
"Maaf, aku tak sempat melamarmu dengan baik, dan tak bisa memberikan acara pernikahan yang layak untukmu. Tapi setidaknya aku sudah memilikimu dengan seutuhnya...
Bangunlah sayang, kita akan mengadakan pesta mewah yang akan kita kenang seumur hidup, yang bisa kita ceritakan dengan bangga kepada anak-anak kita nantinya" ucap Nico sambil membelai rambut wanita yang sudah menjadi istrinya itu.
Semenjak dia sudah di sah kan dalam sebuah pernikahan pagi tadi, dia tak mau berpisah dengan istrinya itu. Dia meminta para asisten dan manajernya yang lain untuk mengurus perusahaan.
Dan membiarkan Rendy untuk beristirahat di rumahnya, di apartemen tepatnya. Tapi anak itu bukannya beristirahat dia malah mulai menyusun rencana untuk pembalasannya.
Di apartemen itu, dia bersama Andriana. Dia meminta dirinya untuk membantu membereskan barang-barang milik Reva yang akan di angkut ke rumah Nico nantinya.
"Maaf yah, aku selalu merepotkan kamu.." ucapnya tak enak hati dengan Andriana.
"Tidak apa, aku senang bisa melakukan semua ini" ucap Andriana tersenyum.
"Kau, tak apa ikutan keluar dari perusahaan itu? Aku takut kau kena dampaknya juga.. Kau tahu kan, kalau ayah yang membawamu kesini" kata Rendy.
"Sebenarnya sayang banget harus keluar dari sana, aku sudah nyaman dengan pekerjaan dan suasana kantor. Apalagi gajinya lumayan besar, banyak bonusnya dan bosnya baik" ujar Andriana sambil tersenyum kearah Rendy.
"Terus, kenapa kau ikutan keluar?! Tidak ada yang memaksamu ikut keluar dengankuu!" jawab ketus Rendy, dia kesal dengan jawaban Andriana.
"Ish, ngambek aja bisanya! Dengarkan aku dulu, kan belum selesai bicaranya" Andriana tersenyum senang menggoda Rendy.
"Iya, lanjut!" sahut Rendy cuek.
"Iyaa, karena bosku yang baik itu keluar dari perusahaan, jadi tak ada lagi yang memberikan aku bonus.." ucapnya memasang raut wajah sedih, tapi menggemaskan.
"Teruuss.." ucap Rendy sambil menatap wajah gadis cantik berwajah imut tapi terkadang menyebalkan itu.
"Jadi, aku ikut jejak bosku itu keluar dari perusahaan itu. Kan enakkan sama orang yang bikin kita nyaman, uang bisa dapat dicari meskipun hasilnya tak sama, tapi cari orang yang bikin nyaman itu susah..
Yang suka banyak, yang bikin nyaman itu tak banyak. Satu-satunya yang bisa bikin aku nyaman dekat seseorang itu, yaitu bosku itu..." ujar Andriana.
Dia tak sadar, jika sedari tadi Rendy mengawasinya sambil senyum-senyum sendiri mendengarkan dia bercerita. Sedangkan dirinya asik bercerita sambil membereskan barang-barang Reva masuk kedalam koper.
Cupp!
Sebuah kecupan hangat mendarat di keningnya membuatnya sempat terpaku sejenak, wajahnya memerah mendapat serangan mendadak itu.
"A-apa yang kau lakukan?!" ujarnya kesal.
"Aku tak bisa membiarkan ini, sudah lama aku memendam perasaan ini dan tak akan aku biarkan ini berlama-lama lagi. Aku takut kau akan pergi dengan orang lain yang mampu membuatmu merasa nyaman dibanding denganku.." ucap Rendy sambil menatap lekat Andriana.
Gadis itu hanya bisa diam menunduk, dia tak tahu harus bereaksi apa. Jujur, dia juga merasakan hal yang sama dengan Rendy tapi ia tak bisa mengekspresikan perasaannya itu.
"Katakan padaku, apakah kau juga menyukaiku?" tanya Rendy lagi, yang membuat Andriana ketar-ketir bagaimana harus menjawabnya.
"Katakan saja, aku akan mendengarkanmu. Dan aku akan menerima semua keputusanmu.." ucap Rendy lagi.
Entah mengapa Andriana merasa kalau Rendy posisi duduknya semakin dekat saja dengannya, saat ini keduanya sedang duduk dibahu kasur di kamar Reva dan Andriana sedikit menggeser jauh agar tak terlalu dengan Rendy.
Dia tak mau jika Rendy bisa mendengar suara detak jantungnya semakin tak berirama, dia berusaha sebaik mungkin mengatasi kegugupannya.
"A-aku juga memiliki perasaan yang sama denganmu... Maaf, aku tak bisa bersikap ataupun berbicara yang manis-manis seperti yang lain, aku adalah aku.." ucapnya sambil mengalihkan pandangannya kearah lain.
Dia tak kuat dengan pandangan mata Rendy yang begitu lekat kepadanya, sehingga tak sadar dia sudah diujung sisi kasur, dan tiba-tiba dirinya tergelincir jatuh. Dengan sigap Rendy menangkap tubuhnya.
Membuat keduanya nampak begitu dekat, lekat menempel. Rendy memeluk tubuh indah itu agar tak terjatuh, sedangkan Andriana berpegang erat pada tubuh berotot Rendy agar tak jatuh.
"Mata bulatnya begitu indah, wajah bersih tanpa make up berlebihan membuatnya nampak begitu cantik alami.. Dan,, dan bibir seksi ini... Ehm, aku..." Rendy menggumam dalam hati sambil menatap wajah cantik Andriana dengan lekat.
"Tubuhnya begitu wangi, wajahnya begitu mulus seperti melakukan perawatan skincare. Apa dia ikutan perawatan wajah juga??" gumam Andriana mengagumi wajah tampan Rendy.
Tiba-tiba suara bel pintu apartemennya berbunyi, membuyarkan lamunan mereka dan sesi romantis itu tiba-tiba buyar semuanya.
"Lepasin! Pegel tau pinggangku!" gerutu Andriana.
"Sudah bagus ditolong, kalau gak encok itu pinggang" sahut Rendy sambil berlalu.
Dia membukakan pintunya, ternyata orang-orangnya Nico datang untuk mengambil beberapa barang milik Reva. Setelah semuanya diangkut, Mereka pun pergi dari sana.
Dikira waktunya aman terkendali, semuanya beres, Rendy langsung menarik tubuh Andriana kedalam pelukannya. Dia begitu senang ternyata cintanya tak bertepuk sebelah tangan.
Keduanya sama-sama menikmati hangatnya pelukan masing-masing, baru saja Rendy ingin mencium bibir merah milik Andriana, tiba-tiba bel pintu kembali berbunyi.
Dengan sedikit kesal Rendy menuju pintu itu, dan ternyata adalah asisten Reva yang datang sambil membawa beberapa berkas untuk ditandatangani olehnya.
"Untuk sementara ini semua berkas-berkas ataupun dokumen penting lainnya akan Pak Rendy tandatangani, menggantikan Bu Reva.
Kita harus segera mengambil alih kembali perusahaan dan yayasan tersebut dari Bu Elena, karena dia mulai melakukan pekerjaan diluar itu semuanya, memanfaatkan situasi saat ini.
"Iya, iya-iya aku percaya dengan kamu dan mbak Mona bisa melakukan itu semuanya, terima kasih masih bertahan untuk kami.." ucap Rendy dengan tersenyum ramah.
Dia mengantarkan Susy sampai ke depan pintu, dan menutupnya dengan rapat. Dia langsung menubruk tubuh Andriana dari belakang, memeluknya dengan hangat sambil menciuminya gemas. Dan..
Ting! Tong!
"Astagaaaa, apalagi..!" keluh Rendy kesal, karena acaranya selalu terganggu oleh hal-hal lain.
"Paaakkeeeett!" teriak kang paket nyaring.
Rendy gondok dibuatnya, membuat Andriana tersenyum geli dibuatnya. Ternyata Andriana memesan makanan online pake jasa ojol.
"Itu bertanda jika kamu, kita.. Tak boleh melakukan sesuatu diluar konteks, kalau kamu mau, lamar dulu aku!" ucap Andriana asal ucap.
"Nikah yuk?!" Andriana tersedak dari minumnya, tiba-tiba dilamar begitu saja oleh Rendy.
//
Sementara itu, diluar negeri di negara yang dipimpin seorang ratu waktu itu.
Ericka sedang bersiap-siap membereskan beberapa barang yang akan dia bawa nantinya, dia juga tengah sibuk memeriksa beberapa berkas dan dokumen penting lainnya.
Terlihat beberapa pelayan juga sudah mengemasi barang-barangnya kedalam koper, Ericka memandangi seisi kamarnya itu. Dia menikmati kenangannya saat-saat dirinya masih ada didalam kamar itu.
"Ini akan menjadi kenangan terbaik yang pernah aku miliki, kamar ini akan menjadi saksi bisu keberadaanku disini, saksi bisu perjuanganku selama ini, dan kini aku harus berjuang sendiri..." ucapnya dalam hati.
Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, 5 tahun telah berlalu. Dia dipisahkan secara paksa dari keluarganya, rasa benci dan dendamnya begitu besar.
Tekadnya cuma satu, ingin membalaskan semua rasa sakitnya yang ditorehkan oleh ayahnya, ibu tiri juga saudara-saudara tirinya yang lain.
Dia juga ingin membuktikan bahwa dia juga bisa segalanya, dia juga wanita kuat, dia bisa mandiri dan mencapai semuanya dengan usaha dan kerja kerasnya.
Ada satu hal yang Ericka sesalkan dan membuatnya bertanya-tanya, disaat dia menghilang.. Kemana kakak-kakaknya berada? Apakah mereka mencarinya? Mengkhawatirkan dirinya?
"Entah aku merasa mereka sudah melupakan aku" gumamnya sambil menitikkan air matanya.
Dia tak pernah tahu seberapa besar perhatian dan kasih sayang kedua kakaknya untuk dirinya, dia juga tak pernah tahu bahwa kedua kakaknya sudah berusaha sebaik mungkin mencarinya tanpa lelah.
Dibalik pintu kamar itu, Aaron melihatnya nampak begitu murung. Gadis cantik itu telah lama memikat hatinya semenjak mereka awal bertemu.
"Maafkan aku Ericka, aku tak bisa berkata sejujurnya padamu... Karena ini semua demi kebaikan dirimu sendiri, jika tidak kau takkan fokus dengan pelatihanmu.
Aku harus menyembunyikan jati dirimu, hingga orang-orang lain takkan bisa melacak keberadaanmu, karena aku takut kejadian yang dulu terulang kembali.
Suatu saat nanti aku akan jujur semuanya kepadamu, aku.. Dan kak Nico, kami melakukan semua ini demimu, demi kalian..
Terkadang, kita harus dicambuk dulu agar bisa bergerak. Jika tidak kita akan merasa nyaman dengan yang ada tanpa berusaha, begitu juga apa yang kami lakukan.
Maafkan kami, maafkan aku..." gumam Aaron dalam hati.
Hari ini adalah hari itu, hari yang sudah lama dia tunggu-tunggu. Dimana pembalasan akan dimulai.
Dimulai dari kepulangannya ke Indonesia secara mendadak, akan mengejutkan semua orang. Dia juga ingin melihat semua reaksi orang-orang di sana, apakah mereka tulus atau tidak.
Semenjak kejadian beberapa tahun yang lalu, membuatnya belajar sesuatu, bahwa jangan terlalu percaya dengan orang lain, bahkan orang terdekatnya sekalipun.
Kini, Ericka telah berubah menjadi sosok yang lain. Dia takkan pernah mau diremehkan lagi, dihina apalagi disakiti.
"Hai, sudah siap?" tanya Aaron.
"Iya, sudah.." jawab Ericka sambil tersenyum.
"Ayo, mobil juga sudah menunggu. Jangan sampai kalian ketinggalan pesawat.." ucap Aaron.
"Kamu.. Benaran tak mau ikut denganku?" tanya Ericka.
"Aku akan menyusul, tapi tidak sekarang. Aku masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, kau pergilah dengan Stanley dan Jessy.." jawabnya sambil memeluk Ericka dengan hangat.
"Baiklah.." ucap Ericka merasa tak enak hati dengannya.
Kini, dia dan yang lain menuju bandara internasional meluncur menggunakan pesawat jeet pribadi milik Aaron. Mereka takkan melewati jalanan ibukota dengan kemacetan yang bisa membuat mereka terlambat tiba di bandara.
Saat didalam pesawat itu, dia terus memandang kearah langit biru kota London, kota yang menjadi kenangan terindah baginya, belajar banyak hal disini, dari kasih sayang, rasa sakit, kesetiaan, pengkhianat dan lainnya.
...----------------...
Bersambung