Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Saling Memahami


Malam itu Erick bergantian menjaga opa di rumah sakit, sebenarnya sudah ada beberapa petugas kepolisian yang menjaganya tapi mereka juga ingin berada di sana disaat opa lagi sakit, agar beliau tidak merasa sendirian.


"Kau pulang aja, istirahat. Ajak pulang sekalian Geraldine, jangan ajak dia begadang disini. Besok pagi kesini lagi, gantiin aku. O ya tadi kak Nico nelpon, katanya besok dia dan lainnya mau datang, nengokin opa.." ujar Erick menjelaskannya kepada William.


"Buat apa, bukannya besok masih ada acaranya si Rendy? Lagian gak semua orang bisa nengokin opa, cuma kita berdua aja yang boleh.." ucap William.


"Iya, sudah aku jelasin kok. Kata mereka cuma sebentar aja, itu juga paling kak Nico sama Ericka aja.. Dan acara resepsi kedua Rendy kan dilakukan siang hari, masih ada waktu sebentar untuk mereka kesini, walau cuma sebentar doang.." ujar Erick lagi.


"Ya udah kalau itu mau mereka, yang penting gak merepotkan saja. Gak enak, mereka sudah banyak bantuin kita.." kata William merasa tidak enak hati.


"Iya, aku juga merasa demikian.. Eh, ya udah! Pulang sana, kasihan Geraldine nungguin dari tadi!" sahut Erick lagi sembari menoleh kearah gadis itu.


"Iya, ya! Aku pulang dulu," ujar William sambil berlalu pergi.


Dia menghampiri Geraldine dengan perasaan berdebar-debar, begitu banyak yang ingin dia tanyakan pada gadis itu. Dia merasa kalau Geraldine sudah membuka hatinya, terlihat dari cara bicara dan disaat gadis itu menatapnya.


"Yuk, pulang! Aku anterin," ujar William sambil tersenyum menghampirinya.


"Aku nginep di hotel Wijaya group, antar aku kesana aja. Sekalian kamu bertemu dengan Nico dan lainnya, mereka tadi terlihat sangat mengkhawatirkan kamu karena dari sore gak kelihatan.." ucap Geraldine.


Tapi William salah mengartikan ucapan gadis itu, dia pikir Geraldine sedang menahannya agar bisa lebih lama dengannya di hotelnya nanti, dia sedikit salah tingkah lalu tersenyum malu.


"Aku mau sih, tapi rasanya gak enak aja inikan sudah mau larut malam. Gak enak, meskipun gak ada Cctv tetangga kita tetap menjaga diri dari segala godaan, meskipun pengen banget, ditahan dulu yah.." ujar William sambil tersenyum.


"Kamu ngomong apaan sih? Aku tuh cuma ngasih tau--" tapi omongan Geraldine lagi-lagi dipotong oleh William.


"Iya, aku faham kok. Gak usah malu, kita ini sama-sama dewasa sudah mengerti soal begitu, tapi tetap saja gak bisa yah.. Karena aku sudah bertekad untuk menahan diri mulai sekarang, sebelum.." William berbicara dengan percaya dirinya sambil memberikan tanda isyarat dengan menautkan dua jarinya bersamaan.


"Ih, apaan sih! Ya udah kalau gak mau, nanti aku bilang aja ke Ericka!" sungut Geraldine sambil berlalu, dia kesal dengan William yang tidak mengerti maksud dari pembicaraannya.


"Sabar, sayang.. Ada saat waktunya kita melakukannya bersama, dan aku harap kita melakukannya disaat kita sudah halal toyiban!" gumam William sambil senyum-senyum sendiri, menyusul Geraldine menuju mobilnya.


"Kamu bawa mobil sendiri?" tanya William.


"Iya, kenapa?" tanya balik Geraldine.


"Emm, gak sih.. Aku juga bawa mobil, ya udah kamu jalan duluan aku ngikutin kamu dari belakang.." ucap William.


Geraldine mengangguk sambil melajukan mobilnya sedangkan William mengikutinya dengan mobilnya sendiri.


Beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di hotel. Acara resepsi dengan tema adat sudah selesai, semua tamu undangan sudah kembali hanya beberapa staf hotel yang sibuk membereskan semuanya, karena besok pagi mereka akan mendekorasi ulang ballroom itu dengan tema internasional.


"William!" panggil seseorang sesaat melihat mereka berdua berjalan menuju lobby hotel.


"Nic.." sahut William sambil memeluk sahabatnya itu.


"Bagaimana dengan opa? Sudah ada perkembangan lagi?" tanya Nico penasaran.


"Belum ada perkembangan lebih lanjut, saat ini beliau belum siuman. Sekarang Erick yang menjaganya, besok pagi aku akan kembali lagi ke sana.


Sorry, bro! Aku gak bisa bantuin kalian sampai selesai, maaf banget! Emm, besok Erick aku suruh disini aja buat bantuin acaranya Rendy, dan besok malam aku yang berada disini.." ucap William sesaat setelah dia berpikir sebentar.


"Sudah, gak usah mikirin ini dulu. Semuanya sudah diatur dan sudah siap acaranya, sudah ada WO dan keluarga dan lainnya untuk membantu, fokus aja ke opa.." ujar Nico menenangkan William.


.


.


Keesokan harinya, Nico dan lainnya sedang sarapan di hotelnya yang sudah disiapkan oleh pihak panitia acara, sebelum mereka melanjutkan acara resepsi selanjutnya.


"Aku mau berbicara sesuatu kepada kalian, terutama kalian berdua, Rendy dan Andriana.. Dan kau juga Reva, selaku ketua panita acara pernikahan ini,," ujar Nico sambil menunjuk istrinya itu.


"Apaan sih, lebay!" sahut Reva memandang gemas suaminya, sedangkan yang lainnya hanya tersenyum melihat keduanya.


"Aku harap kalian semua dapat mengerti dan faham apa yang ingin aku katakan ini, semoga tidak ada yang keberatan. Aku mau acara resepsi ini sampai hari ini saja, jika ingin melakukan resepsi lagi, bisa tunggu satu Minggu lagi atau tidak sampai menunggu kesehatan opa membaik..


Aku tau, ini semua tidak ada hubungannya dengan kita, tapi aku harap kita semua bisa merasakan apa yang dirasakan oleh William dan Erick. Karena mereka juga bagian dari keluarga kita, rasanya tak elok kita terus mengadakan pesta sedangkan mereka sedang merasa sedih dan gelisah dengan keadaan opa.


Memang, ini semua musibah dan tidak ada yang tau kapan datangnya, setidaknya kita punya empati walaupun sedikit. Toh acara pernikahan sudah dilaksanakan, tinggal pestanya saja dan aku pikir bisa kita lakukan lagi dilain waktu.


Emm, apa kalian keberatan? Sebenarnya William dan Erick tidak meminta ini, semuanya adalah ideku. Mereka terus merasa tidak enakan dengan kita, aku gak mau semua ini saling merasa terbebani.." ucap Nico menjelaskan maksud dari pembicaraannya itu.


"Jujur, aku setuju sekali dengan idenya kak Nico. Aku pikir pestanya sudah cukup, sebelum akad saja kita sudah melakukan serangkaian acara adat dan agama, setelah akad kita juga sudah melakukan resepsi, ditambah nanti siang.


Aku rasa sudah cukup, aku juga kasihan melihat mereka berdua, pasti mereka ingin berada ditengah-tengah kita merayakan pesta ini, karena dari jauh-jauh hari mereka sudah antusias sekali menyiapkan semuanya.


Aku pikir sudahi aja sampai hari ini, aku juga lelah sekali. Boleh ya?" pinta Andriana kepada Rendy dan Reva.


"Boleh aja sih, aku setuju-setuju aja.. Kakak juga gak boleh capek-capek, ingat keponakanku tinggal nunggu waktunya aja buat lahir, jangan sampai dia brojol disini pas mommy nya lagi joget-joget!" ujar Rendy sambil menatap kakaknya itu.


"Enak aja, gaklah! Aku mana sempat buat kayak gitu, duduk aja rasanya ngap! Aku pikir aku bisa melewatinya dan bisa menikmati pesta ini dengan tenang, tapi ekspektasi tidak sesuai realita.


Aku niatnya mau nyobain semua menu makanan di pesta ini, baru makan sedikit saja udah rasanya kenyang banget, ada juga yang gak cocok di lidah aku. Ditambah badan rasanya tambah berat aja, jadi aku gak bisa kemana-mana.


Ya udah, resepsinya sampai hari ini aja. Buat resepsi pesta rakyat kita ganti aja dengan membagi-bagikan sembako dan amplop kepada warga sekitar, dan jangan lupakan juga anak-anak panti asuhan dan juga beberapa anak-anak dibawah yayasan kita.." sahut juga Reva.


"Ya udah, berarti sudah deal yah! Gak ada yang keberatan kan sama idenya?! Jadi aku harap gak ada kata-kata lagi dibelakang, jika gak setuju ngomong aja langsung," ucap Nico mengakhiri percakapan mereka.


Dengan berakhirnya percakapan itu, maka berakhir juga sarapannya. Sementara itu, dimeja lain William dan Geraldine memilih sarapan berdua aja tak sengaja mendengar percakapan mereka itu.


Dia sangat terharu sekali dengan mereka, betapa peduli dan perhatiannya mereka kepadanya dan opa Harja, tak ada dendam apapun lagi kepada kakeknya itu.


Sementara di rumah sakit, Erick terlihat begitu panik, berulang kali dia menghubungi William dan lainnya tidak ada yang mengangkat telponnya.


"Plis, tolong angkat teleponnya.." ucap Erick sambil menangis.


"Pak, dokter ingin bertemu dengan anda.." seorang polisi menemui Erick yang nampak kebingungan sendiri diluar ruangan itu.


Dia bergegas masuk keruangan UGD dimana opa dirawat saat itu, tapi saat dia masuk tubuh opa Harja sudah diselimuti kain oleh dokter, tak perlu menjelaskan dia sudah mengerti dengan situasi saat ini. Dia langsung berlari menuju tubuh opa Harja dan memeluknya erat, tak henti-hentinya dia berteriak dan menangis pilu.


...----------------...


Bersambung