
Rendy dan Andriana berjalan cepat menuju kamar rawat inap Julia, mereka tidak ingin kehilangan waktu dan tak ingin kecolongan lagi.
"Pak Rendy, Nona Andriana. Tolong dengarkan kami, saat ini nona Julia harus fokus dengan kesehatannya. Jangan khawatirkan keselamatannya lagi, kami sudah memberikan penjagaan yang ketat didepan kamarnya.
Tidak ada yang boleh masuk kecuali para medis, dan pihak keluarga. Dan itu harus didampingi oleh dokter atau tenaga kesehatan lainnya" jawab seorang dokter yang terlihat gelisah sekali saat Rendy dan Andriana menuju ruangan Julia.
"Saat ini kami yang bertanggung jawab atas anak itu, jadi kami ini keluarganya. Dan ada kalian juga sebagai penjamin, terus apa yang kau takutkan? Kecuali kalian menyimpan sesuatu" sahut Andriana.
Perkataannya membuat dokter itu terdiam, dia dan yang lainnya mengikuti Rendy dan Andriana berjalan dibelakangnya.
Saat mereka menuju kamar Julia, mereka sempat melihat salah satu perawat pria keluar dari kamar itu. Dia memakai masker dan reaksinya agak mencurigakan, saat melihat rombongan Rendy dia nampak terkejut dan berpura-pura sibuk membereskan peralatan medisnya diatas troli nakasnya.
Saat Rombongan itu sudah mendekat dia pergi dengan beberapa peralatan medisnya, Saat mereka berpapasan Andriana sempat melirik sorot tajam mata pria itu dan seketika pria itu menundukkan kepalanya.
Tidak lazim, hanya orang yang merasa bersalah atau ada sesuatu yang dia sembunyikan dari sorot matanya itu. Andriana juga menoleh kearah belakang para rombongan itu terlihat panik seketika merubah ekspresi wajah mereka seolah tidak terjadi apa-apa.
Andriana tersenyum sinis, mereka pikir siapa yang ingin dibodohi. Mungkin bosnya itu mudah ditipu tapi tidak dengan dirinya, dia tahu mereka semua yang ada di rumah sakit ini bermasalah.
"Kalian semua menunggu diluar, biarkan kami saja yang masuk" ujar Andriana sedangkan Rendy sudah masuk duluan.
"Tapi, Nona. Bagaimana jika terjadi sesuatu kepada pasien, kami akan-" dokter itu ingin mengatakan hal lain tapi dicegah oleh temannya dengan menepuk bahunya.
"Kau tak perlu khawatir, jika terjadi sesuatu dengannya kami akan memanggil kalian semua yang ada disini" jawab Andriana sambil berlalu masuk kedalam kamar.
Setelah itu dia sempatkan menguping pembicaraan mereka dari balik pintu itu.
"Apa yang kau lakukan?! Kau ingin karirmu hancur, hah?! Sudah diam saja, lakukan saja apa yang disuruh jangan membantah ini perintah atasan" ujar salah satu dari rombongan itu.
Andriana kesulitan dalam mengindetifikasi suara tersebut, karena dia belum tahu banyak tentang mereka semua.
Setelah itu dia menghampiri Rendy yang terlihat panik melihat kondisi Julia, anak itu nampak begitu pucat dan keringat dingin mengucur di seluruh tubuhnya. Badannya terlihat terguncang dengan tangan yang terlihat gemetar ingin meraih tangan Rendy.
Andriana ingin memanggil para dokter ingin memeriksa keadaannya tetapi dicegah oleh Julia, tangannya ditahan ketika ingin keluar.
"Kenapa? Kondisimu sekarang tidak baik-baik saja, kau harus ditangani!" teriak Andriana terlihat panik.
"Percuma, Kak. Tidak ada gunanya... Aku sudah tak punya waktu lagi, ijinkan aku meminta maaf dengan tulus dengan kalian" ujar Julia pelan, nafasnya terlihat pendek.
Rendy memiliki firasat buruk tentang hal ini, dia meraih tangan lemah itu dan menatap lekat wajah Julia. Bayangan Ericka terlihat jelas di sana.
"Julia, aku sudah lama memaafkan kamu. Jadi ceritakan saja apa yang kau ketahui selama ini, aku tidak akan memaksamu jika kamu tak ingin menceritakan semuanya.
Tapi setidaknya beritahu aku tentang adikku, siapa yang membawanya pergi" ujar Rendy dengan tenggorokan kering tercekat.
Dia menahan rasa sakit hatinya, dia tidak ingin kehilangan lagi. Dia sudah lelah dengan berbagai teka-teki yang menimpa mereka semuanya.
"Aku benar-benar menyesal telah melakukan hal itu kepadanya, padahal dia sudah berniat membantuku tapi aku yang tak sabaran. Hiks! Jika kamu menemukan Ericka, sampaikan permohonan maafku kepadanya...
Aku hanya ingin mengatakan, kalau semua ini... Sudah diatur olehnya, dia menginginkan segalanya. Dan... Ingin, Ericka bersama kedua... Kakaknya hancur, dan pergi dari..." suara Julia semakin pelan, dan gerakan nafasnya semakin melambat.
"Julia, Julia! Dengarkan aku, hei sadarlah! Jelaskan aku siapa yang kau maksud dari orang yang ingin menghancurkan kami?!" teriak Rendy.
Tapi sayang malangnya Julia, tertidur selamanya. Keinginan terakhirnya menginginkan kedua orangtuanya kembali bersamanya di kota penuh impian ini.
Tapi karena keserakahannya membuat dirinya sendiri malah jatuh kedasar jurang paling dalam, di detik-detik terakhirnya dia membayangkan wajah kedua orangtuanya yang amat sangat dia rindukan.
Dan terakhir keinginan bertemu dengan Ericka lagi, dan menyampaikan rasa bersalahnya dan meminta maaf langsung pun tak terlaksana.
"Julia, Julia..." Rendy menangis sambil memeluk tubuh tak bernyawa itu.
Dihatinya penuh penyesalan seandainya dia bisa mengubah waktu, pasti adiknya tidak mengalami musibah dan tidak akan pergi jauh dari mereka. Dan tentu saja musibah ini tidak terjadi pada Julia.
"Ikhlaskan, dan maafkan dia sepenuh hatimu. Aku tahu, Ericka pasti mengerti dan memaafkan dia juga... Setidaknya, Julia sudah memberikan kita sebuah petunjuk mengenai teka-teki ini. Mari kita hubungi keluarganya" kata Andriana mencoba membesarkan hati Rendy.
Mata merah yang masih berurai air mata itu menunjukkan ekspresi kemarahan yang tak terhingga, Andriana sadar ternyata Rendy juga memiliki firasat yang sama dengannya soal para staff keamanan, dokter dan orang-orang yang di rumah sakit ini pasti terlibat soal ini.
Andriana memberitahukan berita duka itu kepada para staff dan dokter yang menunggu diluar kamar itu, dibalik raut wajah tegang dan sedih yang mereka tunjukkan Andriana masih bisa melihat senyum tipis dan wajah lega mereka semua.
"Dasar manusia-manusia laknat, kalian pasti akan mendapatkan balasan apa yang telah kalian lakukan kepada anak" gumam Andriana sambil menatap wajah mereka satu persatu.
Pada saat bersamaan Stefan datang bersama kedua orangtuanya Julia, seolah-olah mereka telah diberitahukan soal kematiannya lebih dulu. Padahal waktu kematiannya sekitar 15 Menit lalu, dari jarak cafe Stefan saja kurang lebih 20 menit belum lagi orang tuanya yang datang dari kampungnya yang bisa saja memakan waktu seharian agar bisa sampai disini.
Dan mereka langsung menangis histeris saat masuk kedalam kamar itu, tentu saja itu mengejutkan Rendy yang masih ada didalam kamar itu.
"Kak, kenapa tiba-tiba datang kemari malam ini? Dan siapa mereka tadi?" tanya Andriana kepada Stefan.
"Orang tua Julia diberitahukan tentang keadaannya sekarang oleh seseorang yang mengaku temannya Julia, tapi mereka tidak tahu siapa itu. Orang itu tidak hanya memberitahu kondisi Julia, bahkan dia berkata kemungkinan dia sudah mati.
Orang tuanya langsung menuju kemari, karena mereka tahu Julia bekerja denganku dan kecelakaan juga terjadi saat jam kerja, merekapun menemuiku tadi sore sekitar pukul 8 malam tadi, seharusnya beberapa jam sebelumnya sudah datang tapi karena macet mereka baru sampai pada pukul tersebut.
Sebenarnya aku tidak tahu apa yang terjadi, saat aku menjaga Julia ada orang cafeku menelpon katanya ada seseorang membuat keributan di sana. Jadi aku pamit pulang sebentar dan menitipkan Julia kepada seorang perawat yang di sana.
Sampai sore aku masih disibukkan oleh masalah cafe yang belum usai, dan tiba-tiba ditelepon orang tua Julia bahwa mereka dalam perjalanan menuju kemari ingin menemuiku.
Saat itu mereka belum bercerita kepadaku soal kabar yang mereka dapatkan soal anaknya itu, baru setelah sampai mereka menceritakan bahwa mereka telah dikabari bahwa Julia meninggal karena kecelakaan itu terjadi.
Kurang lebih satu jam lalu mereka menceritakan itu, makanya buru-buru aku menutup cafe dan mengajak mereka kemari. Aku juga bingung, kalau memang Julia meninggal kenapa tak ada yang memberitahukan aku soal itu?" ujar Stefan menjelaskan semuanya.
"Dan sayangnya, itu semua benar adanya. Julia meninggal kurang lebih 15 menit yang lalu, bukan pagi tadi ataupun siang tadi" ucap Andriana pelan, dia masih terbayang wajah Julia yang menangis pilu meminta maaf.
"Apa maksudmu? Tolong jelaskan yang benar?!" tanya Stefan gelisah, dia merasakan sesuatu yang aneh dari ucapan Andriana.
Andriana menceritakan semua kejadian tadi siang sampai Julia menghembuskan nafas terakhirnya, termasuk kecurigaannya kepada orang-orang yang bekerja di rumah sakit ini.
"Kalau kau berkata begitu, akupun merasa begitu. Agak janggal dan aneh saja, mereka memberikan kabar kepada orang tuanya begitu saja. Dan darimana mereka mengetahui identitas asli Julia, saat kecelakaan itu dia tak membawa dompet atau Hp.
Mereka juga tak menanyakan soal identitas asli Julia, bahkan kepada kalian juga tidak kan?!" tanya Stefan penasaran.
Andriana mengangguk, dia juga mencurigakan banyak hal di rumah sakit itu. Jauh dari pertanyaan yang ada dihatinya, sebenarnya siapa pemilik rumah sakit ini? Bukankah yang paling mampu memberi perintah atau menggerakkan semua orang yang ada di sana adalah pemilik atau pemimpinnya? gumam dalam hatinya.
//
Sementara itu di rumah sakit dokter Anwar, Reva terlihat bosan menunggu di kamarnya sendirian. Nico sudah berjam-jam keluar tapi tak kembali juga, dia berniat ingin berjalan-jalan keluar kamarnya.
Dia merasa tubuhnya sudah ringan dan baik-baik saja, tidak salah juga jika ia ingin melatih kakinya berjalan setelah beberapa hari bahkan sudah semingguan dia mengurung diri dikamar itu.
Ketika dia hendak berjalan keluar dia mendengar nampak orang-orang yang diluar begitu sibuk mondar-mandir berjalan didepan kamarnya itu.
"Mungkin ada keadaan genting yang harus mereka lakukan, itu pasti para perawat atau dokter yang sedang memeriksa pasien disebelah" gumam Reva berasumsi sendiri.
Dia mengurungkan niatnya keluar dan kembalk ke bangsalnya membaca novel kesukaannya.
Sementara itu, Nico sudah lama selesai berbicara kepada dokter Anwar soal kesehatan Reva dan boleh diperbolehkan pulang, tapi harus menunggu waktu yang tepat disaat Elena maupun anak buahnya tak ada, baru mereka bisa bergerak.
Tapi ada sesuatu yang aneh, saat Nico berjalan menuju kamar Reva dia didorong oleh seseorang kedalam kamar kosong di rumah sakit itu, lebih tepatnya sebuah gudang.
Belum sempat dia mengetahui siapa orang yang mendorongnya ia sudah dibuat lemas dan pingsan oleh suntikan orang itu, dan hal itu juga terjadi kepada dokter Anwar.
Sebenarnya apa yang terjadi, apakah ada penyusup diantara mereka? Siapa pengkhianat itu?
...----------------...
Bersambung