Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Rahasia Mulai terungkap


Nico masuk ke kamar dan melihat Reva sedang meringkuk berbaring di kasurnya, dia melihat istrinya itu menggigil kedinginan dengan cepat dia menyelimuti Reva. Dielusnya kening istrinya itu dan terkejut merasakan panasnya saat dia sentuh.


"Panas sekali, apa dia demam?" gumamnya heran.


Nico langsung mengambil termometer shotgun dan memeriksa suhu tubuh istrinya itu, dan benar saja panasnya lumayan tinggi. Nico langsung memanggil pelayannya untuk mengambilkan air hangat untuk mengompresnya.


"Kamu kenapa sih, sayang? Tiba-tiba panas begini?" ujarnya khawatir.


Dia melihat ponsel Reva tergeletak didekat istrinya itu tidur, berniat ingin memindahkannya agar tak mengganggu istirahatnya, malah dia tak sengaja ke pencet ponsel itu.


Nico melihat dilayar itua ada panggilan keluar atas nama Ericka, dan dia sudah tau jika Reva tadi menelpon Ericka. Entah diangkat atau tidak telpon Reva itu dia tak tahu, yang jelas dia yakin keadaan istrinya itu pasti berkaitan dengan telpon ini.


Nico keluar kamar setelah dokter sudah datang, dia adalah dokter pribadi Reva yang memang disiapkan oleh Nico untuk menjaga Reva dan calon bayi mereka.


Setelah selesai memeriksa, dokter itu menemui Nico yang menunggu harap-harap cemas, khawatir terjadi sesuatu pada istri dan calon bayinya.


"Tuan, Nyonya mengalami demam saja. Beliau sepertinya sedang kelelahan, diharapkan agar dia tidak melakukan aktivitas fisik yang terlalu menguras tenaga, dan jangan terlalu banyak pikiran atau stress, takutnya ini akan berdampak pada janin yang ada didalam kandungan Nyonya" ujar dokter itu menjelaskan keadaan kondisi Reva.


"Baiklah, Dok. Terima kasih.." sahut Nico.


"Saya sudah menuliskan resep untuk vitamin Nyonya, harap beliau meminumnya dengan rutin. Kalau begitu saya permisi dulu" balas dokter itu pamit pulang.


Dokter itu pergi dari rumah diantar orangnya Nico, sedangkan Nico kembali masuk ke kamar menemui istrinya itu. Dan ternyata Reva sudah kembali terjaga, dia tersenyum melihat Nico.


"Kamu masih pusing? Istirahat aja lagi yah, tiduran aja. Kata dokter kamu gak boleh capek.." ucap Nico lembut sambil mengecup kening Reva.


"Iyaa, aku kedinginan Mas... Kayaknya meriang" ucap Reva manja sambil memeluk Nico.


Senyum Nico mengembang mendengar Reva memanggilnya dengan panggilan sayang 'Mas', apalagi semenjak hamil dia begitu manja dan sangat bergantung dengannya.


"Mau aku tambahkan lagi selimutnya?" kata Nico sambil memeluk istrinya itu.


Mau gak mau dia juga ikut berbaring disamping Reva, karena Reva tak sekalipun melepaskan pelukannya.


"Gak usah, ini aja sudah cukup. Mas, aku hari ini senang sekali, akhirnya aku berhasil menelpon Ericka, dia mendengarkan aku dengan baik meskipun tidak berkata apa-apa tapi aku senang kok.


Aku bercerita banyak dengannya, aku senang bisa mengungkapkan isi hatiku selama ini kepadanya. Dia adik yang baik, dia mendengarkan aku bercerita dan tak sekalipun dia menyela atau membantah" ucap Reva menceritakan apa yang dia katakan pada Ericka ditelpon tadi.


Nico hanya diam saja mendengarkan Reva bercerita, istrinya itu begitu bersemangat karena senang mendapat respon dari Ericka meskipun anak itu hanya mengangkat saja tanpa berkata apapun.


Tapi entah mengapa Nico merasa sedih dan kasihan kepada istrinya itu diperlakukan oleh Ericka seperti itu, seharusnya gadis itu merespon baik telpon kakaknya itu.


Entah karena capek bercerita atau dia memang lelah karena sakit, akhirnya Reva kembali tertidur di pelukan Nico. Dengan hati-hati Nico melepaskan pelukannya, dan menyelimuti tubuh Reva dengan pelan.


Cup!


Tidak lupa kecupan kecil mendarat di kening istrinya itu, begitu hangat dan lembutnya dia memperlakukan Reva dengan baik. Dia meninggalkan Reva beristirahat didalam kamar sedangkan dirinya keluar dari kamar itu.


"Halo, bisa bertemu sebentar? Tidak akan lama, aku hanya butuh menyampaikan sesuatu saja kepadamu!" ucapnya datar.


Entah dia sedang menelpon siapa, yang jelas ekspresi wajahnya begitu datar dan dingin. Dia langsung mengendarai mobilnya keluar dari kamarnya menuju sebuah taman yang tidak terlalu jauh dari rumahnya.


Setelah beberapa menit dia sampai, ternyata seseorang yang dia telpon tadi sudah menunggunya di sana. Gadis itu tengah duduk sendirian disebuah ayunan sambil melamun, diseberang taman itu ada mobil yang dijaga oleh sopir dan beberapa pengawal gadis itu, berjaga mengawasi bos mereka.


"Tak kusangka, aku pikir akan menunggumu ternyata kau sudah datang duluan, Ericka" kata Nico sambil menghampiri gadis itu, yah.. Ericka.


"Aku tak kemana-mana, dari tadi aku ada disini..." gumamnya pelan, dan masih bisa didengar oleh Nico dengan baik.


"Kenapa? Apa kau habis mengawasi kakakmu? Apa kau tau dia sampai sakit memikirkan kamu? Dia sangat senang saat mengetahui kau mengangkat telponnya..


Tapi aku sedih, Ericka.. Kenapa kau tak bisa menurunkan sedikit egomu, untuk mengalah! Temui kakakmu, dia sangat merindukanmu. Aku tak tega melihatnya begitu.


Kau tau, dia saat ini sedang hamil. Aku takut kandungannya kenapa-kenapa, melihat kondisinya yang selalu drop begitu. Sekarang, Reva berbeda dengan yang dulu, kondisi hati dan pikirannya begitu lemah, dia sekarang begitu sensitif, mood nya naik turun, dan suka emosian.


Hufft, aku harap kalian bisa bersama lagi seperti dulu. Aku tak ingin dia selalu merasa bersalah dan terbebani dengan semua ini. Aku ingin hubungan kita baik-baik saja, kita bisa berkumpul lagi, dan bahagia bersama..." ucap Nico mengakhiri percakapannya.


"Maafkan aku, sama sekali aku tak berpikir ataupun berniat membuat dirinya seperti itu. Aku hanya tak ingin dia semakin dekat denganku, bukan karena aku membencinya, justru karena aku sayang padanya, dan juga kak Rendy, kepadamu, kepada kalian semuanya.


Seperti kalian tahu, saat ini aku sedang berusaha merebut kembali hak kami yang selama ini dirampas paksa oleh Elena dan anak-anaknya. Satu demi satu karma menghampiri mereka, tapi aku tak berhenti sampai disitu, sebelum mereka semua merasakan sakitnya dikhianati, dikecewakan, terutama ayah...


Biarkan aku menanggung segala resikonya, aku tak ingin mereka berdua, kamu dan lainnya ikut terlibat dengan segala urusanku dengan Elena dan ayah. Apalagi saat ini kak Reva sedang hamil juga...


Percayakan semuanya kepadaku, tolong jaga dan lindungi aja kak Reva dan kak Rendy seperti selama ini, dan terimakasih atas semua bantuan selama ini" ucapnya sambil menunduk.


"Apa kau... Tau semua tentang aku membantumu selama ini?" tanya Nico hati-hati.


Ericka hanya tersenyum dan bangkit dari ayunan itu berjalan sambil memandangi langit yang semakin gelap saja itu, dia menoleh kearah Nico yang masih duduk diatas ayunan itu.


"Aku tahu semuanya tentangmu, tentang rencanamu selama ini. Semua usaha dan bantuanmu yang menjaga dan melindungi kedua kakakku, aku tahu semuanya..


Termasuk diriku selama di London, aku tau kau yang mengutus Aaron menjagaku, aku tau kau sudah mengeluarkan uang banyak untuk berkorban kepada kami semuanya.


Tenang saja, setelah semuanya selesai aku pasti akan mengembalikan semuanya, dengan uangku sendiri. Meskipun itu tak perlu lagi karena kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan, yaitu menikahi kakakku.


Tapi tetap saja, hutang adalah hutang. Aku tak mau ada hutang uang apalagi hutang budi, tapi bagaimanapun juga aku berterima kasih kepadamu yang sudah membantu dan menjaga mereka. Aku pamit!" ujarnya sambil pergi meninggalkan Nico sendirian di taman itu.


"Ericka! Dengarkan aku, temui dulu kakakmu walau sebentar saja! Hei, kau dengar tidak?! Heiss, bocah!" ucap Nico kesal, karena Ericka pergi begitu saja.


"Aku tak pernah meminta apapun dari kalian, aku ikhlas melakukan semuanya. Karena aku peduli, karena masih ada tugas lainnya yang harus aku lakukan untuk kalian semuanya.


Aku berjanji kepada mendiang kakek dan ayahku untuk menjaga kalian semuanya, dan sekarang kalian adalah keluargaku. Sampai kapanpun aku akan terus menjaga kalian, tak peduli dengan penolakanmu atau yang lainnya.


Reva kakak tertua kalian, dia istriku. Dan aku juga kakak tertua kalian, sama halnya dengan Reva, aku berkewajiban menjaga dan melindungi kalian" ujar Nico sambil menatap kepergian mobil Ericka melaju semakin menjauh darinya.


Sementara di mobil itu, Ericka hanya duduk diam sambil menatap luar jendela mobil itu. Dan lamunannya dibuyarkan oleh suara Hpnya yang berbunyi.


"Halo, ada apa Geraldine?" tanyanya.


"Bu, kami sudah mendapatkan informasi tentang mobil sedan merah yang membawa Pramudya malam itu, mereka adalah komplotan sindikat penipuan dan perdagangan manusia!" ucap Geraldine menerangkan penemuannya.


"Kita harus bagaimana, Bu?" tanya Geraldine menuggu keputusan Ericka.


"Serahkan saja bukti atau video itu kepada polisi, itu semua diluar kuasa dan kendali kita. Biarkan polisi yang bertugas menangkap mereka. Lagian apa yang terjadi kepada Pramudya, tidak ada hubungannya dengan kita" ucap Ericka mengakhiri telponnya.


//


Sementara malam itu, Rendy masih berkutat dengan laptopnya sambil berusaha memecahkan kata sandi yang ada di file didalam flashdisk milik Pramudya itu.


Dengan keterampilannya, bukan hal susah baginya untuk memecahkan sandi itu, setelah itu dengan mudahnya dia melihat apa yang ada didalam file itu.


Ada puluhan video syur Pramudya dengan beberapa gadis, diantara beberapa model di agensi ibunya itu, dia juga melihat ada beberapa video dan foto kakaknya, yaitu Reva.


"Dasar me.sum! Kak Reva juga sudah lama jadi incaran rupanya, memang bajingan dia! Kalau melihat ini membuat aku kembali teringat lagi kejadian beberapa tahun yang lalu" geramnya marah.


Dan ada file lainnya yang menyita perhatiannya, ada beberapa foto dan video Pramudya dan Elena bersama beberapa orang asing, dia penasaran dan membuka file video itu, dan ternyata sungguh mengejutkannya.


"Mereka sudah melewati batas wajar manusia, mereka berniat menjual Ericka kepada lelaki tua itu! Dan apa ini?! Malah Ericka sempat disekap didalam basecamp para pekerja ilegal lainnya untuk dijadikan tenaga kerja gratis oleh mereka.


Dan lelaki tua ini menginginkannya?! Elena dan Pramudya kurang ajar, mungkin Pramudya saat ini sudah tak ingat karena sudah gila!


Tapi Elena, dia harus membayar apa yang dia perbuat kepada Ericka selama ini! Hanya saja, bagaimana Ericka bisa lolos dari mereka? Siapa yang menolongnya? Dan bagaimana dia bisa sesukses ini?!" gumamnya heran.


Pikirannya jauh menerawang mencoba menerka-nerka apa yang terjadi selama di London saat itu, apa saja yang terjadi kepada Ericka selama ini?


...----------------...


Bersambung