
Acara pesta pertunangan Rendy dan Ardiana dilaksanakan dikediaman Wijaya, sebuah rumah besar nan mewah, mansion peninggalan mendiang ayah juga ibu mereka. Pesta itu dibuat semewah mungkin dan pastinya sangat meriah, berbagai tamu undangan yang datang menghadiri acara itu, ucapan selamat dari para tamu menghampiri keduanya, entah itu ucapan tulus atau sekedar basa-basi saja.
"Banyak sekali yang datang, siapa saja yang datang ini? Kebanyakan aku tak kenal, Rendy.." ucap Andriana, dia nampak kelelahan melayani para tamu.
"Mereka ini selain teman-teman juga relasi bisnisku, ada juga rekan kerja ayah dulu yang datang. Dan juga para anak konglomerat juga petinggi-petinggi perusahaan besar yang akan menjalin hubungan baik dengan kita.
Tahan aja dulu, ini semua demi kita.. Jika kita memiliki hubungan baik dengan mereka, kemungkinan hubungan antar perusahaan dan perizinan akan lebih mudah, sayang.." ucap Rendy sambil tersenyum sumringah.
"Kamu ini, apapun selalu bisnis aja di otakmu! Susah kalau bakalan nikah ama pembisnis, ya beginilah.." sungut Andriana, kakinya mulai pegal-pegal berdiri sambil menyambut uluran tangan dari para tamu.
"Hahaha, sabar yah!" ucap Rendy, dia sangat maklum sekali jika Andriana akan bersikap seperti itu.
Keduanya nampak begitu serasi sekali dengan balutan busana couple yang indah nan mewah, Andriana yang biasanya berpenampilan biasa saja dengan celana jeans dan kaos ataupun sweater saja, paling saat dia bekerja hanya memakai stelan baju kemeja bersama blazer dan celana panjang saja, kini nampak begitu cantik dan anggun dengan gaun pesta yang begitu mewah bak tuan putri, apalagi saat ini dia didandani begitu cantik, siapapun yang akan melihatnya akan pangling melihatnya.
"Kamu cantik sekali, lain kali sekali-kali kamu berpenampilan begini sayang.. Dandan gitu, pakai high heels kan, kan mantap kalau dilihatnya.." ujar Rendy sambil menatapnya kagum.
"Gak betah! Emang aku mau kemana tiap hari pakai gaun kayak gini, entar dikira orang aku ini ondel-ondel lagi! Gak ah, ini kaki rasanya juga kayak mau copot! Capek.." rengek Andriana kesal.
"Haha, becanda sayang.. Gak setiap hari juga, sekali-kali aja kalau ada acara penting gitu. Tahan dulu yah, cuma malam ini aja kok. Ntar pakai lagi pas acara nikahan kita nanti, hemm.." ucap Rendy menenangkan Andriana.
"Iya, yah.." sahut Andriana, dia juga malas berdebat terus.
Sementara itu Reva duduk bersama Ericka di meja sambil sekali-kali melayani para tamu, Reva yang kehamilannya mulai membesar sudah mengurangi ruang geraknya, jika berdiri lama sedikit dia sudah merasa kelelahan, maka Nico sangat overprotektif sekali dengan istri dan calon bayinya itu.
"Sebaiknya kamu duduk aja anteng disini, soal melayani para tamu ada yang lain bisa bantu kok. Kasihan dedek bayi jika mamanya kecapekan, kan dia juga bisa ngerasain juga, sayang..." ucap Nico sambil menuntun Reva duduk di kursinya.
"Iya, iya! Tapi gak usah kayak gini juga dong, udah kayak nini-nini aja akunya pake dituntun segala, malu!" ucap Reva risih dengan perlakuan suaminya yang menurutnya sudah berlebihan.
"Itu karena aku peduli, takut kamu jatuh. Udah nurut aja yah.." ucap Nico gak mau kalah juga.
"Huffth, terserah kamu aja deh!" Reva nyerah juga dengan perlakuan suaminya itu.
Diseberang mejanya, ada Ericka dan Aaron sedang memperhatikan mereka sambil tersenyum geli melihat tingkah keduanya. Diam-diam Aaron memperhatikan Ericka yang sedang tersenyum manis, dia juga sedang membayangkan jika suatu saat nanti dia dan Ericka juga akan merasakan hal yang sama seperti kedua orang itu.
"Kamu kenapa dari tadi senyum-senyum terus ngeliatin aku?" tanya Ericka, baru sadar diperhatikan oleh Aaron sedalam itu.
"Gak kenapa-kenapa... Senang aja bisa ngeliatin kamu kayak gini, jarang banget kamu bisa senyum seperti itu, makin cantik.." puji Aaron, pandangannya tak lepas dari Ericka.
"Hem, dasar kamu ini! Udah ah, aku mau fokus lagi ke tamu undangan, siapa tau orang-orang yang kita tunggu sudah datang.." ucap Ericka mengalihkan pembicaraan, dia malu saat digoda seperti itu oleh Aaron.
Sedangkan dari tempat lumayan jauh, terlihat Azka sedang memperhatikan mereka dan tersenyum kecut. Dia menyesali perasaannya yang sempat menyukai saudara sepupunya itu.
"Ah, anggap aja aku hanya mengaguminya waktu itu.." gumamnya.
Dia hendak berbalik dari tempatnya berdiri, dan tiba-tiba saja dia dikejutkan oleh seorang gadis yang sudah berdiri dibelakangnya. Dia nampak tak asing dengan gadis itu, sepertinya pernah melihatnya.
"Hai, bertemu lagi!" sapa gadis itu dengan ramahnya.
"Kau.." Azka mencoba mengingatnya.
"Aku Stacy, kita pernah bertemu sekali di rumah sakit. Gak sengaja ketabrak waktu itu.." ujar Stacy mengingatkannya.
"Ah, iya! Apa kabar?! Maaf, aku sempat lupa kejadian waktu itu. Tapi aku mengenalimu kok.." ucap Azka sok kenal.
"Hehe, iya! Btw, kamu di sini ngapain? Undangan atau.." tanya Stacy.
"Hem, kebetulan yang tunangan kakak sepupuku.." jawab Azka.
"Yang lelaki atau perempuan?" tanya lagi Stacy.
"Yang lelaki, kamu?" Azka tanya balik.
"Sama dong, yang lelaki! Haha, kebetulan sekali!" jawab Stacy nampak begitu suprise sekali sambil tertawa senang.
Berbanding terbalik dengan Azka, dia tersenyum miris memikirkan nasib percintaannya itu. Masa iya tiap kali menyukai gadis lain selalu ada hubungannya dengan dirinya, dan kali kasusnya juga sama, sama-sama saudara sepupuan, pikirnya itu.
Disudut taman rumah itu, ada dua orang sedang mengamati situasi. Keduanya sedang berjaga-jaga seperti sedang menunggu sesuatu.
"Apa kita bergerak sekarang aja yah? Kata orang itu, oma sudah menyerahkan surat-surat atas kepemilikan saham dan perusahaan kepada mereka semua. Aku pikir mumpung mereka masih sibuk, ayo kita masuk kedalam rumahnya dan mencari surat-surat itu!" ucap Zacky sambil berbisik kepada Arlon.
"Jangan terburu-buru, kau tau mereka ini bukan orang biasa. Aku yakin mereka memiliki begitu banyak pengawal, mereka pasti sedang berjaga-jaga saat ini. Tunggu dulu saat yang tepat saja.." ucap Arlon.
Zacky menurut saja, karena setiap dalam mengambil keputusan Arlon lebih berhati-hati dibandingkan dengan Zacky yang selalu terburu-buru.
Acara puncak sudah dimulai, semua tamu undangan berkumpul mengelilingi sepasang kekasih diatas panggung tersebut. Mereka segera mengumumkan hari pernikahan mereka nanti, sedangkan Arlon dan Zacky bersiap melakukan aksinya.
"Mereka sudah bergerak, hati-hati! Tetap dalam posisi," ucap William, dia berbicara melalui earphone yang tersambung ke semua orang.
Reva, Nico, Ericka, Aaron juga Erick dan Geraldine termasuk juga Rendy dan Andriana nampak tegang sekali. Tapi mereka berusaha meminimalisir perasaan mereka agar tak menarik perhatian para tamu.
"Para pengawal sudah diberi tahu untuk tidak berjaga di area itu, sengaja agar mempermudah mereka masuk kedalam jebakan kita. Kamera sudah terpasang dengan baik, polisi dan wartawan juga sudah menunggu!" lapor William lagi.
Sedangkan Arlon dan Zacky tanpa tahu apa-apa masuk kedalam rumah itu, mereka tanpa senang sekali karena didalamnya nampak lengang tanpa penjagaan.
"Sepertinya mereka sedang berjaga diluar, karena acara intinya sudah dimulai!" ucap Zacky.
"Cepatlah, jangan buang-buang waktu!" sahut Arlon juga.
Keduanya sejenak nampak kagum dengan isi mansion mewah itu dan kesal dengan kakak beradik itu, merasa tak adil karena telah memiliki segalanya tetapi tetap saja harus memiliki apa yang mereka punya, pikirnya.
"Semua ruangan atau kamar terkunci rapat, susah dibukanya. Sepertinya mereka cukup pintar juga tak meninggalkan terbuka begitu saja!" ujar Zacky kesal.
Tetapi diujung lantai dua itu mereka melihat ada seseorang seperti pelayan baru saja keluar dari sebuah kamar, dan itu hanya ditutup saja tanpa dikunci.
"Sepertinya kamar itu bisa kita periksa, lihat kamarnya tidak dikunci!" ujar Zacky lagi.
"Tapi emang iya, melihat semuanya terkunci tapi hanya kamar itu saja yang tak dikunci.." Arlon masih merasa ada yang aneh dengan hal itu.
Dia langsung melangkah menuju kamar itu meninggalkan Arlon yang terlihat masih ragu seperti itu. Dengan perasaan was-was Arlon pun mengikutinya juga.
"Lihat, kamar ini mewah sekali! Aku pikir ini adalah salah satu kamar dari mereka bertiga itu! Ayo kita cari mumpung mereka semua lagu sibuk, kita harus cepat sebelum pelayan itu kembali!" ucap Zacky senang.
Dia langsung memeriksa satu persatu lemari, meja dan tempat-tempat lainnya untuk mencari surat-surat itu, kamar yang begitu rapi nampak berantakan sekali ulah Zacky, Arlon tak mau ulah mereka ketahuan berusaha mengingatkan Zacky untuk berhati-hati.
"Sudah, kita tak punya waktu lagi! Nanti kalau sudah ketemu surat-suratnya kita rapikan kembali semua ini!" sahut Zacky tak peduli.
Tetapi apa yang mereka cari tak ada di sana, yang ada mereka menemukan beberapa surat penting perusahaan milik Rendy, Zacky tersenyum smirk, dia pikir tak ada surat-surat itu, surat inipun jadi.
"Apa yang kau lakukan?! Letakkan itu, kita kesini bukan untuk mencuri barang orang!" ujar Arlon kesal.
"Apa bedanya, tujuan kita kesini untuk mencari surat-surat saham itu bukan? Bukankah itu juga mencuri karena itu sudah menjadi milik mereka!" sahut Zacky tak peduli.
"Itu jelas berbeda, didalamnya ada milik kita!" bantah Arlon.
"Sudahlah, jangan mengelak! Toh, itu memang punya mereka. Tapi aku tak mau pergi dengan tangan kosong," ucap Zacky tak perduli dengan larangan Arlon.
Disaat keduanya sibuk berdebat, pelayan tadi kembali ke kamar itu bersama beberapa pengawal dan juga William. Diantara mereka juga ada polisi dan wartawan yang siap menangkap basah keduanya.
Tap.. Tap.. Tap!
Terdengar suara langkah kaki diluar kamar itu, membuat keduanya panik. Mereka dengan asal-asalan membereskan kamar itu, langkah kaki semakin dekat tak ada waktu lagi untuk itu, mereka bersiap melarikan diri, dan sialnya tak ada tempat lagi untuk bersembunyi, jendela juga terkunci rapat entah bagaimana itu bisa.
"Sepertinya ini jebakan, Zacky.." Arlon mulai menyadari semuanya.
"Gak mungkin, ini hanya kebetulan saja!" sahut Zacky dengan segala kepanikannya itu.
"Tapi.." Arlon benar-benar syok dengan apa yang akan terjadi dengan mereka nanti.
"Sudah jangan banyak berpikir!" ujar Zacky, dia menarik tangan Arlon dan hendak bersembunyi dibalik tirai dekat lemari besar itu.
Tapi sayangnya aksinya terlambat, pintu kamar itu didobrak dengan kerasnya dari luar dan masuk beberapa orang kedalam kamar itu. Zacky dan Arlon sangat terkejut melihat William datang bersama beberapa orang termasuk pelayan yang dia lihat tadi.
"Kau?!" Zacky nampak syok sekali saat melihat William ada didepan mereka saat ini.
"Kalian ini memalukan sekali, apa yang kalian lakukan disini?! Sudah tak diundang, maling lagi! Apa harta dari oma mu itu masih kurang juga?! Ah iya lupa, kalian sekarang malah tak mendapatkan apapun dari oma gara-gara prilaku kalian sendiri, ckck!" ucap William dengan nada mengejeknya.
"Bapak-bapak ikut kami segera ke kantor polisi, dan tolong jelaskan semuanya di sana apa yang kalian lakukan disini!" ucap polisi yang ada di sana.
"Mbak, mereka masuk kesini udah izin belum?" tanya William kepada Milah, pelayan tadi.
"Gak tau, Tuan. Saya tak melihat siapapun disini dari tadi, lagian para tamu hanya diperbolehkan datang dan masuk di tempat pesta diadakan, bahkan toilet juga disediakan jika mereka ingin ke toilet," jawab Milah sedikit gugup.
"Jadi mereka datang dan masuk kesini diam-diam?" tanya William lagi.
"Sepertinya begitu, saat saya kembali lagi kesini karena lupa mengunci kamar saya mendengar suara berisik dari dalam kamar dan juga mendengar suara orang berbicara, saya takut, tuan..
Makanya saya lebih baik memeriksa layar Cctv yang terpasang didalam kamar ini, dan benar saja keduanya sedang membongkar lemari secara paksa dan membuat seisi kamar berantakan!" ucap Milah lagi.
Mendengar kesaksian Milah, polisi tadi dibantu oleh beberapa pengawal langsung meringkus keduanya tanpa perlawanan, karena percuma karena ada saksi dan bukti dalam aksi keduanya.
Mereka memandangi William dengan perasaan muak dan benci, sekali lagi mereka dikalahkan olehnya. Mereka juga merutuki kebodohannya karena tak menyadari ada Cctv didalam kamar tersebut.
Saat mereka keluar dari kamar itu dan turun dari lantai bawah sudah ada Ericka dan lainnya menunggu, mereka saling lempar tatapan sinis. Dan paling mengejutkan lagi, ketika keluar dari rumah sudah banyak wartawan mengerumuni keduanya, mereka juga mendapat tatapan sinis mencemooh keduanya, saat keduanya berbalik kearah panggung ternyata di sana ada layar lebar yang sedang menayangkan sebuah ruangan yang nampak familiar olehnya.
"Sialan, ini semua sudah direncanakan oleh mereka untuk menjebak kita!" umpat Zacky kesal.
"Kita jadi tontonan disini, dipermalukan seperti ini, haha! Sepertinya kita adalah pemeran utamanya acara ini!" ucap Arlon menertawakan diri sendiri.
Setelah itu keduanya langsung digiring masuk kedalam mobil polisi, dari kejauhan Stacy dan mamanya menangis pilu melihat kakaknya tertangkap basah melakukan sebuah kejahatan yang sangat memalukan.
"Ma.." Stacy lebih mengkhawatirkan kondisi mamanya saat ini.
Sementara ditempat lain, di rumah mewah lainnya terjadi penyerangan juga. Oma Mariani terlihat terluka bersama opa Harja, om Seno memergoki opa Harja sedang melukai ibunya dan ingin melukainya juga.
Karena kondisi fisik dan kekuatan tak seimbang, tentu saja om Seno bisa menghindari serangan itu tapi sayangnya opa Harja malah melukai dirinya sendiri.
"Ini adalah buah apa yang kau lakukan selama ini, paman.." ucap om Seno.
Setelah itu dia menelpon polisi dan ambulans untuk meminta pertolongan selanjutnya, sementara itu di ruangan lain rumah itu, ada dua orang yang sedang terperangkap didalam kamar, mereka sendiri pun tak menyadari situasi saat ini seperti apa.
"Bagaimana ini, mas?! Kita malah terjebak disini, gak bisa keluar! Kalau ketahuan gimana, percuma saja dapat barang yang kita inginkan tapi gak bisa kabur dari sini!" ucap tante Sarah panik.
"Tenanglah, paman Harja berjanji akan menemui kita setelah berhasil melumpuhkan wanita tua itu, kita tunggu saja disini!" ucap om Adjid percaya diri.
Tidak lama kemudian, terdapat suara langkah kaki mendekati kamar itu yang mereka kira adalah opa Harja, tetapi..
Krieeet!!
Suara pintu terbuka dan terlihat om Seno dan beberapa pengawal bersamanya, keduanya nampak terkejut dan panik sekali. Mereka tertangkap basah menyelinap masuk ke rumah itu.
"Sudah kuduga kalian akan kembali lagi ke rumah ini dalam keadaan seperti ini, yang aku sesali kenapa aku tak berpikir jika kalian akan bekerja sama dengan lelaki tua itu untuk melukai ibuku!
Kali aku takkan diam saja, kalian semua akan menanggung akibatnya! Sebelum membusuk di penjara, kalian harus merasakan sakitnya disiksa dan dikhianati oleh orang yang kita kasihi!" ucap om Seno murka.
Diluar prediksi mereka, ternyata selain merencanakan penjebakan di rumah Wijaya, mereka juga merencanakan penjebakan di rumah itu, karena yakin om Adjid dan tante Sarah pasti menyelinap ke rumah setelah tau semuanya pergi dari sana untuk pergi memenuhi undangan dari Rendy dan keluarga.
Padahal di rumah itu, om Seno bersama om Richard bekerja sama untuk melakukan penjebakan di sana, tapi sebelum itu terjadi perdebatan diantara keduanya akibat tak sejalan pemikirannya karena masa lalu, tapi berkat Nico, akhirnya keduanya mau mengerti dan bekerja sama dalam hal ini.
...----------------...
Bersambung