Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Rencana Diatas Rencana


Saat keduanya masih larut dengan rasa rindu mereka, Nico masih mengamati keadaan luar kamar. Dia melihat Elena dan beberapa pengawal datang menuju kamar Ericka.


"Sst, pelankan suara kalian. Elena datang bersama para pengawalnya, jangan sampai dia mendengar suara kalian dan curiga dengan kamar ini.


Bisa bahaya jika ketahuan," ujar Nico memberi isyarat kepada Rendy.


Nico menutup pintu itu pelan dan menajamkan pendengarannya, sayup-sayup dia mendengar perkataan Elena memberi perintah kepada anak buahnya.


"Kalian tetap berjaga di ruangan ini, pastikan semuanya aman. Jangan biarkan orang asing mendekatinya tanpa terkecuali, jika ada yang memaksa masuk periksa dia dan amankan segera" kata Elena memberi perintah.


"Bagaimana jika ada dokter atau perawat yang ingin memeriksa mereka?" tanya salah satu pengawalnya.


"Hanya boleh dokter Anwar, dan beberapa perawat pilihannya yang boleh masuk. Nanti kalian akan diberikan daftar dokter dan perawat yang boleh masuk ke ruangan mereka.


Jika ada yang ingin masuk dengan berdalih ini itu meskipun sudah ada izin dokter Anwar, tetap tidak diperbolehkan masuk kalaupun dokter Anwar setuju kalian harus memeriksa identitas perawat ataupun petugas lainnya" jawab Elena dengan pernyataannya tegas.


"Baik, Bu. Kami mengerti" jawab mereka semuanya.


Nico jadi berpikir, jangan-jangan pergerakan mereka sudah diketahui oleh Elena dan anak buahnya. Masuk akal sih, karena mereka selalu berdekatan tanpa disadari wajar saja jika mereka menyadari ada hal aneh lainnya.


"Elena cukup cerdik juga, dia menyadari kalau mereka sedang diawasi. Kalau begitu kami juga perlu hati-hati" ujar Nico.


Dia menghampiri Rendy dan Reva, dia membisikkan sesuatu ditelinga Rendy. Keduanya nampak tegang membuat Reva sedikit curiga dengan keduanya.


"Apa yang kalian bisikkan? Apa ada sesuatu yang tidak kuketahui?" tanya Reva penuh selidik.


"Tidak ada, dia membisikkan kepadaku kalau kakak lagi marah padanya dan tidak mau bicara" jawab Rendy mengalihkan pembicaraan mereka.


Reva menatap Nico dibalas tatapannya dengan hangat oleh Nico, Reva membuang mukanya meskipun dia terlihat masih ngambek tapi tidak bisa dipungkiri hatinya menjadi hangat oleh senyuman manis Nico.


"Baiklah, aku permisi keluar dulu. Kalian bisa mengobrol lama disini, tidak ada yang menganggu lagi" ujar Nico dengan senyuman kakunya.


Hatinya terasa sakit dengan tatapan Reva yang nampak kosong itu, dia berharap Reva akan kembali seperti dulu lagi.


"Kakak tidak boleh seperti itu lagi kepadanya, bagaimanapun juga dia yang sudah banyak menolong kita. Dia juga yang menemukan kakak saat diculik oleh bajing*n itu" ujar Rendy memberi pengertian kepada kakaknya itu.


"Aku tahu, Rendy. Justru itu aku merasa tidak enak dengannya, dia sudah banyak membantu kita sedangkan aku hanya memberi rasa sakit saja dihatinya.


Aku malu, Ren. Apa yang harus aku lakukan kepadanya? Sedangkan dirinya sendiri tak pernah mau menjauh dariku, tapi berlawanan sekali dengan sikapnya yang dingin itu.


Aku rasa lebih baik menjauh dulu darinya, aku ingin dia fokus juga ke dirinya sendiri karena aku juga tak ingin dia sakit." Kata Reva pelan sambil menundukkan wajahnya, ada bulir bening menetes di pipinya.


"Itu namanya sama saja, kalian sama-sama saling sayang dan perhatian tapi nggak mau menunjukkan rasa itu.


Sudahlah, Kakak mengalah saja dengannya kasihan kan? Siang malam dia menunggu disini, memastikan kalau Kakak makan dengan benar, tidur dengan nyenyak.


Lelaki mana yang mau seperti itu dijaman sekarang, Kakak seharusnya bersyukur" ujar Rendy menasehati kakaknya itu.


Reva mendengus kesal dengan Rendy, sudah bercerita sepenuh hati malah dinasehati begitu, macam bapak memarahi anaknya.


"Sudahlah, aku mau istirahat. Pergi sana?!" teriak Reva kesal.


"ish, dikasih tahu malah ngeyel. Ntar nyesel loh!" sahut Rendy.


Reva malah melemparinya dengan bantalnya, Rendy cekikikan melihat kakaknya kesal sendiri.


Drrt.. Drrtt!


"Halo, Kak. Ada apa?" tanya Rendy menjawab telpon dari Nico.


"Ren, kamu jangan turun dulu. Suasana sangat gawat di lobby, aku melihat Elena dengan ayahmu sedang berdebat disini" kata Nico nampak tegang sekali.


"Apa? Ayah dan Elena berdebat? Disini?" tanya Rendy tidak yakin.


Reva mendengarkan percakapan telepon Rendy dengan Nico, dia mendengarkan dengan seksama karena dia penasaran saat dia mendengar nama Elena dan ayahnya disebutkan.


"Iya, sepertinya ayahmu menyelidiki Elena sendiri. Dia memergoki Elena keluar dari rumah sakit ini, dia ingin memastikan jika memang Pramudya dirawat disini.


Dan sudah pasti Elena menghalanginya untuk masuk menemui Pramudya, dengan alasan sedang dirawat khusus dan tidak ada yang boleh melihatnya.


Tentu saja dia berbohong, dia melakukan hal itu untuk menutupi perbuatannya yang telah mengurung Ericka" ujar Nico masih bersembunyi dibalik dinding dan mengintai Elena dan pak Dewantoro yang masih berdebat.


Kalau Reva tahu, entah bagaimana nantinya. Mengingat sifatnya yang temperamental itu, sudah pasti akan terjadi huru-hara nantinya.


Mereka menyudahi telponnya, Rendy berusaha bersikap biasa saja dia mengambil buah diatas meja dan mengupasnya.


"Tadi yang telpon kak Nico, dia bilang dibawah lagi ada sterilisasi jadi aku gak bisa keluar dulu, disuruh stay dikamar aja" katanya memberi alasan.


Reva semakin curiga dengannya, karena Rendy tidak pernah berbicara duluan atau memberi penjelasan tanpa ditanya dulu. Dia itu orangnya cuek dan dingin, sama seperti dirinya.


"Aku dengar semuanya, Rendy. Gak usah berbohong denganku. Ceritakan saja semuanya, aku dengar tadi kau menyebutkan Elena dan ayah.


Apa mereka ada disini? Apa yang mereka ributkan?" tanya Reva penuh selidik.


Rendy menghela nafasnya dengan berat, dia tahu kakaknya itu orangnya keras percuma berbohong dia akan terus memberikan dia banyak pertanyaan nantinya.


"Elena dan ayah tahu kakak disini, dan ayah ingin menemui kakak tapi dihalangi oleh Elena. Itu yang didengar kak Nico.


Yah, kau tahu sendirilah. Lambat laun mereka juga bakalan tahu keberadaan dan situasi kakak gimana, gak akan bisa ditutupi oleh kita," jawab Rendy sambil mengupas buah Mangga.


"Yang aku tangkap dari maksud telpon itu tidak seperti itu, seperti ada sesuatu yang tidak diketahui.


Rendy, jujur saja. Apa yang dimaksud Elena menghalangi ayah untuk menemuiku? Apa dia punya sesuatu yang dia rahasiakan disini? " tanya Reva penuh selidik.


Rendy menghela napasnya, dia bingung harus menjawab apa kakaknya ini terlalu pintar dan sensitif kalau soal keluarganya.


'Apa yang harus aku lakukan, apa aku harus jujur saja pada kak Reva?' gumamnya dalam hati.


Drrt!


Suara telpon di Hpnya berbunyi dan menyelamatkannya dari pertanyaan kakaknya yang berbahaya itu, kali ini telpon dari Andriana.


"Iya, ada apa?" tanya Rendy kepada Andriana diseberang telpon.


"Pak, eh Ren. Aku sudah di rumah sakit, baru saja sampai sudah disibukkan oleh berita menghilangnya Julia!" kata Andriana, dia terdengar panik.


"Apa?! Julia hilang?!" tanya Rendy dengan suara lantang, dan itu membuat Reva semakin terkejut lagi. Apa lagi ini, apa banyak rahasia yang disimpan oleh adiknya yang tak diketahui olehnya? batinnya.


"Bagaimana bisa? Dan kau kenapa sore sekali baru kesana?!" bentak Rendy kesal, dia sedang bersiap mau menuju ke rumah sakit itu.


"Aku sibuk di kantor, karena kau dan pak Pramudya tidak ada di kantor jadi pekerjaan menumpuk! Tidak ada yang membantu, asisten yang baru menggantikan Nancy sementara waktu juga gak bisa apa-apa!" Jawab Andriana tak kalah kesalnya.


Dia diberi begitu banyak pekerjaan gara-gara ulah si bos yang jarang masuk dan sibuk sendiri, mana dia juga ikut sibuk dengan pekerjaan 'lain' itu.


"Iya, iya! Aku akan kesana" ujar Rendy tergesa-gesa.


"Rendy, tolong jelaskan apa maksudnya Julia menghilang? Apakah itu Julia temannya Ericka? Kenapa?" cecar Reva.


"Aduh, nanti saja ya Kak, aku akan menjelaskan semuanya. Sekarang aku terburu-buru" ujar Rendy bergegas keluar kamar.


Kebetulan Nico sampai dia masuk dan heran melihat tingkah Rendy seperti orang panik.


"Kamu kenapa, buru-buru amat?!" tanya Nico heran.


"Aku harus pergi, ini penting. Aku titip Kak Reva, jika ada apa-apa atau hal penting lainnya telpon saja, ya Kak" ujar Rendy.


"O ya, Elena dan ayah masih dibawah?" tanyanya lagi.


"Sudah pulang setelah di lerai security dibawah" jawab Nico.


Rendy bergegas keluar menuju rumah sakit itu, kenapa itu begitu kebetulan sekali ketika semua orang tidak ada, Julia malah hilang?


Apakah itu rencana mereka yang dibicarakan tadi siang? Bukankah itu rencana untuk tadi sore, bukankah itu terlalu cepat?


Dan, kenapa ayah dan Elena bisa bertemu dan membuat keributan disini disaat dia bersama kakaknya? Apakah dia kalah lagi satu langkah oleh Elena? Apakah mereka dijebak?


...----------------...


Bersambung