Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Sunat??


Sementara itu, diwaktu yang sama tapi ditempat yang berbeda. Aaron datang bersama Jessy dan Stanley bertandang ke rumahnya Nico, mereka sengaja mengambil waktu itu sekarang karena ada sesuatu yang ingin dibahas oleh Aaron.


"Maaf, sudah beberapa hari disini aku baru bisa berkumpul dan menemui kalian secara pribadi.." ucap Aaron kepada Nico dan Reva.


"Tidak apa, kami tau kau sangat sibuk. Dengan datang ke pestanya baby R saja itu cukup untuk membuktikan effort mu saat ini, bukannya kau sangat sibuk di London, apa ada proyek baru lagi disini?" tanya Reva.


"Tidak ada, aku hanya mengecek kondisi perusahaan saja. Meskipun tiap hari dan Minggunya ada laporan yang masuk kepadaku lewat email, tapi aku juga harus mengeceknya langsung untuk memastikan semua hasil laporan itu.." jawab Aaron lagi.


"Aku bangga padamu, kamu sudah memiliki jiwa kepemimpinan yang sangat tinggi, loyalitas, dan disiplin dan mandiri juga. Tak sia-sia aku memberikanmu kepercayaan selama ini, dan selamat atas keberhasilan dan kesuksesanmu yang sekarang.." ucap Nico bangga kepadanya sambil menepuk pundaknya.


Saat ini Aaron sudah tak bekerja dibawah kepemimpinan Nico, dia sudah mendirikan beberapa usaha buatannya sendiri, dengan bantuan Nico dan lainnya usaha berjalan sukses dan maju sampai sekarang.


Meskipun dia sudah mandiri, tapi dia tak pernah melupakan kebaikan dan jasa-jasa orang yang sudah membantunya selama ini. Dia sudah menganggap Nico dan lainnya bagaikan keluarganya sendiri.


"Btw, kenapa kau baru datang sekarang? Saat ini Ericka dan lainnya lagi keluar, apa ada sesuatu?" tanya Reva lagi.


"Seperti yang aku katakan tadi, aku lumayan sedikit sibuk disini.. Jadi baru bisa datang," ucap Aaron dengan sedikit gugup.


"Benarkah? Tapi aku lihat seperti ada sesuatu yang ingin kau sembunyikan, atau.. Ada sesuatu yang ingin kau katakan?" tanya Nico dengan tatapan curiga.


"Ke-kenapa bertanya seperti itu? Memangnya kalian mencurigai aku apa?" tanya balik Aaron dengan bersikap biasa saja meskipun jantungnya terus berdegup kencang.


"Sudah berapa lama kita kenal, aku tau persis seperti apa dirimu, Aaron.. Katakan saja, siapa tau kami bisa bantu.." ucap Nico.


"Hooeeekk.." terdengar baby R menangis dari kamarnya.


"Aku tinggal sebentar, sepertinya Ryonza terbangun dari tidurnya.." ucap Reva sambil berlalu pergi meninggalkan mereka berdua, sedangkan Jessy dan Stanley sedang menunggu diluar rumah itu, duduk bersantai di taman dekat saung bunga.


"Katakan saja, mumpung tinggal kita berdua.." tanya Nico lagi, penasaran.


"Huft,, apa sunat itu sakit??" Aaron bertanya sambil meringis seperti sedang menahan sakit.


"A-Apaa??!" Nico terkejut mendengar pertanyaan dari Aaron itu, sungguh diluar prediksinya.


.


.


Sementara itu, masih di taman bunga hotel milik Wijaya grup. William sedari tadi tak bisa berhenti tersenyum, saat ini hatinya sedang berbunga-bunga sangat sulit dikatakan oleh kata-kata perasaannya saat ini. Dia takkan pernah bisa melupakan kejadian malam ini, malam penuh memorial.


"Kamu keren sekali, Geraldine! Seharusnya label gentleman harus disematkan kepadamu, eh! Gentle girls deh, hehe.." ucap Erick disela-sela makan malam bersama dengan yang lainnya.


Setelah acara kejutan tadi, mereka merayakan makan malam bersama sekalian mengumumkan acara pertunangan mereka kelak, William dan Geraldine tidak akan menunda lebih lama lagi, setidaknya sebulan kedepan mereka sudah siap semuanya untuk menyiapkan acara pernikahan mereka.


"Apa tak terlalu terburu-buru? Ini adalah pernikahan sekali seumur hidup loh, emang gak mau nikahan yang mewah gitu? Kecuali kalau kalian berencana mau menikah lagi sih.." tanya Rendy lagi.


"Buat apa menghamburkan uang dengan cara seperti itu, mending uangnya ditabung buat investasi kedepannya. Lagian capek kalau pestanya terlalu waw gitu, entar kayak kalian lagi, gempor duluan!" sahut William.


"Tuh, kan.. Jiwa meditnya keluar lagi, eh lu tuh bisa dan mampu buat ngadain pesta pernikahan tujuh hari tujuh malam tau, dan uangnya juga gak bakalan habis gitu aja!" ujar Erick sambil menggelengkan kepalanya.


"Iya, lagian pesta gw juga dibatalin kok.. Cukup resepsi dua kali aja, itu juga gak hampir selesai, capek banget.." ucap Rendy bohong, sebenarnya siangnya mereka membatalkan acara resepsi keduanya pas mengetahui meninggalnya opa Harja.


Ericka dan lainnya hanya mencibir saja, sedangkan Andriana hanya tertawa cekikikan saja melihat tingkah mereka.


"Aku harap Geraldine tidak menyesal karena melamarnya duluan,," ucap Erick.


"Sialan, lu! Gw bakalan setia dan membahagiakan dirinya seumur hidup, gak bakalan nangis sedih dia sama gw!" ucap William sedikit tersinggung dengan ucapannya Erick.


"Buktikan.." ujar Erick memprovokasi.


"Baiklah, besok kita akan menemui tante Sonia dan keluarganya Geraldine merencanakan hari pernikahan kita, gak perlu lamar-lamaran apalagi acara tunangan segala, tapi aku akan menyiapkan acara pernikahan yang indah, yang akan kami kenang selamanya!


"Tahan, belum waktunya.." ucap Rendy dan Erick seolah mengerti apa yang dipikirkan olehnya.


Kemudian mereka menikmati makan malamnya dengan mengobrol sambil bersenda gurau, merencanakan seperti apa pernikahan William dan Geraldine seperti apa nantinya.


.


.


Keesokan harinya, Ericka sudah pindah dari rumah Reva dan Nico dia memilih hidup mandiri bersama adik angkatnya, yaitu Azzam. Mereka berdua tinggal salah satu apartemen mewah di kota besar ini, kehidupan Azzam hampir seratus persen berubah, dari sebelumnya serba kekurangan dan menderita akibat siksaan kedua orang tuanya, kini hidupnya lebih dari cukup, bahkan terbilang mewah.


Tapi Ericka dan lainnya selalu mengajarinya dan mengingatkannya untuk tetap rendah hati dan berbuat baik kepada semua orang, dan tetap hidup sederhana. Dan anak itu juga cukup tau diri, dia sangat bersyukur dengan hidupnya semenjak kedatangan Ericka didalam hidupnya.


Pagi itu, keduanya sedang sarapan bersama. Sebelum pergi sekolah, Azzam selalu bercerita tentang dia di sekolahnya, hanya ada waktu ini saja keduanya bisa bertemu dan mengobrol cukup lama.


Maklum, Ericka begitu sibuk akhir-akhir ini di perusahaannya, belum lagi dia sempat sibuk dengan semua permasalahan orang-orang di sekelilingnya, membantu mereka semampunya, sedangkan Azzam tak keberatan tinggal sendiri di apartemen, karena ada asisten rumah tangga juga yang menemaninya di sana.


"Kak, emm.. Akhir-akhir ini aku sering mendengar tentang sunat di sekolahku, guru agamaku berkata jika seorang lelaki muslim itu wajib hukumnya untuk melakukan sunat, bahkan ada yang baru lahir beberapa hari atau minggu sudah disunat. Dan, beberapa temanku juga sudah di sunat.." ucap Azzam sambil memperhatikan Ericka.


"Ya, terus?" nampaknya Ericka tak mengerti ucapan dari Azzam.


Anak lelaki yang sebentar lagi berumur sembilan tahun itu sedikit menghela nafas, sepertinya dia kesulitan menyampaikan keinginannya itu. Dia buru-buru menyelesaikan sarapan lalu berpamitan untuk segera berangkat sekolah.


"Aku pamit dulu, Kak.. Takutnya pak Ahmad sudah menunggu dibawah,," ucap Azzam tanpa meneruskan ucapannya tadi.


"I-iya, hati-hati.." kata Ericka sambil menatapnya heran.


"Assalamualaikum.." Azzam mengucapkan salamnya.


"Wa'alaikumsalam.." jawab Ericka.


Pak Ahmad merupakan supir pribadi Ericka yang ditugaskan untuk mengantar jemput Azzam pergi ke sekolah atau kemanapun dia pergi berkegiatan diluar sekolah.


Ericka masih bingung tak mengerti dengan ucapannya Azzam, Ceu Lina asisten rumah tangganya tersenyum melihat kebingungan Ericka, dan sepertinya dia mengerti apa yang ingin diucapkan oleh anak itu tadi.


"Sepertinya A' Azzam pengen sunat, Teh.." ucap Ceu Lina dengan logat Sundanya.


"Hah, sunat?!" ucap Ericka terkejut, dia hampir saja tersedak minumnya.


"Hu'um,, teteh gak tau dari tadi dia bahas sunat-sunat terus? Meni itu diturutkan atuh, udah besar juga.. Mumpung anaknya mau, biasanya teh susah diajaknya, kayak anaknya Ceceu dikampung harus dibujuk dulu baru mau!" ujar Ceu Lina bercerita tentang pengalaman anaknya dulu.


"Emm, ribet gak ngurus hal begituan, Ceu?" tanya Ericka penasaran.


"Enggaklah, jaman sekarang semuanya serba canggih! Teteh tinggal bikin janji aja sama dokter yang ahli sunat gitu, katanya ada tuh dokter yang lagi viral kalau sunat sama dia gak sakit katanya.." jawab Ceu Lina lagi.


"Terus?" tanya Ericka lagi.


"Nanti dijelasin persiapannya apa aja sama dokter atau bagian adminnya, A' Azzam harus gimana nantinya sebelum sunat.. Biasanya disuruh beli celana da.lam yang bolong tengahnya atau celana batok kelapa, sama kain sarung!" Ceu Lina nampak bersemangat menceritakan tentang persunatan itu.


"Habis itu udah selesai, biarin dia istirahat sampai rasa sakitnya ilang. Abis itu kita bikin selametan buat A' Azzam karena sudah baligh, hehe.." ucap Ceu Lina.


"Ooh.." ucap Ericka manggut-manggut.


Dia malah sempat berpikir mau mengajak Azzam sunatnya di Singapura, dan akan melakukan pesta besar-besaran kapan perlu mengundang kuda lumping sekalian.


...----------------...


Bersambung