Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Rencana Si Kembar Beda Ayah dan Beda Ibu


Sementara itu, di kantornya Ericka nampak begitu sibuk dengan pekerjaannya. Dengan roti sandwich yang dia gigit di mulutnya, dia membolak-balikkan berkas-berkas yang ada di mejanya.


"Apa sebaiknya, Ibu sarapan dulu.. Ini berkas masih begitu banyak, Bu.." ucap sekretarisnya hati-hati.


"Aku masih bisa melakukan apapun sambil makan, Viona. O ya, tolong panggilkan Geraldine.." sahutnya.


"Baik, Bu.." Viona, sekretaris Ericka pamit keluar dari ruangannya.


Tidak lama kemudian, Geraldine datang bersama beberapa berkas ditangannya.


"Permisi, Bu.." ucapnya.


"Iya, bagaimana? Apa semua yang aku minta tadi sudah ada hasilnya?" tanyanya langsung.


"Sudah, Bu. Ini adalah profil lelaki itu dan juga data-data aset perusahaan miliknya, menurut data ini, semua yang dia miliki belum sepenuhnya miliknya, meskipun sudah ada surat penerimaan dirinya di sana.


Karena pemilik aslinya belum menandatangani surat penyerahan jabatan ataupun kekuasaan penuh atas kepemilikan saham dan perusahaannya. Dan maaf, aku tak menemukan siapa pemilik asli dari semua aset keluarga itu" ucap Geraldine.


"Tentu saja, itu kan semuanya milik kakekku. Yang menjadi hak mendiang ibu, dan sekarang diturunkan ke kami.." gumam Ericka dalam hati.


"Baiklah, ini saja sudah cukup. Dan tolong kirimkan orang untuk mengawasinya, laporkan kepadaku apa saja yang dilakukan oleh orang ini!" perintahnya.


"Baik, Bu.." sahut Geraldine.


Ericka nampak berpikir keras, bagaimana caranya agar dia bisa membuat lelaki itu bersama keluarganya tidak berani lagi dengan mereka, apalagi dia juga tau jika Zacky sudah melangkah sangat jauh, untuk mencelakai dirinya dan kakaknya.


Tok!


Tok!


Tok!


"Masuk!" sahutnya.


Seorang lelaki muda masuk kedalam ruangannya, penampilannya rapi dan sangat berbeda dari penampilannya yang biasanya.


"Jadi, apa kamu bisa bekerja dalam satu waktu dengan berbagai pekerjaan seperti ini? Kamu harus membantu kak Nico dari dalam perusahaannya, hingga pekerjaan luarnya juga.


Dan sekarang kamu juga mau bantu kami juga, well.. Apa kamu punya tenaga super atau kamu robot yah gak ada capeknya?" tanya Ericka kepada pemuda itu.


"Kenapa gak, bahkan aku bisa sambil kuliah atau melakukan semua hal dalam sekali waktu" ucap pemuda itu sambil tersenyum sumringah.


"Sebenarnya, siapa kamu Erick?! Kamu itu aneh!" tanya Ericka heran.


"Erick adalah bagian dari Ericka, hehe!" jawab pemuda itu cengengesan.


"Gak lucu!" sahut Ericka kesal.


"Tapi beneran kok, usiaku gak terlalu jauh darimu. Aku hanya sedikit terlambat masuk kuliah karena pekerjaanku itu.." jawab Erick lagi.


"Sudahlah, jangan membual! Aku tau semuanya siapa kamu dan apa tujuanmu!" ucap Ericka menatapnya tajam.


"Wahh.. Aku jadi takut padamu, kau lebih mengerikan daripada semua lelaki diluar sana!" kata Erick sambil bergidik.


'Apa kak Nico tau siapa kau sebenarnya? Dan apa kak William juga tak keberatan dengan semua pekerjaanmu di sana dan disini?" tanya Ericka lagi.


"Aku gak tau, tapi dia cukup pintar dan aku yakin dia juga tau siapa aku. Dan William, aku rasa dia tak peduli denganku.. Aku ini siapa, Ericka.. Anak yang tak pernah diinginkan, dan aku juga bukan siapa-siapa bagi keluarga itu.." ucapnya pelan.


"Tapi tak bisa dipungkiri, kalau kau dan kak William itu bersaudara meskipun lain ibu. Dan opa Harja juga kakekmu" ujar Maura lagi.


"Tapi apa gunanya sebuah silsilah keluarga jika kita tak pernah dianggap, mungkin aku tidak ada didalam bagian sejarah keluarga itu, namaku juga tak mungkin terukir di sana" sahutnya sambil tersenyum getir.


"Seperti katamu, apa gunanya silsilah keluarga.. Gak penting kan, yang penting itu adalah sebuah hubungan yang kita bangun, meskipun orang lain sekalipun jika kita merasa dekat dan nyaman..


Itu juga bisa menjadi keluarga, sahabat dan rekan juga. Itu lebih dari segalanya, setidaknya itu membuat kita nyaman dan dihargai, dan kau tau juga.. Meskipun kita saudara jauh, kita juga keluarga" ucap Ericka lagi.


"Saudara jauh yah, jaauuh.. Sekali, hehe! Ah, sudahlah! Terima kasih sudah menerimaku dengan baik, so.. Apa pekerjaanku?" tanyanya berusaha melupakan semuanya.


"Dasar kau ini! Baiklah, tugasmu simpel saja. Awasi dan selidiki keluarga itu, apa saja yang mereka rencanakan selama ini, dan sekarang mereka sedang melakukan apa. Itu saja kok.." ujar Ericka memberi perintah.


"Kirain tugasnya apa, ternyata sama saja pekerjaanku disini dengan disana, sama-sama di suruh ngintipin orang!" sungutnya.


"Gampang kan, dalam satu pekerjaan untuk dua orang, jadi kamu gak perlu capek kerja yang lainnya" ucap Ericka sambil menyunggingkan senyumannya.


"Aku menerima panggilanmu, aku pikir akan mendapatkan pekerjaan yang berbeda, ternyata sama saja!" sahut Erick terlihat kecewa.


"Karena itu memang keahlianmu, kan.. Sudahlah, kerjakan!" perintah Ericka.


Sebenarnya bukan karena itu dia meminta Erick bekerja dengannya, tetapi dia ingin merengkuhnya lebih dekat lagi, bukankah menambah sekutu untuk melawan musuh yang sama itu merupakan hal yang baik?


"Dia bersaudara dengan William, siapa tahu hubungan dingin diantara mereka menjadi hangat kembali, bukankah ada hikmahnya juga dengan bekerja denganku?" seringainya menatap Erick.


Erick mendengus kesal dengan mendengar gumaman Ericka, dia pikir Ericka tak mendengar ucapannya barusan. Tapi perhatikan nya teralihkan dengan kehadiran Geraldine.


"Geraldine, ini Erick dia akan bekerja dibawah pimpinanmu, menggantikan posisi Pramudya. Tapi pekerjaannya berbeda dengan pekerjaan orang itu, dan aku yakin kau mengerti maksudku.." ujar Ericka.


"Iya, Bu. Saya mengerti.." ucap Geraldine sambil melirik Erick.


Pemuda itu hanya tersenyum manis menyapanya, kemudian Geraldine pamit keluar lagi. Erick tersenyum menatap kepergian Geraldine, Ericka tahu maksud dari pandangannya.


"Dia tak tertarik dengan lelaki, jika dia mau mungkin sejak dulu dia menerima William kakakmu itu!" kata Ericka mengejutkan Erick.


"Masa sih?! Dia tuh menurutku cantik banget dengan bentuk tubuh yang aduhai, seksi menggoda, begitu banyak lelaki tampan dan mapan di dunia ini yang mau dengannya.


Dan, waahh.. Aku tak bisa membayangkan tampang wajah lelaki itu setelah sekian lama baru kali ini ditolak oleh seorang wanita, haha!


Rasain, playboy sih! Jadi tau bagaimana rasanya ditolak, hehe!" ujarnya menertawakan William.


"Tapi dia gak pantang menyerah tuh, malah aku lihat William makin gencar mengejarnya meskipun ditolak berkali-kali" sahut Ericka lagi.


"Masa sih?" tanya Ericka heran.


"Iya, itu yang aku lihat sih.." jawab Erick.


Ternyata Geraldine masih diluar ruangan itu dan masih mendengarkan ucapannya, terbesit rasa kecewanya saat mendengar William begitu kasar memperlakukan wanita.


"Apa yang aku lakukan, kenapa aku malah mendengarkan ucapan mereka?! Memang kenapa kalau si bodoh itu seperti itu?! Ah, itu kenapa aku membenci lelaki karena sifat mereka itu!" gumamnya sendiri.


"Ehem!" Geraldine terkejut saat ada yang berdehem dibelakangnya.


"Vi-Viona?!" ujarnya terkejut.


"Permisi, Bu Geraldine.. Saya mau lewat," ujarnya sambil berlalu didepannya.


"I-iya, silakan.." ucap Geraldine kikuk, dia jadi serba salah dan pergi meninggalkan tempat itu.


Viona tersenyum melihat tingkah rekannya itu, dia masuk kedalam ruangan bosnya itu dan terkejut melihat seorang laki-laki tampan dan masih terlihat muda itu berada di sana.


"Permisi, Bu. Ini berkas-berkas yang harus anda tanda tangani.." ujarnya seraya meletakkannya diatas meja Ericka.


"Huff, belum selesai yang ini ditambah lagi yang baru.." ucap Ericka menatap tumbukan berkas diatas mejanya.


"Kalau begitu, biarkan aku saja mengerjakan separuhnya," ucap Erick.


"Ini bukan sesuatu yang bisa kamu lakukan, ini berkas-berkas yang harus aku tanda tangani, tanda tangan orisinil bukan palsu yah!" ujar Ericka kesal.


"Iya, big bos! Yang lain saja kalau begitu" ucap Erick sambil menatap Viona.


"Kerjakan saja apa yang aku suruh tadi, dan Viona terima kasih. Kamu boleh kembali ketempatmu.." ucap Ericka saat melihat tatapan nakal Erick tadi.


"Baik, Bu.." jawab Viona berlalu pergi.


"Ish, gak bisa lihat yang cakep aja kamu!" ujar Ericka menatapnya heran.


"Kenapa, cemburu? Jangan, bagaimanapun juga kita ini saudara, meskipun saudara jaaauuh sekaliii! Haha!" kata Erick kepedean.


"Mimpimu itu! Dia itu wanita baik-baik, jangan ganggu dia, lagi pula dia seorang janda anak satu. Emangnya kamu mau?" tanya Ericka memancing emosi Erick.


"Kenapa enggak, janda muda dan anaknya juga cuma satu. Gak masalah, bukankah janda lebih menggoda dan lebih berpengalaman.." jawab Erick sambil tersenyum menggoda.


Ericka menggelengkan kepalanya melihat tingkah Erick, dia pikir lelaki ini akan berhenti membicarakan perihal sekretarisnya tapi malah dia semakin tertantang.


"Ternyata dia dan William memang bersaudara, sifat mereka sama kalau soal wanita, ckckck!" gumamnya.


Erick dan William bersaudara, satu ayah dan lain ibu. Erick adalah anak dari ayahnya William dari istri keduanya, saat itu ayahnya pergi meninggalkan ibunya saat sedang mengandungnya, dan lebih memilih ibunya Erick.


Makanya dia begitu membenci Erick, berbeda dengan William, Erick malah sedang berusaha untuk mendekati kakak tirinya itu. Dia memiliki hati yang hangat dan tulus seperti ibunya.


Bahkan Erick, sampai memohon dengan Nico agar diperkerjakan olehnya agar bisa lebih dekat lagi dengannya, meskipun dia tahu Nico tahu siapa dirinya.


Alasan Nico menerima Erick juga karena ada hal yang lebih penting daripada itu, sama halnya dengan Ericka, dia juga meminta anak itu mengawasi rumah oma Mariani.


Karena Nico dan Ericka tau, anak ini sangat baik dan juga memiliki sifat yang sangat bertolak belakang dengan keluarga ayahnya itu, dan tak se misi dengan kakeknya itu, sama juga dengan William.


"Aku dan kak Nico akan menjaga dan melindungi kalian berdua, karena kalian juga adalah bagian dari keluarga kami.." ucap Ericka menatap kepergian Erick.


Lelaki itu mendengar ucapan Ericka, dia hanya tersenyum getir dan pergi menunaikan tugas pertamanya di sana.


"Semua orang juga pada awalnya berkata seperti itu saat bertemu denganku, tapi tak ada satupun yang benar-benar ikhlas menerimaku.


Sampai saatnya aku bertemu dengan kak Nico, makanya sampai saat ini aku bertahan dengannya karena kebaikan hatinya, dan aku harap kau juga sama seperti dirinya.." gumamnya dalam hati.


Saat ini dia berada didalam ruangan khusus baginya, yang telah disiapkan oleh Geraldine dan Viona, dan hanya mereka berdua saja bersama Ericka siapa dirinya dan apa pekerjaan dirinya di perusahaan Itu, karena ini bersifat rahasia.


"Oke, sekarang kita lanjut kerja lagi. Aku mulai darimana yah... Em, bagaimana kalau dari kantornya saja, aku yakin jam segini anak kamvret itu sudah ada di sana" gumamnya sambil memainkan jari-jarinya di keyboard didepannya.


Ruangannya tak terlalu besar tapi cukup luas untuknya, begitu banyak layar monitor dan komputer juga laptop di sana untuk alat bekerjanya. Ericka berusaha membuat lelaki itu nyaman dalam bekerja.


Erick terbelalak saat melihat adegan tak senonoh di ruangan Zacky, padahal masih pagi anak itu sudah 'jajan' saja.


"Pagi-pagi begini udah dipertontonkan hal menjijikan seperti ini, mending gayanya hot ini mah udah monoton banget, aku yakin tuh cewek sama sekali tak menikmati, ckck! Amatir!" ujarnya sambil mengalihkan layar monitornya ketempat lain.


Kali ini dia melihat Arlon berada di ruangan lain, dia bersama seseorang di sana sedang membahas sesuatu. Dengan mudahnya dia menyadap ponsel Arlon di meja lelaki itu, sehingga dia bisa mendengarkan percakapan mereka.


"Goda salah satu dari mereka, hancurkan mereka dari dalam. Jika kita tidak bisa menghancurkan keluarga itu dari luar, kita bisa saja menghancurkan dari dalam.


Aku yakin salah satu dari mereka pasti akan tertarik denganmu, lelaki manapun pasti sama, tergoda dengan wanita cantik dan seksi sepertimu" kata Arlon kepada wanita yang ada didepannya itu.


"Tapi, sayang.. Apa tidak apa aku yang mengerjakannya, bagaimana jika kita gunakan gadis lain saja?" tanya gadis itu sepertinya keberatan.


"Tidak, aku tak yakin dengan yang lain. Dan aku percaya denganmu!" seringai Arlon menatap gadis itu.


"Baiklah kalau begitu, tapi jangan cemburu yah, hihi!" jawab sang gadis dengan gesture menggoda.


"Tidak akan, goda Rendy! Saat ini dia sedang rapuh, akan lebih mudah mendekatinya, jika tidak bisa, goda juga Nico. Kalau bisa kau goda saja dua-duanya, biar semuanya hancur, haha!" ujar Arlon sambil memeluk gadis itu dan menciuminya brutal.


"Dasar otak mesum dan licik mereka, tapi itu takkan pernah terjadi! Aku yakin Rendy maupun kak Nico bisa bertahan dari godaan setan betina itu!


Lagian, mereka gak tau saja dengan Kak Reva dan Andriana, haha! Aku yakin belum mulai gadis itu akan dibuat trauma oleh kedua wanita bar-bar itu, haha!" ucap Erick, dia tak bisa membayangkan jika wanita itu harus berhadapan dengan Reva dan Andriana.


Besok, kita lihat bagaimana Reva dan Andriana mengerjai si setan betina utusan dajjal Arlon!


...----------------...


Bersambung