Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Kesalahpahaman Julia


Siang harinya, Ericka sudah siuman dan ada bi Mirna yang menemaninya. Beberapa guru dan teman-teman sekolah bergantian mengunjunginya.


Ericka merasa terharu, baru kali ini dia merasakan diperhatikan, dan bahagia karena merasa banyak orang-orang yang masih perhatian padanya.


Tapi Ericka lupa, kedatangan mereka semua rata-rata karena nama besar milik kakaknya, Revalina.


Sementara itu, diluar rumah sakit tepatnya didepan lobby.


Julia dan teman-temannya ragu masuk kedalam, mereka tidak yakin kedatangan mereka akan disambut atau tidak.


"Sudahlah, mari masuk saja. Tidak usah takut, tidak ada bukti kita ada di sana waktu itu," ujar Julia.


"Tapi Julia, aku tidak terlalu yakin dengan itu. Kau tahu, hampir semua orang mengetahui bahwa kita paling sering membullynya." Kata Della yang sedikit lebih pintar daripada yang lainnya.


"Kenapa, kau takut? Kalau begitu kau pulang saja sana. Kau tahu, dengan kehadiran kita setidaknya melunturkan prasangka mereka ke kita. Bodoh?!" ujar Julia mendorong Della dengan kasar.


"Ka-kau benar Julia, kalau kita tidak datang malah akan memperkuat tuduhan mereka kita. Haha!" sahut temannya yang lain gugup.


Mereka tak ingin melihat atau merasakan kekasaran Julia, mereka tahu gadis ini sangat berani dan nekat.


Jangan sampai mereka juga berurusan dengannya, mereka menarik tangan Della agar ikut dengannya.


Della terlihat pasrah mengikuti mereka, saat di lorong rumah sakit depan pintu kamar rawat inap Ericka, mereka masih ragu untuk masuk.


"Bagaimana, mau masuk atau tidak?" tanya salah satu dari mereka.


"Masuklah, sudah didepan masa' pergi lagi." Jawab Julia optimis.


Saat mereka hendak masuk, mereka sempat mengintip disela jendela kaca kamar tersebut.


Memang sudah sepi pengunjung, tetapi di sana ada Reva juga. Mereka terlihat ragu dengan keputusan tersebut.


Mereka sedikit tahu sifat Reva, gadis cantik itu memiliki sedikit sifat temperamen.


Saat mereka masih ragu untuk masuk, tiba-tiba ada yang menyapa mereka.


"Hai, gadis-gadis cantik. Kenapa diam saja disini? Ayo masuk temui teman kalian," sapa Nico dengan ramah.


Mereka terkejut dengan kedatangan pria tampan berpakaian rapi dibelakang mereka.


"Ka-Kakak siapa?" tanya Della, dia terlihat kagum dengannya. Melihat pria tampan dan dewasa, tipenya banget.


"Aku kakaknya Ericka, maksudku calon kakak iparnya" jawab Nico tersenyum ramah.


Terlihat guratan kecewa di wajah Della, siapa tahu pria tampan yang baru dia temui ini merupakan kekasih Reva, pikirnya.


"Kenapa diam saja, ayo masuk?! Masa' temannya lagi sakit, gak dijenguk sih?" tanya Nico tersenyum heran.


"Teman? Hem... kami bukan temannya, tak sudi aku berteman dengan si upik abu!" jawab Julia dengan ketus.


Semua temannya pada kaget dengan jawaban Julia, menurut mereka dia sudah kelewatan berani.


Dia lupa atau sengaja bicara seperti itu didepan Nico, padahal terang-terangan pria ini mengakui memiliki kedekatan dengan Reva, kakaknya Ericka.


"Apa maksudmu?!" tanya Nico menatap tajam Julia.


"Apa kau tak tahu? Si upik abu itu anak ha*ram? Ternyata tidak yah, aku sarankan tidak usah dekat-dekat lagi dengan mereka kalau tidak ingin tertular sialnya." Kata Julia.


Mulutnya yang kasar itu berbicara tajam tentang Ericka, membuat Nico menggeram kasar dengan gadis kecil didepannya ini.


Julia dan teman-temannya nampak begitu terkejut dengan respon Nico, Nico menatapnya tajam dan tak berkedip.


"Kau tahu, kau sedang berbicara dengan siapa gadis kecil?! Berani sekali kau berbicara seperti itu tentang Ericka.


Kau tahu siapa aku? Tidak, tapi aku tahu siapa kamu dan teman-temanmu ini. Kau tahu, semenjak kejadian malam itu aku mencari tahu siapa kalian sebenarnya." Kata Nico menyeringai.


Mereka menjadi takut menghadapi pria didepan mereka ini, siapa sebenarnya pria ini?


"A-apa maksudmu?! Aku tak takut dengan ancaman mu!" teriak Julia.


Dia tidak suka dengan perasaannya ini, perasaan terintimidasi. Perasaan yang sama dia berikan kepada Ericka saat dia membullynya.


"Dengar gadis nakal, aku tahu semua apa yang kalian lakukan malam itu" kata Nico berkata sinis.


Mereka terkejut, apa maksud dari pria ini? Apa dia melihat semuanya?


"Kau tahu, tidak ada kejahatan itu berjalan dengan sempurna. Dan kau masih berpikir bisa membodohi orang?!


Semuanya nampak ketakutan, mereka saling pandang. Sedangkan Julia tidak percaya, jangan-jangan pria ini sedang membodohi mereka?


"Memangnya, kejahatan apa yang kami lakukan sampai kau bisa menuduh kami seperti itu?


Ada buktinya Tuan, jika tidak kami bisa melaporkan anda balik dengan tuduhan palsu. Iya 'kan?!" Kata Julia sambil mencolek Della.


Della mengangguk pelan, dia tahu Julia sekarang minta dukungan darinya karena orang tuanya adalah pengacara.


Kali ini Nico tak menjawab mereka, karena percuma saja. Gadis-gadis ini akan tetap ngeyel dan tak mau mengaku.


Dia mengeluarkan Handphone-nya, dan memutar rekaman pembicaraan mereka diarea parkir pada malam itu.


Seketika mereka semua di sana gemetaran karena rasa takut, terlihat muka mereka menjadi pucat dan keringat dingin membanjiri tubuh mereka.


"Su-sudah kubilang kan?! Tidak usah ikuti skenario busukmu itu, lihat yang terjadi. Ketahuan kan?!" teriak Della.


Dari awal memang dia tak setuju dengan rencana jahat Julia, tapi karena banyak desakan dari temannya yang lain akhirnya dia terpaksa setuju.


"Diam kau! Kalau tak setuju, kenapa kau ikut saja dengan rencana kami?!" bantah Julia tak terima disudutkan.


"Tapi ka--" belum selesai Della menjawab, pintu kamar Ericka terbuka.


Mereka semuanya terkejut termasuk juga dengan Nico, tiba-tiba saja Reva keluar kamar dengan muka masam.


"Apa yang kalian ributkan disini? Jika ingin mengobrol diluar atau ditempat lain saja. Kalian membuat kebisingan, Ericka harus beristirahat" kata Reva ketus.


"O-oh... baiklah, maaf mengganggu. Sepertinya Ericka lagi beristirahat, besok saja kita kemari lagi yah.


Maaf Kak, mengganggu waktu istirahatnya" jawab salah satu teman Julia itu.


Mereka hendak pergi, kabur dari ancaman Nico. Julia dan Della mereka seret pergi agar ikut dengan mereka.


Nico tersenyum sinis melihat tingkah mereka, dia membiarkan mereka pergi. Menarik juga ternyata membuat para gadis nakal itu ketakutan.


Dengan satu bukti saja sudah membuat mereka ketakutan dan saling serang.


Saat itu Reva merasakan sesuatu yang aneh, dia mencium aroma tak asing dengannya.


"Tunggu dulu, kalian berhenti sebentar" Reva menghentikan langkah mereka.


Dia menghampiri mereka, dan mulai mengendus kearah mereka satu-persatu. Ah, Nico melewatkannya.


Hidung Reva sangat tajam, tak jarang dia diminta untuk mereview produk-produk parfum keluaran terbaru milik Brandnya.


"Aku tak asing dengan aroma ini, wanginya sangat familiar sekali. Dimana yah aku mencium aroma ini?" ujar Reva sembari berusaha mengingat kembali.


Saat itu Reva posisinya berdiri didepan Julia, dan Julia merasa bangga parfum mahalnya dikenali oleh Reva.


"Tentu saja, ini parfum mahal Gucci keluaran terbaru. Kakak pasti tahu 'kan, barang-barang mewah ini" ujarnya tersenyum angkuh.


"Ah! Aku baru ingat, toilet! Aku mencium aroma parfum ini di toilet!" teriak Reva senang setelah berhasil mengingat dimana dia mencium aroma tersebut.


"A-apa? Toilet?!" Julia nampak kaget melihat respon Reva bisa begitu.


Teman-temannya menahan tawa, mereka senang melihat gadis itu seperti dipermalukan.


Masa' iya, parfum mahal tapi aromanya tercium saat di toilet. Aroma macam apa itu? Mereka menahan tawa dan senyum gelinya.


Nico menepuk keningnya, dia juga baru ingat juga tentang hal itu. Saat mereka masuk kedalam toilet, mereka memang mencium aroma parfum di sana.


Tapi tak disangka, Reva masih mengenali dan mengingatnya. Dia tambah kagum dengan gadis ini, wanita cantik yang sudah lama dia cintai.


"Apa malam itu kalian pergi ke toilet bersama Ericka?!" tanya Reva dengan tatapan tajam.


Aura mengintimidasinya sangat kuat, gadis ini lebih mengerikan dibandingkan dengan Nico jika marah.


Mereka serba salah, karena diselimuti rasa takut dan bersalah Della pun menangis diiringi teman-temannya yang lain.


Reva dan Nico nampak bingung, mereka jadi serba salah juga jadinya. Mereka diperhatikan oleh semua orang yang di sana.


Akhirnya Reva dan Nico membawa mereka semua keluar dari dalam rumah sakit, dan berbicara di taman yang ada di sana.


...----------------...


Bersambung