Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Kekecewaan Reva


Reva menghampiri mereka dengan perasaan campur aduk, wajahnya merah padam menahan amarah.


Plak! Plak!


Dia menampar kedua pelayan itu dengan perasaan marah dan muak, dia benci dengan mereka yang selalu merundung adiknya itu.


"Katakan padaku, siapa yang menyuruh kalian?! Cepat jawab!" teriak Reva penuh emosi.


Kedua pelayan itu terduduk lemas, mereka masih syok dengan apa yang terjadi.


Mereka pikir rencana mereka akan mulus, tapi ternyata tidak demikian.


Reva kembali dan memergoki mereka, tanpa persiapan atau rencana cadangan lainnya. Mereka hanya terdiam dan tertunduk malu.


"Jawab aku sekarang, kalau tidak aku akan melaporkan kalian ke polisi tentang penganiayaan dan percobaan mencuri!" ancam Reva.


Dua pelayan itu masih terduduk lesu, mereka diam tak bergeming.


"Baiklah, kalau kalian masih bertahan dengan posisi itu tak ada cara lain.


Aku akan menelpon keluarga kalian dan menceritakan semua kelakuan kalian.


Lagian, meskipun kalian tak bercerita aku juga tahu siapa yang menyuruh kalian" kata Reva dengan menyunggingkan bibirnya.


Mereka mulai was-was, takut apa yang akan terjadi nanti.


"Aku rasa kalian sudah tahu sifat aslinya dia seperti apa. Dia benci pengkhianatan.


Bagaimana jika aku beritahu Pricilia kalau kalian yang memberitahukan aku, bahwa dia otak dari pelaku penyerangan." Kata Reva dengan nada Mengancam.


Saat mendengar nama Pricilia disebut mereka kaget dan panik, buru-buru bangun dan memohon.


"Baiklah Nona, kami mengaku salah. Mohon maafkan kami" kata salah satu pelayan itu.


"Jadi, benar yang memberi perintah kepada kalian untuk melukai Ericka itu Pricilia?" tanya lagi Reva untuk menyakinkan diri.


"Be-benar Nona," mereka masih kelihatan ketakutan.


"Kami mohon jangan laporkan kami pada polisi atau menyerahkan kami pada nona Pricilia." Kata mereka masih dengan kekhawatirannya.


"Baiklah, dengan satu syarat. Jadilah mata dan telingaku, beritahu aku apa yang dilakukan Pricilia selama aku tak ada di rumah." Kata Reva.


Mereka menyetujui syarat dari Reva tanpa pikir panjang lagi, yang penting mereka masih aman.


"Keluarlah, kasih tahu Pricilia bahwa misi kalian berhasil. Lakukan hati-hati jangan sampai dia curiga padamu.


Jangan coba-coba berkhianat padaku, karena aku bisa lebih kejam daripada Pricilia" ancam Reva.


Mereka keluar dari kamar Ericka buru-buru, setelah keluar kamar mereka berpura-pura tidak terjadi apa-apa didalam.


"Bagaimana ini Nia? aku masih tak mengerti" kata salah satu pelayan itu.


"Tenang saja, tidak akan terjadi apa-apa pada kita. Biarkan perseteruan antara keluarga ini terjadi.


Nantinya kita juga akan menikmatinya, kita akan mendapat uang lebih dari nona Pricilia.


Dan kita juga akan mendapat lebih dari nona Reva" ujar pelayan yang bernama Nia itu.


Dia nampak tersenyum puas, dia merasa sudah di atas angin bisa memanfaatkan momen tersebut.


Dia tidak sadar, seseorang sedang memperhatikannya dari tadi.


*


Didalam kamar Ericka.


Reva menghampiri adiknya itu, matanya mulai berkaca-kaca melihat kodisi Ericka.


Gaun mewah itu sudah tak berbentuk, rambutnya berantakan dan terdapat sejumlah luka cakaran di lengan tangan, leher dan beberapa di wajahnya.


"Kamu kenapa sih, Eri? Kenapa diam saja ketika ada orang lain ingin mencelakai mu?! Kenapa!" teriak Reva, sambil menangis berusaha merapikan adiknya itu.


Ericka hanya tersenyum lembut didepan kakaknya itu.


"Aku tak apa Kak, aku bisa mengatasinya" jawabnya.


"Tidak Eri! Ini tidak bisa dibiarkan, mereka akan terus menyakitimu jika kamu diam saja!" Kata Reva mulai tak sabar dengan sikap adiknya itu.


"Kau tahu Eri, bahkan Tuhan takkan mampu menolong mu jika dirimu sendiri tak ingin ditolong" ujar Reva.


"Tapi Kak, aku tak bisa. Mereka terlalu kuat untukku" ucap Ericka dengan mata berkaca-kaca.


"Bukan tak bisa, tapi tak mau! Jika kamu mau berusaha, aku yakin pasti semuanya bisa, Eri." Kata Reva.


"Dengar, seminggu lagi waktu pesta akan tiba. Gunakan waktu selama itu untuk merawat diri.


Dan obati juga luka-lukanya, jika habis perlengkapan skincare nya minta bi Mirna menghubungi aku. Oke?!" tanya Reva.


"Baik Kak ..." jawab Ericka lirih.


"Dengar sayang, Kakak tak selalu ada bersamamu. Jadi Kakak belum tau bisa melindungi mu sampai kapan.


Cobalah pertahankan diri sendiri, lawan mereka yang coba menyakitimu.


Tidak penting, seberapa kuatnya mereka, seberapa hebatnya dia kamu harus tunjukan kalau kamu juga punya kuasa.


Setidaknya untuk dirimu sendiri" ucap Reva sebelum meninggalkan Ericka sendirian dikamar.


Saat melewati kamar Rendy, ingin sekali Reva menyapa adiknya itu.


Tapi, ah sudahlah. Anak itu tak pernah berubah, selalu seperti itu sejak kecil tidak peka dengan orang-orang sekitarnya.


**


Makan malam sudah tiba.


Semua orang mulai berkumpul untuk makan malam, kecuali Ericka.


Yang ada nanti dia akan di cemooh atau dihina habis-habisan oleh mereka.


Saat itu, bi Mirna sedang menyiapkan makan malam untuk Ericka.


"Bi, dicariin pak Dewantoro di meja makannya" kata Mila, asistennya.


"Dicariin, saat makan malam? Ada apa ya Mil?" tanya bi Mirna.


Mila hanya mengangkat bahunya tanda tak mengerti.


"Baiklah, setelah aku menyiapkan makan malam untuk non Ericka" kata bi Mirna masih dengan kesibukannya.


"Biarkan aku saja Bi, sepertinya itu penting" ucap Mila.


"Hem, kau benar juga. Tidak biasanya dia memanggilku saat makan malam begini" kata bi Mirna langsung bergegas menuju ruang makan milik tuannya itu.


Bi Mirna penuh hati-hati menghampiri tuannya.


"Maaf Tuan, apa anda memanggil saya?" tanyanya pelan.


"Benar Bi, aku hanya ingin bertanya. Apa benar kata mereka Ericka mendapatkan penghargaan bergengsi dari sekolahnya?" tanya pak Dewantoro tanpa basa-basi.


Dia menunjuk kearah Pramudya dan Pricilia saat menanyakan prihal Ericka.


"Benar, Tuan," jawab bi Mirna.


"Bisa kau jelaskan bagaimana ceritanya dia bisa mendapatkan penghargaan itu?


Dan ada buktinya dia sebagai pemenang itu?" tanya pak Dewantoro lagi.


"Saya bisa menjelaskan semuanya Tuan, untuk bukti saya hanya bisa menunjukan piala dan piagam milik nona.


Jika Tuan kurang puas dengan penjelasan dan bukti saya berikan, Tuan bisa tanyakan pada nona Reva.


Dia juga ada di sana, Tuan" kata bi Mirna.


"Alah, kau sama Reva pastilah mendukung Ericka untuk berbohong 'kan?


Agar bisa diterima di keluarga ini, dia rela bisa melakukan apa saja." Sahut Pricilia dengan mulut penuh makanan.


Elena melihat putrinya itu merasa heran, dia ingin mengalahkan Reva dari segala hal.


Tetapi prilakunya sama sekali sangat jauh, cara makannya jauh sekali dari kata Model yang anggun dan berkelas itu.


Padahal Elena sendiri orang yang sangat perfeksionis, sangat disayangkan sifatnya itu tak menurun ke putrinya.


**


Makan malam selesai, mereka berkumpul di ruang keluarga.


Pak Dewantoro sibuk diruang kerjanya, meskipun di rumah dia masih berkutat dengan bisnisnya itu.


Saat itu, Elena beserta kedua anak kembarnya itu lagi sibuk membicarakan bisnis keluarga mereka.


Reva datang ke rumahnya, mereka sedikit terkejut dengan kehadirannya.


"Apa yang kau lakukan malam-malam begini disini?" tanya Pramudya.


"Kenapa, emangnya aku tak boleh pulang ke rumahku?!" jawab Reva ketus.


"Bukan masalah itu, biasanya kau tak pernah datang pada malam hari.


Lagian ini sudah malam, apa kau tak takut pulang sendirian?" kata Pramudya.


"heh, sejak kapan kau peduli padaku?


Kalau sudah malam, ya sudah aku tidur disini saja.


Lagian kamarku masih ada disini, kenapa harus balik lagi ke apartemen itu?" Kata Reva nampak menahan emosinya.


Dia menatap Elena dengan tajam bergantian dengan Pricilia.


"Ini rumahku dan adik-adikku sampai kapanpun juga, tak boleh ada yang mengusir kami ataupun menggeser kami dari posisi ini" kata Reva.


Dia berlalu pergi menuju lantai atas, ke kamar Ericka, dia masih mengkhawatirkan kondisinya yang terluka tadi.


"Apa yang dia lakukan disini?" gumam Elena.


Pada saat itu, Mila lewat depan mereka. Elena memanggilnya dan menanyakan perihal kedatangan Reva.


Dia tahu, Mila dekat dengan bi Mirna dan juga Ericka. Sudah pasti tahu juga sedikit tentang Reva.


"Kenapa Reva datang malam ini, nampaknya dia terlihat panik?" kata Elena seolah perhatian pada putri tirinya itu.


"Saya kurang tahu Nyonya," kata Mila hati-hati.


"Masa' kamu gak tahu, kamu 'kan selalu ada bersama bi Mirna. Sudah pasti kamu tahu sesuatu, ya 'kan?!" desak Pricilia.


"Emm, yang saya tahu nona Ericka sedang terluka. Saat mengantarkan makan malamnya, saya melihatnya penuh luka Nyonya.


Aku rasa ada kaitannya dengan hal itu " jawab Mila penuh hati-hati.


"Terluka? Kenapa, kalian tahu kalau Ericka terluka?" tanya Elena pada kedua anaknya.


Pramudya hanya mengangkat bahunya, sedangkan Pricilia terlihat cuek.


Dia sudah menduganya pasti ini ulah salah-satu anak kembarnya itu.


Ada perasaan senang mendengar Ericka menderita, tapi gugup juga jangan sampai suaminya tahu.


Karena meskipun begitu, pak Dewantoro tetap Ayah anak-anak itu.


...----------------...


Bersambung