Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Untuk Pertama Kali


Braakk!!


Terdengar suara benturan keras dari depan, pak Johan dan Nico juga kedua temannya mengikuti Rendy langsung berlari kencang kearah depan.


"Apa-apaan kamu, sudah gila yah?!" teriak Elena dari dalam mobil.


Elena terlihat emosi sekali, sudah dia kalah di persidangan mana harus bayar denda ditambah lagi harus menghadapi persidangan baru soal kasus korupsinya.


Dan sekarang ini, harus menghadapi anak tirinya yang sedang mengamuk tanpa alasan.


"Nyonya, anda tetaplah didalam mobil. Jangan keluar, bahaya" ujar asistennya.


Asisten itu keluar dan mengecek mobil itu, untungnya tak ada yang rusak. Mobil mewah itu termasuk mobil bagus tahan banting, jadi tidak akan mudah rusak jika hanya di gebrak pakai tangan.


"Maaf, Tuan. Jangan menghalangi jalan, anda bisa kami tuntut atas penyerangan ini" ujar asisten Elena itu kepada Rendy.


"Tuntut, dalam hal apa kau mau menuntutku? Yang ada kau dan nyonya besarmu itu akan aku tuntut!" teriak Rendy murka.


"Tuan Rendy!" teriak pak Johan.


Dia melerai keduanya, dia tidak ingin ada keributan dan membuat nama keluarga tuannya tercoreng. Apalagi ini menyangkut anak-anak tuannya itu.


"Tuan, Tolong tenanglah sedikit. Itu hanya asumsi saya saja, bisa saja itu salah" kata pak Johan.


Dia merasa khawatir dan bersalah juga, karena ucapannya dia telah membuat tuan muda itu terprovokasi dan mengamuk kepada ibu tirinya itu.


"Tidak, Pak! Itu sudah pasti ulahnya, hanya dia yang bisa melakukan semua itu!" teriak Rendy masih kalap.


Elena memperhatikan mereka, dia menyeringai ketika melihat pak Johan. Dia mengambil Hpnya, lalu menelpon suaminya. Entah apa yang dia katakan, yang jelas kata-katanya berhasil memancing emosi pak Dewantoro.


Trrrt!


Suara Hpnya pak Johan berbunyi, dia melihat layar benda pipih itu dan terkejut karena bosnya menelpon. Pak Johan menoleh kearah mobil itu, dia melihat Elena tersenyum sinis.


"Dasar wanita licik" gumamnya.


Ting!


Kali ini pesan dari pak Dewantoro, dia meminta pak Johan kembali ke kantor bersama Rendy.


"Mari, Tuan muda kita pergi dari sini. Tidak ada untungnya kita berdebat dengan mereka, kita tidak akan mendapatkan jawaban ataupun solusinya" kata pak Johan.


Dan itu berhasil meredakan emosi Rendy, dia berkali-kali menghela nafasnya dan berusaha mengontrol emosinya.


"Rendy, apa yang terjadi?" tanya Nico, setelah Rendy berhasil mengontrol emosinya barulah dia berani mendekatinya.


Ketika Rendy mengamuk, dia seperti bukan dirinya. Wajahnya memerah, nafasnya naik turun belum lagi badannya sampai bergetar mencoba menahan emosinya itu.


Hanya pak Johan yang berani mendekati dan mencoba menenangkan emosinya, saat tadi mereka sempat jadi tontonan orang bahkan ada yang memvideokan nya, William dengan cekatan menutupi layar Hp mereka.


"Dengar para Netizen yang suka nyinyir, jangan suka kepo urusan orang lain. Mending urusin dulu hidup kalian, terutama itu tuh! Ibu baju merah make up tebel gak usah bikin video-video segala, nanti mau saya tuntut atas undang-undang ITE, hem?!" kata William ketus, dan ternyata ucapannya lebih pedas dari netizen.


Robin melihatnya hanya tersenyum geli, bocah satu ini emang rada-rada. Sedangkan asisten Elena kembali ke mobilnya dan melaju kencang melewati mereka semua.


"Bukan urusanmu! Hari ini aku belum bisa menemui kakakku, besok akan datang menemuinya.


Katakan padanya besok aku akan mampir, dan jangan melarangnya menemuiku. Jika dia ingin kembali bersamaku, kau pun tak berhak melarangnya!" ujar Rendy ketus.


Dia masih terbawa emosi, dia masih belum sepenuhnya mengontrol emosinya itu. Lalu dia pergi ke kantor ayahnya bersama pak Johan.


Nico masih diam mematung memandangi mobil Rendy dan pak Johan berlalu pergi, dia menghela nafasnya lalu ingin pergi dari sana.


"ASTAGA!" teriaknya.


Dia sangat kaget ketika membalikan badannya melihat William dan robin sudah ada dibelakangnya, yang lebih mengagetkannya keadaan William yang mengenaskan. Wajahnya penuh coretan lipstik merah, sudah seperti badut.


"Mu-mukamu kenapa?" ujar Nico masih dengan ekspresi kagetnya.


"Diserang ama emak-emak Nic, lagian sok keren didepan mereka. Pakai kata-kata 'ibu-ibu baju merah make up tebel" lah, tersinggung lah mereka makanya dia dikeroyok ama emak-emak satu RT, haha!" Robin puas menertawakan sahabatnya itu.


"Emang benar, Will?" tanya Nico sambil menahan tawa.


"Aku 'kan gak ngomongin mereka semua, hanya satu orang. Malah aku di keroyok oleh mereka semua, aku lupa kalau disana tidak hanya satu orang yang pakai baju merah tapi banyak" ujarnya dengan ekspresi sedih.


Bukannya merasa iba dengan sahabatnya, mereka malah tertawa ngakak. William kesal lalu pergi meninggalkan mereka berdua.


"Will, tunggu! Ih, udah gede masih ngambekan aja!" ujar keduanya sambil menyusul William.


"Bodo amat!" teriak William.


Mereka merangkul sahabatnya itu, lalu kembali akrab dan saling menertawakan.


*


Ditempat lain, di Villa atas bukit itu.


Reva masih merenungi nasibnya itu, kenapa dia malah terjebak di sana. Seharusnya dia berada bersama adiknya atau bekerja seperti biasanya.


"Kenapa aku seperti orang pesakitan begini? Tidak, aku adalah Revalina. Aku harus kuat, dan aku sudah tak sakit lagi. Aku harus mencari cara agar bisa keluar dari sini.


Dia beranjak dari duduknya dan hendak pergi keluar, dia membuka pintu itu dan terkejut karena sudah ada Nico didepannya.


Nico melihat Reva begitu cantik sekali hari ini, dia lebih bersemangat dari biasanya. Dia memandanginya dengan tatapan hangat dan mulai tersenyum aneh.


Dia merangsek masuk kedalam tanpa persetujuan Reva dan menutup pintu itu, tatapannya mulai nakal. Dia membuka jasnya dan memulai membuka kancing bajunya dua butir dari atas, dan menggulung baju kedua lengannya.


Reva mundur berlahan-lahan, sesaat dia menahan nafasnya. Pikirannya mulai liar, apa yang akan terjadi nanti? Haruskah dia melakukannya? Batinnya.


Reva mulai terpojok didinding kamar itu, Nico berhasil menyudutkannya. Saat ini posisi Nico tepat dihadapannya, wajahnya sangat dekat hingga hidung mereka nyaris bersentuhan.


Reva memejamkan matanya, dia mengingat kejadian waktu di rumah sakit itu. Jantungnya berdetak lebih cepat, keringat dingin membasahi tubuhnya.


Berharap semuanya cepat berlalu, dan menunggu apa yang akan dilakukan Nico selanjutnya.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Nico.


"Hah! Apa?!" tanya balik Reva bingung.


Nico tersenyum geli melihat Reva, sepertinya dia berhasil menggodanya. Reva masih bingung, dan mulai mengerti ternyata dia hanya dipermainkan saja.


"Huh, dasar! Minggir jangan menghalangi langkahku!" ujarnya ketus.


Dia marah atau kecewa, agak sulit membedakannya. Marah karena di goda atau kecewa karena apa yang dia inginkan tidak terjadi? Ah, tidak! Batin Reva menjerit menyangkal itu semua.


Dia menghentakkan kakinya berlalu melewati Nico, seketika dia ditarik oleh Nico didalam pelukannya. Sekali lagi wajah itu bertatapan.


Nico menghujami Reva dengan ciuman hangatnya, lidahnya menjelajahi rongga mulut Reva. Permainan itu begitu intens dan mereka sudah berada diatas kasur Reva.


Nico berlahan menyusuri lekuk tubuhnya, meraba area sensitif Reva. Tak kuasa menahan hasratnya, Reva sampai berulang kasih mendes*h, ini untuk pertama kalinya mereka melakukannya.


Bagi Nico, mungkin dia pernah melakukannya dengan wanita lain tapi hanya untuk memuaskan nafs*nya saja.


Baru kali ini dia melakukannya melibatkan perasaan, dia begitu menikmati setiap sentuhan dan sensasi-sensasi yang dia ciptakan.


saat dia mulai menyingkapkan rok reva dan berhasil melorotkan celananya, dan hendak memasukan benda tumpul miliknya, Reva menahannya.


"Ja-jangan dulu, aku belum siap" ujarnya sambil tersengal menahan nafasnya.


Terlihat raut wajah kecewa Nico, dia kembali menaikan celananya dan Reva pun sudah merapikan bajunya.


"Kenapa?" tanya Nico pelan sambil memeluk tubuh Reva.


Dia menyandarkan kepalanya di bahu Reva, sikapnya yang sedikit manja itu membuat Reva tersenyum, dia terlihat sangat lucu sekali.


"Ini pertama kalinya buatku, aku takut. Nico..." ujar Reva.


"Apa yang kau takutkan? Aku tulus mencintaimu, dan takkan meninggalkanmu begitu saja" jawab Nico.


"Aku tahu kamu mencintaiku dan aku pun juga mencintaimu, tapi Nico... Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi kedepannya.


Yang sudah menikah belasan tahun saja, bisa berpisah begitu saja. Apalagi kita ..." ujar Reva lirih.


Trauma atas pernikahan orang tuanya tak bisa dia lupakan begitu saja, hal itu juga yang menghalanginya untuk dekat dengan setiap pria.


Nico memahami apa yang dirasakan oleh kekasih hatinya itu, dia tak mau memaksanya. Dia ingin melakukan itu atas dasar suka dan saling cinta.


"Baiklah, aku tidak akan memaksamu. Aku akan menikahimu secara sah setelah kamu benar-benar siap, Reva" ujarnya tersenyum manis.


Reva menatap Nico ingin melihat langsung keputusan pria itu, Nico mengangguk secara tegas menandakan dia sudah memantapkan pilihannya.


Keduanya kembali saling bertatapan hangat, dan memadu kasih lagi. Saling beradu lidah didalam mulutnya, lagi hangat-hangatnya bermesraan tiba-tiba pintu kamar diketuk dari luar.


Tok! Tok! Tok!


Tentu saja itu mengejutkan kedua, hingga mengakhiri lautan asmara itu.


"Siapa?!" ujar Nico dengan nada kesal.


"Saya, Tuan" ternyata itu kepala pelayan di Villa itu.


"Ada apa?" tanya Nico lagi, mereka berdua sudah merapikan pakaian mereka.


"Sudah ditunggu oleh tuan William dan tuan Robin di ruang tengah" ujar kepala pelayan itu.


Nico jadi teringat tujuannya ke kamar Reva, dia melupakan kedua sahabatnya itu. Dia sampai terkekeh kecil mengingat kedua sahabatnya itu sudah pasti kesal menunggu lama.


"Ayo, sayang... Kita turun, William dan Robin sudah menunggu lama" ujar Nico sambil menggandeng tangan Reva.


Saat keduanya turun, disambut tepukan meriah dari bawah. Ternyata William dan Robin telah membuat kejutan untuk mereka.


Kejutan apa yang mereka buat?


...----------------...


Bersambung