
Saat Julia dan teman-temannya masih asik berbincang membicarakan Ericka, Nico masih menyimak dan merekam pembicaraan mereka.
"Dengan ini akan banyak keuntungan buatku, aku bisa gunakan rekaman ini untuk menjebak dan membuat mereka mengikuti ku, atau...
Aku gunakan rekaman ini untuk mendapatkan kepercayaan Reva, hem... menarik sekali," ucap Nico menyeringai.
*
Sementara di rumah sakit, Reva masih menunggu Ericka selesai diperiksa. Belum lama kemudian, dokter keluar.
"Bagaimana Dok, apakah adik saya baik-baik saja?" tanya Reva masih khawatir.
"Syukurlah non Ericka baik-baik saja, tidak ada indikasi luka berat. Hanya saja dia butuh waktu istirahat yang cukup banyak.
Nona Ericka mengalami dehidrasi dan sempat mengalami ISPA juga, sepertinya dia berada di ruangan kecil atau sempit yah, sampai dia kesulitan bernapas? Apakah nona Ericka punya trauma dengan ruangan kecil?" tanya dokter itu.
"Iya Dok, waktu kecil dia pernah terkunci didalam lemari" jawab Reva terlihat gelisah.
"Baiklah, sepertinya trauma itu harus dihilangkan. Kasihan dia jika harus dihadapkan dengan kondisi begitu lagi." Ujar dokter.
"Saya akan berusaha membantunya keluar dari rasa trauma itu," kata Reva.
"Saya rasa itu saja Non Reva, jangan lupa luka melepuh di telapak tangannya harus rajin diolesin obat yah...
Biar cepat kering dan sembuh, semoga lekas sembuh buat non Ericka." kata dokter itu sambil tersenyum berlalu.
Reva masuk kedalam ruangan tempat Ericka dirawat, dia sedih melihat keadaan adiknya itu. Dia melihat ada kursi disitu, menariknya kearah sisi bangsal tempat Ericka dirawat.
"Kasihan sekali kamu, Eri... berharap kedatanganku dan menunjukkan jati diriku didepan teman-temanmu akan merubah keadaan.
Tetapi tak ada perubahan sama sekali, mereka tetap saja mengganggumu." Reva menyeka air matanya.
Sekarang tatapan matanya kembali tajam, dia bertekad membalas perbuatan para pembully itu.
"Kali ini aku takkan mengampuni mereka, tunggu saja kalian. Aku tak peduli seberapa menderitanya kalian nanti, aku takkan mengampuni kalian" geram Reva.
Saat ini, bi Mirna sudah datang menemani Ericka. Reva pamit mau pulang sebentar, ada yang harus dia urus dulu, katanya.
Bi Mirna memperhatikan Ericka dengan pandangan sendu, dia kasihan sekali dengan nasib anak ini.
Ketika semuanya berjalan lancar dan tak ada gangguan dari keluarganya, ternyata gangguan datang dari orang lain.
Mereka lupa, masih ada orang yang tak suka dengannya. Entah, ada dosa apa dimasa lalunya sampai-sampai harus mendapatkan siksaan hidup yang begitu kejam.
**
Saat di apartemennya, Reva mengambil beberapa pakaiannya. Dia hendak menemani Ericka sampai pulih dari kondisinya.
Dia tak peduli jika itu harus menginap di rumah sakit, dia hanya ingin bersama adiknya itu.
Saat dia sudah berkemas dan ingin kembali ke rumah sakit, dia melihat bungkusan besar terletak di atas sofa di ruang tamu itu.
Dia jadi ingat, bingkisan dari ayahnya itu belum dia buka. Dia penasaran lalu membuka bingkisan itu.
"A-apa ini? Apa beneran ayah yang mengirimnya? Betulkah?" Reva nampak terkejut melihat isi dari bingkisan tersebut.
Dia memandangi isi bingkisan itu, sebuah gaun indah berwarna putih gading.
Reva masih ingat juga, kalau itu gaun kesayangan mendiang ibunya.
Apa maksud dari ayahnya mengiriminya gaun mendiang ibunya itu? Reva masih bertanya-tanya.
Diluar apartemen, Nico sudah menunggu Reva. Ternyata dia membututi Reva pergi dari rumah sakit ke apartemennya.
"Apa yang kau lakukan disini? Kau mengikuti ku yah?!" tanya Reva penuh selidik.
"Aku hanya menemanimu dari jauh kok, santai aja. Anggap aja aku gak ada," jawab Nico sambil tersenyum.
"Aku gak habis pikir denganmu, kenapa kau keras kepala sekali!" Reva mendengus kesal.
Dia hendak naik mobilnya, tapi ditahan oleh Nico. Sekarang ekspresi Nico nampak serius.
"Ada apa lagi?!" hardik Reva.
"Ada yang ingin aku tanyakan juga tunjukan padamu" jawab Nico.
"Apa? Kalau soal pekerjaan, besok aja yah. Aku capek, aku juga harus menemani Ericka" ujar Reva malas.
"Ini bukan soal pekerjaan, kalau soal itu aku percaya padamu. Tapi ini soal adikmu," balas Nico.
"Ada apa dengan Ericka, apa ada sesuatu yang terjadi sebelum kecelakaan itu?" tanya Reva penasaran, dia keluar dari mobilnya.
"Lebih baik kita cari tempat yang nyaman untuk membicarakan hal ini.
Karena ini sungguh akan mengejutkanmu, aku tak ingin kamu kenapa-kenapa nantinya," kata Nico serius.
Tapi Reva tak menanggapi perkataan Nico itu, dia tak ingin terperangkap psikopat kejam ini.
"Baiklah, kita bicara di rumah sakit saja. Aku bisa mengawasi Ericka dan mendengar perkataan mu.
Meskipun aku tak yakin dengannya, aku yakin kamu ingin mencari perhatian kepadaku. Ya kan?!" kata Reva sinis.
Dia kembali masuk kedalam mobilnya, berlalu pergi meninggalkan Nico yang masih terdiam di sana.
"Sia*l! Kenapa sih dengan gadis itu?! Maunya apa coba, baiklah jika itu mau mu. Akan ku ikuti caramu nona" Nico nampak geram sekali.
Kembali ke rumah sakit, Reva mendapati bi Mirna sampai ketiduran di samping Ericka.
Dia merasa tak enak dengan perempuan tua ini, dia yang sedari dulu merawat mereka. Tanpa lelah menjaga dan mengurus adiknya itu, dengan lembut Reva membangunkannya.
"Bi... bangun, Bi bangun sebentar yah..." Reva sedikit mengguncangkan tubuh bi Mirna.
Bi Mirna terbangun, terlihat sekali mata lelah itu. Reva jadi tak tega dengannya.
"Bi, sekarang Bibi pulang dulu yah. Besok kemari lagi" ujar Reva dengan lembut.
"Tapi Non, besok harus kerja, 'kan? Apa tidak capek" jawab bi Mirna sambil mengucek matanya.
"Tidak Bi, besok juga jadwalku tidak padat. Justru besok Bibi yang banyak kerjaan. Harus bolak-balik dari rumah ke rumah sakit," jawab Reva sambil tersenyum.
"Baiklah kalau begitu, kalau ada apa-apa Non telpon aja Bibi, yah?" ujar bi Mirna dengan serius.
"Baik Bi, diluar sudah ada mang Ujang nungguin. Hati-hati ya Bi" ujar Reva.
"Baik Non, Bibi pulang dulu yah" pamit bi Mirna.
Reva duduk di samping Ericka sambil memandangi adiknya itu.
Belum lama kemudian, Nico masuk kedalam ruangan itu. Reva kaget dengan kedatangan Nico.
"Apa yang kau lakukan disini?!" ujar Reva masih dengan wajah kagetnya.
"Kan kamu yang memintaku datang ke rumah sakit, jadi aku datang" jawab Nico dengan senyuman sinisnya.
"Tapi tidak sekarang, bisa besok 'kan?" tanya Reva kesal.
"Aku gak ada waktu, aku ingin langsung mengatakannya padamu" jawab Nico dengan wajah serius.
Dia duduk di kursi di samping Ericka, Reva langsung menariknya menjauhi Ericka.
"Apa yang kau lakukan, bagaimana jika Ericka bangun" ucap Reva.
"Aku tak mengganggunya, aku akan bersikap sopan didepannya. Bagaimanapun juga dia calon adik iparku," ujar Nico sambil cengengesan di depan Reva.
"G*la kamu yah, hubungan kita tak lebih dari partner kerja. Dan kamu juga harus tahu, kontrak kerja sama kita hampir selesai.
Setelah itu tak ada hubungan lagi diantara kita, pacari saja wanita-wanita di sekitarmu. Aku tak peduli" ujar Reva sambil berlalu pergi menuju tempat Ericka.
Nico tak terima penolakan itu, dia menarik tangan Reva dan mendorongnya kearah dinding.
Dia menghimpit tubuh Reva dengan tubuhnya, Reva berusaha memberontak tapi ditahan oleh tangannya yang kekar itu.
Kali ini Reva tak bisa menghindar atau mengelak lagi, dia hanya memandangi wajah itu dengan tatapan tajam.
"Coba kau katakan, apa yang tak kau sukai dariku? Apa ada tipe pria yang kamu sukai? Katakanlah, aku akan melakukannya" kata Nico dengan tatapan tajam.
Saat ini wajah mereka sangat dekat, tatapannya seperti menusuk jantung Reva. Baru kali ini Reva melihat dengan jelas wajah itu.
Wajah maskulin, alis tebal dengan hidung mancung ditambah bibir tipis itu, sedikit jambang dan kumis melekat diwajahnya.
Membuatnya nampak maskulin dan tipe pria jantan sekali, jujur saja dia sangat tampan dan Nico merupakan tipe pria yang disukai Reva juga.
Tapi Reva tak menyukainya karena banyak beredar gosip buruk tentangnya, yang paling parah ada gosip yang mengatakannya G*y.
"Menjauhlah dariku, Nico... aku tak ingin ada yang melihat kita seperti ini," kata Reva sambil memalingkan wajahnya.
Dia tak ingin Nico melihat matanya, apalagi detak jantungnya mulai tak beraturan.
Wajah tampan Nico ditambah hembusan napas yang hangat dan wangi itu, hampir saja membuat pikiran Reva melayang.
Nico sempat menangkap ekspresi Reva berubah saat mereka bertatapan, dia sempat terdiam tak mengerti dengan tatapan itu.
Reva mendorongnya, lalu hendak keluar meninggalkan Nico. Saat itu dia sempat melihat bayangan yang mengintip mereka.
"Siapa itu?!" seru Reva.
Bayangan itu sekelebat pergi dengan cepat, Reva buru-buru keluar mencarinya diluar. Tidak ada apa-apa diluar, apa mungkin itu... hantu?!
Ah! tidak mungkin, pikir Reva. Kalau dipikir lagi ini sudah lewat tengah malam dan kata orang-orang rumah sakit itu sarang hantu.
Reva bergidik dan kembali masuk, saat dia membalikan badannya tak sengaja menabrak Nico yang sedari tadi berdiri didepan pintu.
Nico langsung menangkap tubuhnya, sekali lagi pandangan itu terpadu, kali ini Nico sudah tak tahan.
Dia mencium bibir Reva, ******* bibir itu dengan kasar. Reva memberontak ingin melepaskan diri, tapi pelukan Nico begitu erat.
Reva tak kehilangan akal, dia menggigit bibir Nico, sehingga Nico harus melepaskan ciumannya itu.
Reva mendorongnya keluar lalu masuk dan mengunci pintunya. Napasnya memburu, detak jantungnya berdetak cepat.
Napasnya tersengal-sengal, dia hampir saja lemas dibuatnya. Dasar pria mesum, pandai sekali mengambil kesempatan?! umpat Reva.
Sedangkan Nico diluar tersenyum-senyum sendiri sambil mengelus bibirnya yang berdarah itu, dia pun pergi meninggalkan rumah sakit itu.
...----------------...
Bersambung