Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Kunjungan


Sebelumnya, kembali ke Nico yang menuju apartemen Reva malam itu.


Dia mengemudikan mobilnya dengan laju yang kencang, untuk tengah malam suasana dimalam itu nampak sepi dan lengang dijalanan. Sehingga dia dengan bebas melajukan mobilnya.


Sesampainya di apartemen Reva, dia mencoba menghubungi gadis itu tapi tak diangkat. Dia melihat dilayar Hpnya ada beberapa panggilan dari Rendy, dia mencoba menghubungi anak itu.


"Halo, Ren. Gimana Reva? Apa dia baik-baik saja? Dia adakan di kamarnya?" cecar Nico.


"Tenang, Kak. Rileks... Ada apa, kok kedengarannya khawatir gitu?! Tenang, itu manusia baik-baik saja, dia lagi lahapnya dengan makanannya.


Gak tau ada apa dengannya, apa masalah kalian belum selesai? Kalian bertengkar lagi? Biasanya kak Reva kalau begitu, suka melampiaskan emosinya ke makanan" tanya Rendy penasaran.


"Tidak ada, tolong sambungkan aku dengan Reva. Dia tidak ingin menyambut telponku" sahut Nico.


"Sebentar, yah. Aku mau liat dia dulu lagi apa, kalau lagi makan biasanya gak mau diganggu" ujar Rendy.


Rendy berjalan menuju ruang makan, dia tak menemukan kakaknya. Ternyata Reva lagi diruang tamu, sambil menikmati minuman soda. Dia juga tengah sibuk dengan pekerjaannya, matanya tak berkedip menatap layar laptop.


"Kak, ini sudah mau jam berapa. Istirahat dulu, besok juga Kakak mau ke kantor lagi kan? Sudah istirahat sana" ucap Rendy, dia merasa kasihan dan khawatir juga melihat kakaknya itu.


"Sudah, jangan terlalu mengkhawatirkan aku. Aku baik-baik saja, aku dikejar deadline. Aku tak bisa membiarkan perusahaan dan yayasan terbengkalai begitu lama, ada banyak orang yang bergantung kepada perusahaan dan yayasan ini.


Sudah, kamu juga istirahat sana. Bukankah besok katanya kamu ada presentasi?" tanya Reva sambil menikmati minumannya.


"Iya, aku tahu itu. Tapi gak gini juga, Kak ... Liat tuh, makan dan tidur jadi tak teratur. Kakak juga butuh istirahat, jangan begadang terus" ucap Rendy gusar.


"Iya, iya. Dasar bawel! Sana pergi" ujar Reva cuek.


"O ya, jadi lupa kan. Kak Nico menelpon tadi, katanya Kakak gak angkat telponnya, dia minta dihubungkan dengan kakak. Nih telponnya" ujar Rendy sambil memberikan Hpnya.


Reva menatap layar Hp Rendy menyala dan tertera nama Nico di sana.


"Jadi dari tadi tuh Hp nyala?" tanyanya.


Rendy mengangguk, Reva kesal dengannya karena secara tak langsung Rendy telah memberitahu keadaannya kepada Nico.


"Awas kau yah! Suruh dia telpon langsung ke Hpku" ujar Reva kesal.


"Halo, Kak... Kata Kak Reva hubungi dia langsung" ujar Rendy langsung memberitahu Nico atas perintah Reva.


Nico tak menyia-nyiakan kesempatan ini, dia langsung menelpon Reva. Dengan malas-malasan Reva mengangkat telponnya.


"Hem, ada apa?" tanyanya datar.


"Kami belum tidur? Aku pikir telponku tak diangkat karena kamu lagi tidur" ucap Nico lembut.


"Aku lagi sibuk, jadi tak bisa angkat telpon dari siapapun. Ada apa? Jika tak terlalu penting, aku akan tutup" ujar Reva dingin.


"Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja, itu saja kok" ujar Nico lembut.


"Tentu saja aku baik-baik saja, aku ini Revalina! Tidak akan ada satupun 'nyamuk' yang bisa menyakitiku" ucapnya dengan nada sarkasme.


"Baguslah kalau begitu, aku hanya saja tak ingin mendengar kamu terluka" ucap Nico.


"Kenapa? Kamu pasti berpikir tentang tadi siang kan? Aku tak sebodoh itu buat loncat dari gedung ini.


Aku hanya ingin menenangkan diri saja, menghirup udara segar dari ketinggian sekarang jadi hobby ku" jawab Reva ngasal.


"Iya, ya... Kamu hebat, luar biasa. Tapi aku juga dengar semua percakapanmu dengan Rendy tadi" ujar Nico.


"Gal usah ikut-ikutan bawel kayak tuh bocah, udah yah aku harus selesaikan pekerjaan ini agar bisa tidur juga" ucap Reva sambil menutup telponnya.


Dia tidak tahu bahwa saat ini Nico berada di salah satu sudut taman apartemen mewah itu sambil menatapi jendela kamarnya Reva, matanya sungguh jeli, dari jarak kamar atau lantai apartemen Reva saja jauh, tapi dia bisa melihat lampu apartemennya Reva masih menyala.


Setelah itu tiba-tiba lampunya padam, Reva pasti sedang beristirahat, pikir Nico sambil meninggalkan apartemen itu.


Tring! Triiiinngg!


Suara Hpnya berbunyi, dia melihat Hpnya itu tercantum nama seseorang yang sangat dia kenal.


"Iya, Ron. Bagaimana? Sudah ketemu anaknya?" tanya Nico sambil menatap jam tangannya.


"Sudah, Kak. Dia sekarang bersama salah satu anak buah bayaranku, tenang saja anak itu aman" ujar seseorang diseberang telepon itu.


"Baguslah, jaga dia dengan baik. Dia sudah kuanggap adik sendiri, jika dia kenapa-kenapa kau yang harus tanggung jawab" ujar Nico tegas.


"Siap, Bos!" sahut orang ditelpon itu sambil terkekeh.


//


Reva dan beberapa orangnya menuju ke yayasan Mutiara Hati, ternyata sudah banyak yang sudah menunggunya. Berbeda dengan perusahaan sebelumnya, kali ini dia memberitahu kalau dia akan datang.


Maka tidak heran jika ada banyak sambutan dari mereka untuk Reva, entah sambutan itu diperuntukkan untuk Reva karena sudah menjabat sebagai CEO dan pemilik yayasan itu, atau ada maksud lain. Satu hal yang tak bisa dipungkiri, mereka semuanya sama-sama cari muka dan cari aman saja.


"Halo, Bu Reva. Selamat datang di Yayasan Mutiara Hati, wah setelah sekian lama akhirnya Ibu datang juga. Padahal kami sudah lama menunggu kedatangan ibu" sambut salah satu pemimpin yayasan tersebut.


Dalam pandangan Reva, wanita paruh baya didepannya ini sama saja dengan yang lain. Cari kesempatan untuk mendekatinya, dengan rambut disanggul tinggi dan dandanan menor lengkap dengan perhiasan bling-blingnya, menandakan dia suka hal-hal kemewahan.


"Apa orang ini bekerja untuk yayasan? Apakah dia cocok di bidang ini? Aku mau lihat dia dulu, apakah dia memiliki hati yang tulus atau tidak secara pekerjaan ini melibatkan hati dan jiwa ke sosialan yang tinggi" gumam Reva.


Di sana tidak hanya ada ibu itu saja, masih banyak ibu-ibu pengurus yayasan lainnya yang berprilaku hal yang sama dengan Reva. Mereka sibuk dengan persiapan menyambutnya, tidak peduli dengan pekerjaan mereka yang lain.


Di lain sisi, Reva juga melihat beberapa orang yang sibuk dengan pekerjaan mereka. Bahkan terlihat sekali mereka kerepotan mengerjakan beberapa tugas diberikan oleh para pemimpinnya, harus menyiapkan jamuan untuk Reva dan sebagainya.


Seakan mengadakan selamatan saja, kantor sudah seperti gedung hajatan begitu banyak makanan dan buket bunga. Bahkan ada acara musik segala.


"Begini nih, kalau ditinggal kelamaan. Jadi kayak apaan saja nih kantor, ini orang-orang pada kerja gak sih?! Aku lihat semuanya dikerjakan oleh bawahannya semua.


Bahkan mereka santai-santai saja, makan minum sambil karaokean. Mereka gak lihat aku apa yah?!" gerutu Reva kesal.


"Sepertinya mereka gak belajar dari orang-orang yang Ibu pecat di perusahaan, atau emang gak tahu? Dasar ibu-ibu" sahut Susy sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah para ibu-ibu pengurus yayasan tersebut.


"Mereka sudah kelamaan dipimpin oleh Elena yang suka berpesta, jadi kalau ada acara atau penyambutan apapun mereka pasti akan mengadakan acara makan-makan begini.


Masalahnya, mereka menggunakan dana darimana? Apakah patungan atau emang ada dana untuk acara beginian? Seberapa besar dana yang mereka keluarkan untuk acara ini?" Mona juga ikut berkomentar.


"Kita lihat saja tadi, jika tidak ada bodyguard yang menjaga Ibu, sudah pasti Bu Reva sudah tergencet oleh mereka dikerumuni kayak ketemu artis.


Mana badannya pada bongsor-bongsor lagi" sahut Susy sambil menghela nafas.


"Iya, tapi kalian malah yang kegencet sama ibu-ibu itu. Gak apa kan?" ucap Reva sambil tersenyum melihat keduanya.


Susy dan Mona hanya nyengir saja, begitulah kalau kerja sama bos yang super aktif dan pekerja keras anak buahnya pun harus lebih aktif lagi.


Saat itu ada tamu lain yang ingin mengunjungi mereka, sepertinya mereka dari beberapa sekolah yang datang untuk mengajukan beasiswa untuk para muridnya dari keluarga tak mampu yang berprestasi.


"Maaf ya Pak, Bu... Hari ini kami tidak menerima tamu dulu, ada pemimpin yayasan yang baru datang berkunjung, kami sedang mengadakan pesta penyambutan" tolak salah satu pegawai yang ada di sana.


Setelah itu ada juga beberapa orang yang datang dari rumah sakit dibawah pimpinan yayasan itu, meminta surat izin perihal permintaan mereka untuk mengadakan beberapa barang dan alat kesehatan, tapi sama ditolak juga oleh mereka.


"Ini sih kelewatan namanya, bagaimana ini Bu? Apa kita harus bertindak atau diam saja?" tanya Susy geregetan.


"Menurutmu bagaimana?" tanya balik Reva sambil tersenyum sinis.


Dia berjalan ditengah kerumunan melewati mereka semua yang tengah berpesta entah untuk siapa, yang jelas mereka memanfaatkan momen tersebut untuk bersantai.


"Halo, halo semuanya! Permisi sebentar, boleh minta waktunya!" ujar Reva berdiri didepan podium setelah berhasil merebut mic ditangan seseorang yang hendak bernyanyi.


Semuanya terdiam, musik pun berhenti. Mereka menatap Reva dengan penasaran, ada juga beberapa tatapan tak suka, karena pestanya terhenti.


"Saya mohon perhatiannya sebentar saja, ibu-ibu. Saya tidak akan lama-lama karena saya yakin kalian semuanya sibuk dan sayapun begitu.


Saya pikir acaranya sudah cukup, kita selesaikan sampai disini. Saatnya kembali ke realitas kehidupan ya ibu-ibu.


Saya lihat kita memiliki beberapa tamu penting yang harus kita temui dan layani mereka dengan baik," Reva memberikan penjelasan.


"Untuk hari ini gak apalah, Bu. Biarkan saja dulu, jika penting banget kan ada pegawai lain yang bisa melayani mereka" jawab salah satu ibu-ibu itu.


"Iya, Bu. Kapan lagi kita bisa ngerasain bisa berpesta dengan Ibu, secara Ibu kan orang penting" sahut lagi salah satu dari mereka.


Entah apa yang dimaksud dari ucapannya, yang jelas Reva tak suka perkataannya itu. Dia mulai memasang wajah serius menatap wajah mereka satu persatu.


"Entah kalian tahu atau tidak, tapi aku tak suka dengan acara-acara seperti ini. Membuang-buang waktu saja, apalagi orang-orang yang suka melemparkan pekerjaannya kepada orang lain.


Jika ada kesalahan dan tak mau bertanggung jawab dengan dalih tidak mengerjakan tugas itu ini dan lainnya, aku benci orang yang seperti itu.


Sepertinya aku harus melakukan kegiatan 'bersih-bersih' juga di yayasan ini, menurut kalian kapan aku harus melakukannya?" tanya Reva sambil menyunggingkan bibirnya dengan sinis.


Semua orang di ruangan itu menelan salivanya dengan berat, tiba-tiba saja tenggorokan mereka mendadak kering.


"Ternyata soal gosip tentangnya itu, ternyata benar adanya" bisik salah satu dari ibu-ibu itu.


Yang lain nampak pucat dan berkeringat dingin, yang mereka sangka anak kecil kemarin sore ternyata tidak mudah dikendalikan.


...----------------...


Bersambung