
Mau tak mau tante Sonia menyetujui pendonoran organ yang akan dilakukan oleh oma Mariani hari itu, semua berkas dan persyaratan lainnya sudah diurus oleh om Seno dibantu oleh Rendy juga Nico.
"Aku gak tau apa yang ada dipikiran mereka saat ini, yang pasti rasa sedih dan kehilangan itu sangat menyakitkan. Lihat, om Seno seperti kehilangan arah, tante Sonia sudah seperti orang hilang kewarasan..." ucap Rendy sambil duduk merenung disebuah taman di rumah sakit itu.
"Yang aku khawatirkan adalah Stacy, Ren... Anak itu jangan sampai kehilangan arah juga, aku gak mau dia mengalami apa yang pernah kita alami juga.." sahut Reva sambil menatap langit cerah sore itu.
Rendy menemani sang kakak menghirup udara segar setelah mereka beberapa kali mengalami hal-hal mengejutkan hari ini, dia diminta Nico membawa Reva keluar sebentar agar istrinya itu tidak mengalami stress lagi.
"Apa Nico masih bersama om Seno?" tanya Reva sambil sesekali memainkan kakinya yang menjuntai kebawah.
"Sebenarnya urusan mereka sudah selesai, tinggal menunggu jawaban dari dokter kapan pendonoran itu akan dilaksanakan. Setidaknya kita harus menyiapkan segalanya.. Tidak etis kita memberikan pengumuman tentang berita duka ini sebelum pendonoran itu dilakukan.
Setidaknya kehadiran kita disini bisa meringankan beban om Seno dan tante Sonia, juga menguatkan Stacy juga.. Soal mereka yang lagi di penjara, aku tak peduli.." jawab Rendy sambil duduk disamping kakaknya itu.
"Terlepas apa yang terjadi di masa lalu, kita ini adalah keluarga. Lupakan dendam yang tak berkesudahan ini, mari tutup buku selamanya. Dan aku lihat Ericka juga sudah cukup bahagia saat ini..
Aku beberapa bulan lagi akan launching my baby born, kau akan menikah, dan Ericka akan meneruskan cita-citanya yang belum tercapai.. Sekarang tujuan kita kembali menyatukan keluarga kembali.
Selain urusan perusahaan dan segala bisnis yang ada, keluarga juga penting, Ren... Om Richard sama pentingnya juga seperti om Seno dan tante Sonia, mereka keluarga kita juga.." ujar Reva memberikan tanggapan.
"Iya, aku setuju. Aku juga lelah dengan semua ini, kak.. Capek, pengen rasanya hidup normal seperti keluarga lainnya tanpa harus menghadapi sejumlah konflik yang begitu pelik ini.
Benar apa yang pernah dibilang oleh salah satu teman sekolahku dulu, buat apa hidup berkecukupan tapi terus menderita, lebih baik hidup sederhana tapi selalu bahagia.." ucap Rendy sambil menatap lurus ke depan.
"Yaaaa ada benarnya juga sih, yang lebih enak itu hidup kaya dan bahagia, hahaha! Dan menurutku versi bahagiaku saat ini adalah makan seblak hot spicy, maknyusss! Yuk ah, nanti kita lanjut lagi merenungi filsafat hidup ini, sekarang temani aku makan, lapar!' teriak Reva senang sambil menarik tangan adiknya itu.
"Lapar sih lapar, tapi ingat-ingat juga kalii.. Situ lagi melendung, ntar aku lagi dimarahi kak Nico gara-gara kakak makan yang pedas-pedas!" sungut Rendy kesal.
"Ya jangan bilang-bilang lah!" sahut Reva sambil menarik paksa tangan adik laki-lakinya itu.
"Kayak gak tau aja sama sifat suaminya!" gerutu Rendy.
.
.
Sementara itu didalam gedung rumah sakit itu, tante Sonia sudah mulai siuman. Dia lebih memilih diam dan mengurung diri didalam ruang inap Vvip yang pesan khusus untuknya oleh Nico.
"Biarkan mama sendiri dulu yah, dia masih butuh waktu untuk bisa menerima ini semua. Terkadang sangat sulit menghadapi sebuah kenyataan pahit meskipun itu demi kebaikan bersama.." ujar Andriana mencoba menenangkan Stacy.
Gadis itu hanya diam sambil mengangguk saja, untuk sementara waktu dia tinggal bersama Ericka dan lainnya di mansion milik keluarga Wijaya. Saat ini mansion milik keluarganya tak bisa didiami, karena menjadi TKP saat kejadian penyerangan terhadap oma Mariani dan tempat penyergapan papanya juga.
Sangat menyakitkan baginya jika masih berada di sana, begitu banyak kenangan baginya di rumah itu, kenangan manis maupun kenangan pahit, jangan sampai dia merasakan rasa kesedihan yang berlarut-larut, takutnya akan menjadi sebuah trauma tersendiri baginya.
"Sebaiknya kamu istirahat aja dulu di rumah yah, nanti pulangnya sama kita. Untuk mama ada yang urus disini, aku yakin beliau juga gak ingin kamu kelelahan disini, nanti kita suruh orang untuk mengambil pakaian ganti kalian di rumah.." ujar Ericka ikut menyahuti mereka.
"Gak usah, kak.. Aku bisa sendiri kok, dan aku gak apa tinggal sendiri di rumah, lagian.. Ada beberapa pelayan dan pengawal juga, jadi.. Aman kok" sahut Stacy merasa tak enak dengan mereka.
"Semua pelayan dan pengawal yang berada di rumah pada saat kejadian itu telah diamankan oleh pihak yang berwajib, mereka bisa dikatakan sebagai saksi pada saat itu ataupun mungkin tersangka lainnya, jadi saat ini rumah itu atau TKP saat ini harus steril tanpa ada campur tangan yang lainnya, termasuk pihak keluarga juga. Takutnya tanpa sengaja kita mengaburkan bukti-bukti yang ada dan menyulitkan penyelidikan ini.." ujar Ericka menjelaskannya.
"Tapi, tenanglah.. Orang yang kami kirimkan adalah orang kepercayaan kami dan dapat diandalkan, nanti ada pihak keamanan dan kepolisian juga mengawalnya.." sambung Andriana juga.
Stacy hanya mengangguk dan setuju saja dengan keputusan kakak sepupu dan calon ipar kakak sepupunya itu.
.
.
.
Disebuah mansion mewah, rumah megah nan luas terlihat menakutkan sekali pada sore itu. Meskipun langit belum gelap tapi didalam rumah itu terlihat begitu remang minim pencahayaan, sepi dan sunyi, tanpa para pelayan yang biasanya berlalu lalang setiap hari membereskan rumah.
Atau para pengawal yang selalu sigap mengamankan rumah itu, kini nampak sepi, sunyi, gelap dan dingin. Erick ditemani Azka juga Milah dan dua orang pengawal termasuk ada juga pihak kepolisian yang ikut menjaga masuk kedalam rumah itu.
Kini dia menggantikan posisi bi Mirna menjadi kepala pelayan di kediaman keluarga Wijaya, sementara bi Mirna sudah pensiun dan menghabiskan masa tuanya bersama suami dan anaknya di kampung halamannya.
"Baiklah, aku akan menemanimu kedalam yang lain boleh tunggu diluar.." sahut Erick juga.
Keduanya masuk kedalam kamar tante Sonia ditemani seorang polisi demi keamanan dan kenyamanan semuanya, Milah mengambil koper besar yang berada didalam lemari besar dan mengambil beberapa lembar pakaian, beberapa pasang pakaian dalam juga alat-alat skincare milik tante Sonia.
Hal yang sama dia lakukan disaat berada didalam kamarnya Stacy, kali ini Azka ikut masuk kedalam kamar itu. Dia penasaran seperti apa nampak isi kamar gadis cantik itu.
"Kamarnya temanya girly banget, sesuai karakternya.." gumamnya sambil mengagumi kamar yang didesain seperti kamar berbie itu.
"Berat, nak.. Berat, gadis yang kau kagumi itu tipenya berat, jangan memaksakan diri nanti kau tak kuat.." ledek Erick saat memperhatikan gerak-gerik Azka, dari tatapannya saja dia tau bahwa anak itu sedang mengalami masa-masa puber cinta anak sekolah.
"Apaan sih, kak! Gaklah, aku cuma kagum aja.. Ini jika adikku melihat kamar ini pasti dia juga pengen punya kamar kayak gini!" ujar Azka mencari alasan.
Disaat terpojok seperti itu dia mendadak ingat adik kecil perempuannya itu, Erick hanya mencibir dan memutar bola matanya dengan malas mendengar jawaban Azka yang menurutnya kelihatan sekali mencari alasan jawabannya itu aneh.
.
.
Masih di rumah sakit, om Seno menatap kakak semata wayangnya dengan tatapan pilu, dia tau semua keputusan yang dia ambil saat ini akan mendapatkan tentangan dari sang kakak, tapi dia juga tidak ingin sang ibu menderita lebih lama lagi dengan kondisinya saat ini.
"Keputusan yang om buat menurutku sudah benar, itu memang menyakitkan tapi aku yakin ini juga yang diinginkan oleh oma.." ujar Rendy.
"Aku tau, Rendy... Tadinya aku juga berpikir seperti itu sebelum mengetahui siapa saja yang akan mendapatkan donor organ dari ibu, kalau tau akan seperti ini mending aku tak ingin mengetahui nama-nama pasien itu.." ujar om Seno pelan dengan pandangan kecewa kepada diri sendiri.
Sebelumnya..
Om Seno dan Nico sempat ditawari oleh dokter untuk mengetahui siapa saja yang akan mendapatkan donor organ dari sang ibu, ada lima orang yang akan mendapatkan donornya, salah satunya adalah satu-satunya orang yang paling mereka benci saat ini, yaitu opa Harja!
Waktu itu, disaat hari penyerangan oma, opa juga berkeinginan bunuh diri dengan menancapkan pisau belati miliknya kearah jantungnya, tapi hampir digagalkan oleh om Seno, pisau itu meleset mengenai ulu hatinya.
Seseorang yang berkeinginan hidup malah takdir hidupnya sampai pada saat ini, sedangkan orang yang tidak memiliki keinginan untuk hidup malah diberi kesempatan lagi oleh Tuhan untuk menjalani hidupnya kembali.
"Orang itu malah mendapatkan hati ibuku setelah apa yang dia lakukan kepadanya! Jujur aku gak rela, aku tak sudi! Tapi, apa ini yang diinginkan oleh ibuku?
Dalam sisi kemanusiaan aku ingin memberinya tapi, dalam lubuk hatiku ada perasaan benci, marah, dan hancur! Aku gak tau harus berbuat apa, kenapa... Kenapa orang-orang yang berbuat zolim hidupnya lebih panjang dibandingkan orang-orang yang berusaha merubah hidupnya menjadi lebih baik lagi! Kenapa?!!" teriak om Seno meluapkan emosinya.
Dia berlari meninggalkan koridor rumah sakit dan meninggalkan ruangan tempat tante Sonia dirawat, tante Sonia yang sedari tadi hanya duduk diam diatas kasurnya sambil menatap keluar jendela nampak memejamkan matanya, air matanya jatuh pelan diwajahnya saat mendengar suara teriakan adiknya, suara jerit tangis akan sebuah kenyataan yang sangat mengecewakan mereka semua.
"Om!" Rendy hendak mengejar om Seno tapi ditahan oleh Nico.
"Biarkan saja dulu, sama halnya dengan tante Sonia.. Dia juga butuh waktu untuk merenung dan sendiri, sebaiknya kita pulang dulu, istirahat. Besok pagi kita akan kesini lagi, melihat dan menunggu hasil pemeriksaan dan pengangkatan organ tubuh oma, tentu saja kita juga akan menyaksikan sebuah keputusan dari om Seno dan tante Sonia untuk melepaskan dan mengikhlaskan kepergian oma..
Dan, pada saat itu juga dokter akan mengumumkan hari, tanggal dan jam kematian oma Mariani. Pada saat itu juga semuanya dimulai, Rendy.. Kita akan bersiap menyambut kepulangan jenazah oma setelah operasinya selesai.." ujar Nico pelan, sedikit kesusahan menjelaskan semuanya.
"Btw, Reva bagaimana?" tanyanya lagi, masih memikirkan sang istri.
"Sudah pulang bersama yang lain, Stacy juga ikut. Kasihan dia sendirian, jadi mereka semua memutuskan agar dia tinggal bersamanya di rumah untuk sementara, setidaknya sampai kondisi tante Sonia lebih baik.." jawab Rendy.
"Baguslah, kasihan juga dengan anak itu.. Ya udah, yuk pulang! Nanti akan ada orang yang mengantarkan keperluan om dan tante, aku yakin malam ini mereka tidak akan pulang. Setidaknya kita harus menjaga kesehatan untuk mereka..." ujar Nico.
"Iya, itu benar juga.." jawab Rendy.
Mereka meninggalkan tante Sonia sendirian didalam kamarnya dan sempat menitipkannya kepada perawat yang akan menjaganya.
Selama diperjalanan pulang, keduanya memilih diam dan larut pada pikiran masing-masing. Kejadian hari ini benar-benar membuat mereka lelah hati dan pikiran..
...----------------...
Bersambung