
"Apa kamu gak bosen dikamar terus? Ayo kita bermain lagi seperti dulu.." terdengar suara lelaki didalam kamar kakaknya itu.
Ericka penasaran, tapi dia harus bersabar dan ingin dengar apa yang ingin mereka katakan selanjutnya. Dia mendengar suara helaan nafas Rendy.
"Aku mau, tapi keadaan tak bisa membuatku berbuat banyak.." sahut Rendy.
"Haha! Jangan patah semangat, bro! Asal ada kemauan pasti ada jalan. Ayo cepat sembuh, apa lu gak kangen kumpul-kumpul lagi sama anak-anak?!" ucap lelaki itu lagi.
"Aku mau, bro! Tapi kamu tau sendiri aku sangat sibuk, begitu banyak pekerjaan harus diselesaikan. Aku gak mau membebani kakakku dalam menyelesaikan semua urusan perusahaan ayah maupun ibuku" sahut Rendy lagi.
"Alah, kakakmu itu pintar dia pasti bisa melakukan apa saja, lagian adikmu juga sudah bisa bekerja juga kan.. Masak masa mudamu harus dihabiskan untuk bekerja terus, gak ada buat hiburan main sama teman-teman!" ucap lelaki itu berusaha membujuk Rendy.
"Bukan gitu, bro! Kamu tau sendiri aku dulu gimana, sekarang pencapaianku berhasil! Aku ingin merubah sistem yang ayahku bangun dulu. Selama masih seperti dulu, takkan ada yang namanya perubahan dari sana.
Maka dari itu aku dan saudara-saudaraku akan memperbaiki semua kesalahan yang ada selama ini, jadi aku gak ada waktu untuk bersantai-santai" ucap Rendy serius.
"Apanya yang kau takutkan, Ren?! Perusahaan ayah dan ibumu itu perusahaan besar, tidak akan bangkrut ataupun hancur begitu saja. Apa kau mau bekerja terus sampai mati?!
Akh! Kau sekarang sudah tidak seru lagi, kebanyakan gaul dengan orang tua-tua jadi pemikiranmu juga jadi sama seperti mereka, kolot! Udah yah, aku pamit dulu, see u.." ucap lelaki itu lalu terdengar suara pintu terbuka dan tertutup
"Lalu aku harus apa? Apa aku harus meninggalkan keluargaku hanya demi sebuah kesenangan semata, terus Andriana bagaimana? Huuft.." gumam Rendy.
Ericka yang mendengar itu semua rasanya sangat sakit, segitu besarnya perjuangan sang kakak demi keluarga mereka. Dia pun mengingat kembali kejadian mereka masih kecil hingga besar saat ini.
Ericka mengakui jika kedua kakaknya jarang sekali bermain ataupun berkumpul dengan teman-temannya, keduanya terlalu sibuk menuruti tuntutan sang ayah dan sibuk mengurus dirinya juga.
"Apa aku juga salah satu penyebab kebebasannya yang terkekang? Seharusnya dia berhak bahagia, tapi... Siapa temannya kakak? Apa benar dia orang baik, sehingga kedatangannya harus bersembunyi seperti itu?!" gumamnya curiga.
Karena tak tahan dengan semuanya, dia pun menuju kamar sang kakak. Dia langsung membuka pintu kamar tanpa mengetuk pintu, tentu saja itu mengagetkan Rendy yang lagi melamun duduk dipinggir kasurnya.
"Ericka! Kau mengejutkanku, bisa gak kamu tuh kalau masuk ketuk pintu dulu?!" geram Rendy kesal.
"Maaf, Kak. Aku terlalu buru-buru hingga mengagetkanmu.. Tapi yang bikin kaget itu kakak sendiri!" ucap Ericka.
"Kaget kenapa? Aku gak ngapa-ngapain!" ucap Rendy ketus.
"Aku melihat ada orang asing keluar dari kamarmu, aku takut kakak kenapa-kenapa makanya aku langsung masuk begitu saja! Siapa dia? Kakak gak kenapa-kenapa kan?!" tanya Ericka sambil memeriksa tubuh kakaknya.
Dia sengaja berpura-pura agar sang kakak tak curiga, Rendy terlihat gelagapan membuat Ericka semakin yakin dengan kecurigaannya.
"Siapa yang kamu maksud? Aku tak--" omongannya langsung diputus oleh Ericka.
"Gak usah mengelak, Kak. Sudah ketahuan, buat apa berbohong lagi. Jika dia memang tamu ataupun teman kakak, kenapa kami tak tahu?" ucap Ericka semakin memojokkannya.
"Apa maksudmu, Ericka?! Kau mencurigaiku?" tanya Rendy menatapnya tak percaya.
"Aku sama sekali tak curiga apapun kepada kakak, aku percaya kakak orang baik, tidak akan membohongi ataupun menyakiti keluarganya" jawab Ericka semakin membuat Rendy terpojok.
Setelah diam sejenak, Rendy menghela nafasnya dengan berat. Dia mengambil air minumnya, setelah habis dia mulai mengatur posisi duduknya, menurut ilmu psikologi biasanya orang yang bersikap seperti itu akan mempersiapkan diri untuk mengatur waktu ataupun mengulur waktu untuk melakukan kebohongan selanjutnya.
"Dia memang teman kakak, teman kuliah. Kami tergabung disebuah kelompok, namanya tim cyber. Kami ini kelompok peretas, kami banyak melakukan peretasan diberbagai perusahaan besar atau instansi pemerintah yang korupsi.
Sampai saatnya kakak sibuk bekerja, dan tak ada waktu lagi berkumpul kembali dengan mereka, makanya mereka datang untuk berkunjung apalagi kakak dalam keadaan sakit begini" ucap Rendy berbicara dengan santainya.
Ericka sudah banyak belajar tentang ilmu psikologi saat berada di London, jadi dia tau mana orang yang berbohong dan mana yang tidak. Dia melihat mata Rendy beberapa kali berkedip dan menghindari kontak mata dengannya.
"Apa kakak sekarang jujur padaku? Jika kakak punya teman dan bermain diluar juga tak apa, itu hak kakak, kakak bebas melakukan semuanya.. Jangan terlalu memikirkan kebahagiaan orang lain, pikirkan juga kebahagiaanmu sendiri" ucap Ericka.
Rendy terlihat menelan salivanya, dia merasa tidak enak hati dengan Ericka. Dia memainkan jari-jarinya dengan mengetuk-ngetukkannya ke sisi kasur itu.
Ericka tau kakaknya sekarang lagi gelisah, entah apa yang dia sembunyikan dari mereka semua, apa kakaknya memiliki sebuah rahasia lagi?
"Kakak yakin?" tanya Ericka lagi.
"Apa maksudmu?! Kamu mencurigaiku lagi?! Sebaiknya kamu pergi, Ericka. Kakak ingin istirahat lagi, pusing aku berbicara denganmu seperti ini!" ketus Rendy sambil merebahkan diri di kasurnya.
Sedih Ericka melihat kakaknya seperti itu, tiba-tiba saja sikapnya berubah. Dia melihat Rendy seperti itu merasa melihat sikap kakaknya yang dulu.
Ericka pergi dari kamarnya dengan perasaan terluka dengan sikapnya itu, dia berpikir terlalu banyak tanpa sadar menabrak seseorang.
"Akh!"
"Maaf-maaf aku gak sengaja.." ucapnya.
"Ericka, kamu dari dalam?" dan ternyata itu Andriana.
"Ayo kita berbicara di dalam saja, Kak.." ucap Ericka sambil menarik tangan calon kakak iparnya itu kedalam kamarnya.
"Pelan-pelan saja, Kak. Takutnya ada yang menguping" sahut Ericka.
"Oh, baiklah.." jawab Andriana pelan.
"Sesuai dugaan kita, ada sesuatu yang ditutupi oleh kakak. Aku mendengar ada suara orang lain dari dalam kamarnya, suara lelaki asing, dan gak tau siapa dia" ucap Ericka.
Tanpa banyak menjelaskan sesuatu, dia memberikan earphone nya untuk didengar oleh Andriana suara rekaman kakaknya dengan lelaki itu.
"Siapa dia? Dan apa maunya?? Aku sangat tau Rendy, dia takkan mudah percaya dengan segala ucapan begitu saja tanpa adanya bukti apapun" ujar Andriana heran.
"Aku tau, Kak. Tapi memang benar itu adanya setelah aku membuktikannya langsung, kakak lihat kan aku keluar dari kamarnya, aku baru saja menanyakan hal itu padanya.
Tapi dia terus saja mengelak dan berbohong, aku tau dia tak jujur dari segala sikapnya itu. Dia masih menyimpan sesuatu dan aku gak tau apa itu" ucap Ericka.
Dia menjelaskan semuanya tentang Rendy termasuk percakapan mereka tadi, Andriana terlihat terkejut sekali dan seakan tak percaya.
"Dia sangat berubah, apa yang membuatnya berubah seperti itu? Kita harus selidiki siapa lelaki itu tadi!" ucap Andriana.
"Iya, aku setuju. Apa sebaiknya kita bicarakan ini kepada anggota keluarga lainnya?" tanya Ericka.
"Aku rasa jangan dulu, mereka masih sibuk dengan berbagai pekerjaan di perusahaan termasuk tentang warisan itu. Apalagi kita sekarang sedang bersiap-siap menghadapi sesuatu yang entah datang darimana" jawab Andriana diiringi anggukan Ericka juga.
"Dan siapa tahu serangan itu sudah datang tanpa kita sadari, mungkin saja lelaki yang katanya teman kak Rendy ini adalah serangannya" ucap Ericka sambil menerka-nerka.
"Apa dia sengaja menyerang kak Rendy yang luput dari perhatian kita?" sahutnya lagi.
"Apa mungkin, bukannya kata Rendy itu teman kuliahnya? Berati dia sudah berada didekatnya dalam waktu yang cukup lama, ya Tuhan Ericka, aku takut Rendy otaknya sudah dicuci oleh orang itu" ujar Andriana khawatir sekali.
"Itu baru asumsi, Kak. Kita tak pernah tau apa yang terjadi, jangan berpikir dulu kearah sana, bagaimana kalau kita selidiki lagi" kata Ericka berusaha berpikir positif dulu tentang kakaknya.
"Baiklah, bagaimana caranya?" tanya Andriana.
Ericka membisikkan sesuatu ke telinganya, Andriana manggut-manggut sambil tersenyum, mereka sudah memiliki rencana untuk itu semuanya.
Sementara didalam kamar Rendy, lelaki itu hanya diam dalam tidurnya, dia tak bisa memejamkan matanya walaupun sebentar saja, dia dalam dilema antara adiknya dan temannya itu.
"Apa yang harus aku lakukan? Mereka berdua sama pentingnya bagiku, disatu sisi adalah adikku yang notabenenya adalah keluarga, dan satunya adalah temanku yang selama ini selalu ada buatku, keluarganya juga sudah banyak membantuku saat masih sekolah.
Di saat ayah tak peduli denganku, disaat semua orang menghindariku, hanya dia yang selalu ada membantuku, dia juga yang selalu membelaku jika ada yang mencoba menyakitiku.
Kebaikannya dan keluarganya tak bisa ku abaikan, aku ada hutang budi dengan mereka, aku juga tak mungkin menghindari mereka, apa aku kabulkan saja yah untuk menjual sebagian anak perusahaan ayah kepada mereka?
Toh itu dijual bukan diberikan secara percuma juga, anak perusahaan itu juga sudah hampir bangkrut. Tapi apa kakak bakal menyetujuinya? Akh pusing aku memikirkannya.." gumamnya dalam dilema.
.
.
Sementara diluar rumah dibalik pepohonan, ada seseorang sedang memperhatikan rumah itu, lelaki memiliki tato dipergelangan tangannya, dan memiliki anting kecil ditelinga.
Memakai topi hitam dan maskernya, dia menatap rumah itu dengan pandangan sinis, lalu dia mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"Halo, aku sudah keluar dari rumahnya. Jemput aku dibelakang rumah itu, tunggu aku di sana!" ucapnya pada seseorang.
Tidak lama kemudian ada sebuah mobil hitam Mercedes-Benz berhenti didepannya di belakang taman rumah itu, dia langsung naik mobil itu dan meninggalkan rumah yang sudah dia intai dari tadi.
"Bagaimana, apa kau mendapatkan sesuatu dari sana? Apa kau berhasil membujuknya?" tanya seseorang lelaki yang usianya lebih tua darinya.
"Dia masih terlihat bingung, tapi aku selalu menekankan siapa dirinya dulu. Dia adalah salah satu anggota tim cyber yang kita bentuk, tanpa aku mengingatkannya, kurasa dia masih mengingatnya dengan jelas dengan segala bantuan kita dulu kepadanya" ucap lelaki itu lagi.
"Bagus, desak terus dirinya kapan perlu buat dirinya merasa berhutang budi dengan kita, agar kita bisa memiliki salah satu anak perusahaan ayahnya itu.
Haha! Siapa sangka salah satu rekan bisnis sekaligus rival terbesarku ternyata suami dari sepupu istriku, dengan begini akan mudah bagiku untuk menguasai segalanya.
Ini yang disebut satu dua kali dayung satu pulau terlampaui. Kita bisa menguasai harta ibunya sekaligus ayahnya, haha! Bagaimana Zacky, papa pintar kan?!" tanya lelaki tua itu.
"Iya, Pa.." sahut sang putra tak kalah liciknya.
Siapa sangka selama ini Rendy berteman dengan salah satu sepupunya, meskipun mereka sepupu tiri, tapi mereka memiliki kakek yang sama.
Dan dia tak pernah menyadari jika selama ini hanya dimanfaatkan oleh sebuah kebaikan palsu dari temannya.
...----------------...
Bersambung