
Hari lamaran tiba juga, acara diadakan di kediaman pamannya Andriana, hanya acara keluarga saja tidak banyak tamu yang diundang. Acara berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan, dari pihak Rendy hanya orang-orang terdekatnya saja yang datang ikut menemaninya.
Acara sengaja dilakukan secara tertutup dan tidak diumumkan kepada orang banyak, untuk menghindari adanya kemungkinan hal-hal berbahaya yang mengancam keberlangsungan acara sakral mereka itu.
Sementara itu, ada William bersama Erick juga Geraldine yang ikut menemaninya bersama saudara-saudaranya, termasuk Aaron juga. Dan tentu juga om Richard beserta keluarga juga ikut, membuat Rendy, Reva juga Ericka begitu bahagia.
Mereka merasa memiliki keluarga yang utuh, om Richard datang sebagai tetua yang mewakili orang tuanya, apalagi istrinya om Richard juga begitu baik kepada mereka, kebaikan yang tulus tanpa dibuat-buat.
Semua orang nampak bahagia di hari lamaran sekaligus pertunangan Rendy dan Andriana, hanya Azka yang terlihat lesu menatap wanita pujaannya sendu, gadis yang dikiranya orang lain ternyata sepupu jauhnya sendiri. Dan menyakitkan lagi, Ericka juga datang bersama kekasihnya, ganteng lagi!
.
.
Selang satu Minggu kemudian, Rendy dan Andriana mengumumkan pertunangan mereka. Bermaksud ingin berbagi kebahagiaan, mereka mengundang teman-teman juga relasi bisnisnya untuk menghadiri pesta mereka itu.
Mereka sengaja mengumumkan pesta pertunangan mereka di media sosial, agar misi mereka yang lain bisa berjalan dengan baik. Salah satunya untuk memancing opa Harja juga para sekutunya agar datang ke acara pesta itu.
"Apa ini tidak apa-apa? Kalian melakukan semua ini hanya untuk menjebak mereka? Apa tidak berlebihan, ingat yang akan datang nanti juga orang-orang penting. Bukan hanya teman-teman juga keluarga, tapi partner bisnis dan juga berbagai kalangan bisnisman lainnya juga banyak yang datang.
Apa tidak masalah melakukan hal ini didepan mereka? Apa tak berpengaruh dengan bisnis dan perusahaan kalian?" tanya Geraldine masih tak mengerti.
"Tenang saja, mereka melakukan semua ini penuh dengan pertimbangan dan tingkat kematangan yang tinggi juga. Aku juga yakin, meskipun sedikit gila, tapi rencana ini pasti berhasil!" sahut William menimbali Geraldine.
"Apa yang dikatakan oleh kak William benar, kami semua sudah memikirkan semua ini. Pasti ada resikonya nanti, entah berhasil atau tidak kita harus mencobanya.
Jika tidak begini, kita tidak tau harus bagaimana menemukan opa Harja bersama para sekutunya itu. Kau tau, semenjak kejadian itu, opa Harja menghilang begitu saja tanpa kabar.
Bahkan tante Sonia dan om Seno sendiri tak tahu keberadaannya, anak-anak mereka juga jarang pulang ke rumah, apalagi sekarang semua bisnis dan perusahaan kembali tante Sonia dan om Seno yang pegang, semua orang yang terlibat selama ini menghilang begitu saja!" ucap Ericka juga.
"Ternyata mereka selama ini salah mengira, disangkanya tante Sonia dan om Seno bod.oh ternyata sangat cerdik dan pintar. Untunglah oma Mariani segera menyadari kesalahannya selama ini, dan juga telah salah mempercayai orang yang selama ini mengiranya benar-benar tulus mencintainya dan ternyata hanya memanfaatkan dirinya saja," Erick pun ikut menimbali.
"Btw, bagaimana keadaan oma? Apa sudah mulai membaik?" tiba-tiba Ericka menanyakan kabar orang yang pernah menghancurkan hidup ibunya itu.
"Alhamdulillah sudah membaik, dia dirawat dengan baik sama tante Sonia dan om Seno, satu-satunya cucu yang ikut merawatnya adalah Stacy saja, yang lain tak peduli. Semenjak perceraian orang tua mereka, anak-anak itu semakin tak terkendali mereka selalu ribut membicarakan harta, jabatan juga perusahaan.
Tak peduli apa yang menimpa nenek mereka saat ini, tak peduli dengan perasaan ibu, ayah mereka yang habis dikhianati oleh orang terdekat sendiri. Aku tak habis pikir, dimana jalan pemikiran si Zacky sama si Arlon itu!" ujar Erick dengan gusarnya.
Karena selama ini hanya dia yang rajin memantau bahkan membantu keluarga itu semenjak om Adjid dan tante Sarah pergi dari rumah itu, bahkan opa Harja menghilang begitu saja.
"Kalau dipikir, mereka memang sedari kecil sudah terbiasa manja dan keinginannya selalu dituruti, budaya hidup hedon sejak dini, belum lagi setiap pemikiran mereka sudah didoktrin oleh oma dan opa Harja, bahwa apa yang ada dihadapan mereka adalah milik mereka semuanya.
Yaaahh,, gitu deh! Jadi gak aneh lagi kalau sampai gede, sampai tua mereka masih bersikap begitu! Apalagi om Adjid dan tante Sarah, mereka yang tadinya orang biasa tiba-tiba hidup mewah, maka mereka merasa hidup mereka akan selamanya begitu terus!" sahut juga William.
"Apa yang dikatakan oleh kak William ada benarnya juga, tapi sekarang mereka sudah besar dan dewasa, seharusnya mereka sudah memiliki pemikiran sendiri karena wawasan mereka juga sudah luas.
Jika karena pola didik, kenapa hanya Stacy aja yang sadar diri sampai sekarang? Dan tentu juga kan tante Sonia juga om Seno dari kecil juga dimanja, tapi mereka memiliki pemikiran sendiri setelah dewasa dan bisa memilih jalan hidup sendiri kearah lebih baik.." jawab Ericka dengan bijaknya.
"Kau benar juga..." sahut William terlihat merenung.
"Dan, Ericka.. Tante Sonia dan om Seno sempat menitip pesan denganku untuk disampaikan kepadamu, kata mereka.. Kapan kalian siap menerima rumah, perusahaan juga bisnis lainnya yang memang sudah menjadi hak kalian itu?" tanya Erick, dia baru ingat pesan itu.
"Soal itu nanti saja, setelah semuanya benar-benar selesai. Lagian, rumah itu adalah rumah mereka juga, aku dan kedua kakakku sepakat untuk membiarkan mereka tetap mendiami rumah itu.
"Kau ... Tidak membenci mereka?" tanya William lirih, entah mengapa ada luka didalam pertanyaan itu.
"Untuk apa aku membenci mereka, tak ada gunanya. Waktu telah lama lewat berlalu, aku tak ingin terjebak dimasa lalu.. Apalagi mereka juga tak pernah ingin menyakiti kami, bahkan oma juga telah menyadari kesalahannya, terus apa lagi?
Sungguh, aku lelah dengan semua ini. Aku ingin ini semua cepat berakhir, aku ingin hidup damai, kak.. Bersama keluarga, teman-teman.. Tidak dibayang-bayangi terus dengan semua teror ini, aku capek, kak...
Kata orang, hidup jadi orang kaya itu enak. Bisa bersantai dengan segala kemewahan ini, nyatanya tidak! Karena akan banyak orang yang bersiap menjatuhkan kita, merampas hak kita jika lengah sedikit saja. Maka tak ada yang namanya hidup enak jadi orang kaya, tidur juga gak nyenyak.
Kalau bisa memilih, aku ingin jadi orang biasa. Gak disibukan terus dengan semua ini, tapi jika semua ini akan dinikmati oleh orang-orang serakah dan tamak, aku gak rela. Aku akan bertahan dengan semua ini, sampai aku benar-benar berhasil mempertahankannya," ucap Ericka menyampaikan perasaannya.
William, Erick juga Geraldine tersenyum haru mendengar ucapannya itu, mereka mengerti apa yang dirasakan oleh Ericka saat ini.
Saat ini, mereka berada dikediaman Wijaya, rumah besar, mewah dan megah itu nampak kosong hanya Ericka dan beberapa pelayan dan penjaga saja di rumah itu. Di sela-sela percakapan itu, mereka juga tengah sibuk mempersiapkan acara pesta pertunangan Rendy dan Andriana di rumah itu kelak.
"Aku harap keduanya setelah menikah akan tinggal disini, memiliki anak banyak! Biar rame, hihi!" ucap Ericka lagi.
Sementara itu, disudut ruangan lain rumah itu. Seorang lelaki berparas tampan khas bule sedang duduk tegang menghadapi dua orang lelaki menatapnya tajam, mereka sedang duduk berhadapan, bak kena interogasi lelaki itu nampak gugup dan berkeringat dingin.
"Jadi, setelah aku menikah.. Apa kau juga berencana mau menikahinya dan membawanya pergi dari sini?!" tanya Rendy menatap lawan bicara didepannya itu dengan tatapan tajam.
"Iya, tentunya atas izin dan restu kalian juga," jawab Aaron dengan tenang, meskipun didalam hatinya dia benar-benar gugup dan gelisah.
"Apa kau yakin dia akan mau tinggal bersamamu di sana? Sementara dia baru saja menikmati kebahagiaan tinggal bersama kami!" ucap Nico juga dengan tegas.
"Aku mengajaknya pindah bukan berarti aku memisahkan dirinya dengan keluarganya sendiri, bukankah keluarganya itu juga keluargaku juga nantinya?" jawab Aaron lagi berusaha tenang dan menyakinkan.
"Kami tidak ingin menjadi kakak yang egois dan diktator kepada adik perempuan satu-satunya itu, kami hanya ingin dia bahagia di manapun dia berada dan bersama dia nantinya.
Ingat, setelah dia menikah dan sejauh mana dia tinggal.. Kami akan selalu mengawasinya, jadi jangan macam-macam ataupun bertingkah aneh dengannya!" ujar Nico lagi.
"Aku tulus mencintainya, aku sadar dan tau diri dengan siapa aku menjalin hubungan. Ericka adalah satu-satunya wanita yang aku cintai, aku akan menjaganya selalu. Aku bukan lelaki romantis ataupun seorang pujangga.
Jadi aku gak punya kata-kata indah untuk berusaha menyakinkan kalian ataupun dia, aku harap dengan apa aku lakukan selama ini adalah jawaban dari semua keseriusan aku selama ini.." ucap Aaron lagi.
Rendy dan Nico sebenarnya juga tau bahwa lelaki ini juga benar-benar tulus menyayangi adik mereka, karena selama ini dialah yang menjaga Ericka meskipun dar awalnya adalah perintah Nico, tapi perasaan itu datang tiba-tiba tanpa diduga sama sekali.
"Baiklah, lakukan apa yang ingin kau sampaikan kepadanya. Tapi tunggu setelah semua urusan disini selesai.." ujar Rendy juga.
"Iya, aku mengerti. Dan terima kasih sudah mau menerimaku.." ucap Aaron sambil tersenyum.
"Eits, tunggu dulu! Kamu belum diterima sepenuhnya disini, yah! Kamu disini sebagai pegawainya kak Nico, meskipun status kalian udah pacaran, jangan melewati batas, oke?!" selah Rendy langsung.
"Siap!" sahut Aaron masih dengan senyumannya.
Saat ini hatinya benar-benar bahagia, setidaknya dia tak perlu khawatir lagi hubungan mereka akan ditentang ataupun mendapatkan rintangan dari keluarga, setidaknya dia jujur atas ketulusan perasaannya kepada wanita yang selalu membayangi dirinya itu.
...----------------...
Bersambung