
Setelah kejadian itu, tidak ada bantahan ataupun protes dari pihak pemimpin dan para dewan direksi, mereka tidak bisa berbicara apapun disaat para bawahan mereka sedang memperhatikan mereka.
"Kita harus menahannya sebentar saja, setelah ini kita layangkan saja protes ini kepada pak Dewantoro selaku pemilik perusahaan ini" ujar salah satu direksi yang ada di sana.
"Kau benar, enak sekali bocah ini membuat peraturan seenaknya saja. Baru saja datang hari ini dia sudah membuat ulah dengan segala peraturannya yang aneh itu" sahut direksi yang lainnya.
Setelah dimaklumi oleh Ericka, mereka akhirnya bisa masuk juga dengan membuat persyaratan bahwa besok mereka akan mengikuti peraturan baru itu.
Ericka masuk ke ruangan pak Dewantoro dengan santainya, dia membawa paper bag ditangannya dan meletakkannya diatas meja. Pak Dewantoro memperhatikan dengan seksama, dia ingin lihat apa yang akan dilakukan oleh anak ini.
"Ayah, aku membawakanmu sarapan karena ayah tadi pergi begitu saja tanpa sarapan dulu.." ujarnya kepada pak Dewantoro.
Tentu saja ini membuat lelaki tua itu merasa sedikit tersentuh oleh perhatiannya itu, Ericka mengambil bekal didalam paper bag itu lengkap dengan buah dan air minumnya.
"Ayah tidak boleh telat sarapannya, harus banyak-banyak minum air putih dan makan buah juga, karena itu bagus untuk kesehatanmu di usiamu sekarang ini" ujarnya lagi sambil membuka kotak bekal itu.
Pak Dewantoro tersenyum senang dengan perlakuan Ericka dengannya, dia merasa bahagia mendapat perhatian kecil ini darinya dan mulai membandingkan dengan istrinya itu, karena Elena tidak pernah peduli dan tak pernah mau tau soal hal terkecil apapun tentangnya.
"Elena dulu juga seperti ini, dia sangat perhatian dan peduli denganku hingga membuatku nyaman. Dan sekarang dia sudah berubah, dia hanya peduli dengan uang, perusahaan dan dunia sosialitanya itu saja" gumam pak Dewantoro dalam hati.
Seolah tau apa yang dipikirkan oleh pak Dewantoro, dia memulai percikan api dihati lelaki tua itu. Dia berpura-pura merapikan meja ayahnya sambil mengecek didalam laptop pak Dewantoro.
"Mumpung dia lagi sibuk dengan sarapannya, aku ingin lihat seluruh jadwalnya hari ini sampai dengan satu bulan penuh. Aku ingin tau apa saja yang akan dilakukan olehnya" gumamnya dalam hati sambil memasangkan flashdisk di laptop itu.
Sesekali pak Dewantoro melihat kearahnya sambil tersenyum, Ericka juga membalasnya dengan seramah dan sesopan mungkin. Dia terus melancarkan aksinya dengan hati-hati, sambil berpura-pura merapikan meja ayahnya itu, dia juga harus mengalihkan perhatian pak Dewantoro agar tidak fokus dengannya.
Kebetulan sekali, setelah pak Dewantoro selesai sarapan, hasil unduhannya pun juga selesai. Dia langsung buru-buru menutup layar dan menghapus riwayat pengunduhan itu.
"Sudah selesai sarapannya? Buahnya tidak mau dimakan dulu, mau aku kupaskan?" ujarnya serileks mungkin untuk menghindari kecurigaan pak Dewantoro.
"Aku sudah kenyang, Ericka. Nanti buahnya aku makan, sekarang katakan padaku apa yang ingin kamu sampaikan? Aku yakin ada hal penting yang ingin kamu katakan, bukan sekedar ingin memberiku sarapan saja.." kata pak Dewantoro mulai menatapnya lekat.
"Jangan begitu, tidak baik selalu berpikir kalau orang memberikan kebaikan selalu menginginkan timbal balik. Karena tidak semuanya bersifat bisnis dan mumpung Ayah membahas ini ada yang ingin aku sampaikan padamu..
Ayah... Aku lihat perusahaan ini mulai tak seimbang karena perilaku dan etos kerja pegawainya juga, bukan karena hasil kerja saja yang dinilai, tapi sikap dan perilaku juga harus diperhatikan juga.
Maaf jika aku lancang, tapi sepertinya kita harus membuat sebuah gebrakan baru untuk perusahaan ini agar lebih dihormati dan dihargai lagi oleh setiap orang, karena aku perhatikan ada beberapa pemimpin perusahaan ini yang berbuat semena-mena disini.
Dan sekali lagi maaf... Bukan bermaksud apa-apa, jika diperhatikan lagi latar belakang para pemimpin itu adalah orang-orang dibawah naungan Elena, eh maksudku ibu langsung.
Bukan bermaksud ingin membuat masalah dengannya, coba Ayah pikirkan lagi.. Apa semua kontribusinya di perusahaan dan semua bisnis ini ada yang menguntungkan perusahaan dan Ayah pribadi?
Tidak, kan?! Dimana-mana yang namanya istri itu selalu mendukung suaminya, membantu usaha dan bisnis suami biar lebih maju, bukannya malah sebaliknya!" ujar Ericka memberikan pendapatnya.
Dia sadar dirinya mulai terbawa emosi, dia mengatur sedikit nafasnya dan bersikap lebih santai dan tenang, dia tidak ingin ayahnya itu tau rencananya.
"Tapi semuanya ada ditangan Ayah, aku hanya bawahan apalagi posisiku saat ini anak baru, aku akan mengikuti semua keputusanmu mana yang terbaik" ujar Ericka lagi.
Setelah itu dia pamit untuk kembali ke ruangannya, dia masih belum bisa membaca isi pikiran pak Dewantoro yang dia tahu lelaki tua itu pelan-pelan sudah menerimanya.
"Segitu saja sudah lebih dari cukup bagiku untuk saat ini, untuk selanjutnya kita akan berikan kejutan yang meriah nanti malam, btw... Bagaimana persiapan pesta penyambutanku nanti malam, sudah rampung kah atau ada yang belum beres?" gumamnya.
Dia menghubungi bi Mirna dan bertanya perihal pestanya nanti malam, dan syukurlah semuanya berjalan dengan keinginannya, dia kembali menghubungi Stanley yang sekarang sudah kembali ke London bersama Jessy.
"Bagaimana, apa perjalanannya kembali ke London semuanya baik-baik saja kah?" ujarnya melalui saluran telpon internasional.
"Sudah, aku dan Jessy sudah kembali bekerja seperti biasa. O ya, sesuai perintahmu aku sudah menemukan pemuda Indonesia yang berada disini.
Namanya Aldy Putra Pratama, menurut hasil penelitian kami dia bukan pewaris tunggal Pratama grup yang asli, pewaris asli adalah seorang wanita yang sudah menikah yang merupakan kakak angkatnya.
Dengan kata lain, saudara Aldy Putra Pratama adalah anak angkat atau anak adopsi keluarga Pratama itu sendiri, dan menurut rumor anak itu sering membuat masalah, dan keluarga angkatnya itu berniat mengembalikannya kepada orang tua kandungnya yang asli tinggal di pedesaan di Indonesia" ujar Stanley menjelaskan tentang seorang pemuda yang sedang dicari Ericka di London.
"Btw, kenapa kau mencarinya? Dia seorang penipu, banyak para gadis termakan rayuannya dan habis hartanya ditipu olehnya" ujar Stanley bertanya heran.
"Tidak ada apa-apa, sepertinya ada yang akan kena masalah nantinya" ujarnya sambil menyunggingkan senyumannya.
Dia menutup telponnya, lalu dia mulai mencari data pribadi lelaki bernama Aldy itu, tentu saja semua data dan informasi yang dia dapat semuanya palsu, sepertinya memang sudah di setting demikian, dan orang tua angkatnya juga pasti terlibat soal ini.
"Jadi, Pricilia... Kau akan bertunangan dengan lelaki ini rupanya,hem... Bagus, penipu menipu penipu! Sesama penipu bersatu bukanya itu adalah pasangan yang serasi" ujarnya tersenyum sinis.
//
Ditempat lain, Elena dan Pramudya sedang menemui pengacaranya dan 'orang dalam' di kepoli.sian itu. Mereka berencana dan bernegosiasi untuk melepaskan Pricilia hari itu juga.
"Kalau segini mah, kurang Pak! Karena saya juga harus membagi ini kesemua teman-teman yang akan membantu saya nantinya" ujar oknum petugas itu mencoba bernegosiasi.
"Baiklah, saya tambah seratus juta lagi! Deal?!" tanya pengacara Elena lagi.
"Baik, deal! Cash yah, saya tidak terima transaksi lain kecuali tunai. Saya tidak ingin ada masalah nantinya" ujar oknum itu.
"Baik, nanti sore kami akan kembali dengan uang itu dan persiapan Pricilia agar dia bersiap-siap untuk pulang" ujar Elena lagi.
Oknum petugas itu tersenyum sumringah, mereka berjabat tangan tandanya negosiasi mereka berhasil dan akan sama-sama akan mendapatkan keuntungan.
"Tidak apa aku mengeluarkan uang segitu banyaknya, nanti juga akan kembali lagi karena Pricilia akan segera bertunangan dengan pemuda itu. Pewaris Pratama Tunggal Grup, salah satu orang terkaya di negeri ini.
Hahaha... Senangnya aku akan berbesan dengan orang kaya dan terpandang di negeri ini, aku tak perlu lagi takut jatuh miskin karena ada menantu kaya! Haha!" ujarnya tertawa puas dalam hatinya.
Dia tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi nanti, bahkan dia juga tak pernah menyangka jika pemuda itu tak lain adalah seorang penipu yang mendompleng nama keluarga angkatnya saja.
//
//
Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu, sore sudah tiba rupanya, semua pegawai mulai membubarkan diri dan hanya tinggal beberapa orang saja yang tinggal. Ericka melihat ayahnya juga sudah pulang, ada yang aneh dengan sikap pak Dewantoro itu sebelumnya, dia nampak senang sekali, sepertinya ada berita gembira saja yang menghampirinya.
"Ada apa?" tanyanya kepada mas Bram sebelum ayahnya pergi.
"Nona Pricilia akan pulang sore ini, Non. Dan katanya calon tunangannya juga sudah sampai di Indonesia. Sepertinya mereka akan memulai mengumumkan pertunangan mereka malam ini, padahal malam ini pesta penyambutan Nona yah.." ujar mas Bram sepertinya merasa kasihan dengannya.
"Tidak apa, Mas Bram! Berbagi kebahagiaan juga bagus malah saya senang bisa memberikan momentum kebahagiaan mereka" ujarnya dengan senyuman penuh arti.
Melihat itu mas Bram sepertinya tahu apa yang akan direncanakan oleh gadis ini, dia hanya menghela nafasnya berat melihat betapa peliknya permasalahan kehidupan keluarga bosnya itu.
Ericka pulang sedikit terlambat karena dia harus menyelesaikan beberapa urusannya diluar dengan alasan masih banyak pekerjaan di kantor.
Dia melihat rumah itu sudah mulai ramai oleh para tamu-tamu, kebanyakan mereka adalah para tamu penting, kolega dan para pengusaha-pengusaha ternama lainnya, ada beberapa yang dia undang dan ada juga beberapa yang dia tidak kenal dan tentu saja tidak dia undang.
"Hemm, pasti ini ulah Elena lagi.. Dia sengaja menggunakan pestaku untuk mengumumkan pertunangan anaknya itu, sampai dia ingin semua dunia tahu siapa mereka itu.
Jangan khawatir aku akan memberikan tempatku secara leluasa kepada kalian, bahkan aku akan mengundang beberapa wartawan agar kalian lebih terkenal lagi" gumamnya sambil tersenyum sinis memperhatikan Elena dan ayahnya nampak senang sekali menyambut para tamu-tamu itu.
Dia hendak masuk ke kamarnya tapi dicegat oleh seseorang yang paling tidak ingin dia temui, siapa lagi kalau bukan Pricilia. Gadis itu tersenyum sinis melihatnya, terlihat raut wajah penuh kebencian itu menatapnya.
"Dasar gadis licik, kau menggunakan kesempatan untuk mengambil kamarku selagi aku tidak ada di rumah! Tidak apa, aku hadiahkan kamar itu untukmu karena sebentar lagi aku akan menikah dengan orang terkaya di negeri ini.
Dan kekayaannya melebihi ayahmu itu, aku akan memamerkan semuanya kepada kalian dan akan membuat kalian merasa malu padaku dan akan berlutut memohon bantuanku. Haha! Aku sudah tak sabar menunggu momen itu!" ujarnya sambil berlalu pergi dengan angkuhnya.
"Aku tak perduli dan tak mau tahu, karena kamu yang akan seperti itu dihadapanku nantinya, sampai saat itu tiba aku takkan melepaskanmu begitu saja" gumam Ericka menatapnya tajam.
Acara akan dimulai segera, semua tamu sudah hadir bahkan para wartawan juga sudah berkumpul. Mereka sudah disambut dengan berbagai pertunjukan mulai dari antraksi dance hingga penyanyi idol ternama diundang juga.
Ericka datang dengan gaun indahnya, gaun berwarna biru sedikit mengembang bagian bawahnya, dengan ekornya sedikit lebih panjang menjuntai kebawah. Rambutnya sedikit digelung keatas, dengan hiasan rambut ala queen Britania membuatnya semakin anggun dan sangat cantik.
Dia mampu menghipnotis semua tamu undangan dan beberapa orang yang ada di sana dengan penampilannya itu, bahkan Elena dan Pricilia juga para tamu undangan yang wanita kalah cantik oleh pesonanya.
"Hadirin sekalian, kita sambut kedatangan Nona muda di rumah ini.. Yang sudah lama pergi menimba ilmu dari negeri para ratu terkenal.
Mari kita sambut Nona Ericka Victoria Wijaya...! Wah, sangat anggun dan cantik sekali yah, sudah seperti para princess di negeri dongeng! Yang penting hidupnya tidak tragis seperti mereka yah, haha!" ujar MC itu menghangatkan suasana.
Ericka datang dan memberikan berbagai kata sambutan dan memberikan ucapan terima kasih karena sudah disambut dengan baik, meskipun dia tahu dia yang merencanakan pesta ini.
Tidak lama kemudian, datanglah tamu penting yang sudah ditunggu-tunggu sejak tadi. Aldy Putra Pratama bersama ayah dan ibu angkatnya, mereka sangat disambut dengan baik oleh Elena dan pak Dewantoro.
Bahkan, sejenak pesta itu diambil alih oleh mereka untuk menyambut tamu penting itu.
Semua mata tamu dan wartawan teralihkan ke mereka, terlihat Elena dan anak-anaknya menatap sinis kearah Ericka dengan senyuman puas itu, karena sudah menghancurkan pestanya dengan mengambil alih pestanya.
"Nikmatilah... Selagi kalian bisa, aku akan mempertunjukkan acara yang begitu meriah sebentar lagi" ujarnya sambil menatap mereka dengan senyuman lebih licik dari mereka itu.
...----------------...
Bersambung