh kan? Kadang kala semangat seperti itu harus dilakukan untuk memacu adrenalin seseorang" ujarnya nampak pede sekali.
Rendy menggeleng-gelengkan kepalanya tanda heran dengan kelakuan sekretarisnya itu, tapi meskipun begitu dia dapat diandalkan karena bisa melakukan apa saja yang diperintahkan.
Meskipun kadang-kadang kelakuannya aneh dan cuek, karena sikapnya itulah yang membuat jantungnya selalu jedag-jedug gak karuan.
"Iya, Pak. Terima kasih sudah mau bergabung kembali, dan saya agak risih kalau dipanggil Bapak sama yang lebih tua dari saya. Panggil nama saja, pak. Lebih nyaman" ujar Rendy mencoba lebih mengakrabkan diri.
"Tidak bisa, bagaimanapun juga kalian itu atasan saya meskipun kalian lebih muda dari saya. Itu disebut sopan santun.
Jika Pak Rendy tak ingin dipanggil Bapak, saya panggil Mas saja gimana? Bagus toh, kecuali dijam kerja atau di kantor saya tetap memanggil Mas Rendy dengan sebutan Bapak, biar jadi panutan karyawan yang lain dan tetap menghormati Mas Rendy sebagai atasannya." Ujar pak Haris bijak.
"Boleh juga begitu, Pak. Saya setuju" ujarnya tersenyum ramah.
Setelah itu mereka kembali lagi ke kantor untuk bekerja lagi, tapi mereka masih tidak menyadari jika selama ini pak Dewantoro selalu mengawasinya.
Dia senang Rendy memiliki antusiasme dalam bekerja dan mempunyai ambisi yang sama sepertinya, dia tak peduli jika anak-anaknya sibuk menjalani bisnisnya masing-masing yang penting tidak menggangu bisnisnya dan pekerjaan di perusahaan-perusahaannya.
Dia hanya ingin tahu saja apa yang dilakukan oleh mereka selama ini, selayaknya seorang ayah yang selalu mengawasi anak-anaknya. Bukan karena kasih sayang, tetapi ini soal masalah bisnisnya saja. Egois bukan?
//
Di sebuah butik termahal di sebuah Mall besar di kota Jakarta, Reva sedang berjalan-jalan melihat semua koleksi pakaian yang dipajang di sana.
Semuanya barang branded dengan harga fantastis, untuk ukuran orang-orang biasa takkan mampu memiliki barang-barang seperti itu.
Reva tertarik dengan satu set pakaian beserta aksesorisnya yang dipajang di manekin didepan toko itu, dia sedang mengamatinya dengan kagum.
"Permisi, Nona. Ada yang bisa saya bantu?" salah satu pelayan toko itu menghampirinya dengan sopan.
"Saya tertarik dengan pakaian yang dipajang di manekin ini, apa kalian memiliki stok yang lain?" tanya Reva.
"Oh ada, Nona. Kami masih memiliki dua set pakaian lagi dengan warna yang berbeda, mari saya perlihatkan kepada anda koleksi kami yang ini" jawab pelayan itu.
Reva mengikuti pelayan itu dengan perasaan senang, setelah berputar-putar mengelilingi mall itu akhirnya dia menemukan juga pakaian yang dia inginkan.
Pelayan toko itu memperlihatkan kepada Reva pakaian yang diminatinya itu, dua pakaian dengan warna yang berbeda satu pakaian berwarna kombinasi antara hitam dan merah, dan satunya lagi kombinasi warna hijau dan putih.
Tentu saja Reva memilih warna kesukaannya, yaitu warna kombinasi hitam dan merah. Baru saja dia ingin mengambil pakaian itu tiba-tiba saja ada tangan lain yang menyambar pakaian itu dengan cepat.
"Aku ambil pakaian ini, cepat bungkus aku sedang terburu-buru!" ujar wanita itu.
Seorang wanita memakai pakaian sangat terbuka dan seksi berdiri di samping Reva dan pelayan itu, dia tak peduli dengan tatapan mereka yang tak suka.
"Maaf, Nona. Pakaian ini sudah dipesan oleh Nona ini" ujar pelayan tadi.
"Tapi aku lebih dulu memegangnya, sudahlah! Kan ada satunya lagi, dia beli yang itu saja!" katanya ketus, dia sibuk dengan Hp ditangannya tanpa menoleh kearah lawan bicaranya.
"Sombong sekali gaya bicaranya, akan aku ingat wajahnya ini!" gumam Reva dalam hati.
Pelayan wanita itu nampak gugup dan merasa tak enak dengan Reva, tapi respon Reva biasa saja dan membiarkan wanita itu mengambil pakaian pilihannya.
Reva mengambil pakaian dengan kombinasi hijau putih, dia pikir ini tidak buruk kok tinggal dikombinasikan dengan aksesoris yang tepat, maka pakaian itu akan terlihat indah dipakainya nanti.
"Nah, gitu dong! Kan cocok dengan situ pakaiannya, jangan yang saya punya. Gak pantes buat kamu, ini nih cocoknya buat wanita-wanita berkelas seperti saya" ujar wanita itu, terlihat dari caranya bicara dan sikapnya.
Ini tipikal anak mama yang manja, yang setiap keinginan harus terpenuhi. Saat ini mereka didepan meja kasir dan siap membayar belanjaan mereka.
"Total semuanya 250 juta rupiah, Nona termasuk dengan aksesorisnya" ujar petugas kasir memberikan bill kepada wanita itu.
"Mahal banget sih, belanja begini doang harga sampai ratusan juta" ucap wanita itu ngedumel.
Reva berdecak heran dengannya, gayanya sosialita memakai pakaian serba branded tapi tak mampu membayar pakaian itu, apalagi gaya bicaranya yang sombong itu seolah memiliki segalanya.
Wanita itu melihat kearah Reva, dan Reva berpura-pura tidak peduli, wanita itu mendengus kesal. Dia mengeluarkan kartu kreditnya.
"Maaf, Nona. Nominal di kartu anda tidak mencukupi untuk membayar pakaian ini" kata petugas kasir itu.
"Masa sih? Coba pakai yang ini" katanya lagi memberikan kartu yang lain.
Tapi tetap tidak bisa, malah kartu itu dinyatakan limitnya kosong. Wanita itu nampak begitu gusar, memeriksa uang didompetnya juga masih kurang.
"Sayang, bisa kemari tidak? Aku belanja tapi uangnya tidak cukup, kartu kredit yang kau berikan waktu itu malah kosong, kamu lupa transfer lagi yah?!" ujar wanita itu dengan suara sedikit dimanjakan.
Membuat Reva geli mendengarnya, dia sedikit menahan tawanya melihat tingkah wanita itu dengan segala keangkuhannya.
Wanita itu masih menunggu pacarnya untuk membayarkan belanjaannya, tibalah waktunya Reva yang membayar.
"Sial, aku lupa bawa kartu kreditku lagi. Mana cuma bawa kartu kredit premium yang jumlah limitnya tak sampai seharga barang ini lagi.
Uang tunaiku juga gak mungkin, ini mah cukup buat beli bakso doang" gumam Reva sambil menghitung uang tunai yang berjumlah sekitar 25jutaan.
"Rendy, kirimkan aku uang. Aku lupa bawa kartuku lagi" ujar Reva dengan santai.
"Haha! Ternyata sama, gak ada uang juga lo?! Minta kirimin dengan siapa, selingkuhnya yah?! Haha!" wanita itu mulai memancing kemarahan Reva.
"Bukan, dia adikku" jawab Reva dingin.
"Alah, semua awalnya juga begitu. Ngakunya teman, ngakunya adik, tau-taunya ajep-ajep! Haha!" wanita itu sudah keterlaluan sekali bicaranya.
"Siapa itu, Kak. Lancang sekali bicaranya!" geram Rendy, ternyata dia mendengar suara wanita gila itu dari saluran telpon yang masih tersambung itu.
"Biarkan saja dia, aku lelah harus meladeni wanita seperti itu. Bukan levelku" ujar Reva sambil menatap sinis wanita didepannya itu.
"Ya sudah, aku transfer nanti uangnya" ujar Rendy kesal, dia masih memikirkan kakaknya dengan orang yang di sana.
Dia tak mengkhawatirkan kakaknya, tapi dia mengkhawatirkan orang itu kalau kakaknya sedang marah atau emosi sedikit saja, maka orang itu pasti akan dibuat trauma seumur hidupnya.
"Bagaimana ini?" gumamnya gelisah.
Dia mengirimkan uangnya ke kartu kredit Reva dengan jumlah fantastis, tapi tidak cukup dengan itu saja dia juga meminta Andriana untuk menemui kakaknya sambil memegang kartu kredit miliknya.
Kebetulan kantornya tidak jauh dari letak mall itu, sehingga tidak memakan waktu lama Andriana menuju ke sana.
Balik lagi ke Reva, dia sudah jengah dan panas telinganya mendengar ocehan wanita itu, dia tarik rambut wanita itu sekuat mungkin dan meraup mulut wanita itu memakai tisu.
"Jijik kali aku dengan mulutmu itu, pakai tisu aja rasanya masih lengket nih tangan abis pegang mulutmu yang penuh kotoran itu!" kata Reva dengan ketus.
Setelah itu dia melepaskan rambut wanita itu, dan menaruh sisa tisu ditanganinya ke tempat sampah.
"Seharusnya orangnya juga ditaruh disini" ujar Reva santai.
Kelakuannya menarik perhatian para pelayan yang di sana, mereka senyum-senyum melihat tingkahnya. Wanita itu merasa malu dan terhina sekali.
"Dasar wanita jal*ng! Apa yang kau lakukan, hah?!" dia mencoba meraih rambut Reva, tapi Reva tak kalah cepatnya dia menghindari wanita itu.
Wanita itu tergelincir dan terjatuh wajahnya terjerembab masuk ke tempat sampah, spontan semua orang yang di sana menertawakannya.
"Sayang!" seorang pria yang sudah berumur berbadan tambun menghampirinya dan membantu wanita itu membersihkan diri.
"Kamu kemana saja, kenapa lama sekali?!Huu, aku malu mereka menertawakanku. Dan wanita licik itu jahat padaku, huuu!" wanita itu menangis manja didepan pacarnya yang sudah tua itu, lebih pantas jadi bapaknya saja.
"Sudah, sudah! Aku bayar dulu barang-barang belanjaanmu, nanti kita pergi dari sini dan wanita itu kita balas nanti" kata lelaki tua itu.
Ketika dia menerima bill belanjaan wanita itu dia terkejut karena sangat mahal, sedangkan yang dibeli cuma satu stel pakaian dan beberapa aksesorisnya saja.
"Jangan bilang kamu gak ada uangnya?!" ujar wanita itu menatap lelaki itu tajam.
"A-ada kok, tenang saja" kata lelaki berusaha bersikap tenang tapi jelas sekali dia merasa pusing juga dengan jumlah nominal belanjaan wanita itu.
"Dan kau wanita jal*ng, awas yah kalau ketemu nanti!" ancam wanita itu kepada Reva.
"Sudah, sudah... Ayo kita pergi" ucap lelaki tua itu mencoba menenangkannya.
Dia menoleh kearah Reva dan mengedipkan matanya ingin menggodanya, Reva bergidik ngeri melihatnya.
Sementara itu, disalah satu sudut toko yang di sana ada seseorang yang sedang memperhatikannya.
"Apa kabar, Reva. Sudah lama tak bertemu, apa kau merindukanku?" gumam seorang lelaki berwajah maskulin menatap Reva dari kejauhan dengan wajah sendu.
...----------------...
Bersambung