Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Luka Yang Kau Torehkan


Sementara itu, dikediaman pak Dewantoro semua orang sedang berkumpul diruang tengah kecuali Ericka. Mereka semua nampak serius, suasana jadi begitu tegang.


"Jadi, Rendy... Kau bersikukuh tetap ingin membawa kasus ini ke pengadilan?" Tanya pak Dewantoro.


"Maaf Yah, aku terpaksa melakukannya" jawab Rendy datar.


"Huh! Akhirnya kau menunjukkan juga sifat aslimu itu, Rendy!" Ujar Pramudya.


"Kalau nanti memenangkan gugatan itu, berarti nanti kau harus keluar dari Wijaya Group. 'Kan kau sudah banyak harta dari perusahaan dan yayasan milik ibumu itu, jadi tak perlu lagi itu semua!" Sahut Pricilia dengan senyum sinisnya.


"Kamu lihat, Ayah... Sifat dan perilaku kedua anak tirimu ini, mereka bahkan tak segan dan malu mengatakannya. Bahkan, kami anak kandungmu saja seperti anak tiri dan diperlakukan tidak adil olehmu" ucap Rendy dingin kepada ayahnya itu.


"Rendy, bukan seperti itu..." Ayahnya tak bisa melanjutkan kata-katanya lagi.


Dia merenungi ucapan anaknya itu, apa yang dikatakannya itu benar. Hanya ingin memuaskan keinginan istrinya dan ingin mengambil hati anak tirinya, dia melupakan kewajibannya sebagai seorang ayah.


"Sudahlah, Ayah takkan mampu melakukan apa-apa selama mereka ada disini. Bahkan, hidupmu saja diatur oleh istri dan anak tirimu.


Mereka sama sekali tidak menghargai Ayah" ujar Rendy.


"Hei, jaga ucapanmu yah! Kami sangat menghargai Ayah, bukannya dirimu. Dasar tidak tahu diri!" Ujar Pricilia.


"Jutru kalian yang tidak tahu diri, kalau bukan ibumu menikahi ayahku kalian tidak akan memiliki apapun untuk dibanggakan.


Bahkan ibumu sendiri memakai perusahaan dan yayasan milik ibumu untuk memenuhi kebutuhannya, dasar tidak tahu malu!" Sahut Rendy.


Plak!


Dia sangat terkejut ketika mendapat tamparan dari ayahnya itu, rasa sakit tamparan itu dia masih bisa menahannya. Tapi rasa sakit hati dia diperlakukan seperti itu didepan semua orang, membuatnya malu dan marah.


"Terima kasih, tamparan ini akan menjadi pengingat buatku, siapa aku bagi Ayah selama ini. Jangan harap mendapatkan penghormatan dariku atau saudaraku yang lain" katanya lalu pergi meninggalkan mereka.


"Rendy, berhenti! Jika tidak, pergi saja dari rumah ini!" Teriak pak Dewantoro penuh emosi.


"Tenang saja, aku akan pergi dari sini! Lagian, lama-lama rumah ini sudah seperti neraka saja bagiku!" Ucapnya dingin.


"Kalau begitu, keluar dan jangan pernah kembali!" Teriak lagi pak Dewantoro.


Rendy tidak memperdulikan ayahnya lagi, dia bergegas naik kelantai atas. Saat ingin menuju kamarnya, dia akan melewati kamar adiknya itu.


Dia ingin mengajaknya pergi juga, jika ditinggalkan maka akan membahayakan Ericka jika sendirian. Tidak akan ada yang bisa melindunginya lagi.


Tok! Tok! Tok!


"Ericka, Eri! Ini Kakak... Cepat buka pintunya, Kakak ingin bicara padamu" ujar Rendy diluar pintu itu.


Lama tak ada jawaban, dia kembali memanggil adiknya itu dan masih tak ada jawaban. Dia ingin memaksa masuk tapi pintunya terkunci.


Dia menggedor pintu itu dengan keras, supaya Ericka mau membukakannya tapi tetap saja tidak bisa.


"Percuma kau memaksa masuk, dia tetap tidak akan mau menemuimu. Karena dia malu mempunyai kakak sepertimu, lelaki pengecut yang berusaha menguasai semuanya.


Ck, betapa menyedihkannya dirimu itu. Sekarang kau tak punya apa-apa lagi, bahkan orang-orang di sekitarmu menjauhimu." Ujar Pramudya memprovokasi dirinya.


Dia sengaja menyusul dirinya sampai keatas, dia masih ingin melihat penderitaan Rendy lebih lama. Rasanya menyenangkan melihat musuh kalah telak.


Saat dibawah tadi, dia dan Pricilia tidak menyangka akan mendapat pembelaan dari ayah tirinya itu. Mereka pikir, mereka akan dipermalukan di sana tapi siapa sangka malah melihat drama seru antara ayah dan anak.


Rendy pergi meninggalkan Pramudya, dia tidak ingin menanggapinya. Dia masih syok dengan perlakuan ayahnya tadi ditambah lagi sikap Ericka yang tidak ingin menemuinya.


Dia mengurung diri di kamarnya, Semua pintu dan jendela dia tutup dan kunci bahkan dia menutupnya dengan semua horden. Suara musik rock yang begitu kencang sengaja dia putar keras.


"Aaah!! Dasar, brengsek! Liat saja nanti, aku akan menghancurkan kalian semua!" Teriaknya.


Dia duduk disalah sudut ruangan gelap itu, dia sengaja mengurung diri dan memutar musik kencang, karena dia tidak ingin ada yang melihat dan mendengarnya menangis.


"Ibu, kenapa kamu begitu cepat pergi. Aku merindukanmu. Hiks! Aku juga merindukan kakakku yang bawel, adikku... Aku baru dekat dengan adikku, tapi sekarang menjauh lagi.


Ibu, aku harus bagaimana? Apa aku harus pergi? Meninggalkan Eri sendirian, rasanya tidak mungkin. Tapi aku capek bu, hiks!" Dia mencurahkan segala isi hatinya lewat tangisannya.


Rendy yang terlihat kuat, pintar dan dingin itu ternyata sangat rapuh. Dia berusaha menyembunyikan luka batinnya, dia tidak ingin semua orang mengetahui bahwa dia memiliki luka begitu besar dihatinya.


Sementara itu, diruang tengah itu pak Dewantoro masih berdiri diam mematung. Dia baru menyadari telah melakukan sebuah kesalahan besar, tangannya gemetar rasa panas ditelapak tangan itu masih sangat terasa.


Begitu kuat dan kencangnya dia menampar putranya itu, dia mengutuk dirinya sendiri karena telah melukai hati dan perasaan anaknya itu. Hanya karena emosi sesaat ia tega menampar dan memperlakukan putranya didepan semua orang.


Saat itu Pramudya langsung menyusul Rendy sedangkan Pricilia langsung pergi ke kamarnya, sedangkan Elena yang hanya diam saja tadi beranjak dari duduknya menghampiri suaminya itu.


"Tenanglah, dia hanya emosi sesaat setelah itu dia akan kembali seperti biasa. Tapi sayang, apa kamu serius akan mengusirnya dari sini?


Itu berarti kamu membiarkan dia terus menggugat kita, seharusnya kamu membujuknya." Ujar Elena bersikap lembut kepada suaminya itu.


Dia sengaja begitu karena ingin menenangkannya, dan dianggap istri yang baik buatnya.


"Diamlah, saat ini aku tidak ingin membahas apapun. Tinggalkan aku sendirian, aku tidak ingin diganggu" ujar pak Dewantoro sambil menuju ruang kerjanya.


Elena diam membiarkan suaminya pergi, dia tersenyum sinis. Meskipun dia kalah nanti di pengadilan, dia masih punya aset berharga sebagai jaminan hidupnya yaitu suaminya sendiri.


*


Sementara itu, diluar rumah hujan turun dengan derasnya.


Cuaca malam itu sama sekali tidak mendukung rencananya malam ini, Julia nekat menemui Ericka ditengah hujan lebat dengan motor sportnya.


Entah darimana dia mendapatkan motor sportnya itu, tapi dia nampak begitu mahir membawanya.


Dia menelpon Ericka, dia harus memaksanya keluar bagaimanapun caranya. Beberapa kali dia telpon tapi tidak diangkat, dia mendengus kesal lalu mengirim pesan kepada Ericka.


"Ericka, aku sudah menunggumu diluar. Tolong temui aku sekarang, ada hal penting yang ingin aku sampaikan kepadamu."


Dia menunggu balasan pesannya dibawah pohon didepan rumah Ericka, dia menggigil kedinginan dengan memakai jas hujan berwarna hitam, juga topi dan masker hitam menutupi wajahnya.


Ting!


Suara pesan masuk dari Hpnya, dia menatap layar Hpnya ternyata itu balasan dari Ericka.


"Tunggu, aku akan bersiap turun kebawah. Jangan kemana-mana"


Jawab Ericka, Julia tersenyum puas dan apa yang ada didalam pikirannya hanya dia yang tahu, dia sudah tak sabar menunggu kedatangan Ericka suhu dingin ditambah hujan deras membuatnya menggigil kedinginan.


Saat itu, Ericka tak sengaja mendengar pertengkaran hebat antara kakaknya Rendy dengan ayahnya itu. Dia juga melihat tamparan keras yang diterima Rendy oleh ayahnya itu.


Dia tak kuasa menahan tangisnya dan berlari masuk ke kamarnya, dia menangis sesenggukan melihat kakaknya diperlakukan seperti itu oleh ayahnya.


Setiap telpon dari Julia dia abaikan, dia tidak ingin menemui siapapun karena saat ini kondisinya sedang tidak stabil. Setelah mendapat pesan singkat dari Julia, dia merasa bersalah juga mengabaikannya dari tadi.


Mungkin ada hal penting yang harus dia sampaikan, bagaimanapun juga sekarang mereka berteman..


"Julia..." Sapa Ericka kepada teman barunya itu.


Saat itu Julia meringkuk kedinginan duduk dibawah pohon besar depan rumah Ericka, dia tersenyum lega yang ditunggu sudah datang.


"Julia, maaf aku tidak tahu jika kamu sudah menungguku selama ini" ujar Ericka, dia nampak kasihan melihat Julia kedinginan begitu.


"Tidak apa, aku baik-baik saja" ujarnya, padahal nampak sekali dia kedinginan.


"Baiklah, ada apa kamu datang malam-malam begini? Kenapa tidak menunggu besok saja?" Tanya Ericka.


"Aku tidak punya waktu, kami akan pindah keluar kota. Kedua orangtuaku ingin kembali ke daerah mereka dan membuat usaha keci di sana.


Tapi aku tidak ingin pindah, Ericka... Aku mohon tolong katakan pada kakakmu atau yang lain, jangan pecat dan usir kedua orang tuaku dari pekerjaan mereka.


Kami tidak biasa hidup susah, aku tidak ingin tinggal dikampung yang bau dan kotor itu!


Tolong, kembalikan posisi kedua orang tuaku!" Teriak Julia melawan kencangnya suara angin dan derasnya hujan.


"Maaf, Julia... Untuk itu aku tak bisa, saat ini kak Reva tidak ada di rumah dan dia susah dihubungi. Seperti kau tahu, keluargaku dalam kesusahan kami tak bisa fokus dengan yang lain" ujar Ericka menundukkan kepalanya.


Dia merasa tidak enak dan iba dengan keluarga Julia, dia juga akan merasa sedih kembali karena akan ditinggalkan oleh orang yang dekat dengannya.


Berbeda dengan reaksi Julia, dia begitu marah dan kecewa sekali. Harapannya begitu besar datang ke sana, berharap Ericka akan banyak membantunya ternyata diluar harapannya.


Dia mengepalkan tangannya Dengan wajah merah padam menahan emosinya, tatapannya tajam segala sumpah serapah dia lontarkan dalam mulutnya tapi dia tahan sendiri.


"Kenapa kau tak bisa menolongku, Ericka? Bukankah kita berteman? Seharusnya sesama teman itu harus saling tolong, bukankah begitu?!" Tanyanya lagi dengan wajah datar.


"Ma-maaf Julia, aku bukannya tak mau tapi..." Dia menahan nafas melihat perubahan reaksi Julia, meskipun wajahnya tertutup masker Ericka masih bisa melihat tatapan mata penuh kebencian itu.


"Ju-Julia... Kau kenapa-" belum selesai dia bicara dia merasakan sabetan benda tajam kearah wajahnya.


Dia terkejut saat merasakan lelehan cairan hangat di wajahnya, dia merabah pipinya itu dan melihat darah merah ditangannya. Seketika dia badannya limbung karena kaget dengan apa yang dia lihat, dia menatap Julia tidak percaya. Kenapa dia tega melakukan itu kepadanya?


Ericka maju hendak menghampirinya, malah dapat serangan lagi darinya dua sabetan ke pipi kiri dan kanannya. Ericka menjerit kesakitan, dua sabetan itu membuat luka cukup besar dan dalam di wajah Ericka.


"Aahh!" Ericka menjerit histeris akibat sabetan itu.


Julia langsung kabur bersama motor sportnya itu, saat itu ada dua security sedang berpatroli didepan rumahnya. Mereka melihat seseorang membawa motor sport begitu kencang melaju didepan rumah itu.


Mereka menghiraukannya, tetapi pandangan mereka berubah setelah melihat seseorang jatuh tersungkur didepan rumah itu, saat mereka menghampirinya betapa terkejutnya mereka nona muda rumah itu terluka berat.


Mereka membawa Ericka masuk kedalam, saat itu yang menerimanya adalah Elena. Elena segera memerintahkan mereka untuk membawa Ericka ke rumah sakit besar milik yayasannya itu.


"Ingat, rahasiakan ini. Jangan beritahu siapapun tentang kejadian ini, jika ada yang tahu kalian akan mendapat balasannya nanti.


Rahasiakan ini terutama dari bapak dan saudara-saudaranya, mengerti?!" Perintah Elena.


Kedua pengawalnya itu mengangguk, lalu membawa Ericka kedalam mobil khusus membawanya ke rumah sakit tujuan yang diperintahkan oleh Elena.


...----------------...


Bersambung